Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 — PERNIKAHAN YANG TERLALU CEPAT
Sabtu pagi itu terasa sangat abu-abu. Udara dingin sisa hujan semalaman masih menempel ketat di kaca jendela ruang tamu kediaman keluarga Aurelia. Tidak ada dekorasi megah, tidak ada dentang musik pesta, juga tidak ada karangan bunga papan berpita warna-warni yang biasanya menghiasi halaman rumah pengantin baru.
Hanya ada sebuah meja kayu persegi panjang yang dialasi kain putih bersih di tengah ruang keluarga. Di atasnya, dua buah buku nikah berukuran kecil—satu berwarna merah tua dan satu lagi hijau tua—tergeletak berdampingan di dekat sebuah penandatanganan berkas resmi dari KUA.
Naya menatap bayangannya di cermin rias kamar. Kebaya putih simpel berhias payet sederhana melekat di tubuhnya, dipadukan dengan kain batik cokelat keemasan. Rambutnya disanggul modern dengan riasan wajah tipis yang dibuat se-natural mungkin oleh sepupu ibunya. Bagi gadis berusia tujuh belas tahun, penampilan ini terasa sangat asing. Rasanya seperti sedang mengenakan kostum drama teater sekolah—bedanya, kali ini tidak ada naskah dialog lucu atau jalan cerita yang bisa diubah sesuai keinginan.
"Naya... acara mau dimulai, Sayang," panggil Maya pelan dari balik pintu kamar. Ibunya masuk dengan langkah perlahan, menatap putrinya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
"Ibu..." suara Naya tercekat di tenggorokan. Ia berbalik, menatap ibunya dengan pandangan penuh permohonan. "Ini beneran nggak bisa dibatalkan? Naya rasanya mau pingsan aja."
Maya mendekat, merapikan anak rambut di pelipis Naya lalu memeluk putrinya erat-erat. "Maafkan Ayah dan Ibu ya, Nak. Tapi percayalah, Arka itu anak yang baik. Dia bisa menjaga kamu."
Menjaga? Dia itu lebih mirip sipir penjara daripada pelindung! batin Naya menjerit, walau ia tidak menyuarakan kalimat itu demi menjaga perasaan ibunya.
Dengan langkah yang terasa seberat bongkahan timah, Naya menuruni tangga kayu menuju ruang keluarga. Suasana di bawah teramat hening. Di sana hanya ada Ayah, Om Adrian, Tante Elena, penghulu dari KUA setempat, serta dua orang saksi dari keluarga terdekat. Dan tentu saja... Arka.
Laki-laki itu berdiri di samping meja akad. Arka mengenakan jas beskap putih elegan dengan peci hitam yang terpasang presisi di kepalanya. Harus diakui secara obyektif—dan sangat terpaksa—Arka terlihat luar biasa tampan pagi ini. Postur tubuhnya yang tegap dan garis rahangnya yang tegas membuat setelan tradisional itu melekat sempurna padanya.
Namun, ekspresi wajah Arka sama kaku dan dinginya seperti balok es di kulkas. Saat mata mereka beradu sekilas, Arka hanya memberikan tatapan datar tanpa emosi, seolah sedang menghadiri upacara bendera hari Senin yang membosankan.
Naya mengambil tempat duduk di samping Arka. Jarak mereka hanya terpaut beberapa puluh sentimeter, cukup dekat hingga Naya bisa menangkap samar aroma parfum maskulin beraroma kayu dan citrus khas Arka yang bercampur dengan wangi bunga melati dari ronce di pakaian mereka.
Prosesi ijab kabul berlangsung sangat cepat. Saat Raka mengulurkan tangannya dan Arka menjabatnya dengan genggaman yang kuat serta mantap, jantung Naya berdegup liar bagaikan ditabuh genderang perang.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Naya Aurelia binti Raka Aurelia dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."
Suara Arka terdengar begitu tegas, jelas, dan tanpa keraguan sedikit pun dalam satu tarikan napas.
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah!"
Kata sah yang bergema serentak di ruangan itu rasanya menghantam dada Naya hingga sesak. Dalam hitungan detik, hidupnya resmi berubah. Detik itu juga, Naya Aurelia bukan lagi sekadar siswi kelas 12 IPS 2 yang sering dihukum karena melompati pagar. Dia sekarang adalah seorang istri. Dan suaminya adalah ketua OSIS yang paling ia benci di seluruh muka bumi.
Setelah penandatanganan buku nikah dan doa bersama selesai, prosesi dilanjutkan dengan hal yang paling canggung sepanjang sejarah hidup Naya: mencium tangan suami.
Naya meraih jemari kanan Arka dengan gerakan kaku seperti robot yang kekurangan oli. Tangannya gemetar tipis saat menempelkan punggung tangan Arka ke dahinya. Kulit tangan Arka terasa hangat dan sedikit kasar. Sebaliknya, Arka membalasnya dengan meletakkan telapak tangan kirinya di atas puncak kepala Naya selama beberapa detik—sebuah instruksi wajib dari penghulu yang membuat seluruh bulu kuduk Naya meremang hebat.
Ketika sesi foto keluarga yang singkat itu akhirnya usai, para orang tua berpindah ke meja makan untuk menikmati hidangan syukuran sederhana. Naya dan Arka dibiarkan berdiri berdua di sudut ruang tamu, bernapas dalam canggung yang luar biasa tebal.
Naya mencopot ronce melati kecil yang tersangkut di kain kebayanya dengan kasar, membuangnya ke telapak tangannya sendiri seraya menatap Arka dengan lirikan tajam.
"Puas lo sekarang?" bisik Naya sengit, memastikan suaranya tidak terdengar oleh orang tua mereka di meja makan. "Selamat ya, Pak Ketua OSIS. Kehidupan impian lo yang dipenuhi penderitaan gue resmi dimulai hari ini."
Arka membetulkan letak peci hitamnya yang sebenarnya sudah sangat lurus. Ia menghembuskan napas pelan lewat hidung, melirik Naya dari sudut matanya.
"Kamu pikir saya bahagia?" balas Arka dengan nada suara teratur namun tajam. "Sabtu pagi saya yang harusnya dipakai buat istirahat dan mempersiapkan materi rapat OSIS minggu depan, malah habis buat berdiri di sini mengenakan pakaian panas ini."
"Wah, parah banget lo!" Naya menepuk dadanya sendiri, pura-pura terkejut. "Gue yang dikorbankan di sini, Arka! Cita-cita gue punya masa SMA yang normal hancur berkeping-keping gara-gara menikah sama robot kaku kayak lo!"
"Saya nggak pernah minta kamu buat nikah sama saya, Naya," potong Arka tenang. Ia melangkah satu jengkal lebih dekat, menundukkan kepalanya sedikit agar posisinya sejajar dengan Naya. "Dan tolong, jaga volume suara kamu. Kalau Ayah atau Papa dengar kamu teriak-teriak gini, acara makan siang mereka bisa berantakan."
"Biarin! Biar mereka tahu kalau kita itu lebih cocok saling bunuh daripada nikah!"
Arka menatap wajah Naya yang memerah menahan kesal. Ada hiasan mikropoin bercahaya di sudut mata cewek itu, membuat ketegangan di wajah Naya terlihat sedikit lucu di mata Arka.
"Dengar," kata Arka pelan, suaranya berubah sedikit lebih rendah dari biasanya. "Kita sudah menandatangani perjanjian itu kemarin. Pernikahan ini cuma status di atas kertas demi orang tua kita. Begitu kita lulus sekolah dan masuk kuliah, kita bisa bicarakan ini lagi baik-baik sama mereka. Sampai hari itu tiba, kita harus belajar bekerja sama."
Naya mendengus sinis, membuang mukanya ke samping. "Bekerja sama? Sama lo? Sori ya, gue lebih memilih bekerja sama sama kecoa atau tikus got daripada harus bekerja sama sama manusia menyebalkan kayak lo."
Untuk sejurus kecil, keheningan merayap di antara mereka. Naya menyilangkan kedua tangannya di dada, menunggu balasan tajam atau teguran kaku yang biasanya dilontarkan Arka saat argumennya dipatahkan.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Bibir Arka yang biasanya terkunci rapat dalam garis lurus mendadak terangkat. Mula-mula hanya berupa sunggingan tipis di sudut kirinya, lalu perlahan berkembang menjadi sebuah tawa kecil yang lolos dari tenggorokannya. Suara tawanya renyah, halus, dan terdengar sangat lepas—sesuatu yang sama sekali belum pernah Naya dengar selama dua setengah tahun mengenalnya di SMA Garuda Bangsa.
Naya membeku seketika. Matanya membelalak menatap Arka yang sedang terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala.
"Kecoa?" gumam Arka tipis, masih dengan sisa lengkungan senyum di wajahnya. "Analogi kamu makin hari makin dangkal, Naya."
Naya lupa bagaimana cara bernapas selama beberapa detik. Ada desiran aneh dan asing yang mendadak berdesir di dadanya—sebuah perasaan canggung yang membuat jantungnya melompat abnormal. Senyum Arka saat ini sama sekali tidak terlihat kaku atau menyebalkan. Laki-laki itu justru terlihat... sangat manusiawi. Dan berbahaya bagi pertahanan dirinya.
"Lo... lo ngapain ketawa?!" sembur Naya cepat-cepat untuk menutupi kecanggungannya yang membumbung tinggi. Pipinya terasa panas mendadak. "Enggak ada yang lucu ya!"
Arka dengan cepat menguasai dirinya kembali. Senyum itu surut, berganti dengan raut tenangnya yang biasa, walau binar di matanya belum sepenuhnya hilang.
"Saya cuma heran," sahut Arka datar, memalingkan pandangannya ke arah ruang makan. "Bagaimana bisa seseorang se-cerewet kamu harus berbagi rumah sama saya mulai nanti malam."
Arka memutar tubuhnya dan melangkah menghampiri keluarga mereka di meja makan, meninggalkan Naya yang masih berdiri terpaku di sudut ruangan.
Naya menyentuh pipinya sendiri yang terasa hangat, lalu meremas kain kebayanya dengan erat.
"Sialan lo, Arka Pradipta..." bisiknya pada udara kosong, berusaha menepis perasaan aneh yang baru saja menyusup masuk tanpa izin.