NovelToon NovelToon
Mahar Dendam Sang Ceo

Mahar Dendam Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Aliansi Pernikahan / Penyesalan Suami
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

"Aku tak akan pernah menganggap mu istri apalagi menyentuh mu, karena ikatan ini ada semata- mata untuk menyelamatkan pernikahan kakak ku!"

Bagaimana rasanya harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya? Itulah yang terjadi pada Indira zaraa Husain, laki-laki yang terlihat soleh dan mapan yang menjadi pilihan orang tuanya ternyata tidak sebaik kenyataan nya. Kebenaran yang baru terungkap ketika akad di langsung kan membuat nya mau tak mau harus terlibat pernikahan palsu dengan laki-laki berdarah dingin bernama Senopati trian Barata.

Seno memiliki dendam dan menjadikan Indira istrinya adalah rencana dari dendam nya itu.

Bagaimana pernikahan mereka yang didasarkan atas dendam dan benci itu? ikuti kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MDSC : 26

Windya keluar dari kamar mandi dengan langkah gemetar. Wajahnya masih pucat, matanya merah. Dia meraih tasnya yang tergeletak di lantai, lalu berjalan cepat menuju pintu.

"Mau kabur?" Bayu yang sudah berpakaian lekas berdiri di depan pintu, menghalangi jalan Windya dengan santai. Senyum miring masih terpasang di wajahnya.

"Minggir," desis Windya dengan suara rendah tapi tajam.

Bayu tertawa kecil. "Sabar dong, cantik. Kemarin kan lo yang bayar semua. Masih ada sisa uang nggak? Gue lagi butuh."

Windya menatapnya dengan mata berkilat marah. "Lo pikir gue ATM berjalan?"

"Ya nggak juga sih," Bayu mengangkat bahu. "Tapi lo kan kemarin bilang tunangan orang kaya. Masa iya pelit?"

Rahang Windya mengeras. Tangannya terkepal erat di sisi tubuh. "Gue nggak punya uang lagi."

"Bohong," Bayu melangkah lebih dekat, nadanya berubah mengancam. "Lo pasti masih ada. Transfer sekarang, atau gue bisa aja cerita ke tunangan lo tentang semalam."

Deg!

Windya membeku. Napasnya tercekat.

"Lo!" sungutnya. "lo ngancem gue?"

Bayu menyeringai. "Ngancem? Enggak lah. Gue cuma ngingetin aja. Lo kan nggak mau dia tau, kan?"

Windya merasakan seluruh tubuhnya bergetar--antara takut, marah, dan malu yang bercampur jadi satu. Tangannya merogoh tas dengan tergesa, mengeluarkan ponsel, lalu dengan jari gemetar mentransfer sejumlah uang.

"Cukup?" tanyanya dingin.

Bayu mengecek ponselnya, lalu tersenyum puas. "Lumayan. Makasih ya, cantik."

Dia membuka pintu dengan santai, membiarkan Windya lewat.

Windya melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Langkahnya cepat, hampir berlari menuju lift. Begitu pintu lift tertutup, tubuhnya langsung merosot. Dia jatuh terduduk di sudut lift, memeluk lututnya sendiri.

Air mata jatuh lagi. Kali ini lebih deras.

"Bodoh... bodoh... bodoh..." gumamnya berulang kali sambil memukul kepalanya sendiri.

Dia sudah kehilangan segalanya semalam. Harga diri, uang, dan yang paling penting--kesempatan untuk tetap terlihat 'suci' di mata Seno.

Lift berhenti di lantai dasar. Windya segera bangkit, mengusap air matanya kasar, lalu berjalan keluar dengan kepala tertunduk.

Dia tidak tahu harus kemana. Pulang ke panti? Tidak mungkin. Bu Dewi pasti akan curiga melihat kondisinya. Ke mansion Barata? Lebih tidak mungkin lagi.

Akhirnya Windya memutuskan untuk masuk ke sebuah kafe kecil di pinggir jalan. Dia duduk di pojok, memesan secangkir kopi yang bahkan tidak akan dia minum.

Ponselnya berdering. Notifikasi masuk.

Dari Seno.

Jantung Windya langsung berdegup kencang. Tangannya gemetar saat membuka pesan itu.

(Kita perlu bicara. Datang ke kantor jam 3 sore.")

Singkat, dingin dan tanpa embel-embel.

Windya menelan ludah. Apa Seno sudah tahu? Tidak mungkin. Bagaimana caranya?

Tapi tetap saja, rasa takut itu terlalu besar untuk diabaikan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sementara itu, di mansion Barata, pagi berlangsung dengan tenang. Indira baru saja selesai sarapan ketika Nyonya Athaya memanggilnya ke ruang keluarga. Wajah wanita tua itu terlihat serius, namun ada kelembutan di matanya.

"Duduklah, Nak," kata Nyonya Athaya sambil menepuk sofa di sampingnya.

Indira duduk dengan hati-hati. "Ada apa, Nek?"

Nyonya Athaya menatapnya lama, lalu menghela napas pelan. "Nenek tahu hubungan kamu dan Seno tidak mudah."

Indira terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa.

"Tapi Nenek juga tahu," lanjut Nyonya Athaya sambil menggenggam tangan Indira lembut, "kamu bukan perempuan yang mencari masalah. Kamu hanya terjebak dalam situasi yang tidak kamu pilih."

Air mata Indira hampir jatuh, tapi dia menahannya dengan sekuat tenaga.

"Nenek cuma mau bilang satu hal," Nyonya Athaya tersenyum tipis. "Jangan menyerah pada dirimu sendiri. Apapun yang terjadi, kamu punya hak untuk bahagia."

Indira mengangguk pelan, suaranya bergetar. "Terima kasih, Nek."

Nyonya Athaya mengusap punggung tangan Indira. "Dan satu lagi... Seno itu keras kepala. Tapi bukan berarti dia tidak punya hati."

Kata-kata itu menggantung di udara. Indira tidak langsung merespon, tapi ada sesuatu yang bergetar di dadanya.

Setelah percakapan itu selesai, Indira kembali ke kamarnya. Dia berbaring di ranjang, menatap langit-langit. Pikirannya melayang ke ciuman Seno beberapa malam lalu. Ciuman pertamanya. Ciuman yang brutal namun entah kenapa membekas begitu dalam.

Indira menyentuh bibirnya sendiri, lalu menggeleng cepat.

"Jangan," bisiknya pada diri sendiri. "Jangan mulai berharap."

****

Di kantor Barata Group, jam 2:45 sore, Raka berdiri di depan meja Seno dengan ekspresi serius. "Tuan, ada informasi yang perlu Anda ketahui."

Seno mendongak dari laptopnya. "Apa?"

"Tentang Nona Windya."

Seno mengerutkan kening. "Kenapa?"

Raka menarik napas. "Kemarin malam, Nona Windya terlihat masuk hotel bersama seorang pria. Mereka keluar pagi ini secara terpisah."

Seno terdiam. Wajahnya tidak berubah, tapi rahangnya mengeras perlahan.

"Siapa pria itu?"

"Kami masih mencari tahu identitasnya. Tapi dari penampilan, sepertinya bukan dari kalangan yang sama dengan Nona Windya."

Seno menutup laptopnya dengan gerakan tenang, tapi matanya menyala dingin. "Pastikan kamu dapat identitasnya sebelum dia datang ke sini."

"Baik, Tuan."

Setelah Raka keluar, Seno bersandar di kursinya. Tangannya mengepal di atas meja.

Dia tidak merasa sakit hati. Tidak juga marah dalam arti emosional. Yang dia rasakan adalah... kelegaan.

Akhirnya, dia punya alasan yang sah untuk melepaskan Windya. Alasan yang tidak bisa dibantah siapa pun, bahkan oleh wasiat kakeknya sekalipun.

Seno menarik napas panjang. Wajah Indira tiba-tiba muncul di benaknya. Gadis itu yang menunggunya semalaman di rumah sakit. Gadis itu yang merawat Rania dengan tulus. Gadis itu yang tersenyum manis pada Keano.

Dan gadis itu juga yang dia cium dengan brutal beberapa malam lalu.

Seno memijat pelipisnya. "Apa yang sudah kulakukan..."

Tapi satu hal yang dia tahu--dia tidak menyesal.

...----------------...

Jam 3 sore tepat, Windya tiba di gedung Barata Group. Penampilannya sudah rapi, riasannya menutupi wajah pucatnya. Tapi matanya masih terlihat lelah, dan ada lingkaran hitam yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya.

Resepsionis mengantar Windya ke ruang meeting di lantai paling atas. Ruangan itu luas, dengan jendela besar yang menghadap ke kota Jakarta. Di tengah ruangan, ada meja panjang. Dan di ujung meja itu, Seno duduk dengan wajah tanpa ekspresi.

"Duduk," katanya singkat.

Windya duduk dengan gugup di kursi yang berhadapan dengannya. Jarak di antara mereka terasa begitu jauh, begitu dingin.

"Kak... ada apa?" tanyanya dengan suara kecil.

Seno menatapnya lama tanpa ekspresi. "Kemana kamu semalam?"

Windya tersentak. "A-aku... di rumah teman."

"Bohong."

Suara Seno tajam, memotong dengan cepat.

Windya pucat. "Kak, aku--"

"Hotel Grand Mahakam, lantai 12, kamar 1207," Seno menyebutkan dengan detail yang membuat Windya membeku total. "Kamu masuk jam 11 malam, keluar jam 8 pagi. Bersama seorang pria."

Windya tidak bisa berkata apa-apa. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Dunianya runtuh dalam sekejap.

"Aku tidak peduli apa yang kamu lakukan," lanjut Seno dingin. "Tapi jangan pernah lagi pakai nama ku untuk main-main."

Windya akhirnya menemukan suaranya. "Kak, itu bukan yang Kakak pikirkan--"

"Cukup."

Kata itu seperti palu yang jatuh.

Seno berdiri, menatap Windya dari atas. Postur tubuhnya yang tinggi membuat Windya merasa sangat kecil.

"Hubungan kita selesai. Mulai hari ini, kamu bukan tunangan ku lagi."

Windya berdiri tergesa, air matanya jatuh. "Kak, please... jangan gini... aku bisa jelasin--"

"Tidak perlu," potong Seno. "Kamu masih bisa kuliah seperti biasa. Biaya tetap akan ku tanggung sampai lulus. Tapi hubungan kita, selesai."

Dia mengambil amplop tebal dari laci meja, lalu meletakkannya di hadapan Windya. "Ini uang untuk biaya hidup kamu selama satu tahun ke depan. Setelah itu, kamu harus mandiri."

Windya menatap amplop itu dengan air mata yang terus mengalir. "Kak... aku minta maaf... aku benar-benar minta maaf..."

"Maaf tidak mengubah apapun," jawab Seno datar. "Kamu sudah mengkhianati kepercayaanku. Dan aku tidak pernah memberi kesempatan kedua untuk pengkhianat."

Dia berbalik, meninggalkan Windya yang terduduk lemas di kursi, menangis tanpa suara.

Seno berhenti di depan pintu, tanpa menoleh. "Raka akan mengantarmu pulang. Jangan datang ke mansion lagi."

Pintu tertutup dengan bunyi pelan.

Dan Windya tahu--ini adalah akhir dari segalanya.

...****************...

Malam hari, di kamar Indira, gadis itu baru saja selesai mandi ketika pintu kamarnya diketuk pelan.

"Masuk," katanya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.

Pintu terbuka, dan Seno masuk.

Indira langsung menegang. Dia refleks mundur selangkah. "Ada apa?"

Seno menutup pintu di belakangnya, lalu berdiri beberapa langkah darinya. Ada sesuatu yang berbeda di matanya--lebih lembut, tapi juga lebih intens.

"Aku sudah putus dengan Windya."

Indira terdiam, tangannya berhenti di udara. Handuk yang dia pegang nyaris jatuh.

"Kenapa kamu bilang itu ke aku?" tanyanya hati-hati, mencoba menjaga nada suaranya tetap datar.

Seno melangkah lebih dekat. "Karena aku mau kamu tahu."

Indira mundur selangkah lagi. "Itu bukan urusanku."

"Tapi ini urusanmu," Seno menatapnya intens. "Karena sekarang, tidak ada lagi alasan buat kamu menjauh."

Jantung Indira berdegup keras. "Seno--"

"Aku tahu aku salah," potong Seno. Suaranya lebih lembut sekarang, hampir seperti bisikan. "Aku tahu aku sudah menyakitimu. Aku tahu aku sudah memperlakukanmu dengan buruk. Tapi aku tidak bisa lagi pura-pura tidak peduli."

Indira menggeleng pelan, dadanya sesak. "Jangan seperti ini..."

"Kenapa?" Seno semakin mendekat, sampai jarak di antara mereka hanya tinggal satu langkah. "Kenapa aku tidak boleh jujur?"

"Karena aku takut," jawab Indira dengan suara bergetar. Air matanya mulai menggenang. "Aku takut kalau ini cuma sementara. Aku takut kalau nanti kamu kembali membenciku. Aku takut... aku akan jatuh terlalu dalam, dan kamu akan meninggalkanku."

Seno terdiam. Lalu perlahan, dia mengangkat tangannya, menyentuh pipi Indira dengan lembut. Sentuhan yang sangat berbeda dari ciuman brutal beberapa malam lalu.

"Aku tidak akan membohongimu lagi," bisiknya. "Aku janji."

Indira menatap matanya, mencari tanda-tanda kebohongan. Tapi yang dia temukan hanya ketulusan.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Indira tidak menolak ketika Seno menariknya ke dalam pelukan.

Pelukan yang hangat. Pelukan yang membuat semua luka perlahan mulai sembuh.

Seno menenggelamkan wajahnya di rambut Indira yang masih basah, menghirup aroma shampo yang lembut. "Maafkan aku," bisiknya pelan. "Untuk semuanya."

Indira menutup matanya, membiarkan air matanya jatuh di bahu Seno. Tapi kali ini, bukan air mata kesedihan.

Ini adalah air mata lega.

Lega karena akhirnya, dia tidak sendiri lagi.

****

1
partini
kalau dia ga tepati potong atau siram burung nya beres kan
Ariany Sudjana
seno Seno kenapa kamu harus marah lihat postingan Adrian di medsos? kenapa juga Indira harus lapor sama kamu kalau mau kerja? emang kamu siapanya Indira? kamu bilang kamu suaminya Indira, apa benar seperti itu? bukannya kamu itu hanya suami di atas kertas, lagipula kamu kan sudah ada si pelacur murahan, yang kamu cintai dan kamu banggakan, sampai kamu ga tahu kamu sudah dibodohi sama si pelacur murahan 🤭🤭🤣🤣
Helen@Ellen@Len'z: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Ayesha Almira
puas bgt indira bkn wanita yg lemah..
partini
jijik sehhh punya mu aja udah longgar kaya terowongan juga, nanti tekdung cari kambing hitam sihhh
partini
nanti tekdung bilang anaknya Seno aihhh ,, OMG seno seno CEO ledhoooooooooo 🤣🤣🤣🤣
Ariany Sudjana
hahaha windya memang pelacur murahan, pantas saja berambisi ingin jadi istrinya Seno, dan Seno bodohnya percaya dengan pelacur murahan seperti windya 🤭🤭🤣🤣
Aiyaa writer
bagus
Ariany Sudjana
hah Seno kamu bodoh, kamu ga suka Indira dekat dengan Adrian, sedangkan jalang peliharaan kamu itu nempel terus kaya perangko dan terus jadi kompor buat kamu, tapi kamu diam saja
partini
hemmm aihh seno seno bisa ga sih kamu berbeda dari laki laki lain yg melohoyyy 🤦🤦
ga tegas ulet bulu nempel pun diem" Bae rasa"kamu kurang 12/ons
azzura faradiva
dasar pria rakus,plin plan sana sini mauuuuu🙄
partini
seno lelaki menyek" ga ada tegas sedikit pun aduhhh 🤦🤦🤦
Ariany Sudjana
windya kamu ini pelacur murahan, udah tahu seni itu suami Indira, tapi kamu ga tahu diri nempel terus kaya perangko, benar-benar pelacur murahan kamu
Helen@Ellen@Len'z: 🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦windya windya 🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦
total 1 replies
Dian Pravita Sari
ini pun gak tamat??? bener bener kecewa gak da satupun yg tamat cerita di novel. tooo
tinggalkan aja gak ada tanggung jawabnya buat pembaca
Dancingpoem: sabar ka, ini baru 21 bab dan masih bersambung/Sweat/
total 1 replies
partini
luka tusuk lama ehhhh apa seno seorang mafia
aduh ran ran laki laki kaya gitu di pertahankan cinta buta kamu
sen kamu ga tau kelakuan iparmu bantai lah dari pada nyakitin istri
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan gila kamu windya, kalau seno sudah tidak mau sama kamu ya sudah, dasar gila dan serakah kamu yah
Helen@Ellen@Len'z: windya🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦
total 1 replies
partini
memang sudah gila tuh anak asuh mu
partini
Widya kaya jelangkung deh
aduh situ lagi apa di dada remas" ga yah
Ariany Sudjana
dasar jalang murahan kamu windya, sampai segitunya kamu ngejar Seno, semoga setelah ini Seno bisa membuka hatinya untuk Indira, kalau tetap ga bisa juga, sudahlah Indira tinggalkan saja Seno, lebih baik kamu dengan Adrian
Ariany Sudjana
bodoh kamu Seno, Indira kamu biarkan sendiri di halte bus, dan kamu lebih membela menjemput jalang murahan itu di kampus, suami macam apa kamu? lebih baik Indira dengan Adrian saja, Adrian lebih bisa menghargai perempuan
Helen@Ellen@Len'z: setuju bgt andai lndra sm adrian aja drpd bersuami seno bangsat🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬jd lepaskan lndira biar lndira bahagia bersama org lain aja drpd berumahtangga sm seno🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬
total 1 replies
partini
Indira generasi sandwich
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!