( Tahap Revisi)
Apapun yang sudah ditakdirkan untuk datang dalam hidupmu, tidak akan pernah pergi sekeras apapun hatimu membenci.
Taani tidak pernah menyangka hatinya akan berlabuh pada laki-laki pendiam, kutu buku yang menyebalkan.
laki-laki Sederhana yang selalu dibanggakan oleh Ayahnya.
Karena bagi sang Ayah, tidak ada lagi laki-laki terbaik di seluruh negeri ini selain pilihannya.
Pernikahan yang harus Taani jalani dengan terpaksa. Tanpa ada cinta dihatinya.
Bagi Rizwan, Melihat Taani tersenyum di pagi hari, sudah cukup untuk membuatnya semangat pergi bekerja.
Kemanakah bahtera rumah tangga Rizwan akan berlabuh?
Akan kah semuanya kandas begitu saja?
Karena yang sudah tertulis untukmu, tidak akan pernah ditulis untuk orang lain.
......
selamat membaca 💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzanabuq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meja
Adik kakak bagaimana maksudnya?
Oh ibu, cukup Taani saja yang hanya ingin menganggap ku teman setidaknya dalam pandangan orang lain kami ini terlihat suami istri pada umumnya.
Batin Rizwan menjerit.
Rizwan mengibaskan tangannya tidak terima.
“Ih, perempuan sama laki laki yang tinggal satu rumah itu pasti adik kakak Om.” Mengernyitkan dahi menatap
Rizwan dan taani bergantian.
“Kata siapa?” Rizwan terkekeh baru mengerti maksud dari pembicaraan bocah yang selalu
meneriakinya ketika Rizwan melewati rumahnya.
Gadis kecil itu akan berteriak menyuruh Rizwan berhenti sebentar hanya untuk
memamerkan Bisma, kucing yang di peliharanya atau hanya sekedar memamerkan boneka karakter favorit yang baru dibelikan ibunya.
Atau menceritakan liburan akhir pekan bersama orangtuanya yang dihabiskan untuk pergi jalan jalan ke pusat perbelanjaan.
Dan juga bocah itu akan antusias menceritakan tentang teman teman di sekolahnya.
Bahkan Rizwan sampai hafal beberapa nama teman bocah itu karena sering disebutkan.
Dan Rizwan hanya menanggapinya dengan Anggukan kepala.
Mendengarkan anak anak berceloteh adalah Hal yang menyenangkan meski terkadang yang di ceritakan hanya itu itu saja.
Bosan? Tentu saja tidak kita justru lebih khawatir terhadap anak yang cenderung pendiam dan menutup diri.
Dengarkan saja.
Mereka sedang belajar mengolah kata, dan juga mulai belajar peduli dengan keadaan di sekitarnya.
Ah, selalu ada hal menarik tentang anak anak
“Kata, Kakek.” Menunjuk pria yang hanya tersenyum mendengar
celotehan cucu nya.
“Om Rizwan sama mbak Taani itu suami istri, sama seperti Ayah dan Ibu
kamu.” Pak Adrian kembali menjelaskan.
"Iya." Rizwan menjawab pendek melirik sekilas ke arah wanita yang duduk di
sampingnya, masih dengan senyum yang terus mengembang.
Ya Tuhan.
Dia cantik sekali.
Setelah melewati percakapan yang hanya berputar menanggapi pertanyaan bocah bernama Ghendis itu, Rizwan berpamitan untuk pulang.
Diikuti Taani yang berjalan bersisian.
"An.." Rizwan membuka suara
"Iya."
"Apa saya berbuat sesuatu yang salah?" Akhirnya Rizwan mampu mengeluarkan pertanyaan yang dari kemarin di pendam olehnya, ia tidak tahu apa penyebab istrinya yang biasa ramai ketika berbicara mendadak jadi pendiam.
"Ah, tidak ada.." Taani menjawab, hari ini rasa kesal yang bercokol di hatinya sudah hilang.
"Ada yang kau butuhkan?" Rizwan kembali bertanya, berusaha menjadi suami yang baik. Dengan memenuhi segala kebutuhan istrinya.
"Aku butuh meja."
"Meja?" Rizwan bertanya, meja apalagi yang ia tahu meja di kamar istrinya sudah ada.
"Meja, buat nyimpen skincare dan yang lainnya." Taani menjelaskan.
"Ah, baik. Besok akan saya belikan, ada yang lain lagi?"
Taani menggeleng dan tersenyum. "Itu aja, terimakasih."
Sesaat hening.
Kicauan burung burung semakin terdengar jelas, deru kendaraan sudah terdengar di ujung jalan raya, karena hari ini akhir pekan ketika siang hari Jalanan akan semakin ramai orang-orang memadati jalanan ibukota yang selalu penuh oleh kendaraan itu.
“Mau sarapan dimana?”
“Kita sarapan di rumah saja ya," Taani menjawab.
Langkah Rizwan terhenti saat tangan lembut itu menggenggamnya. “Maaf, tadi aku bangun kesiangan.” Taani menatap Rizwan yang tengah berdiri di sampingnya
Rizwan tersenyum mengangguk.
Dia bahagia, Taani bisa ikut bergabung dengan warga disekitarnya.
“An.."
“Apa kau merasa bosan, setiap hari hanya mengurung diri di dalam rumah?” keduanya masih berpegangan tangan.
“Mmm, lumayan,” Taani melepas genggamannya, kembali melangkah.
Obrolan keduanya terpotong saat Rizwan menyapa beberapa orang yang sedang
duduk santai di teras rumah.
Menikmati libur akhir berkumpul bersama keluarga.
“Di panti, mulai besok akan ada kelas melukis. ”
“Oh ya?”
Rizwan menganggukkan kepala, “Kalau ada waktu aku bisa mengantarmu ke panti. ” Rizwan.
"Taani, apa kau tidak keberatan untuk menjadi Guru melukis?"
Bersambung....
Netizen : Thorr...
Author : Avaan dah?😒
Netizen : Itu Mbak Taani katanya pengen meja, meja yang begimana sii?🤨
Author : Meja yang bisa buat nampung semua skincare nya yang mehong itu.
Netizen : Gue nggak perlu tuh pake acara naruh skincare di atas meja, gue bisa naro di atas lemari atau di mana aja.😒
Author : Serah lu,, serah!!
Netizen : Vote jangan?
Author : Atulaahh, hargai aku yang sudah mencuri curi waktu demi menulis kisah mereka.🤪
Netizen : Kumenangis....
Sehat selalu semuanya🙏☺
sukses
semangat