Arjuna atau yang biasa dipanggil Juna karena kegemarannya bermain dan mendaki gunung membuat ARJ Adventure.
Juna tidak mau bekerja di Dewa Corp Company atau DCC perusahaan milik sang kakek. Dia lebih suka menekuni hobinya, karena hal itu dia dianggap sebagai orang yang tidak berguna. Namun berbeda dengan sang ayah, Dharma membebaskan apa saja yang akan Juna lakukan selama itu positif. Mendapat dukungan ayah dan ibunya membuat Juna bersemangat walau selalu diremehkan oleh sepupunya Dante Dewantara yang begitu obesi menjadi pemilik DCC.
Gendis seorang guru di sebuah sekolah swasta terkenal di negeri ini DIS Dewantara International School yang mempunyai cita cita keliling Indonesia selalu mendapat perlakuan buruk dari Maylin, teman SMA nya yang sekarang menjadi kepala HRD di DIS.
Bagaimana Juna dan Gendis menghadapi masalah mereka, dan bagaimana mereka saling berhubungan?
Ikutin terus kisah Juna dan Gendis ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTMGT 17
Happy reading readers
PT AA malam itu tampak sepi, para karyawan sudah pulang pukul 5 sore tadi. Juna terbengong sendirian, ingin menghubungi teman-temannya tapi urung. Ia tahu temannya juga butuh privasi, tidak melulu kumpul-kumpul terus. Apalagi beberapa hari ini Juna merasa para kawannya itu siap-siap back to home, alias kembali ke rumah masing-masing yakni menjadi para penerus tahta keluarga. Sebenarnya memang mereka semua punya perjanjian. Charles, Sukhdev, dan Rama memiliki kontrak tidak tertulis kepada para ayah mereka. Mereka bebas melakukan apa saja namun saat usia mereka sudah 30 tahun mereka harus siap mengelola usaha yang telah didirikan oleh orang tua mereka, dan tahun ini usia mereka 30 tahun. Jadi sebenarnya mereka telah mempersiapkan diri untuk kembali. Berbeda dengan Juna, dia tetap memilih jalannya dan beruntung Darma serta Anjeli mendukung puteranya itu mesti harus bersitegang dengan sang papa.
"Kruuuk…. Kruuuuk." Perut Juna berbunyi, sepertinya cacing-cacing di perut Juna mulai berdemo.
"Jam 7 malam, pantes ini perut minta diisi." Gumam Juna. Ia pun mengambil mobilnya. Ingin naik motor tapi hujan, meski tidak deras tapi malas juga.
Juna melajukan mobilnya mencari tempat makan yang tidak terlalu ramai, mengingat ini adalah jam-jam makan malam. Juna malas jika harus mengantri saat membeli makan dia akan memilih tempat makan yang tidak terlalu banyak pengunjung. Namun tiba-tiba matanya menangkap sosok yang ia kenal. "Eh bukannya itu Gendis, tumben tidak bawa motor." Gumam Juna sambil menepikan mobilnya ke halte tempat Gendis berdiri.
"Lho itu mobil kok mendekat ke sini siapa ya, eh jangan ge-er Gendis, belum tentu juga menghampiri kamu." Ucap Gendis kemudian mengalihkan pandangannya ke atas dan menengadahkan tangannya mengecek apakah hujan sudah reda atau belum.
Seseorang dalam mobil itu pun keluar dan menghampiri Gendis.
"Dis… kamu kok malam-malam begini di sini?"
"Eh… Mas Juna. Iya… tadi pulang dari toko buku. Cari-cari referensi untuk soal ujian semester anak-anak. Karena motornya mogok jadi naik ojek online, pas pulangnya hp mati. Jadi nunggu angkot, eh angkot juga tidak ada yang muncul." Tutur Gendis panjang lebar.
Juna terkekeh mendengar Gendis bercerita tanpa jeda. Lucu, satu kata itu lolos juga dari mulutnya tapi Gendis tidak mendengar.
"Ya sudah kalau begitu aku antar saja bagaimana."
"Eeh… jangan mas. Ngrepotin."
"Udah, tidak usah menolak. Sebagai balasannya kamu temani aku makan malam. Lapar nih."
" Oh… oke kalau begitu."
Juna dan Gendis mencari tempat makan yang tidak terlalu jauh dari halte tadi. Melihat sebuah kedai Coto Makassar, Juna kemudian menepikan mobilnya.
"Eh lupa tanya, kamu mau kan makan coto makassar?" Tanya Juna merasa tidak enak karena lupa menawarkan pilihan.
"Oke mas… tidak apa-apa. Aku pemakan segala. Hahaha." Jawab Gendis.
Juna yang mendengar selorohan Gendis pun tersenyum lega. Ia mengajak Gendis turun mencari meja dan langsung memesan.
Juna baru ngeh kalau penampilan Gendis malam ini tidak seperti biasanya. Jika biasanya Gendis berpenampilan tomboy maka malam ini tidak. Ia mengenakan celana panjang bahan katun dilengkapi blouse batik, rambut panjangnya digelung cepol dan menyisakan beberapa helai di lehernya, membuat leher mulus dan putihnya nampak seksi wajah Gendis yang tampak lelah tak bermake up tidak mengurangi cantik alaminya.
Juna menggelengkan kepalanya dan mengalihkan perhatiannya ke ponselnya. Ya Tuhan Dis kamu cantik banget sih, buset ini jantung kenapa bisa jedag jedug begini, jantung.. aman ya…aman malu kalau ketahuan, itu leher kenapa jadi kelihatan menggoda, astaga iman kuat ya kuat, ini mah lapernya udah beda bukan laper perut lagi, tapi laper yang lain, batin Juna berkecamuk.
Selang beberapa saat coto makasar yang dipesan pun datang. Juna langsung mengambilnya dan memakannya dengan cepat.
"Mas pelan-pelan. Tidak akan ada yang minta makananmu kalau masih kurang nih punyaku makan." Ucap Gendis.
Juna tidak menanggapi Gendis ia hanya tersenyum canggung, aku bukannya takut orang minta makananku tapi aku takut kamu yang akan ku makan, ucap Juna dalam hati. Sepertinya perjaka yang jomblo akut itu mulai getar-getar kedewasaan.
Mereka pun makan dengan hikmat. Yang satu benar-benar menikmati makanannya, sedangkan yang satu makan karena mengalihkan pikirannya, rasa lapar yang semula melanda berganti menjadi rasa lapar hasrat.
Di sudut lain ada seseorang yang begitu marah melihat Juna dan Gendis bersama. Maylin menggertakan gigi nya saking kesalnya. Tadi dia sengaja ke ruko Juna untuk mengajak makan, namun Juna terlebih dulu keluar. Maylin pun mengikuti Juna sampai Juna berhenti menghampiri Gendis dan akhirnya mengajak Gendis makan malam. Maylin benar-benar kesal.
"Sialan… brengsek. Dasar wanita sok kecakepan, kecentilan. Bisa-bisanya dia dekat dengan kak Juna, kenal dari mana dia. Ini tidak bisa dibiarkan Kak Juna hanya Punya aku. Awas kamu Gendis aku akan perhitungan dengan kamu." Gumam Maylin pelan.
Kebencian Maylin terhadap Gendis bertambah besar. Saat SMA sebenarnya Maylin tidak pernah menganggap Gendis karena dia merasa Gendis tidak sepadan dengan dirinya. Maylin yang anak seorang pemilik market terbesar di kota J menjadikan dia banyak mendapat sanjungan saat di sekolah. Semua anak berlomba ingin berteman dengannya, sampai di suatu ketika diadakan pemilihan osis dan Gendis menjadi salah satu kandidatnya. Merasa diri nya populer Maylin pun dengan angkuh meyakini dirinya akan menang, namun siapa sangka suara nya jauh dibawah Gendis dan Gendis lah yang mendapat gelar ketua osis.
Tidak hanya disitu, saat lomba pidato Gendis lah yang berhasil lulus seleksi dan dikirim mewakili sekolah untuk lomba pidato antar sekolah, sungguh Maylin tidak terima. Kecantikan dan kepopulerannya dikalahkan oleh Gendis, semenjak itu banyak mata tertuju kepada Gendis. Setiap ada kegiatan Gendis selalu menjadi pembawa acara, pembawa baki hadiah, ataupun apapun Gendis pasti naik ke atas panggung. Banyak sorotan yang menuju ke arahnya membuat Maylin lama-lama membenci Gendis. Puncaknya ketika ada seseorang yang Maylin sukai malah menyukai Gendis, mulai saat itu Maylin menandai Gendis sebagai musuhnya.
Kesombongan dan keangkuhan Maylin membuatnya tidak bisa menerima persaingan. Dia harus selalu menang, dia tidak mau berada di bawah orang. Dia harus selalu di atas. Hingga sampai saat sekarang, lebih-lebih Juna yang notabennya orang yang sangat ingin dia miliki malah terlihat dekat dengan Gendis. Juna bahkan banyak bicara dan bercanda dengan Gendis, sungguh membuat Maylin murka karena dengannya Juna tidak seperti itu. Amarahnya memuncak bahkan meluap. Rasa-rasanya ia ingin menelan Gendis bulat-bulat.
Meninggalkan Maylin yang tengah dilanda amarah, Juna dan Gendis yang sudah selesai makan segera meninggalkan tempat itu. Juna yang akan mengantarkan Gendis pun semangat. Asik… bisa tahu rumah Gendis, nanti kalau mau ngelamar udah katam jalannya, gumam Juna dalam hati sambil senyam senyum sendiri.
"Mas Juna kenapa kok senyum-senyum begitu." Tanya Gendis yang merasa heran dengan tingkah Juna.
" Oh… tidak kenapa-napa hanya senang bisa makan sama kamu." Jawab Juna usil karena dia tahu kalau Gendis akan tersipu. Dan benar Gendis tersipu mendengar jawaban Juna. Gendis pun segera mengalihkan wajahnya ke arah jalan. Namu dengan segera Gendis menatap lurus ke depan karena harus menjadi petunjuk arah bagi Juna menuju rumahnya.
"Itu mas… ujung gang sampai rumah aku." Ucap Gendis saat sudah akan sampai rumahnya. Ia pun membuka pintu mobil diikuti dengan Juna.
"Lho mas, kok ikut turun."
"Lah.. Memang tidak boleh ya. Aku tuh harus bertanggung jawab kalau mengantar cewek. Jangan seperti cowok-cowok yang nganter ceweknya di ujung gang saja." Seloroh Juna santai.
"Malam om… saya mengantar Gendis pulang."
Budi yang berada di teras pun mengernyitkan keningnya dan menatap anak gadisnya. Siapa laki-laki ini, tidak biasanya kamu pulang diantar cowok, begitulah arti tatapan mata Budi.
"Ini mas Juna yah, mas Juna ini yang punya open trip yang pernah Gendis ikuti. Tadi kebetulan ketemu di jalan. Motor Gendis di bengkel dari siang dan hp Gendis mati jadi tidak bisa order ojol ataupun telpon bapak." Jelas Gendis yang mengerti arti tatapan sang ayah.
"Oh begitu terimakasih nak Juna sudah mengantarkan Gendis. Mari mampir." Ajak Budi.
"Maaf om bukannya menolak, tapi ini memang sudah malam. Lain kali saja saya berkunjung. Terimakasih om atas tawaran om. Saya permisi dulu. Mari om, mari Dis aku pulang."
"Iya mas. Hati-hati."
Juna pun berlalu. Memasuki mobilnya melesat pergi dan kemudian bumper mobilnya pun sudah tidak nampak lagi.
"Siapa kak." Tanya Asti yang baru saja dari dapur mengambilkan kopi untuk suaminya .
"Teman buk. Udah ya bu Gendis masuk dulu mau mandi bau.." Gendis berlalu dengan cepat, ia takut nanti akan ditanya-tanya oleh ibunya.
"Siapa yah?" Tanya Asti.
Budi hanya mengangkat kedua bahunya. "Hish… Ayah sama saja." Ucap Asti kesal dan berlalu masuk ke rumah. Budi pun terkekeh, namun kembali ia mengingat Juna. "Kayaknya aku merasa ada yang lain dengan pemuda itu, mengingatkan aku saat masih muda dulu." Gumam Budi sambil menyeruput kopinya.
TBC
Hayuk readers kasih otor like dan komentarnya ya.
Sudah mau ke konflik-konflik nih. InsyaaAllah seru…
Terimakasih
Matursuwun
Terima kasih utk karyanya Kak 🙏💐🥰
kepercayaan dmn jadinya🙏