Di dunia di mana status ditentukan oleh kekuatan roh bela diri, Lin Xiao dianggap sebagai sampah tak berguna karena hanya memiliki roh berupa sebuah makam kuno yang hancur.
Dikhianati oleh klannya sendiri, dirundung habis-habisan oleh sepupunya, dan secara terbuka dihina oleh tunangannya yang sombong, Lin Xiao mencapai titik terendah.
Namun, di saat kematian mendekat, rahasia makam itu bangkit. Alih-alih sebuah sampah, makam itu ternyata adalah Makam Para Raja, gudang tersembunyi yang menyimpan sisa-sisa jiwa, ingatan, dan teknik tak terkalahkan dari ratusan kaisar dan raja bela diri kuno yang pernah mendominasi dunia.
Didorong oleh dendam membara, Lin Xiao berlatih secara diam-diam menggunakan warisan terlarang tersebut.
Dari pemuda yang diremehkan, dia tumbuh menjadi sosok dingin yang kejam terhadap musuh, siap menghadapi seluruh klan dan sekte demi melindungi ayahnya yang lemah, serta mendaki puncak kekuatan bela diri sebagai Pewaris Makam Para Raja yang sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Pohon-pohon kecil patah diterjang oleh tubuh raksasa beruang itu tanpa adanya perlawanan.
Ini adalah celah yang ditunggu-tunggu oleh pemuda tersebut.
"Sekarang!" teriak Lin Xiao di dalam hatinya.
Sring.
Lin Xiao melesat keluar dari tempat persembunyiannya bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya.
Tujuannya bukan untuk menyerang beruang itu dari belakang, melainkan berlari secepat kilat menuju tempat Rumput Tulang Besi tumbuh.
Langkahnya sangat ringan berkat kultivasinya, nyaris tidak menyentuh tanah yang kotor.
Hanya dalam waktu singkat dia sudah berada di depan tanaman obat tersebut.
Srak.
Lin Xiao mencabut sepuluh batang Rumput Tulang Besi dengan sangat cepat dan langsung memasukkannya ke dalam bajunya.
Dia bisa saja pergi sekarang dan melarikan diri menyelesaikan misinya dengan aman.
Namun, saat dia hendak berbalik, ujung matanya menangkap sesuatu yang bersinar di kedalaman genangan air tempat rumput itu tumbuh.
Itu adalah sebuah batu kristal seukuran telur ayam yang memancarkan energi elemen logam yang sangat murni.
"Inti Logam Bumi?" gumam Lin Xiao merasa sangat terkejut.
"Tidak heran ada begitu banyak Rumput Tulang Besi di sini, ternyata ada harta karun ini yang memberi mereka nutrisi dibawahnya."
'Ambil kristal logam itu!' teriak Kaisar Pedang Haus Darah dengan nada yang sangat bersemangat.
'Kristal itu bisa memperkuat ketahanan fisikmu hingga setara dengan kekuatan senjata spiritual tingkat rendah!'
Lin Xiao tidak membuang waktu untuk ragu lagi dan langsung mengulurkan tangannya ke dalam air untuk mengambil kristal tersebut.
Byur.
Suara air yang terciprat itu ternyata cukup keras untuk terdengar oleh telinga Beruang Sisik Darah yang tajam.
Monster raksasa itu langsung menoleh ke belakang dan menyadari bahwa ia telah ditipu oleh trik murahan seorang manusia rendahan.
Roar.
Auman yang jauh lebih keras dan penuh amarah menggema meruntuhkan beberapa bebatuan kecil dari atas tebing ke tanah.
Beruang itu memutar tubuh besarnya dan berlari menerjang Lin Xiao dengan kecepatan yang sangat mengerikan.
"Sial, aku ketahuan!" umpat Lin Xiao sambil menyimpan kristal itu ke sakunya dan bersiap mengambil kuda-kuda.
Wush.
Sebuah tamparan cakar beruang raksasa menebas udara menuju langsung ke arah kepala Lin Xiao.
Angin dari tamparan itu saja sudah cukup membuat kulit wajah Lin Xiao terasa perih seakan tersayat pisau.
Tap.
Lin Xiao melompat ke belakang dengan sekuat tenaga yang dia miliki, menghindari tamparan mematikan itu hanya dengan jarak beberapa sentimeter.
Duarr.
Cakar beruang itu menghantam batu tempat Lin Xiao berdiri sebelumnya, menghancurkan batu utuh itu menjadi serpihan debu beterbangan.
Kekuatan daya hancurnya sungguh luar biasa, jauh melampaui serangan mematikan dari Ketua Serigala Hitam sebelumnya.
'Jangan memaksakan dirimu untuk menangkis serangannya secara langsung!' peringat sang kaisar menyadari perbedaan tenaga.
'Gunakan kelincahan langkahmu, buat monster itu kelelahan atau pancing dia agar menabrak dinding batu!'
Lin Xiao mendarat dengan mulus dan langsung berlari memutar ke arah dinding tebing di sisi kiri gua.
Beruang Sisik Darah tidak membiarkannya lolos begitu saja, ia terus mengejar mangsanya dengan mata memerah penuh hawa membunuh.
Brak. Brak.
Setiap pijakan berat dari beruang itu meninggalkan jejak cekungan yang dalam di tanah hutan yang lembut.
Jarak antara monster itu dan Lin Xiao semakin menyempit seiring dengan langkahnya yang dipenuhi amarah.
"Ayo ke sini, dasar binatang buas yang bodoh!" teriak Lin Xiao memprovokasi beruang tersebut agar semakin beringas.
Dia sengaja berhenti berlari dan berdiri tegak tepat di bawah langit-langit tebing yang penuh dengan stalaktit batu tajam.
Beruang itu kembali mengaum buas dan mengangkat kedua cakar depannya tinggi-tinggi bersiap untuk menghancurkan Lin Xiao menjadi daging cincang.
'Sekarang, Nak!' teriak Kaisar Pedang Haus Darah memberi aba-aba.
Tepat sebelum cakar raksasa yang membawa kematian itu mendarat di tubuhnya, Lin Xiao menjatuhkan dirinya ke depan.
Dia meluncur cepat melewati celah di antara kedua kaki belakang beruang itu dengan memanfaatkan genangan lumpur.
Wush.
Duarr.
Serangan beruang itu meleset jauh dari Lin Xiao dan malah menghantam keras dinding tebing di depannya dengan kekuatan penuh.
Batu tebing itu retak parah hingga serpihannya berhamburan akibat hantaman brutal tersebut.
Krak.
Getaran hebat dari hantaman itu membuat langit-langit tebing kehilangan kestabilannya.
Sebuah stalaktit batu yang sangat besar tiba-tiba patah dan meluncur jatuh dari atas tepat ke arah punggung beruang yang masih linglung itu.
Jleb.
Stalaktit tajam itu menusuk punggung Beruang Sisik Darah dengan sangat telak.
Namun karena sisiknya yang sangat tebal, batu itu hanya berhasil menembus separuh dan tidak melukai organ dalamnya secara fatal.
"Graaagh."
Beruang itu melolong kesakitan, dan rasa sakit itu justru membuatnya semakin beringas dan kehilangan akal sehat.
Ia berbalik dengan gerakan liar, mencoba mencari manusia yang telah berani menjebaknya dengan cara murahan ini.