Instagram : @imeldona
SEASON 2 : Tentang Kasih Sayang dan Perjuangan Orangtua untuk mengungkap kebenaran anaknya, juga berlatar belakang kisah cinta Remaja.
SEASON 1 :Kisah Cinta pertama.
Saling mencintai namun karena pertentangan orangtua, mereka saling dipisahkan.
Hingga Kemudian Mereka dipertemukan kembali, tapi mereka sudah tidak dapat bersama karena Sefia sudah menjadi istri pria lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Direktur Utama
Dengan hati-hati dan tanpa sepengetahuan Sefia, Dedi berjalan mengikutinya dari belakang.
Sedangkan Sefia menunduk sedih dan mulai kelelahan, lebih lagi malam ini begitu dingin dan Sefia lupa untuk mengenakan sebuah mantel untuk menghangatkan tubuhnya.
Ia berjalan kearah taman yang biasa ia datangi ketika pikiran suntuk ataupun lelah sepulang dari kantor, kemudian ia duduk dibangku salah satu taman itu.
Ia memeluk dirinya, mengelus-ngelus kedua lengannya yang dingin serta mata yang kelelahan akibat menangis seharian.
Dedi tanpa suara, tiba-tiba saja duduk disebelah Sefia dan mengagetkannya.
"Dedi." Sontak Sefia kaget dan salah tingkah.
"Kamu ngapain disini?" tanya Dedi, tanpa menoleh untuk menatap Sefia.
Sefia menunduk. "Aku.. aku cuma ingin menikmati angin malam saja kok." sahutnya gugup, berbohong.
Dedi melepas jas yang ia kenakan, lalu ia kenakan pada Sefia yang kedinginan. "Pakailah!"
"Tapi Ded.."
"Pakai saja, aku tahan dingin." ia lalu menatap langit. "Apa kamu berniat tidak akan pulang? Apa suamimu tidak khawatir tentangmu?"
Sefia menggelengkan kepalanya lemah. "Tidak, dia sedikitpun tidak akan pernah berpikir untuk mencariku malam ini."
Seketika Dedi kaget mendengar itu, ia menoleh dan memandangi raut kesedihan dimata Sefia yang sudah tampak kelelahan. "Kenapa kamu berpikir seperti itu, Fi?"
"Karena dia mengatakan sendiri bahwa sudah tak lagi mencintaiku." ucap Sefia lemah, namun kali ini ia tegar.
Sungguh Dedi mengeram, ingin sekali menghampiri pria itu tapi ia tahu bahwa Sefia saat ini lebih membutuhkan dirinya untuk ia jadikan tempat bersandar.
"Fia, jika dia tidak bisa kamu harapkan cinta dan juga kasih sayangnya. Bukankah aku ada disini yang setia menunggumu dan selalu hebat untuk mencintaimu?"
Sefia menoleh, menatap Dedi. "Kita tidak akan pernah bisa bersama."
"Kenapa, Fi?"
"Aku menikah dengan oranglain, itu karena aku harus menghindarimu. Lebih lagi, jika aku menjadi seorang janda maka aku hanya akan membuat keluargamu malu." sahut Sefia pilu.
"Aku tidak masalah dengan statusmu, Fi."
"Tapi aku masalah dengan itu, walau sampai saat ini aku masih mencintaimu."
"Fia." Dedi hanya bisa menatap Sefia nanar, lalu ia memilih memalingkan muka tanpa bisa memaksa wanita itu untuk bersamanya.
Telah lama mereka terdiam, tiba-tiba kepala Sefia yang tak tahan terjatuh kebahunya tanpa sengaja.
Sefia tertidur tanpa sengaja, dan Dedi memberikan bahunya untuk kenyamannya. Menemani dirinya dikehangatan malam.
Sepanjang malam.
"Aku mencintaimu, Fi."
****
Kini hari sudah menjelang pagi hari, Angga meraba raba sesuatu yang biasa ada disebelahnya. biasanya Ia mengelus pipinya dengan lembut lalu mengecup bibirnya untuk membangunkannya di pagi hari.
tapi tampaknya kegiatan rutin itu tak lagi ada hari ini, membuat Angga langsung membelalakkan matanya.
Ia kira pertengkarannya semalam tidak berpengaruh apa apa, Ia kira Sefia akan pulang dengan sendirinya jika Ia sudah tenang. ternyata dugaannya telah salah, Sefia tidak pulang semalaman dan itu membuat Angga sedikit khawatir.
Ia kemudian mencari instrinya dipenjuru ruangan, berharap Ia menemukannya disana tapi hasilnya juga nihil.
"kamu kemana sih, Dek?"
Angga mengacak rambutnya gusar, takut hal buruk menimpa istrinya.
Ia kemudian berinisiatif menelpon Ibu mertuanya, berharap Sefia ada disana.
"Hallo Nak, tumben nelfon pagi pagi, ada apa?"
Angga pun bingung untuk menjawab apa tapi Ia tidak kehilangan akal, "gini Bu, tadi Sefia pamit mau kerumah Ibu. apa Sefia udah sampai ya Bu?"
"gak ada Nak, belum sampai"
"Oh, ya udah kalo udah sampai tolong kasih tahu Angga ya Buk!"
"baik Nak Angga"
Angga pun mematikan sambungannya, Ia mulai cemas. tapi mengingat ada jadwal rapat penting dengan direktur perusahaan pusat, Ia pun bergegas membersihkan diri dan segera pergi ke kantor.
****
Dengan berat, Sefia membuka matanya ketika sinar matahari pagi mulai menerpa.
Ia kaget ketika sadar bahwa ia tertidur pulas dibahu bidang milik mantannya, Dedi.
Sefia langsung meluruskan kepalanya untuk tersadar penuh, dan Dedi juga membuka matanya dengan berat.
"Akh." keluh Dedi pada bahunya yang terasa kaku karena semalaman tak bergerak sama sekali.
"Maaf, maaf. Aku tidak sadar kalo sudah meminjam bahumu. Maafkan aku." ucap Sefia panik, mengelus bahu Dedi yang terasa kaku.
Dedi tersenyum. "Tidak apa-apa kok." ia mengelus rambut Sefia. "Semalam kamu sepertinya lelah sekali, jadi aku tidak tega membangunkanmu."
Sefia merasa sangat bersalah dan juga beruntung bahwa Dedi ada untuk menemaninya. "Terimakasih. Aku harus pulang, mas Angga mungkin lagi nyariin aku sekarang."
Ketika Sefia beranjak berdiri, Dedi memegang lengannya untuk menahan. "Kalau dia cuma bisanya nyakitin kamu, kenapa kamu gak minta cerai aja dari dia?"
"Aku gak bisa Ded." sahut Sefia ingin beranjak pergi.
"Kenapa gak bisa, aku ingin tahu alasannya?"
"Aku gak bisa menceraikan mas Angga kalau bukan dia sendiri yang ngajuin gugatan cerai, kamu kan tahu sendiri apa alasanku ninggalin kamu lalu nikah sama mas Angga."
"Bagaimana kalo kita langsung nemuin suamimu dan minta dia segera menceraikanmu?"
"Dedi", ucapnya menghembuskan nafas kasar, "Gak semudah itu, kamu pikir kalau kita langsung menemui mas Angga sekarang terus dia mau menceraikan aku? Dan kamu pikir orangtuanmu bakalan langsung setuju sama hubungan kita berdua?"
"Apa maksudmu sama orangtuaku?"
"Ah, sudahlah." Sefia ingin beranjak pergi tapi lagi-lagi Dedi menahannya.
"Fia, aku masih gak ngerti."
"Ded, Kita ini berbeda, kamu dan aku sangat jauh berbeda."
"Fia, asalkan kita saling mencintai. Aku rela menunggu keputusanmu untuk berjuang bersama denganku." ucap Dedi penuh harap.
Sefia memeluk Dedi erat. "Aku mencintaimu, tapi aku masih belum siap menghadapi segala kemungkinan jika hidup bersama denganmu."
"Tidak masalah Fi, aku akan sabar menunggumu."
****
Sesampainya di rumah, Sefia tidak menemukan siapapun itu. Ia tahu kalau suaminya akan memilih bekerja daripada bersusah payah mencari dirinya.
Ia lalu pergi ke kamar mandi membersihkan tubuhnya, setelah itu mambanting tubuh lelahnya diatas kasur besar miliknya.
"Ya Tuhan, begitu berat cobaan?" gumamnya mengingat diri sendiri.
Ia merasa sangat bersalah pada Dedi, memberinya harapan untuk bisa bersamanya walaupun itu tak mungkin.
"Aku sudah gila karena mencintainya dan tak mampu melupakannya."
****
Dedi kemudian menghadiri acara rapat dengan beberapa menager yang memegang anak perusahaannya,
begitupun Angga dan yang lain tercengang mengetahui bahwa Direktur Utama pemegang perusahaan raksasa, Ia pemuda tampan yang umurnya lebih muda darinya.
Ia menebaknya, mungkin seumuran dengan Istrinya, Sefia.
"wah, dia Keren sekali"
****
kasih dukungan dengan download NOVELTOON, lalu berikan poin gratis kalian pada Novel Author ini.
terimakasih :*
aga & Yuna jg donk Thor.. lg seru2 nya..