Dikhianati oleh orang yang dicintai yaitu sang istri membuat Louis Gabriel menutup diri dari wanita, dia menjalani hari-harinya dengan begitu kesepian bahkan tinggal di rumah mewah dan besar miliknya tanpa ditemani oleh siapapun.
Dingin, kasar, dan arogan menjadi sifat Louis yang merupakan salah satu pengusaha terkaya di negaranya. Meskipun Luois menutup hatinya akan seorang wanita, namun, tidak dengan nafsu dan birahi yang ada di dalam dirinya.
Sebagai seorang laki-laki normal tentu saja dia tetap membutuhkan kaum wanita untuk memenuhi kebutuhan biologisnya itu, dan Loius selalu menggunakan jasa wanita penghibur untuk memuaskan nafsu birahinya.
Sampai akhirnya, dia bertemu dengan seorang wanita yang cuek, urakan bahkan pecicilan bernama Arista yang mampu membuka hati bahkan mencairkan jiwa yang selama ini membeku.
Seperti apakah pertemuan mereka berdua? akankah Arista menerima cinta dari seorang laki-laki kaya raya, namun, memiliki sifat Arogan dan semena-mena tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penurut
Tubuh Louis seketika lemas, emosinya yang sempat meluap-luap seolah memakan separuh tenaga di dalam tubuhnya. Selain merasa lemas, dirinya pun malu bukan kepalang. Bagaimana cara menghadapi Jodi yang telah dia marahin sedemikan rupa bahkan telah dengan lantangnya memecat Assisten yang telah bekerja bersamanya selama 5 tahun lamanya itu.
Kemana lagi dia harus mencari Asisten penurut dan seroyal dia? Kemana lagi dia akan mencari Assisten yang selama ini telah dengan begitu sabarnya menghadapi sifat Arogan, serta tempramen tingginya dengan begitu sabar dan selalu menuruti semua perintah yang dia berikan?
Louis pun sedikit mengurai jarak lalu mengusap wajahnya kasar mencoba mengontrol emosinya yang semula sempat meledak-ledak tidak karuan.
"Tuan harus minta maaf sama Mas Jodi!" Pinta Arista menatap tajam wajah Louis dengan tatapan kesal.
"Ke-kenapa saya harus minta maaf sama dia?" Jawab Louis dengan suara terbata-bata.
"Sama saya juga. Tuan harus minta maaf sama saya, karena udah dua kali Tuan men*ium bibir saya tanpa izin. Apa Tuan tau? Tuan udah ngerampas ciuman pertama saya? Dua kali lho, dua kali.''
"Tapi kamu suka 'kan?"
"Hah? Eu ... Nggak, siapa bilang? Enak aja."
"Tapi enak 'kan?" Louis tersenyum menggoda membuat wajah Arista merah bersemu merasa malu.
"Ikh, Tuan ini. Ngomongnya ngaco deh, siapa juga yang suka di cium kasar kayak gitu? Gimana mau enak diciumi secara membabi buta kayak gitu," Arista merasa gugup karena dua kali ci*man yang diterimanya memang menyisakan bekas yang mendalam di hatinya.
"Bohong, buktinya kamu diam aja waktu saya cium. Itu tandanya kamu juga menikmati bahkan meresapi setiap lu*atan yang saya berikan 'kan-'kan?"
"Tuan ...! Di suruh minta maaf malah godain saya kayak gitu, gimana sih?" Arista menaikan suaranya berbicara dengan penuh penekanan.
"Lho, ko jadi kamu yang kasih saya perintah? Saya 'kan bos kamu? Apa kamu udah lupa sama peraturan di rumah ini? Apa kamu mau dihukum buka baju kayak yang waktu itu kamu katakan, hah?" Louis menaikan suara hanya untuk mempertahankan keegoisannya yang merasa enggan untuk meminta maaf kepada bawahannya, sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.
"Tuan Louis yang tampan dan baik hati. Yang namanya orang salah itu harus tetep minta maaf, tidak peduli yang salah itu seorang atasan bahkan presiden sekalipun. Kalau udah salah ya salah aja harus, wajib, minta maaf. Ngerti?" Arista dengan penuh penekanan.
"So tau kamu."
"Dih, dasar Tuan Arogan yang menyebalkan."
"Apa?''
"Tuan Arogan yang menyebalkan, puas?"
Mendengar hal itu, Louis pun langsung menarik kepala gadis itu lalu kembali melayangkan ciuman namun, ciuman yang dia berikan kali ini lebih lembut dan penuh perasaan membuat Arista seketika memejamkan mata bahkan, entah sadar atau tidak dia pun melingkarkan tangannya di leher Louis seraya membalas setiap lumayan yang disuguhkan oleh Tuannya tersebut.
Lama larut dalam kenikmatan setiap ******* bahkan sesapan Tuannya yang dengan begitu lihainya membuat Arista terasa melayang ke udara akhirnya, dia pun membuka kedua matanya dan seketika tersadar saat menatap wajah Louis yang saat ini menutup mata dengan hidung mancungnya yang kini saling menempel begitupun dengan bibirnya yang saat ini menyisir setiap jengkal bibir merahnya.
"Ikh ..." Arista seketika mendorong tubuh Tuannya itu lalu dia pergi begitu saja dengan setengah berlari dan wajah merah merona, jantung gadis berusia 21 tahun itu pun berdetak kencang kini dengan darah yang terasa mendidih.
''Dasar Tuan Arogan yang kurang ajar, di suruh minta maaf karena dua kali mencium tanpa izin, ini malah ngelakuinnya lagi. Nyebelin banget si jadi orang,'' gerutu Arista seraya mengusap bibirnya yang masih terasa basah dan senyum yang sedikit mengembang kedua sisi bibirnya itu.
Apa yang dia ucapkan seolah tidak sejalan dengan apa yang dia rasakan. Hati dan mulutnya seolah tidak sinkron, bibirnya memang mengatakan bahwa, dia kesal kepada Tuannya itu namun, hatinya terasa berbunga-bunga kini membuatnya seketika menghentikan langkah kakinya lalu memutar badan menatap Louis yang masih berdiri di belakangnya dengan tersenyum menatap ke arahnya.
"Hiiih ... Dasar Tuan Louis gila," ucapnya lagi lalu akhirnya kembali memutar badan dan meneruskan langkah kakinya.
Sementara itu, Louis nampak tertawa lepas menatap tubuh Arista yang saat ini berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke dalam rumah dengan wajah memerah dan bibir yang di kerucutkan sedemikan rupa membuat wajah gadis itu terlihat begitu lucu dan juga menggemaskan.
Dia pun hendak berbalik dan meninggalkan tempat itu ke arah yang berlawanan dengan Arista namun, tiba-tiba saja langkah kakinya terhenti kemudian saat mendengar suara Arsita yang memanggil namanya.
"TUAN AROGAN!" Terdengar suara tinggi Arista yang memanggil namanya.
"Astaga, bukannya tadi dia udah masuk ke dalam rumah ya?" Gumamnya hendak mengabaikan panggilan Arista namun, tiba-tiba saja pergelangan tangannya di tarik kuat persis saat dirinya di bawa keluar dari dalam rumah tadi.
"Tuan mau kemana? Jangan kabur gitu aja ya," tegas Arista penuh penekanan lalu benar-benar menarik tubuh Louis secara paksa.
Anehnya lagi, Louis pun menurut begitu saja. Kaki panjangnya mengikuti langkah kaki Arista dengan begitu entengnya layaknya anak kecil yang di suruh berhenti main oleh orang tuanya.
"Siapa yang mau kabur," ucap Louis pelan menatap punggung Arista seraya tersenyum.
"Bohong, saya tau Tuan mau melarikan diri tadi. Buktinya, tuan mau pergi ke arah sana, bukan masuk ke dalam rumah," ketus Arista tanpa menoleh sedikitpun.
"Eu ... Itu kerena, karena ... Karena saya mau masuk lewat pintu belakang, Rista." Jawab Louis terbata-bata.
'Ya Tuhan, kenapa saya jadi penurut gini sama dia? Apa saya udah benar-benar gak waras?' (batin Louis)
Sesampainya di dalam, Louis langsung di hadapkan di depan Jodi yang saat ini masih berdiri di tempat yang sama seperti semula. Dia pun menatap wajah bosnya dengan tatapan heran karena, wajah bosnya itu terlihat begitu pasrah dan penurut saat tubuh bosnya itu dihadapkan di depan dirinya.
"Minta maaf sekarang juga," pinta Arista membuat Jodi membulatkan bola matanya merasa terkejut dan mengedipkan satu matanya sebagai isyarat agar Arista berhenti sebelum Tuannya itu kembali murka.
Akan tetapi, Arista sama sekali mengabaikan peringatan Jodi. Tatapan mata Arista nampak menatap tajam wajah Louis membuat Jodi semakin merasa ketakutan jikalau emosi Tuannya itu kembali meledak-ledak seperti sebelumnya.
"Iya-iya, bawel ..." Jawab Louis membuat Jodi seketika terkejut dengan reaksi Louis yang ternyata di luar dugaan.
"Tu-tuan?" Terbata-bata Jodi merasa terkesima melihat wajah polos Tuannya, sesuatu yang baru pertama kali dia saksikan dari semenjak dia bekerja kepada bosnya tersebut.
"Maaf karena tadi saya salah paham, Jodi. Kamu juga gak jadi saya pecat, sebagai tanda permintaan maaf saya, saya akan menaikan gaji kamu dua kali lipat," lirih Louis pelan dan lirih dengan kepala yang menunduk.
"Tu-tuan, anda?" Jodi masih terkesima.
"Bagus. Sekarang Tuan tinggal minta maaf sama saya, karena telah mencium saya sebanyak dua kali. Eh ... Salah, tiga kali malah." Pinta Arista lagi dengan begitu polosnya membuat Jodi seketika tersenyum.
'Apa bos benar-benar udah jatuh cinta sama Arista?' (batin Jodi)
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️