Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.
Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.
Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.
Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.
Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Kendali Mutlak di Tangan Sang Ratu
Ruang rapat utama di lantai teratas gedung pusat Grand Wijaya Group pagi itu dinaungi ketegangan yang kuat. Meja mahoni melingkar berukuran raksasa dipenuhi oleh puluhan jajaran pemegang saham mayoritas, jajaran direksi, serta para kepala divisi strategis.
Wajah-wajah pria dan wanita paruh baya berbusana formal mahal itu menyiratkan kecemasan yang ditahan.
Setelah tiga tahun absen dari pusaran keputusan bisnis dan menyerahkan roda operasional harian pada direksi eksekutif, Mahira Wijaya hari ini memanggil seluruh pemegang saham internal untuk sebuah rapat darurat yang tak bisa ditunda.
Di ujung meja utama, Mahira duduk tegak di atas kursi kebesarannya. Ia mengenakan gaun blazer hitam yang sangat pas di tubuhnya, dipadukan dengan celana bahan berpotongan tegas.
Rambut hitam legamnya yang panjang ditata rapi, tergerai indah melewati bahunya yang tegap. Pandangan matanya begitu tenang, namun memiliki ketajaman yang sanggup mengintimidasi siapa pun yang berani menatapnya terlalu lama. Tidak ada lagi sisa-sisa jejak kelembutan seorang istri penurut dari rumah Ziko. Di ruangan ini, ia adalah penguasa tertinggi yang memegang arah angin ekonomi kota.
Di sebelah kirinya, Jessi bertindak sebagai sekretaris utama, sibuk memeriksa tablet kerja yang terhubung langsung ke proyektor raksasa di dinding depan.
Sementara di sisi kanan, dua pengacara senior perusahaan duduk bersiap dengan tumpukan map hitam. Bagi seluruh jajaran direksi di ruangan ini, keberadaan Mahira selama tiga tahun terakhir diyakini hanya sedang mengurus investasi keluarga di luar negeri, tanpa satu pun dari mereka menyadari pernikahan rahasianya dengan pemilik perusahaan menengah bernama Ziko.
"Selamat pagi, Bapak dan Ibu sekalian." Suara Mahira mengudara, membelah keheningan ruangan dengan nada datar, dingin, dan penuh penekanan.
Seluruh hadirin seketika memperbaiki posisi duduk mereka, menegakkan punggung tanpa berani menyela sedikit pun.
"Saya mengumpulkan kalian semua pagi ini bukan untuk mendengar laporan rutin kuartalan yang membosankan," lanjut Mahira seraya menautkan jemari tangannya di atas meja. "Selama tiga tahun saya memantau dari jauh, ada banyak kelonggaran yang terjadi pada pengawasan proyek-proyek strategis kita. Manajemen eksekutif terlalu murah hati memberikan toleransi pada sub-kontraktor yang tidak kompeten. Mulai hari ini, saya memegang kendali penuh atas seluruh ekspansi dan alokasi dana proyek skala besar di bawah naungan Grand Wijaya Group."
Layar proyektor besar di depan ruangan seketika menyala, menampilkan grafik interaktif dari lima proyek properti dan infrastruktur bernilai triliunan rupiah yang menjadi tulang punggung bisnis grup perusahaan.
Seorang direktur eksekutif paruh baya berkacamata tebal, Pak Hendra, mencoba berdehem ragu. "Maaf, Ibu Komisaris Utama... Mengenai Proyek Grand Sentul Heights dan pengembangan kawasan industri di bagian timur, bukankah selama ini ditangani oleh konsorsium anak perusahaan di bawah arahan tim saya? Draf kelanjutannya bahkan sudah disetujui bulan lalu."
Mahira menoleh lambat, menatap direktur tersebut dengan pandangan datar yang membekukan. "Tim Pak Sanja terlalu banyak melakukan kompromi dengan kontraktor kelas dua yang manajemennya rapuh. Salah satunya adalah keterlibatan Adhi Jaya Perkasa dalam rantai pasokan dan pengerjaan sub-kontraktor."
Nama Adhi Jaya Perkasa disebutkan dengan begitu lempeng oleh Mahira, murni sebagai perusahaan yang pernah bekerja sama dengan Grand Wijaya Group.
Para jajaran direksi sama sekali tidak tahu bahwa pria di balik nama perusahaan itu adalah suami yang baru saja mencampakkan Mahira. Bagi Mahira sendiri, menyebut perusahaan milik Ziko kini tak ubahnya seperti menyebutkan nama sebuah kerikil kecil di pinggir jalan yang harus disingkirkan.
"Mulai detik ini," sambung Mahira dengan tegas. "seluruh wewenang eksekusi Proyek Grand Sentul Heights, kawasan industri, dan pembangunan komersial di Bandung Utara ditarik penuh ke bawah meja kerja saya. Tidak ada lagi pihak luar yang bisa masuk tanpa persetujuan tanda tangan dari saya secara langsung. Semua sub-kontraktor lama yang bermasalah akan ditiadakan."
Jessi kemudian menggeser tampilan slide di layar, memperlihatkan rincian pembatalan kerja sama dan pengalihan alokasi dana secara masif.
"Perlu kalian ketahui," ujar Jessi menimpali laporan Mahira dengan suara nyaring dan profesional, "Ibu Komisaris Utama telah memutuskan untuk menghentikan seluruh bentuk bridging loan, bantuan dana talangan, serta jaminan pasokan bahan baku beton dan baja untuk seluruh mitra yang terbukti memiliki kinerja buruk. Perusahaan yang terdampak pemutusan total ini salah satunya adalah Adhi Jaya Perkasa. Surat eksekusinya sudah ditandatangani pagi ini."
Beberapa pemegang saham paruh baya saling berbisik pelan, mengangguk setuju. Di mata mereka, Adhi Jaya Perkasa hanyalah perusahaan kecil yang beruntung bisa mencicipi fasilitas jaminan dari Grand Wijaya Group selama beberapa tahun terakhir.
Mereka menganggap keputusan Mahira untuk membuang perusahaan tersebut adalah langkah penyelamatan aset yang sangat brilian dan tegas.
Pak Sanja kembali mencoba menyela dengan wajah agak pucat. "Tapi Ibu Mahira, pembatalan sepihak untuk Adhi Jaya Perkasa bisa berdampak pada jadwal pembangunan fase pertama kita. Apakah tidak sebaiknya diberi tenggat waktu?"
Mahira mengetukkan pena mewahnya sekali di atas meja, menimbulkan bunyi tack yang nyaring dan membuat Pak Sanja seketika bungkam.
"Tenggat waktu hanya diberikan kepada perusahaan yang punya integritas dan analisis risiko yang matang, Pak Sanja," balas Mahira lempeng, menatap lurus mata direktur itu. "Adhi Jaya Perkasa bertahan selama ini hanya karena ditopang oleh jaminan pasokan kita. Tanpa kita, mereka hanyalah perusahaan cangkang yang dipenuhi utang operasional. Saya tidak akan mempertaruhkan uang pemegang saham hanya untuk menutupi ketidakbecusan manajemen perusahaan seperti itu. Ada keberatan lain?"
Atmosfer ruang rapat mendadak sangat hening dan mencekam. Tidak ada satu pun direktur atau pemegang saham yang berani mengangkat tangan lagi.
Kepemimpinan Mahira yang dominan, dikombinasikan dengan penguasaan datanya yang sempurna, membuat semua orang paham bahwa membantah Mahira sama saja dengan menyerahkan surat pengunduran diri saat itu juga.
"Bagus," ucap Mahira pendek. Ia beranjak berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat anggun. Seketika, seluruh jajaran direksi dan pemegang saham berdiri serentak untuk memberikan penghormatan tertinggi.
"Jessi, jadwalkan peninjauan lapangan untuk proyek kawasan industri besok pagi. Tarik seluruh jaminan aset yang pernah dipinjamkan ke pihak Adhi Jaya Perkasa. Dan pastikan seluruh kurir hukum kita menyelesaikan penyerahan berkas pemutusan hubungan bisnis ke kantor Ziko sebelum jam makan siang," perintah Mahira seraya meraih tas kulit mewahnya.
"Siap, Ibu Komisaris Utama. Semuanya sudah disiapkan oleh tim legal dan akan dieksekusi tepat waktu," jawab Jessi tegas dengan senyum puas yang tersembunyi.
Mahira melangkah keluar dari ruang rapat dengan langkah kaki yang konstan dan ketukan sepatu hak tinggi yang menggema anggun di sepanjang koridor.
Di belakangnya, para sekretaris senior dan pengawal pribadi mengekor dengan patuh. Mahira menatap lurus ke depan, menyaksikan pemandangan lanskap kota dari balik dinding kaca gedung pencakar langit miliknya.
Di bawah sana, di sudut kota yang jauh lebih rendah, Ziko mungkin sedang sibuk mengais-ngais kertas berantakan di ruang kerjanya dan memohon bantuan dana dari keluarga Clarissa.
Ziko sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa proyek-proyek raksasa yang dulu sangat ingin ia dapatkan kini telah dikunci rapat-rapat oleh tangan dingin wanita yang selama tiga tahun ini hanya ia anggap sebagai pencuci piring dan pelayan gratis di rumahnya.
Pengambilan alih kendali proyek ini barulah langkah catur pertama dari Mahira, dan permainan pembalasan yang sebenarnya baru saja dimulai.
Jangan lupa dukungannya ya. Nanti boom bab ya....