Seorang kakak laki-laki, harusnya menjadi pelindung bagi keluarganya, khususnya adik perempuannya. Tapi, hal itu dilupakan oleh Gildan. Demi mimpinya, Gildan nekat pergi bersama calon istri, seorang tuan muda. Hingga tuan muda itu marah, dan membalas dendam pada adik perempuan Gildan.
Rashita sangat tahu, pernikahan ini adalah awal kegelapan dalam hidupnya, namun dia harus menikah dengan tuan muda itu, demi menyelamatkan kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Bukan Yang Pertama
Mobil yang di kendarai Abi, memasuki sebuah parkiran hotel yang mewah, Ara nampak pangling, selama ini dia hanya melewati hotel mewah itu, tidak pernah masuk. "Bodoh!! Untuk apa masuk ke hotel ini, rumah kamukan di wilayah ini juga!" Gerutu hati Ara mengutuki pemikirannya.
Abi turun lebih dulu, dia berjalan memutari mobil, lalu membuka pintu mobil samping Ara. "Turun!" Bentak Abi.
Dengan wajah cemberut Ara turun dari mobil itu sambil menghentakkan kaki kecilnya.
"Simpan tenagamu nona, karena pasti tuan muda akan memeras seluruh tenagamu," ucap Abi dengan seringai liciknya.
Ara tegang mendengar ucapan Abi.
"Kenapa tegang? Inikan bukan yang pertama bagi kamu," ejek Abi.
Mereka berdua berjalan memasuki hotel tersebut. Ara mengikuti Abi dari belakang. Berjalan mengikuti laki-laki itu sambil terus menerus mengutuki dirinya. Mereka terus melangkahkan kaki, berjalan ber iringan menuju lift, hingga mereka sampai di lantai tujuan mereka.
"Hotel ini milik Emanuel Group, jadi di lantai ini, khusus untuk tuan muda," ucap Abi. Namun Ara tetap diam, dia tidak perduli dengan kata-kata Abi.
Pintu lift terbuka, pemandangan nan megah menyambut mata Ara, walau dia bukan dari kalangan bawah, namun baru kali ini dia melihat ruangan se indah ini langsung dengan mata kepalanya. Selama ini dia hanya melihat pemandangan seperti ini dari majalah atau televisi.
Deguubbb!
Ara menabrak belakang Abi. Karena ke asyikan mengagumi semua yang dia lihat, Ara tidak mengetahui kalau laki-laki yang berjalan di depannya itu berhenti melangkah.
Abi tidak bicara, dia hanya menatap Ara dengan tatapan yang begitu tajam.
Pintu besar itu terbuka, Abi langsung merubah pandangannya kedepan. "Maaf tuan muda, karena saya terlambat," ucap Abi.
"Hemmm," tanggapan Mark, dia hanya melihat jeli seluruh tubuh Ara.
"Masuk!!!" Bentak Mark.
Ara yang sedari tadi melamun, refleks begitu saja dia langsung berjalan memasuki kamar itu. Sedang Abi langsung pergi dari sana.
***
Dalam kamar hotel.
"Ternyata kamu tidak jelek, tapi kenapa Gildan meninggalkan kamu," ucap Mark, namun pandangan matanya membuat yang dia pandang menjadi ketakutan.
Mark terus memandangi Ara yang terus menunduk, dia mendekati gadis itu. "Apa aku jelek sehingga kamu tidak berani memandangku?" Tanya Mark.
"Bubb-bukan begitu," jawab Ara, namun dia masih setia menunduk.
"Kalau kamu tidak mau melayaniku, pergi sana!" Bentak Mark.
"Bukan begitu tuan muda, tapiii apa saya pantas?" Tanya Ara, dia memberanikan diri memandang Mark.
"Astaga, ternyata dia ganteng banget, kenapa selama ini aku tidak melihatnya," ringis hati Ara.
Mark menyeringai licik melihat Ara terpaku memandang wajahnya. "Kenapa? Baru sadar kalau aku tampan?" Ucap Mark sambil memandangi wajahnya di cermin.
Ara langsung membuang arah pandangannya. Membuat Mark semakin ingin tertawa melihat mimik gadis itu.
"Kenapa kamu sangat semangat menjatuhkan sahabat kamu yang aneh itu?" Tanya Mark sambil berjalan mendekati Ara.
Ara mundur perlahan. Karena Mark terus mendekat padanya, Ara terus berjalan mundur. Sedang Mark terus berjalan mendekatinya. "Aku hanya ingin dia merasakan bagaimana sakitnya saat ke inginan kita di hancurkan tiba-tba," jawab Ara yang terus melangkah mundur.
"Apa kamu yakin, kalau sahabatmu itu akan terluka, karena hidup miskin dan tidak bisa kuliah?" Mark juga terus mendekati Ara.
"Tentu saja dia terluka, karena dia sangat ingin kuliah," jawab Ara.
"Permintaanmu itu di kabulkan, sekarang kabulkan permintaanku, kamu akan jadi wanitaku selama yang aku mau,"
Langkah Ara sudah mentok di sisi tempat tidur, tanpa susah payah Mark menjatuhkan tubuh kecil Ara ketempat tidur tersebut.
***
Sudah lebih sebulan Sammy di rumah sakit, simpanan mereka semakin menipis, membuat Shita memikirkan untuk melamar pekerjaan. Bagaimanapun kehidupan terus berlanjut.
"Selamat siang, maaf mengganggu," sapa perawat yang baru masuk keruangan Saamy, sontak suara perawat itu membuyarkan lamunan Shita.
"Maaf bu Ana, dokter Escho ingin berbicara dengan anda," seru perawat yang datang.
Mendengar panggilan perawat Ana segera melangkah mengikuti perawat tersebut.
***
Ana kembali keruang perawatan suaminya dengan wajah masam. Langkahnya terlihat gontai.
"Apa kata dokter mah?" Tanya Shita.
"Papa, kata dokter papa harus di tangani lebin intens lagi, kamu tahu kan bagaimana keadaan keuangan kita?"
"Mah, kita masih punya satu untuk dijual," wajah Shita begitu berbinar.
"Mobil kamu? Mama tidak setuju," Ana menggelengkan kepalanya cepat.
"Iya mah, lagian kita tidak mampu memelihara mobil, pajak, bensin juga kalau rusak gimana? Kita jual mah," ucap Shita dengan semangat.
"Tapi mobi itu, mobil yang kamu beli dengan hasil tabungan kamu dari kecil sayang, itu perjuangan kamu, mama tidak mau,"
"Itu kebanyakan dari pemberian bambang mah, jual saja, saat ini kesehatan papa yang lebih penting, masalah harta, kita berjuang lagi dari awal mah," ucap Shita.
Ana menganggguk, menolak juga dia tidak bisa, penanganan dan pelayanan kesehatan buat Sammy yang terpenting saat ini.
"Mama, satu lagi," pinta Shita.
"Apa sayang?"
"Izinkan aku bekerja, lagian aku tidak kuliah, aku …."
"Kerja apa kamu?! Kamu hanya tamatan SMA!" Ana kesal, bukan pada Shita, tapi pada dirinya sendiri, kenapa anaknya harus bekerja untuk mereka.
"Mama, aku bisa jadi pelayan atau apapun mah, kehidupan kita terus berjalan mah, berdiam diri begini, jangankan hasil penjualan mobil, gunung pun bisa runtuh mah, karena hanya di ambil tanpa ada pemasukan,"
"Maafkan mama sayang," ringis Ana. Dia menarik Shita kedalam pelukannya.
Shita mengukir senyuman di wajahnya, walau batinya sangat tersiksa, ke inginannya masuk fakultas yang dia impikan gagal, papanya juga terbaring di ranjang rumah sakit itu. "Penderitaan kami karena ke egoisanmu bambang! Aku tidak berani pacaran, hanya karena takut orang balas dendam padamu lewat aku, tapi sekarang? Kami semua menderita karena kamu. Awas saja kamu!" Gerutu hati Shita mengingat kelakuan Gildan.
***
Shita menatap nanar mobilnya yang kini menjadi milik orang lain, karena dia sudah menjualnya. Shita memulai perjuangannya. Dia melamar kesana-kemari. Namun tidak ada orang yang mau menerima dia, hanya karena permintaannya yang aneh menurut orang. Setiap di terima Shita selalu meminta agar dia di izinkan memakai seragam pelayang pria. Tentu pemiliknya tidak setuju. Pelayan wanita mengenakan seragam pelayan pria. Shita pun mundur. Selama ini dia sengaja memakai pakaian panjang yang menutup tubuhnya, hanya karena takut senasib dengan korban-korban Gildan selama ini.
Shita teringat tempat hiburan malam milik teman Gildan, dia segera naik busway menuju tempat teman Gildan tersebut.
***
Suasana nampak sepi, karena club itu belum buka.
"Ada apa nona cantik?" Sapa petugas club malam itu.
"Aku mau ketemu kak Bo'im," terang Shita.
"Shita?" Bo'im yang tadi ingin pergi terkejut melihat kedatangan Shita adik Gildan.
"Kak Bo'im, bisa minta tolong?" Ucap Shita dengan raut wajah yang sedih.
Bo'im bisa menangkap masalah dari pancaran kesedihan Shita yang jelas terlihat di wajahnya. "Ayo masuk keruangan kerja kaka," ucap Bo'im.
Shita mengikuti langkah Bo'im, hingga dia sampai di suatu ruangan.
"Ayo duduk Shita," Bo'im menunjuk sofa, dia juga duduk di sofa tersebut. "Apa yang bisa aku bantu Shita?" Tanya Bo'im langsung.
"Kak, aku boleh minta pekerjaan, sebagai pelayan … atau apa saja," Shita memohon.
"Apa? Bisa di gorok Gildan leher aku, kalau aku mempekerjakan adiknya di sini!" Seru Bo'im.
"Bambang tidak akan datang, dia pergi meninggalkan kami semua, sekarang papa bangkrut, bukan cuma itu … sekarang papa juga masih di rawat di rumah sakit," tidak terasa crystal bening terlepas begitu saja dari wajah Shita.
"Maafkan aku Shita," ucap Bo'im.
"Maaf kak, bukan maksud aku menangis," ucap Shita seraya mengusap air matanya dan berusaha menepiskan senyuman yang dia paksakan dari wajahnya.
"Aku memang butuh pelayan, tapi kamu tahu, bagaimana kehidupan malam?"
"Aku tahu kak, sebab itu aku meminta syarat,"
"Syarat?" Bo'im mengerutkan kedua alisnya. "Syarat apa?" Tanya Bo'im.
"Aku ingin seragam seperti pelayan pria kak, aku tidak bisa bekerja dengan pakaian mini," pinta Shita. "Aku tidak ingin memperlihatkan bagian tubuhku," rengek Shita.
Bo'im menarik nafasnya kasar. "Kapan kamu mau bekerja?" Tanya Bo'im sambil menghembuskan nafasnya kasar.
"Secepatnya," jawab Shita dengan semangat.
"Baiklah, nanti malam, tepat jam tujuh temui aku di ruangan ini, karena nanti malam akan ada pesta topeng, tentu aku akan sangat membutuhkan banyak pelayan," seru Bo'im.
Shita mengangguk dengan semangat.
"Setelah ini kamu mau kemana?" Tanya Bo'im.
"Aku mau balik ke rumah sakit kak."
'Ya sudah, mari aku antar," seru Bo'im.
Shita dan Bo'im meninggalkan tempat itu. Setelah mengantar Shita kerumah sakit, sedang Bo'im melanjutkan perjalanannya.
oneng kau mark...bayi disitu lahir hrs menangis
aura pembunuh Gimar membuat Shita mau muntah...kecian calon anak Mark