"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"
Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.
Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.
Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...
siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 : SAUDARA YANG KEJAM
Suara denting gelas kristal dan gelak tawa tamu tiba-tiba berdengung samar di telinga Angga. Di ujung ruangan, sosok itu berjalan, ya... Saudara yang paling dia benci dan ingin ia hapus dari jalan hidupnya. Seketika tenggorokannya terasa kering. Setiap inci otot tubuhnya menegang, memberi sinyal bahaya yang amat familiar seiring langkah kaki saudara tirinya itu yang makin mendekat. Ia mengepalkan tangan di dalam saku celananya hingga kuku-kukunya menekan telapak tangan, mencari rasa sakit nyata untuk menahan diri agar tidak menghantam wajah yang sedang tersenyum culas itu. Namun di sisi tangan yang lain tidak mampu menyembunyikan rasa amarahnya. Tanpa ia sadari begitu erat meremas pinggang Lulu, hingga rekan kerjanya tersebut merasa sedikit kesakitan.
"Jangan menguji kesabaranku di tempat umum. Kamu tidak akan suka melihat hasilnya" Ucap Angga menanggapi Riko, seolah memberi sinyal kewaspadaan di depan saudara tirinya tersebut.
"Ancaman yang lucu. Tapi kamu harus ingat di mata orang-orang di ruangan ini, aku adalah putra tunggalnya dan kamu cuma 'penumpang' yang kebetulan diundang" Ucap Riko dengan suara yang begitu pelan namun penuh mengintimidasi . Ia pun melangkahkan kakinya 1 langkah lebih dekat lagi di depan Angga dan dengan suara sangat tenang ia berbisik tepat disamping telinga saudara tirinya tersebut.
"Coba saja kalau berani. Kamu lupa siapa yang memegang kendali di keluarga ini ?" Ucap Riko sembari terseyum lebar dan menepuk - nepuk bahu saudaranya tersebut seolah ingin memberi peringatan keras.
Angga menegang. Rahangnya mengeras rapat, sementara matanya menatap tajam pria di depannya saat ini.
Sementara itu, Lulu hanya bisa membeku. Ia menarik napas pendek yang tertahan di tenggorokan. Suara dingin dari dua orang pria yang saling berhadapan hampir tidak terdengar orang - orang disekitarnya. Ia ingat betul ancaman bernada dingin yang diucapkan Angga hanya agar ia mau datang ke pesta ulang tahun ini.
Sebagai seorang yang pemalu, Ingin sekali rasanya Lulu menghilang menembus lantai. Ia menunduk dalam-dalam, meremas tali tasnya hingga buku jarinya memutih, menahan gejolak amarah dan rasa takut yang bercampur aduk. Namun, melihat bagaimana pria di sebelahnya diperlakukan dan diremehkan, rasa takut di dadanya kian menjadi-jadi. Ia tidak berani berteriak atau membela secara terbuka. Lulu terlalu takut pada perkataan Riko. Tetapi di tengah riuh musik pesta, Lulu menyadari betapa tegangnya cengkeraman tangan Angga di pinggangnya. Dengan gerakan yang sangat halus dan tersembunyi, Ia merapat sedikit dan jemarinya yang gemetar memberanikan diri menyentuh ujung kemeja Angga di sebelahnya. lalu berbisik pelan tepat di samping Angga agar tidak didengar saudaranya tersebut.
"Pak Angga Aku haus" Ucap Lulu dengan lirih menatap Angga seolah ingin menyelesaikan peleraian tersebut dan segera pergi menjauh dari hadapan pria asing yang angkuh di depannya saat ini.
Angga sejenak terdiam menatap mata Lulu yang begitu sayu di campur dengan rasa takut. Ada rasa bersalah di hati Angga karena telah menyeret Lulu dalam pertengkaran di antara mereka. Ada rasa ingin melindunginya dan juga ingin membawa pergi Lulu dari sejah mungkin dari hadapan saudara yang begitu ia benci. Ia tidak ingin menambah orang asing lagi untuk mengetahui status hubungan saudara dalam keluarga mereka yang begitu hancur.
"Yeeeeeyyy,, both of my older brothers are here!" Ucap Ami yang seketika hadir mengejutkan ke dua kakak laki - lakinya tersebut dan juga Lulu.
"But,, who is she ?" Tanya Ami melirik ke arah Lulu dan terkejut melihat Angga nampak berdiri di sampingnya sembari salah satu tangannya masih memegang pinggang rekan kerjanya itu.
Menyadari hal tersebut, Angga dan Lulu saling berpandangan. Kepolosan suara anak kecil itu menghantam kesadaran Lulu dan Angga seperti petir di siang bolong.Di detik itulah Lulu baru menyadari tangan Angga... masih berada di pinggangnya!
Sensasi hangat jemari Angga yang menempel di balik kain gaunnya mendadak terasa membakar. Lulu menarik napas tajam yang tertahan di tenggorokan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya sakit. Darah panas mendesir hebat membasahi seluruh wajahnya. Ia tahu pasti mukanya saat ini sudah memerah padam seperti kepiting rebus antara malu ,cemas, takut dan gelisah (campur aduk) dibuatnya.
"Ya Tuhan, kenapa suasananya jadi begini sih"
"Ingin rasanya Aku pulang saja" batin Lulu panik luar biasa.
Angga hanyalah rekan kerja sekaligus manager (atasan) di kantornya. Mereka sama sekali tidak punya hubungan istimewa. Lulu hadir di pesta terkutuk ini hanya karena ancaman dari managernya tersebut. Namun, posisi mereka saat ini yang terlalu dekat ditambah tangan Angga yang sempat hinggap di pinggangnya pasti terlihat sangat intim dan salah paham bagi siapa pun yang melihatnya termaksud pria asing di depannya saat ini.
Angga pun seketika menarik tangannya dengan secepat kilat, Lulu refleks mundur satu langkah. Jemarinya yang gemetar langsung memeluk tas kecilnya rapat-rapat di depan dada. Lulu menunduk dalam-dalam, berpura-pura sangat tertarik pada pola lantai pesta, berdoa dalam hati agar bumi tiba-tiba terbuka dan menelannya bulat-bulat dari rasa campur aduk yang tak tertahankan ini.
Sementara itu juga, Angga merasa sangat bersalah pada Lulu. Niat awalnya sangat sederhana. ia hanya butuh seorang teman di pesta yang ia benci ini agar tidak merasa terlalu terasing. Ia sama sekali tidak berniat mengenalkan Lulu sebagai "pasangan" ke keluarga, apalagi menjadikan Lulu target sindiran Riko. Namun, melihat Lulu yang pemalu sampai ketakutan dan gemetar, Angga merasa dialah penyebab wanita itu berada dalam posisi yang sangat tidak nyaman ini.
Angga melirik Lulu dari sudut matanya. Melihat wanita pemalu itu kini menunduk dalam-dalam, meremas tasnya dengan jemari yang masih gemetar rapat, rasa bersalah menghantam Angga tanpa ampun. Lulu sudah cukup menderita di kantor karena ulahnya sebagai manajer dan kini, Angga justru secara tidak sengaja menyeret Lulu masuk ke dalam neraka konflik keluarganya sendiri. Refleks tangannya yang sempat mendarat di pinggang Lulu tadi adalah murni ia lakukan karena dorongan mendesak untuk melindungi Lulu dari Riko. Namun itu membuat situasi semakin rumit setelah adik bungsunya melihatnya.
Angga mengepalkan tangannya rapat-rapat di dalam saku celana. Gigi-giginya berkatup rapat menahan amarah yang terarah pada dirinya sendiri. Malam ini, Angga tidak peduli lagi soal harga dirinya yang diinjak-injak oleh Riko. Satu-satunya hal yang ia inginkan saat ini adalah melindungi Lulu dan membawa wanita itu pergi dari atmosfer beracun ini secepat mungkin.
"It's okey, aku menyukainya" Ucap Ami dengan tenang dan juga riang memegang tangan Lulu dengan hangat.
"Hay,, kenalkan aku Ami"
"Aku adik paling kecil dari dua kakak laki - laki tampan ini" Tambahnya lagi begitu hangat menarik tangan Lulu yang begitu dingin dan pucat.
"Kamu okey ?" Tanya Ami dengan keheranan meraba telapak tangan Lulu yang begitu halus namus sangat dingin dan juga terlihat sangat pucat.
"Em,, em.. ya aku baik - baik saja " Ucap Lulu mencoba tersenyum manis seolah memberikan sinyal bahwa semuanya baik - baik saja
"Yeeeiii syukurlah,, kalau begitu siapa nama kakak ?" Tanya Ami begitu lega mengetahui jika wanita cantik di depannya saat ini menanggapinya dengan baik.
"A..Aku Lulu" Ucap Lulu masih terbata - bata karena efek rasa gugup dari suasana sebelumnya yang belum mereda.
"Yeeii ,, Kak Lulu aku senang sekali kamu bisa datang ke pesta ku"
"Apa kakak datang bersama Kak Angga ?"
"Are you my brother's girlfriend ?"
Tanya Ami kembali begitu penasaran dengan hubungan antara kakaknya dan juga wanita cantik tersebut.
Mendengar pertanyaan polos itu, mata lulu membelalak dan membuat jantung Lulu yang belum usai berdegup kencang akibat konfrontasi Riko kini makin serasa mau melompat keluar.
Sensasi hangat bekas jemari Angga di pinggangnya seolah mendadak kembali membakar kulitnya. Wajah Lulu memerah padam hingga ke ujung telinga. Udara di sekitarnya terasa lenyap seketika, membuat lidahnya kaku tak bertulang.
"Pacar? " batin Lulu menjerit panik.
Situasi tegang dengan Riko baru saja menguras habis keberaniannya dan kini ia harus berhadapan dengan pertanyaan polos yang terasa bagai ujian hidup. Lulu meremas tali tasnya erat-erat di depan dada, berusaha memoles senyum sekaku mungkin di hadapan anak kecil yang menatapnya penuh rasa ingin tahu itu.
Lulu pun menarik napas pendek yang tersangkut di tenggorokan. Mulutnya sempat terbuka sedikit, tapi tak ada kata yang berhasil keluar. Ia refleks melirik Angga secepat kilat seolah tatapannya meminta tolong dengan penuh kepanikan dan juga kepasrahan.
"E-eh... b-bukan..." suara Lulu keluar begitu kecil dan gemetar. Ia menggelengkan kepala dengan cepat, hampir panik.
"B-bukan begitu... Kakak cuma..."
"I don't care, sekarang kakak akan jadi teman ku, teman kak Angga berarti teman ku juga bukan ?" Ucap Ami seketika memotong pembicaraan Lulu lalu dengan lembut, tangan kecilnya itu meremas lembut jemari Lulu yang masih gemetar, lalu menariknya tanpa ragu melewati kerumunan tamu.
"Ayo kak, kesana yuuk.. sepertinya disana ada ice cream" seru Ami dengan ceria, sama sekali tidak menyadari badai tegang yang baru saja ia buyarkan.
Begitu tangan kecil itu menggandeng jari Lulu dan membawanya menjauh menuju area hidangan, tekanan berat yang menghimpit dada Lulu mendadak terangkat.
Lulu mengikutinya begitu saja, membiarkan dirinya diseret menjauh dari pusaran konflik. Saat melangkah pergi, Lulu sempat menoleh sedikit ke belakang. Di sana, di antara pendar lampu kristal pesta, Angga dan Riko berdiri mematung bagai dua patung batu.
Lulu merasa seperti baru saja keluar dari ruangan yang hampa udara. Setiap langkahnya menjauhi Angga dan Riko membuat napasnya terasa lebih ringan. Meski wajahnya masih terasa hangat dan pening karena rasa takut dan cemas serta malu, ada kelegaan yang luar biasa membanjiri dirinya. Adik kecil itu menarik tangan Lulu dengan antusias sambil mengoceh riang tentang persiapan ulang tahunnya dan balon-balon dekorasi. Celotehan polos itu menjadi white noise yang menyembuhkan bagi Lulu, membilas sisa-sisa trauma dari perkataan Riko dan rasa canggung akibat sentuhan Angga. Untuk pertama kalinya sejak tiba di pesta terkutuk itu, Lulu bisa mengukir senyum tulus.
Sementara di sudut dekat meja minuman, waktu seolah berhenti. Kepergian Lulu bersama si adik kecilnya itu meninggalkan ruang kosong yang mendadak sunyi di antara dua saudara tiri tersebut.
Angga berdiri kaku, pandangannya terpaku pada punggung Lulu yang kian menjauh. Ada rasa lega karena Lulu akhirnya aman dari jangkauan Riko, namun di saat yang sama, separuh jiwanya merasa kosong. Tangannya yang baru saja ditarik dari pinggang Lulu terasa dingin dan hampa. Sedangkan Riko hanya bisa diam dan mematung. Rencana indahnya untuk meremehkan Angga dan memanfaatkan Lulu sebagai bahan olokan hancur berantakan gara-gara aksi tak terduga adik bungsu mereka sendiri. Senyum jumawahnya memudar, berganti dengan kilatan kejengkelan yang tertahan di balik matanya. Tanpa kehadiran Lulu sebagai "perantara" atau target sasaran, yang tersisa hanyalah dua pria dewasa dengan dendam lama yang membeku. Udara di antara Angga dan Riko menjadi sangat tegang dan sarat akan konfrontasi terselubung.
****
Malam pun semakin larut, tetapi kemewahan di dalam ruang utama rumah besar itu justru makin memikat. Lampu gantung kristal yang melayang di langit-langit tinggi memancarkan pendar keemasan yang hangat, memantul elegan di atas lantai marmer yang mengilap. Dekorasi pesta ulang tahun Ami yang ke-12 tertata rapi di tengah ruangan lengkap dengan meja buffet panjang, kue bertingkat, dan lantunan musik akustik yang bergema lembut menembus sudut-sudut ruangan yang luas.
Di sudut ruang keluarga yang dihiasi sofa-sofa kulit mewah, Lulu duduk berdampingan dengan Ami. Bagi Lulu, megahnya rumah ini justru membuatnya merasa semakin kerdil dan canggung. Namun, Ami yang begitu ceria terus mengajaknya mengobrol, memamerkan kado-kado yang terpajang di meja.
Keheningan melintas sejenak saat suara langkah kaki yang mantap terdengar turun dari tangga utama yang melengkung indah.
Semua pandangan perlahan teralih. Mahendra sosok kepala keluarga yang dominan dan berwibawa turun bersama Marni sebagai istrinya. Dalam balutan kemeja formal yang sangat rapi, aura kepemimpinan Mahendra memadati seluruh ruangan.
"Terima kasih untuk semuanya yang sudah hadir malam ini di rumah kami," suara Mahendra menggelegar tenang namun penuh penekanan, menggema halus di antara dinding-dinding rumah yang tinggi. Tangan kekarnya merangkul penuh kasih sayang pada Ami yang langsung berlari menyambutnya. Di dekat meja minuman, Riko dan Angga langsung menegakkan posisinya. Riko dengan cepat menukar ekspresi angkuhnya dengan senyum putra teladan, berjalan mendekati ayahnya untuk menunjukkan dominasi dan keberadaannya di rumah itu.
Sementara itu, Angga berdiri agak jauh di dekat pilar pembatas ruang tamu. Matanya mengawasi pergerakan Mahendra dan Riko. Rumah besar ini selalu terasa dingin bagi Angga, dan malam ini ketegangan itu makin terasa membakar.
Pandangan Mahendra yang tajam dan berpengalaman menyapu isi ruangan. Setelah menyapa beberapa kerabat, matanya tertuju pada Angga yang berdiri menyendiri lalu beralih pada sosok Lulu yang duduk di samping putri bungsunya.
Mahendra melangkah menghampiri Angga, membuat gema langkah sepatunya di atas marmer terasa sangat menegangkan bagi Lulu yang memperhatikannya dari kejauhan.
"Angga," panggil Mahendra dengan suara beratnya yang khas namun tetap lembut. Pria paruh baya itu berdiri tegap di hadapan anak tirinya, mengamati wajah Angga dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ayah lihat dari tadi kamu cuma berdiri di sini. Dan... siapa wanita yang sedang duduk bersama Ami di sana?" Pertanyaan tenang dari sang pemilik rumah besar itu seketika membuat atmosfer di dalam ruangan terasa membeku. Riko menyunggingkan senyum tipis yang licik dari balik bahu ayahnya, bersiap untuk menyela dan memojokkan Angga di depan seluruh keluarga.
Tatapan mata Mahendra yang tajam dan berpengalaman menuntut jawaban yang lugas. Dari balik bahu ayahnya, Angga bisa melihat Riko sedang menyunggingkan senyum tipis menanti dengan cemas momen di mana Angga akan terdesak atau salah berucap.
Angga menarik napas dalam-dalam, menetralkan desiran emosi di dadanya, lalu menatap lurus mata ayah tirinya dengan ketenangan yang mantap.
"Namanya Lulu, Yah" jawab Angga dengan suara berat yang santun dan mantap, menggema halus di antara dinding marmer.
"Lulu rekan kerja Angga di kantor. Dia orang yang sangat berdedikasi dan banyak membantu Angga. Angga mengundangnya ke sini supaya dia bisa kenal dengan Ami dan sepertinya Ami sangat senang ngobrol dengannya dari tadi" Jawaban Angga yang begitu lugas, tenang dan tertata rapi seketika mengunci ruang gerak Riko. Senyum licik di wajah Riko perlahan menyusut.
Mahendra mengangguk pelan, menyapu pandangannya sekali lagi ke arah Lulu yang duduk bersama Ami di sofa ujung. Aura ketegangan yang sempat membeku di antara mereka perlahan mencair, tergantikan oleh rasa penasaran yang wajar dari seorang kepala keluarga.
"Baiklah nak , kemarilah sebentar lagi perayaan ulang tahun adik mu akan segera kita mulai" Ucap Mahenra sembari tangannya memberikan isyarat untuk bergabung bersama mereka di ruang utama dekat tangga.
Disana, Bu Marni sudah berdiri menunggu ke - 3 anaknya untuk bergabung bersamanya.
Kini sampailah di puncak acara utama malam ini, dimana Ami sembari menutup mata memanjatkan segala doa dan harapan baik untuk dirinya, orangtuanya dan juga ke dua kakak laki - lakinya sebelum akhirnya ia meniup 12 lilin - lilin kecil tersebut.
"Prook.. proook,," tepuk tangan yang begitu meriah oleh seluruh tamu undangan malam itu. Ami pun memotong kue keci itu lalu meletakannya di atas piring kecil dan kemudian menyuapi ayah, ibunya, Riko dan terakhir Angga.
Pesta malam itu benar - benar sangat meriah dan hangat di mata siapapun yang memandangnya. Selayaknya topeng, baik Angga maupun Riko mampu menyembunyikan ketegangan itu diantara mereka di depan semua orang terkecuali Lulu.
Di sudut ruangan yang sedikit lebih tenang, Lulu duduk di salah satu sofa empuk. Di sampingnya, adik perempuan Angga yang baru saja genap berusia 12 tahun itu tersenyum lebar sambil menikmati piring penutupnya. Lagu-lagu pop favorit anak remaja mengalun lembut dari sudut panggung, mengiringi tawa renyah sang adik kecil dan beberapa teman sebayanya yang sibuk berfoto bersama. Terlihat juga Bu Marni nampak sibuk berbincang - bincang dan menyalami satu persatu tamu undangan yang hadir. Terlihat berkelas dari semua tamu undangan yang hadir mereka rekan bisnis Mahenra dan juga beberapa kerabat dari Ayah Riko yang begitu terpandang.
Namun bagi Lulu, Ami adalah juru selamatnya. Keputusannya menarik tangan Lulu tadi bukan sekadar kepolosan anak-anak melainkan naluri peka seorang remaja yang tahu bahwa suasana antara Angga, Riko, dan Lulu sedang sangat tidak menyenangkan.
Mata Lulu kembali mencari sosok atasannya itu. Di tengah keramaian para tamu undangan tidak nampak satu pun terlihat Angga di dalam ruangan tersebut. Hanya ada Riko yang memandanginya begitu tajam dan menghakimi dari sudut ruangan sembari memegang segelas minuman segar ditangannya. Lama ia menatap Lulu dengan rasa tidak suka, namun Lulu sesekali melihat ke arah yang lain . Seketika Matanya pura - pura sibuk mencari keberadaan seseorang yang tidak di harapkannya.
"Pak Angga kemana ya ?" Batinnya merasa sedikit cemas dan gelisah serta takut jika nanti tiba - tiba saja Riko menghampirinya.
"Tring... tring.. tring..." Suara getar dari dalam tas kecilnya terdengar panggilan telfon yang tak di kenalnya.
"Halo" Ucap Lulu segera beranjak dari tempat duduknya untuk menghindari kebisingan suara di dalam ruangan tersebut.
" Selamat malam, Nona Lulu? " Ucap Seorang pria dari balik telfon.
"Ya benar pak, ini dengan siapa ya pak ?" Tanya Lulu kembali berjalan menuju area yang lain untuk menghindari kebisingan suara yang masih terdengar dari dalam ruangan.
"Saya dari jasa kurir pengiriman bunga" Suara pria di seberang telepon terdengar ramah.
"Saya sudah di depan pagar rumah besar nomor 18, tapi penjaga gerbang menahan saya. Ada pesanan buket bunga atas nama Ibu dari Toko Mawar Honey ?" Ucap jasa pengantar tersebut seketika mengingatkan Lulu dengan pesanan yang sudah dititipkan padanya dari Pak Angga seja sore tadi.
"Astaga itu bunga pak ya ?" Ucap Lulu sedikit panik mengingat dirinya sudah berada di dalam ruangan besar dan akan kesulitan jika harus beranjak kembali keluar ruangan terlebih lagi ia harus menuruni dan menapaki kembali anak tangga bagai lingkaran ular tersebut.
Memikirkannya saja ia tidak sanggup apalagi buket bunga mawar merah ini cukup besar di tambah lagi hells yang tinggi akan membuat dirinya bisa saja terjatuh dan merusak hadiah dari Angga untuk adiknya Ami.
Tanpa berpikir panjang, Lulu bertekad untuk menjemput buket bunga demi Adik kecil yang telah menolongnya. Ya demi Ami, Lulu rela jika harus menuruni dan menapaki kembali anak tangga tersebut.
"Baik pak,, tunggu sebentar pak ya.. saya akan segera turun" Ucap Lulu dengan tenang dan menarik napasnya sejenak lalu dengan cepat ia membalikan badan dan berjalan cepat menuju arah pintu keluar utama. Sepatu hak tinggi yang ia kenakan membuatnya terbatas untuk bergerak bebas dan ada rasa ketidak nyamanan saat bunyi sendal hells itu bergema di atas lantai porselen pesta yang megah. Ia merasa cemas karena semua mata tertuju padanya dan ia tak bisa lari dengan cepat jika terjadi sesuatu.
Namun belum sempat Lulu berjalan menjauh dari kerumunan, bayangan tubuh seseorang mendadak menutupi pendar chandelier di atas kepalanya.
"Sret!" Pelayan itu berpura-pura menyangkutkan ujung sepatunya pada pinggiran karpet tebal. Tubuhnya meliuk kaku dan dalam hitungan detik
"PRANG!"
Nampan itu miring tajam. Cairan pekat berwarna gelap berserta pecahan gelas meluncur deras dari udara, tumpah ruah menghantam bagian depan gaun cantik yang dikenakan Lulu!
Ponsel di tangan Lulu hampir saja terlepas. Bau manis anggur dan pekatnya cairan dingin seketika meresap menembus kain gaunnya meninggalkan noda besar yang sangat mencolok di bawah pendar lampu pesta.
"Ya Tuhan....gaun ku" Ucap Lulu menahan tangis dengan apa yang barusan di alaminya.
semangat thor
jadi penasaran nih lanjut baca..