NovelToon NovelToon
Mengandung Anak Selingkuhan Suamiku

Mengandung Anak Selingkuhan Suamiku

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:204.5k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.

Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.

"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."

Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.

Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Sidang pertama gugatan perceraian Vivienne akhirnya tiba. Sejak pagi, suasana di sekitar gedung pengadilan terasa lebih ramai dari biasanya. Beberapa orang datang untuk mengurus perkara masing-masing, sementara para pengacara berjalan cepat sambil membawa berkas tebal di tangan.

Vivienne datang bersama Estelle. Dia memegang perutnya yang sudah sangat besar daengan kedua tangannya. Usia kehamilan Vivienne sudah memasuki tiga puluh minggu. Perutnya terlihat semakin besar, sehingga langkahnya pun kini lebih hati-hati. Estelle berjalan di sampingnya sambil sesekali memperhatikan wajah sahabatnya.

"Pelan-pelan saja," ujar Estelle sambil menahan lengan Vivienne ketika mereka menaiki tangga. "Kamu tidak perlu terburu-buru."

Vivienne tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja," jawabnya sambil mengusap perutnya. "Hanya sedikit gugup."

Estelle menatapnya dengan wajah khawatir. "Kalau kamu lelah, bilang."

Vivienne mengangguk. "Iya."

Fi balik ketenangannya, Vivienne sebenarnya sedang menahan banyak hal. Ia ingin semuanya segera selesai. Ia ingin pernikahannya dengan Dominic berakhir. Ia ingin terbebas dari keluarga Aschroft.

Hari ini Vivienne harus kembali menghadapi kenyataan bahwa semuanya tidak bisa berjalan secepat yang ia inginkan. Di ruang sidang, pengacara Vivienne sudah menunggu. Beberapa dokumen diletakkan rapi di atas meja.

Vivienne duduk dengan tenang. Tidak lama kemudian, pihak Dominic datang bersama pengacaranya.

Dominic sendiri tidak hadir karena masih menghadapi proses hukum terkait kasus penyalahgunaan dana perusahaan. Kehadiran pengacara pihak Dominic membuat suasana semakin tegang.

Sidang dimulai. Setelah beberapa pembahasan mengenai gugatan perceraian, pengacara Vivienne menjelaskan posisi kliennya.

"Yang Mulia, klien kami tetap pada keputusan untuk mengakhiri pernikahan," ujar pengacara Vivienne dengan suara tenang. "Namun, kami menghormati proses hukum yang harus dijalankan."

Hakim mengangguk sambil memeriksa beberapa dokumen. Kemudian hakim menyampaikan keputusan sementara.

"Setelah mempertimbangkan kondisi kehamilan penggugat dan beberapa persoalan hukum yang masih berjalan, persidangan perkara perceraian ini akan ditunda."

Vivienne yang sejak tadi duduk tenang langsung mengangkat wajah. "Ditunda?" tanyanya tanpa sadar.

Pengacaranya menyentuh lengannya pelan. "Tenang, Nyonya."

Hakim melanjutkan penjelasannya. "Persidangan akan dilanjutkan setelah anak tersebut lahir dan kurang lebih satu bulan setelah kelahiran. Hal ini diperlukan agar status anak, pencatatan kelahiran, serta beberapa hal yang berkaitan dengan hak dan kewajiban kedua pihak dapat diperjelas."

Vivienne terdiam. Tangannya perlahan turun ke atas perut. Ia masih harus menunggu cukup lama sampai bayi itu lahir. Kemudian menunggu satu bulan lagi sebelum sidang dilanjutkan.

Ada rasa kecewa yang perlahan memenuhi dada Vivienne. Bukan karena ia ingin terburu-buru meninggalkan Dominic. Ia hanya sudah terlalu lelah menghadapi semua persoalan yang berkaitan dengan pria itu.

Estelle mencondongkan tubuhnya. "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya pelan.

Vivienne menarik napas panjang. "Aku kecewa," jawabnya jujur. "Tapi tidak apa-apa."

Wanita itu menatap perutnya dan mengusapnya perlahan. "Yang penting bayiku aman."

Pengacaranya mengangguk. "Keputusan ini memang tidak seperti yang kita harapkan. Namun, ada sisi positifnya. Kita punya waktu untuk mempersiapkan semuanya dengan lebih matang."

Vivienne mengangguk. "Aku mengerti."

Vivienne berdiri perlahan setelah persidangan selesai. Estelle segera mendekat untuk membantunya.

"Masih kuat?" tanya Estelle sambil memperhatikan langkahnya.

Vivienne tersenyum kecil. "Masih."

Mereka berjalan keluar dari ruang sidang. Namun, baru beberapa langkah, terdengar suara yang sangat dikenalnya.

"Vivi!"

Langkah Vivienne berhenti. Estelle langsung menoleh.

Victoria berdiri tidak jauh dari mereka. Wanita itu terlihat jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Tidak ada pakaian mewah yang mencolok. Tidak ada tas mahal yang biasa dibawanya. Wajahnya terlihat lebih tua. Matanya cekung, dan ekspresinya penuh kemarahan.

Beberapa orang yang berada di sekitar mereka mulai menoleh.

Victoria berjalan mendekat. "Kamu puas sekarang, hah?!" bentaknya.

Vivienne hanya menatapnya tenang. "Ada apa, Mom?" tanyanya datar.

Victoria mendengus. "Kamu sengaja melakukan semua ini!"

Estelle maju setengah langkah. "Jaga ucapanmu," ujar Estelle tegas.

Victoria mengabaikannya. "Kamu menghancurkan anakku!"

Vivienne tidak langsung menjawab. Ia justru mengusap perutnya dengan lembut.

"Dominic menghancurkan dirinya sendiri," jawab Vivienne akhirnya.

Victoria terdiam sesaat. Kemudian wajahnya semakin merah. "Jangan merasa sudah menang!"

Vivienne mengangkat alis. "Aku tidak sedang bertanding dengan siapa pun."

"Kamu pikir setelah bercerai semuanya selesai?" bentak Victoria. "Tidak!"

Beberapa orang mulai berbisik.

Victoria semakin emosi. "Setelah bayi itu lahir, kami akan mengambilnya!"

Vivienne langsung terdiam. Tatapannya berubah.

Victoria menunjuk perut Vivienne dengan tangan gemetar. "Bayi itu darah keluarga Aschroft. Dia anak Dominic. Kami punya hak!"

Estelle langsung menatap Victoria tajam. "Jangan sembarangan berbicara tentang bayi orang lain."

Victoria membalas dengan suara tinggi. "Dia cucuku!"

Vivienne akhirnya mengangkat wajah. Senyumnya muncul, sangat tipis. Namun, justru membuat Victoria berhenti berbicara.

"Nyonya Victoria," ujar Vivienne pelan, "saya sarankan Anda jangan terlalu sibuk memikirkan cara merebut anak orang lain."

Victoria mendelik. "Berani sekali kamu!"

Vivienne tetap tenang. Ia melangkah sedikit lebih dekat.

"Saya hanya mengatakan fakta. Tidak ada seorang pun yang bisa mengambil bayi dari seorang ibu hanya dengan berteriak di depan gedung pengadilan."

Wajah Victoria memerah. "Kamu tidak tahu siapa keluarga kami!"

Vivienne tersenyum kecil. Ia menatap Victoria dari atas ke bawah. "Dulu saya juga tahu."

Victoria mengepalkan tangan.

Vivienne melanjutkan dengan suara tetap lembut. "Saya tahu keluarga Aschroft pernah hidup mewah."

Senyum Vivienne semakin tipis. "Saya juga tahu siapa yang selama bertahun-tahun membayar kehidupan mewah itu."

Victoria langsung terdiam. Beberapa orang di sekitar mereka mulai berbisik lebih keras. Wajah Victoria berubah.

"Jangan membawa-bawa uang!"

Vivienne mengangguk. Ia mengusap perutnya.

"Baik. Kalau begitu, jangan bawa-bawa anak saya."

Victoria langsung membalas. "Anak itu milik Dominic!"

Vivienne menatapnya lurus. "Anak ini sedang berada di dalam tubuh saya."

Suaranya tidak keras. Namun setiap kata terdengar jelas. "Saya yang menjaganya selama tujuh bulan. Saya yang merasakan setiap gerakannya."

Vivienne berhenti sejenak. "Lalu Anda datang setelah semuanya selesai dan mengatakan ingin mengambilnya?"

Victoria membuka mulut, tetapi tidak langsung menemukan jawaban.

Vivienne tersenyum tipis. Tatapannya berubah dingin.

"Menurut saya, itu bukan kasih sayang seorang nenek. Itu hanya keinginan untuk memiliki sesuatu yang selama ini Anda anggap sebagai milik keluarga Anda."

Victoria gemetar karena marah. "Kamu—"

Vivienne memotongnya dengan suara tetap tenang. "Dan satu lagi."

Victoria terdiam.

"Kalau saya jadi Anda, saya akan lebih dulu memikirkan bagaimana cara menyelesaikan masalah keluarga Anda sendiri."

Wajah Victoria langsung pucat. Vivienne tidak perlu menjelaskan, semua orang sudah tahu.

Dominic berada dalam masalah hukum. Keluarga Aschroft tidak lagi mendapatkan uang seperti dulu. Production house Billy berada dalam kondisi sulit. Dan kehidupan mewah yang dahulu selalu dipamerkan Victoria sudah menghilang. Bahkan beberapa kerabat yang dulu berebut mendekatinya kini mulai menjaga jarak.

Bisik-bisik terdengar dari belakang.

"Itu Victoria Aschroft, kan?"

"Iya."

"Katanya Dominic masuk penjara?"

"Benar."

"Kasihan sekali."

"Padahal dulu mereka selalu mengadakan pesta besar."

Victoria mendengar semuanya. Wajahnya semakin merah. Ia menatap orang-orang yang berbisik dengan tatapan penuh kebencian.

"Kalian diam!" bentak Victoria. Namun, tidak ada yang benar-benar berhenti.

Vivienne hanya berdiri diam. Tidak ada kebahagiaan di wajahnya melihat Victoria dipermalukan. Tidak ada rasa ingin tertawa. Hanya ada kelelahan.

Estelle kemudian menyentuh lengan Vivienne. "Sudah. Jangan terlalu lama berdiri."

Vivienne mengangguk. Sebelum pergi, ia kembali menatap Victoria. "Nyonya Victoria."

Victoria menoleh dengan napas berat. "Jangan terlalu yakin bisa mendapatkan anak saya hanya karena dia memiliki hubungan darah dengan Dominic."

Vivienne tersenyum tipis. "Karena ketika waktunya tiba, semuanya akan diputuskan berdasarkan hukum."

Victoria tidak menjawab.

Vivienne berbalik dan berjalan pergi bersama Estelle. Beberapa langkah kemudian, Estelle menoleh ke belakang.

Victoria masih berdiri di tempatnya, sendirian. Tidak ada lagi orang yang mengelilinginya seperti dulu. Tidak ada teman sosialita yang sibuk memuji pakaiannya. Tidak ada kemewahan yang dahulu membuatnya merasa berada di atas semua orang.

Estelle menghela napas. "Dia benar-benar berubah," ujar Estelle pelan.

Vivienne tidak menoleh.

"Semua orang berubah ketika keadaan berubah." Estelle memperhatikan wajah sahabatnya. "Kamu tidak puas?"

Vivienne menggeleng. "Aku hanya ingin hidupku kembali tenang." Ia berhenti sebentar, kemudian mengusap perutnya. "Aku ingin anak ini lahir dengan selamat."

Estelle tersenyum hangat. "Itu yang paling penting."

Vivienne mengangguk. Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu satu hal. Penundaan sidang bukan berarti pertempuran selesai. Justru selama satu bulan ke depan setelah kelahiran nanti, masih akan ada banyak hal yang harus ia hadapi.

Jika keluarga Aschroft benar-benar mencoba merebut bayinya, Vivienne tidak akan tinggal diam. Ia sudah terlalu lama menjadi perempuan yang mudah dipercaya. Kali ini, ia akan menjadi seorang ibu yang tidak akan membiarkan siapa pun mengambil anaknya begitu saja.

1
Heni Setiyaningsih
ternyata kenyamanan hidup klrg nya dari belas kasihan istrinya
Nar Sih
kalian berdua lucu ,pdhl sama,,suka tpi ngk ada yg ngaku 😂😂
Nar Sih
kayak nya seru klau vivi berjodoh dgn kilian kak thor☺️
Nar Sih
ngk kerasa arabella udh besar
lyla lafiya
👍
Pudkeciput
perlu mampir ini sepertinya...😍
Ita rahmawati
weeehhh udah tamat toh 😂
ada bonus babnya GK Thor 🤔
Ita rahmawati
ayo bongkar aja semua sel biar SM SM hancur kalian 😂
Ita rahmawati
kapokmu giselleeee
Ita rahmawati
nah kan emosi Giselle 😂
Ita rahmawati
nahbgitu loh cil bocil cerita ke ortumu
Ita rahmawati
kalopun bukan juga ngapa 🤦
hadeuh knpa bocil harus jd dewasa sblm waktunya dg memikirkan hala hal seperti itu 🤦
Ita rahmawati
udah Ra udh punya Daddy SM mommy kok ya masih pengen papa 🤦😂
Ita rahmawati
bner GK semua hal bisa diperbaiki,, aku rasa kesalahan Dominic sangat fatal dn TK termaafkan bahkan dg melarangnya menemui anaknya sendiripun masih blm cukup utk menebusnya 😏
bukan hanya berkhianat tp juga membuat Vivienne keguguran 2X dn mengandung anak dari selingkuhannya,, bayangin sesakit apa jd Vivienne dn sejahat apa Dominic yg tega gugurin anak sendiri sampe 2X atau brpa kali ya 😔
pokoknya TK termaafkan 😡
Ita rahmawati
ya sengaja emang ora Sudi ketemu Kamu Dominic 😂
Ita rahmawati
nah ini justru akan buat masalah baru dg kamu GK jujur ke killian Vi 🤦
Ita rahmawati
blm telat Vi ayo masih bisa dibicarakan 🤭
Ita rahmawati
nah kan kamu kecolongan sampe dia manggil papa loh ya walaupun emang papanya tp kan tnpa sepengetahuan mu loh vi
Ita rahmawati
kenapa bisa ngajak Ara seleluasa itu,, emangnya GK curiga gtu mungkin pas jemput anaknya GK ada atau gimana kan 🤦
Ita rahmawati
ayo Vi kamu seorang ibu pasti tau apa yg terjadi SM anakmu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!