Siapa yang ingin bercerai? Bahkan jika hubungan pelik sekalipun seorang wanita akan berusaha mempertahankan rumah tangganya, terlebih ada bocah kecil lugu, polos dan tampan buah dari pernikahan mereka.
Namun, pada akhirnya dia menyerah, ia berhenti sebab beban berat terus bertumpu pada pundaknya.
Lepas adalah jalan terbaik meski harus mengorbankan sang anak.
Bekerja sebagai sekertaris CEO tampan, Elen tak pernah menyangka jika boss dingin yang lebih mirip kulkas berjalan itu adalah laki-laki yang menyelamatkan putranya.
laki-laki yang dimata Satria lebih pantas dipanggil superhero.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 - TRANSAKSI
Tak... Tak... Tak...
Suara tongkat terdengar, Divine berjalan pelan memasuki lobi kantornya bersama sang Ayah, Wijaya.
Semua orang menatapnya dalam diam, termasuk Anita dan beberapa wanita yang menaruh hati pada CEO tampan itu.
"Div, masih kuat jalan? Atau mau istirahat dulu di sofa lobi?" tanya Wijaya.
"Masih, Yah!"
"Bagus, semoga setelah ini kakimu kembali pulih," harap Wijaya.
Dua pria berjass hitam itu berjalan pelan menuju lift. Ada debar aneh mengganggu Divine saat angka lift hampir sampai di lantai ruangannya.
Semalam, Elen bahkan tak menjawab apapun membuat tidurnya sama sekali tak nyenyak.
"Div, kau melamun?" tanya Wijaya, saat pintu lift terbuka dan sang putra tak tergerak untuk keluar.
"Apa lelah?" tanyanya lagi mendengar Divine hanya diam.
"Tidak, Ayah." Divine berjalan pelan lebih dulu, saat sampai di depan ruangannya, tanpa sengaja berpapasan dengan Elen.
"Pagi Pak Wijaya, Pak Divine," sapa Elen membungkuk.
"Pagi, Elen. Bisa tolong buatkan kami kopi? Kali ini saja," pinta Wijaya dengan seulas senyum.
"Baik, Pak!"
Divine tampak terheran dan mau protes, tapi Sang Ayah justru mengisyaratkannya agar diam.
"Kenapa Elen yang membuat kopi, Yah? Bukankah ada OB?" Divine menatap heran ke arah Wijaya. Keduanya menghempas tubuh di sofa ruang CEO.
"Kopi buatannya enak," ujar Wijaya lagi.
Padahal sejujurnya, ia sengaja menyuruh Elen membuat kopi agar mereka lebih sering berinteraksi.
"Oh begitu." Divine mengangguk, tentu tanpa tahu maksud Wijaya sebenarnya.
"Ayah ke ruangan Rafael bentar, kamu tunggu disini." Wijaya berlalu, satu menit setelahnya Elen masuk sambil membawa senampan berisi dua cangkir kopi.
"Maaf Pak Divine, saya kesusahan mengetuk pintu," ujar Elen, merasa bersalah karena langsung masuk.
"Ya, terima kasih kopinya!" ujar Divine dengan nada rendah.
"Sama-sama, Pak!" jawab Elen, hendak pamit akan tetapi segera tangan Divine meraihnya.
"Elen, soal semalam apa kamu tidak mau mempertimbangkannya?" tanya Divine.
Elen sedikit tertegun, ia baru bercerai satu bulan. Apa pantas menerima lamaran seseorang meskipun itu demi Satria?
Elen ingin menggeleng, tapi juga takut akan menyinggung laki-laki yang menjadi bossnya itu.
"Elen..." Panggilan Divine kembali membuyarkan lamunannya. Elen menatap wajah Divine, tak ada kebohongan disana dan sepertinya ia serius dengan apa yang ditawarkan.
Menghela napas, kenapa sekarang justru jantungnya berdetak kencang?
"Maaf, Pak. Tapi menikah itu masalah hati, sedangkan bapak seolah seperti sedang mengajak saya kerja sama." Elen bangkit, segera keluar dari ruangan CEO. Sepanjang jalan menuju ruangannya, ia merutuki bibir yang bicara asal. Bukankah ia terkesan meremehkan Divine sekarang?
"Ah sial, bahkan menakhlukkan Elen saja kau tak bisa! Bagaimana mau membalas Sandra," maki Divine pada diri sendiri.
Ia menatap kopi yang tenggorok di depannya.
"Harum sekali, pantas Ayah suka!" Divine mulai menyeruput kopi buatan Elen.
"Memang calon istri idaman," batinnya memuji. Perpaduan kopi, gula dan susu yang pas buatan Elen menambah nilai plus wanita itu di mata Divine.
Wijaya kembali bahkan hanya untuk minum kopi.
"Ayah akan meeting bersama para investor juga Elen dan Rafael, apa tidak masalah kamu disini sendiri?" tanya Wijaya.
"Tak masalah, Yah. Dan maaf, aku bahkan tidak bisa bantu apa-apa!"
"Hey, nikmati saja waktumu untuk fokus sembuh. Ayah bekerja juga hanya untuk Bunda dan kamu boy," ucap Wijaya menempuk pundak Divine.
"Terima kasih, Ayah. Kau panutanku terbaik," ujar Divine, tak lupa memberi semangat.
Hari pertama kembali ke kantor, hanya sekedar duduk dan tak melakukan apapun. Meski begitu, Divine senang sudah bisa melihat lagi megahnya gedung tinggi Wijaya Group. Perusahaan yang dirintis oleh Ayahnya sendiri tanpa mengandalkan warisan dari Djaja.
***
"Noah, bagaimana persiapan untuk pernikahan kita? Aku mau yang sempurna, bukankah menikah hanya sekali seumur hidup," Cassandra menyenderkan kepalanya di pundak Noah.
"Sayang, itu kita bicarakan nanti setelah pulang kerja ya? Bagaimana?"
"Terus aku pulang nih?" Cassandra cemberut.
"Hm, dan aku sepertinya pulang agak malam."
"Kan gak ada kerjaan, kenapa lagi?" rengek Cassandra.
"Aku ada janji dengan teman!" Noah tersenyum, memegang dagu Cassandra lalu melu mat bibirnya tiba-tiba.
"Uhm baiklah, aku akan menunggumu nanti!" Cassandra akhirnya mengalah, ia memilih pulang dan menunggu kedatangan Noah di rumah. Sejak berpacaran, Noah memang sering menginap di rumahnya. Bukan hanya itu, hubungan Cassandra dan Noah terlampau jauh sebagai sepasang kekasih. Berhubungan layaknya suami istri sudah menjadi hal yang wajar bagi mereka.
Pukul tujuh malam mobil Noah melesat ke sebuah club malam di Jakarta. Club tersembunyi berkedok warteg itu adalah tempat orang-orang sering bertransaksi termasuk Bram. Selain aman dari polisi, club itu juga tak terlihat dari luar. Siapapun akan mengira jika itu hanyalah warung makan sederhana.
Seperti biasa, Noah menatap sekeliling setelah memarkirkan mobilnya di jarak yang lumayan aman. Memasuki warteg dan menuju kulkas belakang yang ternyata jika dibuka adalah lorong jalan club malam.
Suara dentuman musik dj memekakkan telinga, menatap sekeliling dimana orang-orang berjoget di area dance floor. Noah terus menyusuri, membelah kerumunan orang-orang hingga tiba di depan sebuah kamar.
"Mana barangku?" todong Noah langsung.
"Ini."
"Kerja bagus, lain kali aku mau yang lebih banyak dari ini. Lima hari lagi, kita bertemu," ujar Noah tersenyum puas.
"Baiklah, tapi sekarang aku sudah tak bersemangat!"
"Hahah kenapa? Apa kau takut polisi menangkapmu?" tawa Noah merasa lucu.
"Hah, bukan! Hanya banyak uang pun tak berguna, aku tetap tak bisa menyerahkannya untuk anak istriku," keluhnya.
"Wow, Bram! Kau sungguh menyedihkan," ejek Noah.
"Kau mengejekku, maka aku akan berhenti bang sat!" kesal Bram.
"Santuy, Bro! Bukankah kita kawan sejak dulu, asalkan kau menurut, ini..." Noah menyodorkan segepok uang beramplop coklat ke tangan Bram.
"Ck! Aku sudah bercerai, dan sepertinya aku bosan karena uangku tak berguna."
"Bram... Bram... Lihat disana, begitu banyak perempuan cantik. Kau tinggal menunjuk mana yang kau mau! Tak perlu susah payah jadi kuli agar wanitamu itu mau makan uangmu, wanita disini mau uang apapun jenisnya!"
"Kau..." geram Bram.
"Aku bahkan belum melihat istrimu dan kau sudah bercerai, hm!"
"Hm, aku terlalu mencintainya sampai aku hanya ingin mengikatnya di ranjang saja," desis Bram, ingatannya menerawang. Betapa ia adalah laki-laki breng sek di mata Elen. Namun, itu semua adalah keinginan Bram. Ia ingin Elen dan Satria meninggalkannya agar kelak sang putra tak kecewa saat tau bahwa ayahnya hanyalah seorang kurir obat haram.
Melepaskan Elen adalah hal yang tepat, semakin hari Bram semakin merasa takut jika Satria kecewa padanya. Lebih baik dibenci selamanya dari pada tumbuh sayang kemudian menorehkan kecewa.
RAHIM ELEN JUGA SUBUR....