Dulu, aku adalah seseorang yang menjadi inspirasi hidupmu, Aku lah wanita yang selalu kau bangga-banggakan pada siapapun yang bertanya perihal siapa sosok di balik kesuksesan mu.
Namun sekarang, aku hanya sebuah nama yang terkubur bersama masa lalu mu. Kau sembunyikan aku jauh dari hidup mu. Semua sudah berubah, hanya karena orang-orang baru, aku tersingkirkan dari sisi mu.
Terima kasih Mas, kau pernah memeluk ku dengan erat, meski pada akhirnya kau melepaskan ku demi dia. Ya, dia yang jauh lebih sempurna di bandingkan diriku.
Dari dirimu aku belajar, pernah dibahagiakan bukan berarti tidak akan disakiti. Pernah di cintai bukan berarti tidak akan dibenci dan aku mengerti. Aku tidak akan pernah bisa selamanya menjadi orang yang berharga di hati mu. Karena aku bukanlah pelabuhan hati mu yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Ting tong [Suara bel apartemenku berbunyi].
Aku yang sedang ayik menonton televisi sama sekali tak ingin membuka pintu, aku biarkan Bi Inah yang tengah bereksperimen dengan resep masakannya di dapur berlarian menghampiri pintu.
Aku lirik Bi Inah tak langsung membukakan pintu unit apartemenku. Ia mengintip terlebih dahulu, untuk melihat siapa yang datang. Bukannya membukakan pintu, Bi Inah malah berlari menghampiri ku.
"Non, ada Mas Doni di depan." ucap Bi inah yang terlihat tak tenang.
"Hah? kok bisa naik ke atas Bi?" tanya ku tak percaya.
"Nggak tahu Non, terus gimana nih Non, mau dibukain apa gak Non?" jawab Bi Inah yang masih terlihat bingung harus berbuat apa.
"Jangan dibukain Bi, biarin aja. nanti kalau cape, dia bakalan pergi. Aku mau telepon Ferdy untuk tanya kenapa dia bisa naik ke atas tanpa seizin aku ataupun dia." ucap ku yang menepis rasa bingung yang hinggap pada diri Bibi.
Hampir tiga puluh menit Doni terus menekan tombol bell pintu unit apartemen ku, hingga akhirnya ia berhenti melakukan aksinya ketika aku mendengar suara Fredy yang baru saja tiba karena aku menghubunginya.
"Ada perlu apa Anda ke sini Pak Doni? Bukankah saat ini masih jam kerja?" sapa Ferdy saat Mas Doni masih menekan tombol bell pintu apartemenku.
"E-ee... i-tu, adaa yang saya ingin bicarakan dengan mantan istri saya Tuan," jawab Mas Doni dengan terbata.
Sungguh diluar dugaanya, kedatanganya menemui mantan istrinya ini dipergoki oleh Ferdy, pemilik pabrik dimana tempat ia bekerja.
"Apa lagi yang ingin Anda bicarakan pada calon istri saya Pak Doni?" tanya Ferdy dengan tatapan mengintimidasi.
"A-anu, saya hanya ingin bicara empat mata dengan Lea, Tuan." jawab Mas Doni yang sudah tertunduk takut karena tak lagi memiliki kekuatan untuk melihat wajah Ferdy yang terlihat marah.
"Sebenarnya saya tidak suka mencampur adukan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan. Namun sepertinya Anda ini tidak memiliki sebuah adab yang baik Pak Doni." tekan Ferdy dengan tatapan nyalang.
Mas Doni tersentak mendengar Ferdy mengatakan dirinya tak memiliki sebuah adab yang baik. Tak terpikir olehnya, jika hanya ingin bicara dengan mantan istrinya, dianggap tak memiliki adab oleh atasannya.
" Perlu Anda garis bawahi. Lea adalah calon istri saya. Seperti yang Anda ketahui dengan jelas, siapa saya ini bagi Anda. Sangat tidak pantas untuk Anda menemui calon istri pemilik pabrik tempat Anda bekerja tanpa seizin saya. Meskipun calon istri saya ini adalah mantan istri Anda, yang sudah Anda buang dan anggap seperti sampah."
Deg! Jantung Mas Doni tersentak ketika Ferdy mengatakan hal yang pernah ia lakukan pada ku.
"Tidak saya izinkan dia menemui satu pun orang laki-laki tanpa seizin saya, apalagi menerima tamu laki-laki di dalam unit apartemennya. Jadi silahkan Anda segera pergi dari sini, sebelum saya datangkan pihak keamanan untuk mengusir Anda." Usir Ferdy yang membuat harga diri Mas Doni jatuh dihadapannya.
Menurutku ini kali kedua Mas Doni di usir oleh orang terdekat ku, pertama Papi ku dan yang kedua adalah Ferdy, calon suamiku. Tanpa menjawab perkataan Ferdy dengan menundukkan pandangannya Mas Doni pergi meninggalkan Ferdy.
Baru beberapa langkah Mas Doni melangkah, Ferdy kembali memanggilnya.
"Pak Doni, maaf. Ada satu hal yang belum saya sampaikan." ucap Ferdy yang membuat Mas Doni menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya menghadap Ferdy.
"Tolong, untuk tidak mengaku-ngaku sebagai suami Lea di apartemen ini, hanya karena Anda ingin menyelinap masuk ke gedung apartemen ini. Saya tekankan sekali lagi pada Anda, jika Anda ini hanya mantan bukan suaminya lagi," ucap Ferdy yang kemudian memencet tombol bell apartemen ku.
Aku yang sejak tadi menguping pembicaraan mereka dari baik pintu, segera membukakan pintu untuknya.
"Sayang..." sapa nya yang langsung menarik tubuhku kedalam pelukannya.
Seolah Ferdy tengah sengaja menunjukkan keromantisan kami. Tak lupa ia bubuhkan kecupan manis di pucuk kepala ku.
Semula wajah ku yang tenggelam di adanya pun mulai mengurai pelukan Ferdy pada ku. Aku tak sengaja melirik kearah Mas Doni yang tengah memperhatikan kami.
Aku mendongakkan pandangan ku untuk melihat wajah Ferdy yang juga menatap Mas Doni dengan tatapan tajamnya. Yang terbaca oleh ku, jika itu adalah tatapan permusuhan.
"Sayang, masuk yuk!" ajak ku yang menarik tangan Ferdy untuk masuk ke dalam menggunakan tangan kiriku, karena tangan kananku cidera.
Ya. Tangan kanan ku cidera karena perbuatan sekertaris sekaligus istri baru Mas Doni pada ku kemarin. Maka dari itu aku tidak masuk kerja hari ini, sesuai dengan apa kata Ferdy yang meminta ku untuk istirahat.
*
*
*
"Dia mau ngapain ya datang ke sini?" Tanya ku pada Ferdy yang sedang memainkan ponselnya.
Ia tak menjawab pertanyaan ku, bahkan seperti orang yang sedang mengacuhkan ku. Sepertinya ia sedang bertukar pesan penting dengan asistennya. Entah apa yang mereka sedang bicarakan, tentunya pasti tentang pekerjaan.
"Fer..." Panggilku yang menyadar di lengannya.
"Hemmm...." Jawabnya singkat, masih memainkan ponselnya.
"Aku dicuekin si sayang ishhh...." Ucapku yang protes padanya.
"Tunggu sebentar, aku sedang bahas pekerjaan dengan asisten ku. Setelah ini waktuku hanya untuk mu." Balas Ferdy yang malah mencium keningku.
Merasa sedikit kecewa, aku pun menghampiri Bibi yang sudah selesai memasak di dapur.
"Wangi banget Bi, apaan nih Bi? Kok di bungkus-bungkus gini pakai daun kaya pepes. Tapi bentuknya kaya botok, tapi ukurannya gede banget." Tanya ku yang melihat tiga bungkus daun pisang di atas piring saji.
"Garang asem namanya Non, Ayam garang asem. Ini cocok buat orag diet, gak ada minyak dan Bibi gak pakai santan juga." Jawab Bibi dengan senyum menatap wajahku yang sudah menelan saliva ku, karena sudah tak sabar ingin segera menyicipi masakan yang belum pernah aku makan.
"Sabar dulu ya Non, Bibi tinggal goreng tempe dan tahu. Baru kita makan." Ucap Bibi yang mengetahui aku yang sudah tak sababr ingin melahapnya.
"Bibi masak berapa garang asemnya?" Tanya ku.
Jujur aku berharap Bibi memasak ebih dari tiga bungkus, karena jika aku merasa kurang, aku bisa minta tambah jika persediaan masih ada.
"Tenang masih ada satu bungkus di lanseng Non," jawab Bibi dengan senyum senangnya.
Terihat ia begitu bahagia jika masakannya disukai oleh ku.
"Bagus-bagus Bie. Jangan di keluarin dulu ya, nanati di ambil Ferdy duluan." Timpal ku lagi yang makin membuat Bibi tersenyum.
Ku rasa ia sedang mengingat bagaimana aku dan Ferdy selalu berebut sambal goreng tongkol buatan Bibi yang sangat sedap dimakan hanya dengan sepiring nasi panas.
"Mmmm nyuamiii...." Ucap ku yang duduk di kursi makan membawa piring yang berisi tiga bungkus garang asam.
"Bi, gak bikin sambalkah?" Tanya ku saat membantu Bibi merapikan hidangan di meja makan.
"Tidak Non, di dalam garang asam sudah ada cabe rawit merah yang kalau di gigit bikin lidah menari-nari." Jawab Bibi yang datang sembari membawa sepiring menu pelengkap tempe dan tahu panas.
"Wuahhhh sedapnya. Aku gagal diet nih kayanya." Ucap ku saat menyium aroma tempe dan tahu panas yang menggugah selera.
"Non panggil calon suami dulu, jangan langsung ambil nasi duluan," ucap Bi Inah mengingatkan ku.
"Ahhh iya lupa Bi," sahut ku yang kemudian beranjak dari kursi meja makan.
Ku hampiri Ferdy yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Sayang, masih lamakah?" Tanya ku yang memeluk lehernya dari belakang.
"Sudah, kenapa?" Tanya Ferdy seraya mengelus lembut tangan ku yang memeluk tangannya.
"Makan yuk, ada menu baru yang di buat Bibi, wanginya enak banget." Jawab ku yang berbisik di telinganya.
Ferdy bergeliat, ia merasa kegelian karena ulah ku.
"Jangan nakal ya! Tunggu waktunya aku buka puasa, kamu akan habis dengan ku nanti." Jawab Ferdy yang melepaskan pelukan ku dan mencapit hidung mancungku ini hingga memerah.
"Sakit yankkkk...." Rintih ku sembari memegangi hidungku yang sakit.
Ferdy tersenyum saat ku merintih, dia berjalan memutar, menghampiri diri ku, ia merangkulku untuk berjalan bersama menuju ruang makan. Kami menikmati makan siang bersama dalam satu meja makan bersama Bi Inah.
Jika kalian bertanya kenapa aku dan Ferdy makan bersama Bi Inah, itu karena Ferdy mengajari ku untuk tidak membeda-bedakan kasta pada setiap manusia yang aku temui. Karena setiap manusia di dunia ini sama di mata Tuhan, yang berbeda hanya cara sudut pandang manusia, memandang manusia yang lainnya.