TAMAT SEASON 1
Seorang dosen cantik yang berniat untuk melupakan rasa sakitnya dan memulai hidup baru tanpa cinta, kini dikejar-kejar oleh pria yang jauh lebih muda setelah pertemuan pertama mereka di Bali.
Liburan singkat yang tadinya tak ingin saling mengenal, justru berlanjut hingga menumbuhkan rasa cinta.
Perbedaan umur yang lumayan jauh, membuat Yasmin menolak mentah-mentah ungkapan hati Eza.
Eza yang ternyata adalah mahasiswa di tempatnya mengajar, membuatnya berpikir dua kali tentang niat untuk hidup tanpa cinta lagi.
Yasmin dan Eza terlibat cinta penuh gejolak. Wanita itu pun bingung, apakah itu benar-benar cinta, ataukah hanya nafsu belaka.
Akankah percintaan mereka bisa berjalan mulus?
Sementara banyak faktor yang wanita itu pikir mustahil untuk melanjutkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MamGemoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertukar cerita
...***...
Eza memandangi wanita itu, begitu pun juga Yasmin. Tatapan itu sulit untuk diartikan. Seperti ada sesuatu yang menghipnotis satu sama lain.
Eza menyandarkan dirinya pada kursi tidur di sebelah Yasmin yang kosong. “Baiklah kalau begitu. Aku akan menemanimu di sini, atau aku antar kamu ke hotel. Kamu menginap di hotel mana?”
“Aku di Golden Rich, tapi kamu tidak perlu mengantarku, aku tidak apa-apa, sebentar lagi mungkin akan sembuh. Hanya sedikit pusing aja, kok.”
“Sekali lagi aku minta maaf.”
“Sudah jangan terus minta maaf,” tutur Yasmin mengulas senyum tipisnya.
“Eh, sebentar. Tadi kamu bilang ... kamu menginap di Rich Golden?” tanya Ega yang langsung dijawab anggukan kecil oleh Yasmin.
“Memangnya kenapa?”
“Aku juga menginap di sana,” terang Eza dengan antusias. “Kamu sudah lama di sini?” lanjutnya.
Yasmin terus memijat sekitar pelipisnya, karena masih sedikit pusing. “Aku baru datang tadi siang.
“Oh, kalau aku sudah sehari di sini, sudah lama aku ingin berkunjung di pantai ini. Namun, baru sempat sekarang. Enak, ya, suasananya?” tanya Eza basa-basi—mencari topik agar terus bisa mengobrol dengan wanita cantik di sampingnya itu.
“Sepertinya aku akan betah di sini, pemandangan pantai ini sangat indah. Seminggu rasanya akan kurang." Dia memandang derasnya ombak yang riuh.
Seperti mendapat lampu terang, Eza jadi bersemangat saat mendengar Yasmin akan stay selama satu minggu, bahkan bisa lebih. Itu artinya, dia bisa bertemu lagi dengan wanita itu.
Perlahan, jingga berganti rembulan. Tak terasa, hari sudah mulai gelap. Obrolan mereka ternyata berlanjut hingga gelapnya malam. Banyak pembahasan dan bertukar cerita.
“Sebaiknya kita kembali ke hotel,” ajak Eza.
Yasmin mengangguk lalu gegas berdiri, ia mulai melangkahkan kakinya, menapaki pasir yang lembut, menggelitik telapak kaki tanpa alas.
Mereka berjalan ke hotel yang hanya berjarak beberapa meter saja. Keduanya menaiki lift bersamaan. Ketika hendak memencet tombol lantai, tanpa sengaja jari mereka bersentuhan di nomor lima.
“Ya ampun! Kamu juga di lantai lima?” tanya Yasmin, ia mengulas senyum termanisnya yang mampu menghipnotis Eza dengan pesonanya.
Hening, tak ada obrolan antara keduanya. Sesekali Eza mencuri pandang, Yasmin terlihat tenang menghadap ke depan. Setelah keluar dari lift, Eza ke arah kanan, kamar nomor 308. Yasmin ke kiri, menuju kamar nomor 301.
“Hei!” seru Eza setelah beberapa langkah. Dia berbalik memanggil wanita itu.
“Ya? Ada apa?” tanya Yasmin ketika ikut berbalik.
“Selamat beristirahat!” Eza melambaikan tangannya dan tersenyum cerianya.
“Kamu juga! Terima kasih, ya!” balas wanita itu pun tersenyum dan melambaikan tangan.
Mereka berbalik dan melewati koridor ke arah kamar masing-masing dengan arah berlawanan. Mereka sama-sama tersenyum, seperti sedang kasmaran. Yasmin dan Eza hanyalah dua orang asing yang bertemu tanpa sengaja dan tanpa perkenalan, mereka bisa hanyut dalam obrolan panjang.
Yasmin mengakui dalam hati, Eza adalah sosok yang sangat menarik di mata wanita manapun yang melihatnya,
Sebelum mengistirahatkan tubuhnya, Yasmin kembali teringat pada sosok pria yang gagah beberapa saat yang lalu. Sejenak dia berpikir, jika dilihat lebih teliti, pria itu terlihat masih sangat muda, tapi penampilannya terlihat dewasa. Apakah salah jika bergaul dengan pria yang muda beberapa tahun darinya?
Ahh, Yasmin melenyapkan pikiran aneh itu. Lagi pula, dia hanya ingin bersenang-senang, tak peduli siapa yang dia temui di sini. Toh, mereka akan berpisah juga. Tapi, tatapan pria asing itu mampu menarik perhatiannya.
Meski dirinya tidak pernah berkenalan dengan pria asing sejak berumah tangga, tetapi kali ini dirinya benar-benar merasakan sesuatu yang menyeruak dari dalam hatinya. Namun, dia enggan berpikir jauh, mengingat sakit hati yang ditimbulkan oleh mantan suami, membuat dirinya trauma dan tidak siap jika harus berhubungan dekat dengan lelaki manapun.
...***...
...Like dan komen karya ini jika kalian suka....
...Jangan lupa favorit dan baca bab-bab selanjutnya....
...❤️❤️❤️...
...Terima kasih ☺️...