Ini adalah cerita tentang seorang remaja yang dianggap sebagai generasi muda terkuat saat ini. Ia tidak hanya kuat, ia juga kaya. Semua ia dapatkan berkat campur tangan gurunya.
Takdir mempertemukannya pada seorang pendekar misterius. Pendekar itu sangatlah kuat, walaupun tingkahnya agak sembrono.
Di kemudian hari ia akan mengetahui identitas dari pria itu. Petualangan mereka berdua akan sangat seru dan penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat Buruk Lan Suya
Mendengar sapaan itu, wajah Lan Suya yang sejak tadi dipenuhi kegelisahan akhirnya sedikit melunak. Senyum tipis menghiasi bibirnya.
"Rui'er."
Melihat Gao Rui berdiri di hadapannya dalam keadaan baik-baik saja, beban di hatinya sedikit berkurang.
"...syukurlah."
Di dalam benak Lan Suya, ia segera menyusun berbagai kemungkinan. Gao Rui pastinya sudah mengetahui identitas Sha Nuo yang sebenarnya. Kalau tidak, hubungan mereka tidak mungkin bisa menjadi sedekat itu hanya dalam beberapa hari.
Kemungkinan besar, Sha Nuo telah memperkenalkan diri sejak awal. Bahkan mungkin telah menjelaskan alasan kedatangannya ke Kekaisaran Zhou atas perintah Boqin Changing.
Memikirkan hal itu, Lan Suya pun merasa sedikit lega. Setidaknya, Gao Rui tidak sedang berada dalam bahaya.
Ia melangkah mendekati Gao Rui.
"Rui'er."
Gao Rui tersenyum kecil.
"Bibi."
Lan Suya kemudian bertanya,
"Dari mana saja kau?"
Gao Rui menjawab tanpa ragu.
"Aku baru saja makan siang di luar."
Mendengar jawaban itu, Lan Suya langsung bertanya lagi.
"Makan dengan siapa? Apa bersama Senior Yuang Dao?"
Pertanyaan itu membuat Gao Rui terdiam.
"..."
Untuk beberapa saat, ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Di dalam hatinya, ia baru menyadari satu hal. Ia sendiri belum pernah memperkenalkan Paman Sha Nuo kepada Lan Suya. Selama beberapa hari terakhir, ia hanya menganggap semuanya berjalan begitu alami hingga lupa memberitahu Bibi Lan Suya.
Namun, iaa juga tidak ingin berbohong.
Setelah berpikir sejenak, Gao Rui akhirnya membuka mulut.
"Aku... baru saja makan bersama seorang kenalanku."
Lan Suya tetap menatapnya.
"Oh ya... Siapa?"
Gao Rui menarik napas pelan.
"...Paman Sha Nuo."
Baru saja nama itu keluar dari mulutnya, Gao Rui buru-buru melanjutkan,
"Bibi, ia orang baik. Aku harap Bibi tidak salah paham."
Mendengar nama itu disebut langsung oleh Gao Rui, tubuh Lan Suya sedikit membeku.
"..."
Ia memang sudah menduga jawaban itu. Namun ketika mendengarnya langsung dari mulut Gao Rui, perasaannya tetap terasa rumit.
Tanpa sadar, tatapannya segera bergerak ke sekeliling. Ke kanan dan ke kiri. Bahkan indra spiritualnya mulai menyapu area sekitar penginapan. Ia mencari satu sosok, Yuang Dao.
Namun tidak ada. Ia sama sekali tidak dapat merasakan keberadaan pendekar itu.
Perasaan Lan Suya kembali menjadi berat. Ia segera menatap Gao Rui.
"Rui'er. Kalau begitu... di mana Paman Sha Nuo sekarang?"
Gao Rui menggeleng pelan.
"Kami berpisah setelah selesai makan siang. Katanya ia masih ada sedikit urusan."
"Jadi kami berpisah di sana."
Mendengar jawaban itu, wajah Lan Suya perlahan berubah serius. Sha Nuo tidak bersama Gao Rui. Yuang Dao juga tidak berada di sisi Gao Rui. Kedua orang itu menghilang pada waktu yang bersamaan. Dada Lan Suya seketika terasa sesak.
"Jangan-jangan..."
Kemungkinan terburuk kembali memenuhi pikirannya. Ia langsung berbalik menuju kereta kuda.
"Kita pergi."
Rou Xi yang melihat perubahan ekspresinya segera bertanya,
"Nyonya?"
Lan Suya menjawab tanpa menghentikan langkah.
"Ke rumah makan tempat Rui'er makan siang."
Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Namun wajahnya telah menjelaskan segalanya. Perasaannya mengatakan bahwa mereka mungkin sudah terlambat.
Sementara Gao Rui yang berdiri di tempat hanya memandang punggung Lan Suya dengan wajah penuh kebingungan.
"...Bibi?"
Ia sama sekali belum memahami mengapa nama Sha Nuo membuat Lan Suya berubah begitu panik.
Lan Suya segera membuka pintu kereta kuda.
Tap.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia naik ke dalam kereta. Wajahnya masih dipenuhi kecemasan. Setiap detik terasa begitu berharga baginya.
Di belakangnya, Rou Xi hendak ikut masuk. Namun, tepat ketika satu kakinya hampir menginjak pijakan kereta...
"..."
Gerakannya tiba-tiba terhenti.
Entah mengapa, pandangannya tertarik ke arah kejauhan. Dari halaman Penginapan Kayu Mawar, salah satu sisi perbukitan di luar Kota Weiyang memang masih dapat terlihat, meskipun jaraknya cukup jauh.
Bukit itu selama ini selalu tampak indah. Hamparan pepohonan hijau menutupi lerengnya, menjadikannya salah satu pemandangan yang paling menenangkan jika dilihat dari penginapan.
Namun kali ini...
"...?"
Alis Rou Xi perlahan berkerut.
Pemandangan bukit itu terasa berbeda. Di salah satu sisi lereng, asap hitam tampak mengepul ke langit. Api berwarna jingga menjalar di antara pepohonan, membakar sebagian hutan yang sebelumnya tampak hijau.
"Itu..."
Belum sempat ia mencerna apa yang dilihatnya, matanya kembali membelalak.
Di atas puncak bukit, awan hitam pekat berkumpul membentuk pusaran raksasa. Langit di area itu seolah terpisah dari langit Kota Weiyang yang masih cerah. Gulungan awan terus berputar perlahan, memancarkan tekanan yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa sesak.
Crakkk!!
Seberkas petir putih menyambar dari dalam awan.
Sesaat kemudian suara gemuruhnya mengguncang udara.
Crakkk!
Petir lain kembali menyambar.
Kilatan demi kilatan terus muncul di dalam pusaran awan hitam itu, seolah langit sedang mengamuk. Rou Xi hanya mampu menatap tanpa berkedip.
"..."
Di dalam kereta, Lan Suya yang menyadari Rou Xi belum juga masuk akhirnya membuka tirai.
"Ayo..."
Namun wanita itu sama sekali tidak menjawab.
Lan Suya kembali memanggil.
"Kenapa diam saja? Ayo masuk."
Rou Xi masih memandang ke arah yang sama.
Beberapa saat kemudian, ia berkata dengan suara pelan,
"...Nyonya."
Nada suaranya terdengar berbeda. Bukan panik. Melainkan dipenuhi keterkejutan.
"Tolong... keluar sebentar."
Mendengar itu, Lan Suya langsung mengernyit. Tanpa bertanya apa pun, ia kembali turun dari kereta.
"Ada apa?"
Rou Xi perlahan mengangkat tangannya, menunjuk ke arah kejauhan.
"Nyonya... lihat ke sana."
Lan Suya mengikuti arah telunjuk Rou Xi.
Begitu matanya tertuju ke perbukitan itu...
"...!!"
Wajahnya langsung berubah. Api yang membakar lereng bukit. Awan hitam raksasa yang menggantung di langit. Serta sambaran petir yang terus-menerus menghantam area yang sama. Seluruh pemandangan itu jelas bukan fenomena alam biasa.
Bai Kai yang berdiri di dekat kudanya ikut mendongak ke arah yang sama.Ekspresinya perlahan membeku.
"..."
Untuk sesaat, tidak seorang pun mengucapkan sepatah kata. Mereka bertiga hanya berdiri memandangi perbukitan yang kini tampak seperti medan bencana.
Entah mengapa, di dalam hati Lan Suya, firasat buruk yang sejak tadi mengganggunya menjadi semakin kuat. Seolah-olah, dua pendekar yang paling ia khawatirkan, benar-benar sedang bertarung di sana.
Lan Suya terus menatap perbukitan itu tanpa berkedip. Hatinya berdebar semakin kencang.
"..."
Beberapa saat kemudian, sorot matanya berubah tegas. Ia telah mengambil keputusan. Lan Suya segera berbalik menatap Bai Kai.
"Senior Kai."
"Ya, Nyonya."
"Aku akan pergi ke sana bersama Rou Xi."
Ia mengangkat tangan, menunjuk ke arah bukit yang diselimuti awan hitam.
"Kau tetap di sini."
Bai Kai sedikit terkejut.
"Nyonya, biarkan aku yang menemani..."
Lan Suya langsung menggeleng.
"Tidak."
Tatapannya kemudian beralih kepada Gao Rui.
"Tugasmu adalah menjaga Rui'er. Apa pun yang terjadi, jangan biarkan ia pergi dari penginapan sampai aku kembali."
Bai Kai langsung menangkupkan kedua tangan.
"Baik."
Di sisi lain, Gao Rui masih memandang mereka dengan wajah penuh tanda tanya. Ia benar-benar belum memahami apa yang sedang terjadi.
"Bibi... Ada apa sebenarnya?"
"Mengapa semuanya terlihat begitu panik?"
Lan Suya menatap Gao Rui beberapa saat. Ia ingin menjelaskan semuanya. Namun sekarang bukan waktu yang tepat.
"Nanti akan Bibi jelaskan. Sekarang, tetaplah di sini."
Gao Rui hanya bisa menganggukkan kepala, meski kebingungan di wajahnya sama sekali belum hilang.
"...Baik."
Lan Suya kemudian memalingkan wajahnya kepada Rou Xi. Tatapan kedua wanita itu bertemu.
Tidak ada kata-kata yang terucap. Mereka hanya saling menganggukkan kepala secara bersamaan. Mereka sama-sama memahami maksud satu sama lain.
Swussh!
Tenaga dalam Lan Suya langsung mengalir ke seluruh tubuhnya. Jubahnya berkibar pelan.
Di saat yang sama...
Swussh!
Aura Rou Xi juga mulai memancar.
Detik berikutnya...
Whoossh!
Kedua wanita itu melesat ke langit hampir bersamaan.
Tubuh mereka berubah menjadi dua bayangan yang melesat menuju perbukitan di kejauhan. Kecepatan mereka begitu tinggi hingga hanya menyisakan hembusan angin di halaman penginapan.
Bai Kai mendongak mengikuti arah kepergian keduanya. Sementara Gao Rui juga ikut menatap langit dengan wajah yang semakin bingung.
"..."
Tak lama kemudian, dua sosok itu telah berubah menjadi titik-titik kecil di cakrawala. Langsung menuju pusat awan hitam yang menggantung di atas bukit.
Di sepanjang perjalanan, Lan Suya tidak mengucapkan sepatah kata pun. Tatapannya terus tertuju ke depan. Semakin mereka mendekat, semakin jelas pula kobaran api yang membakar lereng bukit.
Asap hitam terus mengepul ke langit. Sementara petir demi petir masih menyambar tanpa henti dari dalam pusaran awan gelap.
Dada Lan Suya terasa semakin sesak. Di dalam hatinya, hanya ada satu pertanyaan.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sana...?"
Yang lebih ia khawatirkan...
"Jangan-jangan... aku benar-benar sudah terlambat."