Hanya karena sebuah kesalahan kecil, Markonah Dua—Marwa— harus berurusan dengan seorang duda tampan dan juga mapan yaitu Leonard alias Leo.
Leo merasa terpikat dengan Marwa dan berusaha mengejar gadis itu hingga membuat hidup Marwa merasa tidak tenang. Jika mereka terlibat dalam sebuah pernikahan, apakah yang terjadi?
Simak Kisah terbaru mereka di sini 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Tatha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Marwa berkacak pinggang mendengar ucapan Juleha. Dia bersungut-sungut lalu mencubit pinggang Juleha tanpa peduli pada teriakan gadis itu yang menggema di ruang tamu.
"Sakit, Mar! Gila lu!" Juleha mengusap bekas cubitan tadi. Matanya tampak berkunang-kunang hingga membuat Marwa menjadi tidak tega saat melihatnya.
"Habisnya elu kalau ngomong asal njeplak aja! Gue ini masih suci, Leh! Masih perawan!" Marwa tanpa sadar menyentuh barang berharga miliknya, Juleha hanya melongo saat melihat tingkah Marwa.
"Enggak usah dipegang keless, gue juga punya, bentuknya sama cuma ketebalannya yang beda," seloroh Juleha diiringi gelakan tawa.
"Mulut lu, Leh!" sewot Marwa.
"Astaghfirullah, kalian bahagia banget, ada apakah gerangan?" tanya Martu yang baru saja bergabung.
"Marwa habis lepas perawan sama Om Duda—"
"What!!!" pekik para sahabat Marwa hingga membuat Marwa bersandar di pintu karena terkejut dengan mereka yang menyahut tiba-tiba.
"Elu beneran udah enggak perawan, Mar?" tanya Sumiatun penasaran.
"Gimana rasanya, Mar? Katanya bikin ketagihan," imbuh Juminten. Namun, Marwa mencebik kesal setelahnya.
"Beneran gue bisa gila campur bidadari ternak duda, yang edan kaya kalian! Gue mau tidur, capek! Jangan ganggu." Marwa menerobos para sahabatnya untuk masuk ke kamar.
"Weh, si Edan capek habis digenjot duda," ujar Juleha.
"Pasti capek banget, kira-kira berapa ronde ya? Lihat badan Tuan Sabeni kekar gitu," imbuh Sumiatun.
"Halah, kekarnya otot tidak menjamin tahan lama. Bisa aja badan gede, tapi anunya kecil. Sejempol ini," celetuk Juminten. Menunjukkan ibu jari miliknya. Mereka pun tergelak bersamaan.
"Astaga, Jum. Mulut elu laknat amat," cibir Juleha. Memenang perut yang terasa kram karena terlalu banyak tertawa.
"Diam kalian! Berisik!" pekik Marwa. Suasana hatinya mendadak buruk. Setelah melihat semua sahabatnya diam, Marwa kembali masuk ke kamar dan menutup pintu dengan kencang hingga membuat mereka terjengkit karena terkejut.
Dia menghempaskan tubuhnya secara kasar di atas tempat tidur. Bibirnya cemberut dengan tangan terlipat di depan dada. Marwa mendengkus kasar. Dia mengumpati Leo karena merasa lelaki itu penyebab kesialan dirinya hari ini.
"Gue tidur aja, deh. Daripada otak dan hati gue rasanya panas." Marwa menarik selimut sampai sebatas leher lalu berusaha memejamkan mata. Namun, baru saja terpejam, Marwa sudah membuka mata kembali saat mendengar notif pesan berkali-kali masuk. Awalnya Marwa tidak peduli, tetapi dia juga merasa penasaran.
Marwa membuang napas kasar saat melihat pesan dari para sahabatnya di grup. Padahal mereka tinggal di bawah atap yang sama. Sumpah, rasanya Marwa ingin mencekik mereka satu persatu atau paling tidak menggantung mereka di pohon cabai. Eh jangan! Cabai lagi mahal. Marwa pun membaca pesan satu persatu dengan telaten.
Zaenab :
Eh, si Edan beneran udah tidur tuh?
Suketi :
Mana gue tahu, palingan juga iya. Kecapekan dia habis digenjot habis-habisan.
Sumiatun :
Padahal masih ada yang mau gue tanyain.
Martu :
Emang elu mau nanya apa, Sum?
Sumiatun :
Enak kagak pas digenjot 😂😂
Juminten :
Haha ada aja elu, Sum. Jelas enaklah dan bikin nagih. Gue juga mau nanya sama dia. Pas pertama disodok, darah perawan dia warna apa?
Zaenab :
Ya pasti merah lah. Emang elu pikir darah perawan warna apa, Jum? Jangan bikin emosi gue naik.
Juminten :
Ya kali darah perawan si Edan warna biru. Berarti tuh apem keturunan Sultan. Keturunan darah biru.
Zaenab :
Allahu Akbar!
Marwa rasanya sangat geram dengan para sahabatnya. Terlihat jelas dari jarinya yang menekan layar ponsel dengan kencang.
Marwa :
Kalian emang bener-bener setan! Gue masih perawan! PERAWAN! Kalau kalian enggak percaya, sini cek aja. Gua bakal ngangkang!
Zaenab :
Heh! Ayo pada tidur aja udah malem, sebelum singa betina makin ngamuk.
Grup chat itu pun akhirnya sepi. Meskipun sekarang mereka berdebat seperti itu, tetapi besok pagi semua akan baik-baik saja. Seolah tidak ada apa-apa