Ardan, seorang dosen tampan yang menjadi penerus keluarga Adinata sedang menatap pada seorang gadis yang tengah berbaring di atas tempat tidurnya.
Gaun yang dikenakan olehnya menunjukkan bahu dan leher jenjang milik Sasha, membuat jiwa lelaki Ardan meronta. Namun ia harus menahan segala hasrat yang sedang mencapai puncaknya, karena mengingat akan kontrak pernikahan yang membatasi sentuhan fisik diantara mereka.
Pernikahan mereka yang akan berlangsung dalam beberapa hari tersebut diakibatkan kebohongan yang dilakukan Ardan dan membuat seluruh keluarganya percaya bahwa Sasha adalah kekasihnya.
Bagaimana kisah mereka dimulai?
Happy reading guys
follow ig author
@kak.ofa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Ulsyah Musyarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Nenek
Tak perlu menempuh waktu yang cukup lama dari waduk, kini Ardan dan Sasha tiba di sebuah rumah sederhana namun dengan halaman yang begitu luas. Ardan merapatkan mobilnya dan meminta Sasha untuk turun agar membukakan pagar yang tidak terlalu tinggi itu.
Setelah Ardan memarkirkan mobil di dalam halaman yang cukup luas tersebut, terlihat dua orang lansia yang terburu-buru membuka pintu dan seperti tak sabar ingin melihat Ardan dan Sasha.
"Anak nakal! Benar-benar ya kalian! Baru datang ketika aku harus mengomel dulu..." Nenek Dawiyah berkata sambil menepuk bahu Ardan cukup kencang "... bagaimana orang tua ini tidak menjadi orang yang cerewet jika anak cucunya begitu tidak perhatian" lanjutnya.
Ardan meringis sambil mencoba menangkis pukulan dari Nenek Dawiyah dengan kedua tangannya. Sasha berdiri di samping Ardan juga iktu meringis melihat Ardan dipukuli begitu.
"Pukulan nenek masih saja sakit..." ujar Ardan sambil mengusap-ngusap bagian tubuhnya yang terkena pukulan "...aah aku tau, nenek pasti sangat merindukanku" lanjutnya sambil memeluk neneknya.
Nenek Dawiyah tidak menolak pelukan Ardan, meski sebelumnya dia terlihat sangat marah hingga memukul Ardan. Malah Nenek Dawiyah masih mengeratkan pelukannya pada cucu laki-lakinya, ketika sang cucu sudah mulai ingin melepas pelukan tersebut.
"Nenek cukup! A... aku tidak bisa bernapas!" Ujar Ardan ketika dirinya mulai merasa sesak.
"Sudahlah sayang! Cucumu ini baru datang, biarkan dia beristirahat!" Kakek Syahid mulai membuka suaranya.
Nenek Dawiyah langsung melepas pelukannya, kemudian kini giliran Sasha yang mendapat perhatiannya.
"Apakah kamu gadis yang Ardan perkenalkan di TV kemarin?" Tanya Nenek Dawiyah dengan tatapan penuh interogasi.
"I... Iya nek" Jawab Sasha terbata-bata.
Nenek Dawiyah menatap sang calon cucu menantunya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Namun aktivitasnya terhenti karena kakek Syahid yang menyalami Sasha. "Perkenalkan nama saya Syahid! Kakeknya Ardan!" Ujarnya.
"Salam kenal kek, saya Sasha" jawab Sasha sambil membalas uluran tangan Kakek Syahid.
"Simpan barang-barangmu! Segera kau temui aku di kebun!" Perintah Nenek Dawiyah.
Sasha langsung menurut. Dia mengikuti langkah kaki Ardan dan menuju ke sebuah ruangan yang ditunjukkan padanya. Sasha langsung membereskan semua barangnya. Saat Sasha hendak keluar dari kamarnya, ia berpapasan dengan.
"Hei, kau sudah selesai?" Tanya Ardan.
"Ya! Hanya pakaian bapak yang belum, aku tidak tau harus menaruhnya dimana" jawab Sasha.
"Bereskan saja di lemari yang sama! Tidak ada lemari lain, aku mungkin nanti tidur di sofa" jawab Ardan.
Sasha pun hendak kembali membereskan baju milik Ardan. Namun Ardan mencegahnya.
"Nanti saja!" Cegah Ardan sambil memegang lengan Sasha "Nenek sudah menunggu! Ayo!" Ajak Ardan kemudian.
Kemudian Sasha dan Ardan pergi keluar dari rumah, mereka mendapati Nenek Dawiyah sedang menggali tanah dengan cangkul kecil miliknya. Di sampingnya terdapat Kakek Syahid sedang memegang sesuatu semacam bibit tanaman yang cukup besar untuk ditanam.
"Nek! Sasha sudah disini" sahut Ardan yang baru datang membawa Sasha.
"Aah, ayo kek! letakan bibit itu! Biar mereka yang mengerjakan!" Kata Nenek Dawiyah. Kakek Syahid melihat ke arah istrinya dengan tatapan heran.
"Kau ini bagaimana! Mereka sedang kelelahan, perjalanan ke tempat kita tidak membutuhkan waktu yang sebentar!" Ucap Kakek Syahid.
"Tak apa kek, biar aku yang mengerjakan!" Sahut Sasha.
"Tapi Sha..." Ardan berusaha mencegah.
Sasha tersenyum dan mengedipkan matanya pada Ardan menandakan agar Ardan tidak mengkhawatirkan dirinya.
Sasha langsung meminta cangkul kecil yang dipegang oleh Nenek Dawiyah dengan sopan. "Letakan bibitnya juga kek, aku yang akan menanamnya" pinta Sasha pada Kakek Syahid dengan ramah.
"Biarkan aku saja yang menanamnya, kau hanya perlu merapikan lubang tanamnya, ayo!" Ucap Kakek Syahid pada Sasha.
"Baiklah kalau begitu" jawab Sasha.
Kini Sasha dan Kakek Syahid menanam bibit bunga Alamanda. Tidak hanya satu, namun lima. Belum lagi ditambah bibit bunga Kemuning yang juga berjumlah lima buah.
Sementara Ardan yang tadi sedang mengobrol dengan nenek sambil minum, menjadi tertidur karena kelelahan.
"Pak Ardan, Ayo masuk pak!" Sasha membangunkan Ardan.
Buku yang berada di atas wajahnya terjatuh saat ia berusaha untuk bangun.
"Aish. Maafkan aku, aku tertidur!" Jawab Ardan.
"Tak apa, bapak segera pindah ke dalam rumah saja" Sasha meminta Ardan.
"Maaf kau harus menanam bunga-bunga itu sendiri' ucap Ardan meminta maaf.
"Tak masalah, Kakek membantuku. Lagi pula ini sudah selesai" jawab Sasha.
Ardan langsung bangun dan masuk ke dalam rumah bersama Sasha.
"Siapa bilang sudah selesai?" Nenek Dawiyah keluar mencegah Sasha dan Ardan masuk ke dalam.
"Nek sudahlah! Sasha ini butuh istirahat" Ardan meminta belas kasih dari neneknya.
"Tak apa! Ayo nek, saya bantu! Nenek ada perlu apa lagi?" Tanya Sasha lebih ramah.
Nenek Dawiyah meminta Sasha untuk memotong daging dan tulang belulang sapi, karena dia hendak memasak sop tulang untuk Ardan.
Sasha menunjukkan ekspresi senang ketika Nenek Dawiyah menyuruhnya memasak, karena itu adalah kegiatan yang sangat disukai Sasha.
Nenek Dawiyah terlihat kagum Sasha yang begitu terampil dalam mengolah daging, meski beberapa kali Sasha menanyakan banyak hal yang tak ia mengerti, namun Sasha terlihat mampu melaksanakan semua arahan dari Nenek Dawiyah.
Walau begitu, lansia ini tetap senang menyuruh Sasha melakukan ini itu hanya untuk menguji Sasha.
"Nek, bolehkah Sasha beristirahat?" Ujar Ardan ketika melihat Sasha yang masih sibuk mengaduk sup pada sebuah kuali besar. "Kan ada kakak pelayan yang bisa membantu nenek?" Lanjut Ardan.
"Aku hanya ingin tau bagaimana kualitas seorang perempuan yang dipilih oleh Ardan" ucap sang nenek.
"Kalau nenek seperti ini terus, aku bawa kembali pulang saja Sasha" kata Ardan.
"Aku tidak apa-apa" Sasha berkata pada Ardan sambil menyeka peluh di dahinya. Uap dari sup yang ia buat membuatnya begitu berkeringat.
"Ah sudahlah, kemarikan! Istirahat sana! Aku juga tidak ingin disebut menyiksa cucu menantu" ujar Nenek Dawiyah. Sasha dan Ardan tersenyum melihatnya.
"Kau, sebelum istirahat, gunakan baju yang sudah kusiapkan" Nenek Dawiyah memerintah.
*****
Apakah Nenek Dawiyah mulai menyukai Sasha?
Bersambung...
penokohannya jg pas.
walaupun ini karya perdana sang author,tp novel ini bgs menurut sy.
semoga utk ke depannya KK author lebih sukses lg dgn menghasilkan karya2 trbaiknya.
𝘁𝗲𝗿𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗿𝗸𝗮𝗿𝘆𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗵𝗮𝘁 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂..