Ketika Allah lebih mencintai suaminya, Filzah Banafsha harus kuat menjadi orang tua tunggal bagi putrinya, Zaura. Tujuh tahun lamanya Filzah tinggal bersama mertuanya, dan dia merasa sangat merepotkan mereke berdua. Akhirnya Filzah memilih untuk hijrah ke Jakarta bersama dengan sang putri tercinta. Filzah memulai kehidupan barunya di Jakarta dengan seribu ujian, dari ia harus berjuang membantung tulang untuk mencari rezeki sampai ia terluka batinnya karena tidak sanggup melihat putrinya yang membutuhkan sosok Ayah dalam kehidupannya. Akankah kehidupan Filzah jauh lebih bahagia di tanah perantauan???
atau justru sebaliknya?
Penasaran???
Yuk Hayuk langsung dibacaaaa🤗
~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~
*Teruntuk kawan readers jangan lupa hargai cerita ini dengan vote dan komen ya🤗. Percayalah VOTE dan KOMEN kalian adalah tanda bukti "suka" kalian kepada cerita ini sekaligus menambah semangat Ukhfira dalam merangkai cerita ini sampai nanti waktunya tamat*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ukhfira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 17. Penjahat
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah
Vote dan komenmu jangan lupa ya
🌹🌹🌹
Sesampainya di rumah sakit Grizelle langsung di bawa ke ruang UGD dan Dokter langsung menanganinya agar nyawanya dapat tertolong. Semua anggota keluarga Grizelle menunggunya di luar ruang UGD. Disaat semua mengkhawatirkan kondisi Grizelle, Selin malah menatap tajam ke arah Filzah. Amarahnya masih bersarang dan ingin segera melampiaskannya kepada seorang perempuan yang telah membuat putrinya masuk UGD secara tiba-tiba.
"Ya Allah semoga Grizelle baik-baik saja, jujur walaupun aku nggak tahu penyebabnya apa, tapi aku tetap merasa bersalah karena disaat Grizelle pingsan akulah satu-satunya orang yang berada di dekatnya." Filzah berdoa dalam hati untuk Grizelle yang saat ini sedang di tangani oleh Dokter.
Beberapa menit kemudian pintu ruang UGD terbuka. Seorang Dokter perempuan keluar dari ruangan tersebut. Dan langsung diserang beberapa pertanyaan dari Selin dan Ergin.
"Dokter bagaimana keadaan anak saya Dok?" Tanya Selin dengan cemas.
"Iya Dok, anak kami baik-baik saja kan Dok?" Timpal Ergin ikut mencemaskan keadaan Grizelle.
"Kenapa ini bisa terjadi?, kenapa Grizelle dibiarkan makan kacang hijau, sudah jelas-jelas Grizelle alergi berat dengan kacang hijau, jangan diulangi lagi ya Ibu, Bapak, karena jika ini terjadi kembali bisa-bisa nyawa Grizelle tidak dapat tertolong." Dokter menjelaskannya dengan sangat serius sehingga suasana ikut tegang.
"Tapi syukurlah Grizelle sudah saya tangani sehingga nyawanya dapat tertolong."
Semuanya dapat bernapas lega karena Grizelle masih bisa diselamatkan oleh Dokter. Tetapi Filzah juga terkejut karena ternyata Grizelle alergi berat dengan yang namanya kacang hijau dan tadi Grizelle sudah memakannya satu sendok. Filzah menjadi merasa bersalah atas semua kejadian ini. Meskipun kejadian ini tidak serta merta kesalahan darinya karena ia tidak tahu tentang alergi Grizelle terhadap kacang hijau.
"Jadi Grizelle alergi berat sama kacang hijau?, pantas saja dia langsung merah-merah bahkan sampai pingsan." Ucap Filzah dalam hati.
"Syukurlah Dok, kalau begitu saya bisa masuk ke dalam kan Dok?, saya ingin bertemu dengan anak saya."
"Mohon maaf untuk sementara waktu biarkan Grizelle istirahat sejenak, jika ingin menjenguknya nanti saja kalau Grizelle sudah sadar dan sudah dipindahkan ke ruangan rawat inap."
"Baik Dokter terima kasih." Ucap Hilyah mewakilkan Selin dan Ergin yang nampak kecewa karena belum bisa menemui Grizelle saat ini juga.
"Kalau begitu saya pamit dulu." Dokter melangkah meninggalkan keluarga besar Hilyah yang masih berdiri di depan ruang UGD.
Kini tatapan tajam Selin menjuru kepada Filzah. Amarahnya sudah tidak bisa tertahankan lagi. Filzah yang melihatnya dibuat tak berkutik. Melihat tatapan tajam Selin membuat Filzah bergidik ngeri.
"Ini semua gara-gara kamu Filzah!!!" Bentak Selin bernada keras.
Filzah tersentak. Ia terkejut dengan bentakan Selin yang tanpa ia duga sebelumnya. Tubuh Filzah bergetar hebat. Ia tidak berani menatap mata merah milik Selin yang diselimuti amarah kepadanya.
"Maaf Mbak Selin, tapi saya nggak tahu kalau Grizelle alergi sama kacang hijau, dan Grizelle juga nggak memberitahu saya."
"Aku nggak percaya, Grizelle pasti sudah memberitahu kamu kalau dia alergi kacang hijau, pasti kamu sengaja membujuk Grizelle supaya dia mau makan bubur kacang hijau itu sampai akhirnya alerginya kambuh dan sekarang masuk rumah sakit."
Filzah menggeleng cepat. Ia tidak menyangka Selin setega itu menuduh dirinya yang katanya sengaja membuat alergi Grizelle kambuh sampai masuk rumah sakit padahal kenyataannya Grizelle sama sekali tidak memberitahu bahwa ia mempunyai alergi pada kacang hijau.
"Mbak sumpah demi Allah saya benar-benar nggak tahu kalau Grizelle punya alergi sama kacang hijau, kalau saya tahu saya nggak akan memberikan bubur kacang hijau itu kepada Grizelle."
"Halah, nggak usah bawa-bawa nama Tuhan deh, nggak usah sok suci kamu!"
"Kak Selin sudah, dari pada menuduh tanpa bukti, lebih baik kita tunggu Grizelle sadar dan nanti kita dengarkan langsung penjelasan dari Grizelle." Azlan menengahi perdebatan singkat antara Selin yang naik pitam dengan Filzah yang tetap tenang.
"Oke, kita tunggu Grizelle sadar, dan aku sudah bisa memastikan bahwa perempuan kampungan itu memang bersalah dan berusaha menyakiti Grizelle anakku."
Selin langsung melenggang pergi. Ia tidak sudi lagi untuk berlama-lama bersama Filzah, perempuan yang sudah menyebabkan putrinya masuk rumah sakit karena alerginya kambuh. Ergin ikut menyusulnya. Dan Hilyah hanya bisa menatap Filzah dengan kebingungan. Ia antara percaya dan tidak percaya atas musibah yang menimpa cucunya serta menyeret menantu bungsunya.
"Mama, tolong percaya sama Filzah, Filzah nggak tahu kalau Grizelle punya alergi sama kacang hijau, dan Grizelle juga nggak memberitahu Filzah Ma." Filzah memohon kepada Hilyah agar mempercayainya.
"Maaf Filzah, untuk saat ini Mama nggak bisa mempercayai kamu, kita tunggu penjelasan dari Grizelle saja." Jawab Hilyah yang bersikap tegas untuk menghadapi masalah baru yang sedang menimpa keluarga besarnya saat ini.
"Ma, ayo kita pergi dulu dari sini, nanti kita kembali kalau Grizelle sudah sadar." Ajak Azlan kepada Mamanya.
Hilyah mengangguk dan langsung mengikuti langkah Azlan di sampingnya. Sementara Filzah masih tetap di posisinya namun ia langsung menatap ke arah putrinya. Ia mendudukkan dirinya untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan putrinya.
"Zaura, Zaura percaya kan sama Bunda?, Bunda sama sekali nggak tahu kalau Grizelle itu punya alergi dengan kacang hijau."
Zaura mengusap lembut pipi sang Bunda seraya tersenyum untuk menenangkannya.
"Bunda, Zaura percaya kok sama Bunda, Bunda sendiri kan yang mengajarkan Zaura untuk jujur, walaupun jujur itu menyakitkan."
Filzah langsung memeluk Zaura. Setidaknya hati Filzah sedikit tenang karena sang Putri mempercayai dirinya. Filzah berharap agar nantinya semua orang mempercayainya termasuk Azlan, suaminya.
🌹🌹🌹
Satu Jam Kemudian...
Grizelle sudah dipindahkan ke ruang rawat inap dan Grizelle juga sudah sadar. Semua keluarga besarnya sudah memenuhi ruang rawat inapnya. Bahkan Selin sudah tidak sabar ingin menanyakan langsung tentang kronologis putrinya jatuh pingsan gara-gara melahap makanan terlarang untuknya.
"Grizelle coba jelaskan sama Mommy, jelaskan sama semuanya apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Grizelle memakan bubur kacang hijau yang nggak boleh Grizelle makan."
Grizelle terlihat ketakutan. Ia berkeringat dingin. Ia pandang satu persatu kedua orang tuanya. Setelah itu ia memandang Filzah dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Mommy." Nada bicara Grizelle terdengar bergetar. Kedua matanya pun berkaca-kaca.
"Grizelle ayo katakan apa yang sebenarnya terjadi, Grizelle nggak usah takut, Mommy yakin ini bukan kesalahan Grizelle, tapi kesalahan Tante Filzah, iya kan?" Selin kembali menuduh Filzah yang tidak-tidak.
"Kak Selin, biarkan Grizelle berbicara terlebih dahulu, jangan terus menuduh." Azlan kembali mengingatkan Kakak iparnya yang sejak tadi menuduh Filzah.
"Grizelle ayo katakan apa yang sebenarnya terjadi." Tanya Azlan dengan bernada lembut.
"Tadi, Grizelle ke dapur untuk mengambil air minum, tapi Grizelle melihat Tante Filzah sedang membuat bubur kacang hijau dan Tante Filzah menawarkan Grizelle."
"Terus?." Tanya Selin yang sudah tidak sabar menunggj kelanjutan cerita dari putrinya sendiri.
"Terus Grizelle mau."
Wajah Selin sudah nampak memerah. Ia marah kepada putrinya yang mau saja ditawarkan bubur kacang hijau oleh Filzah padahal jelas-jelas ia alergi dengan yang namanya kacang hijau.
"Terus kenapa kamu mau Grizelle!" Bentak Selin yang mulai marah kepada putrinya.
Grizelle tersentak. Tubuhnya bergetar hebat karena mendapatkan bentakan sekaligus Mommynya marah kepadanya.
"Ka-karena Grizelle dipaksa sama Tante Filzah, Mommy." Lanjut Grizelle menjelaskan. Air matanya meluruh akibat bentakan Selin tadi kepadanya.
"Apa?!" Ujar Selin yang sudah naik pitam.
"Tapi Grizelle nggak memberitahu Tante Filzah kan kalau Grizelle punya alergi sama kacang hijau." Filzah menimpali. Ia ingin meluruskannya.
"Grizelle sudah memberitahu Tante, tapi Tante tetap memaksa Grizelle untuk memakan bubur kacang hijau buatan Tante."
Semua orang terkejut mendengar pernyataan Grizelle. Semua pandangan juga langsung tertuju ke arah Filzah. Tidak terkecuali Selin. Semua anggota tubuhnya langsung mendidih. Terbakar dari ujung rambut sampai ujung kepala.
"FILZAH!!!"
"Keterlaluan kamu ya!!!"
"Sekarang kamu sudah nggak bisa mengelak lagi, kamu terbukti bersalah, kamu sengaja ingin membuat Grizelle masuk rumah sakit karena alerginya kambuh."
"Dasar penjahat!!!"
Filzah menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak percaya bahwa Grizelle, si gadis kecil memberikan pernyataan yang tidak benar. Grizelle menyalahkan Filzah atas musibah yang menimpa Grizelle. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.
"Astaghfirullahal adzim, kenapa Grizelle berbohong, padahal kenyataannya nggak seperti itu, Grizelle memang nggak memberitahu aku tentang alerginya, tapi kenapa dia bilang ke semua orang kalau dia sudah memberitahu aku tentang alerginya, dan aku memaksa dia untuk tetap memakan bubur kacang hijau buatan aku, itu semua nggak benar, aku harus meluruskannya." Ucap Filzah membatin.
"Nggak, itu semua nggak benar, Grizelle, kenapa Grizelle berbohong?, tolong Grizelle katakan yang sejujurnya ya, nggak akan ada yang memarahi Grizelle jika Grizelle berkata jujur."
"Cukup Filzah!, semuanya sudah jelas, kamu jelas-jelas bersalah."
"Tapi apa yang dikatakan Grizelle itu nggak benar Mbak Selin, Grizelle berbohong, mungkin Grizelle berbohong seperti ini karena dia takut Mbak Selin memarahinya."
"Hei, jangan sembarangan ya kalau bicara, Grizelle itu anak yang jujur dia nggak mungkin berbohong, kamu jangan memutar balikkan fakta, sudah jelas-jelas kamu yang bersalah, masih saja membela diri."
Selin tidak akan menerima penjelasan apapun lagi dari Filzah. Sudah jelas-jelas Grizelle memberikan pernyataan yang benar bahwa Filzah yang bersalah atas kambuhnya alergi berat yang diidap oleh Grizelle.
"Filzah, Mama benar-benar nggak menyangka kamu setega itu sama Grizelle, ternyata kamu nggak sebaik yang Mama kira." Hilyah kecewa dengan perbuatan jahat Filzah kepada Grizelle.
"Sekarang sudah terbongkar sifat asli kamu Filzah, dan kamu nggak bisa mengelak lagi." Timpal Ergin yang ikut membenci perbuatan jahat Filzah kepada putrinya.
Sementara Azlan tidak berkomentar apapun. Ia hanya menatap Filzah dengan tatapan tajam. Ia juga tidak menyangka bahwa istrinya tega berbuat jahat kepada Grizelle padahal ia juga mempunyai seorang putri yang seumuran dengan Grizelle, yaitu Zaura.
"Yandah, Bunda nggak bersalah, Bunda nggak mungkin menyakiti Grizelle, Bunda selalu mengajarkan Zaura untuk berbuat baik kepada siapapun." Zaura mencoba membela Bundanya kepada Yandahnya. Bahkan ia memohon-mohon di hadapan Yandahnya agar mau mempercayai Bundanya.
"Zaura, Yandah lebih percaya sama Grizelle, karena anak kecil, nggak mungkin berbohong." Ujar Azlan sembari menatap tajam ke arah Filzah ketika diakhir kalimatnya.
"Mommy, Grizelle nggak mau Tante Filzah ada di sini." Rengek Grizelle dengan ketakutan.
"Kamu dengar kan penjahat apa yang dikatakan sama anakku?" Ujar Selin tegas.
"Sekarang kamu pergi dari sini!" Tanpa ragu Selin langsung mengusir Filzah.
"Bundaku bukan penjahat Tante." Teriak Zaura membela sang Bunda.
"Hei anak kecil, kamu juga pergi dari sini, kamu juga adalah bibit penjahat." Selin ikut mengusir Zaura dari hadapannya.
"Baik kami akan pergi dari sini, Grizelle, semoga kamu cepat sembuh ya, dan semoga ini terakhir kalinya kamu berbohong, berbohong itu bukan perbuatan yang baik Nak."
"Cukup Filzah!, sekarang kamu angkat kak dari sini!." Amarah Selin kian membuncah. Ia kembali mengusir Filzah dengan amarah yang berapi-api.
Akhirnya Filzah keluar dari ruangan tersebut bersama Zaura. Ia mengusap air matanya yang sempat terjatuh.
"Maafkan Grizelle Tante Filzah, Grizelle terpaksa berbohong, Grizelle takut dimarahi sama Mommy karena Grizelle makan bubur kacang hijau, padahal Grizelle sudah tahu kalau Grizelle alergi sama bubur kacang hjiau." Ucap Grizelle dalam hati yang terpaksa berbohong karena ia takut kena marah oleh Mommynya sendiri.
Sesampainya di luar Filzah tak kuasa lagi menahan air matanya. Ia kecewa karena tidak ada yang mempercayai dirinya, bahkan Hilyah juga sudah kecewa dengannya atas perbuatan jahat yang dituduhkan kepadanya. Azlan sebagai suaminya juga tidak mempercayainya. Azlan lebih mempercayai Grizelle karena ia lebih percaya bahwa anak kecil tidak mungkin berbohong padahal kenyataannya Grizelle memang sedang berbohong.
"Ya Allah sakit rasanya jika tidak dipercaya oleh semua orang, bahkan suami aku sendiri nggak mempercayaiku, muatkan hambaMu ini dalam menerima ujianMu kali ini ya Allah. Aamiin Allahumma aamiin." Filzah mengelus dadanya yang hatinya tergores karena tidak dipercayai oleh orang-orang terdekat, termasuk suaminya sendiri.
"Bunda jangan menangis, Zaura nggak mau Bunda sedih." Zaura mengusap air mata yang tidak terasa jatuh di pipi Filzah.
Secepat mungkin Filzah mengubah raut wajahnya. Menghilangkan ekspresi kesedihannya dengan senyuman indah yang terukir di wajah senduhnya.
"Bunda minta maaf ya Sayang, Bunda nggak akan sedih lagi, tapi Zaura percaya kan sama Bunda?, Bunda nggak mungkin tega membuat Grizelle sampai masuk rumah sakit, Bunda benar-benar nggak tahu kalau Grizelle alergi sama kacang hijau."
Zaura mengangguk. "Iya Bunda, Zaura percaya sama Bunda, Bunda nggak usah sedih ya, meskipun Oma sama Yandah nggak percaya sama Bunda, tapi Zaura percaya sama Bunda, dan Allah pasti juga percaya sama Bunda, Bunda tenang ya, Bunda kan selalu mengajarkan Zaura untuk tetap sabar disaat Allah menguji kita."
Hati Filzah melembut. Ia tersentuh akan nasihat lembut dari sang putri. Filzah begitu terharu karena disaat-saat seperti ini putrinya dapat menghibur serta menguatkan dirinya.
"Iya Sayang, in syaa Allah Bunda akan sabar menghadapi ujian ini, jazakillah khoiron ya Sayang karena sudah mengingatkan Bunda."
"Iya Bunda, wa jazakillah khoiron."
Filzah memeluk putri kesayangannya dengan linangan air mata. Ia tidak bisa menahan tangisannya. Namun sebisa mungkin ia sembunyikan kesedihannya dari Zaura dengan tidak terdengar isakan tangisnya sampai membuat dadanya sesak karena menahan isak tangisnya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokatuh
Alhamdulillah juga Ukhfira dapat menyapa para readers di malam pertama bulan ramadhan dengan hadirnya part ke 17 di cerita cinta istiqomah
❤❤❤
Sampai bersapa ria di part selanjutnya Readers
😎😎😎
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
apalagi waktu Filzah nyapu rumah itu, eh Azlan datang² ngerebut sapu malah minta mama nya yg nyelesein.. bukan dia
lebih romantis lagi kalau azlan bisa menjaga harga diri anak dan istri nya didepan selin & ergin