Rizar Abran Maulana seorang pria tampan dan sholeh sudah jatuh cinta kepada seorang wanita cantik yang dia temui di sebuah pesta tapi wanita itu tidak menyadarinya, hingga suatu saat sahabatnya ingin menjodohkannya dengan adik kandungnya sendiri yang ternyata adalah wanita yang selama ini Rizar cari.
Jihan Addara Puteri seorang wanita cantik yang merupakan seorang artis dan model papan atas, Jihan yang biasa dipanggil Darra tidak menyangka kalau hidupnya sangat menyedihkan, disaat pacar yang dia cintai mengkhianatinya dan selingkuh dengan sahabatnya sendiri, sekarang Darra harus menerima perjodohan dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal.
Akankah Rizar bisa membuat Darra jatuh cinta kepadanya dan menerima Rizar sebagai suami seutuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Sang Mantan
✈️
✈️
✈️
✈️
✈️
Tidak terasa sudah hampir satu minggu Darra dan Rizar berada di New Zealand, dan malam ini mereka akan kembali ke Indonesia.
Darra sedang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, tubuhnya terasa sangat lelah bagaimana tidak, Rizar menyiksanya tiap malam, pagi, siang, sore. Apalagi cuaca sangat dingin menjadi alasan untuk Rizar malakukannya lagi dan lagi.
Rizar sedang di kamar mandi, setelah sebelumnya mereka berdua packing pakaian mereka. Tiba-tiba suara ponsel Rizar berbunyi tanda ada yang menghubunginya.
Darra awalnya tidak mau mengangkatnya, tapi ponsel suaminya itu terus saja berdering. Darra melihat nomor baru masuk, awalnya Darra ragu-ragu tapi kalau tidak di angkat takutnya penting.
📞"Ha----"
📞"Rizar, aku kembali."
Deg...
Detak jantung Darra berdetak tak karuan, dalam otaknya berpikir pasti wanita ini adalah mantan Rizar. Darra segera mematikan ponsel itu karena mendengar Rizar sudah selesai dan hendak keluar.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Rizar.
"Tidak, Darra ga apa-apa. Oh iya, baju Mas sudah Darra siapkan."
"Terima kasih sayang."
Rizar mencium kening Darra, tapi tiba-tiba ponsel Rizar kembali berbunyi. Rizar segera melihatnya, Rizar tampak berpikir dan melihat nomor yang sangat Rizar kenali. Rizar pun memutuskan untuk pergi ke balkon dan mengangkat telpon itu.
Darra hanya bisa melihat Rizar dengan tatapan sendunya. Entah apa yang di bicarakan suaminya itu dengan sang mantan yang jelas itu membuat dada Darra terasa sesak.
Tidak lama kemudian, Rizar pun kembali...
"Telepon dari siapa, Mas?" tanya Darra.
"Oh, dari teman kerja."
Deg....
Hati Darra terasa sakit saat mengatakan kalau itu dari teman kerjanya.
"Kenapa kamu harus berbohong sih, Mas? apa mungkin kamu masih mencintainya," batin Darra.
Malam ini Darra dan Rizar meninggalkan hotel menuju Bandara. Rizar masih tetap menggandeng tangan Darra dengan senyumannya tapi berbeda dengan Darra yang merasa tidak enak hati.
"Kamu kenapa? kok dari tadi diam saja?" tanya Rizar dengan mengelus pipi Darra.
"Tidak apa-apa Mas, Darra hanya merasa sedih saja meninggalkan Negara yang begitu indah ini," dusta Darra.
"Jangan sedih dong, nanti kalau ada kesempatan lagi kita pergi lagi ke sini."
Darra hanya tersenyum dan menyandarkan kepalanya ke pundak Rizar. Darra takut kalau Rizar masih menyimpan perasaan kepada sang mantan, Darra tidak mau kehilangan Rizar. Saat ini Darra sudah sangat mencintai Rizar.
Darra dan Rizar pun duduk di kursi pesawat, dan mereka tidak tahu kalau di belakang kursi mereka ada wanita cantik dengan anggunnya duduk sembari melihat majalah.
Wanita itu pun tidak tahu kalau orang yang dia cintai duduk di depannya. Ya, wanita itu adalah Eriska wanita yang sudah menorehkan luka di hati Rizar tapi saat ini Eriska kembali ke Indonesia untuk meminta maaf dan merebut kembali hati Rizar.
Darra dan Rizar pun sampai di Indonesia pagi hari.
"Mas, sebentar ya Darra mau ke toilet dulu sebentar."
"Oke, mau Mas antar?"
"Ah, tidak usah. Mas tunggu saja di sana."
"Oke..."
Darra pun langsung menuju toilet, karena dia sudah kebelet banget ingin ke toilet. Sedangkan Rizar menunggu di pintu keluar sembari memainkan ponselnya.
Lima belas menit berlalu, Darra keluar dari toilet bersamaan dengan Eriska yang baru keluar dari toilet juga. Darra berjalan di depan Eriska dengan senyumannya yang terus mengembang.
"Mas!" teriak Darra.
Rizar menoleh, awalnya Rizar mengembangkan senyumannya tapi senyumannya tiba-tiba luntur karena di belakang Darra, ia melihat seseorang yang sangat dia kenal dan ingin ia lupakan.
Eriska yang dari tadi mengotak-ngatik ponselnya, mendongakkan kepalanya dan terkejut kalau tidak jauh darinya, ada seorang pria yang berdiri menatapnya. Pria yang sangat dia rindukan.
"Rizar..."
Eriska segera berlari mendahului Darra dan langsung memeluk Rizar. Darra menghentikan langkahnya, senyumannya yang tadi mengembang tiba-tiba pudar saat melihat seorang wanita yang saat ini sedang memeluk suaminya.
Sementara itu Rizar yang terkejut hanya bisa diam, tapi pandangannya lurus ke arah Darra.
"Aku sangat merindukanmu," seru Eriska dengan bahagianya.
Deg....
Mata Darra sudah berkaca-kaca, Darra langsung berjalan cepat dan meninggalkan Rizar yang masih di peluk oleh seorang wanita cantik dan s***.
"Sayang...." seru Rizar.
Eriska melepaskan pelukkannya...
"Apa! kamu barusan manggil aku sayang? ya ampun aku ga nyangka kalau kamu masih mengingat aku."
"Maaf, aku harus pergi."
Rizar segera menggeret kedua kopernya dan segera berlari mengejar Darra tapi sayang, Darra sudah masuk ke dalam taksi dan pergi meninggalkan Rizar.
"Sayang tunggu!" teriak Rizar.
"Zar, kamu ngejar siapa sih?" tanya Eriska.
"Ini semua gara-gara kamu, istri aku jadi marah!" bentak Rizar.
"Is---istri? maksudnya, kamu sudah menikah?" tanya Eriska tidak percaya.
"Iya, aku sudah menikah."
Rizar segera menghentikan taksi dan masuk le dalam taksi itu meninggalkan Eriska yang masih terdiam karena tidak percaya dengan ucapan Rizar.
"Tidak mungkin, Rizar tidak mungkin sudah menikah. Rizar itu sangat mencintaiku, pasti dia bohong karena dia masih marah kepadaku," gumam Eriska.
Selama dalam perjalanan, Rizar terlihat gelisah dan cemas.
"Ah sial, pasti Darra marah banget ini," gumam Rizar.
Sementara itu, Darra lebih memilih pulang ke rumah orangtuanya. Ia tidak mau bertemu dulu dengan Rizar.
"Loh sayang, kamu sudah pulang? mana suamimu?" tanya Mama Wina.
"Ga tahu."
Darra langsung berlari ke kamarnya meninggalkan Mama Wina yang tampak kebingungan.
"Kenapa lagi dengannya? apa dia sedang bertengkar dengan Rizar?" gumam Mama Wina.
Mama Wina pun melanjutkan menyiram tanaman bunga kesayangannya. Tidak lama kemudian, sebuah taksi pun berhenti di depan rumah.
Rizar keluar dengan menggeret dua koper...
"Pagi, Ma."
"Pagi sayang."
"Ma, apa Darra pulang kesini?" tanya Rizar.
"Iya, dia langsung masuk ke kamarnya. Kayanya dia sedang kesal, apa kalian bertengkar lagi?"
"Cuma salah paham, Ma. Ya sudah Rizar susul Darra dulu."
"Tunggu, Nak."
Rizar menghentikan langkahnya...
"Kamu ambil kunci cadangan kamar Darra sama si Bibik soalnya pasti Darra mengunci kamarnya."
"Iya Ma, terima kasih."
Rizar segera berlari, setelah mengambil kunvi cadangan, Rizar langsung menuju kamar Darra.
Ceklek...
Rizar perlahan membuka pintu kamar Darra, terlihat Darra sedang terbaring di atas tempat tidurnya. Pundaknya bergetar, Rizar bisa pastikan kalau istrinya itu sedang menangis. Rizar menutup pintu dan mengucinya.
Pelan-pelan, Rizar naik ke atas tempat tidur Darra masuk ke dalam selimut dan tidur di samping Darra dan memeluknya dengan erat.
"Sayang..."
"Kenapa Mas bisa masuk kesini?"
"Sayang, maafin Mas kamu salah paham."
Darra langsung terduduk dan menatap suaminya.
"Salah paham apanya, tadi Mas diam saja saat wanita itu memeluk Mas," seru Darra dengan menghapus airmatanya dengan kasar.
Rizar tersenyum...
"Tuh kan malah senyum-senyum, pasti lagi ngebayangin tadi di peluk sama wanita cantik dan s*** kan? dasar menyebalkan," ketus Darra.
Darra bangkit dari duduknya hendak pergi tapi Rizar segera menarik tangannya dan jatuh ke atas tubuh Rizar.
"Lepaskan, Darra mau pergi."
Darra terus saja berontak tapi Rizar malah semakin mengeratkan pelukkannya.
"Diam sayang, kalau kamu terus bergerak seperti ini, si Otong bisa bangun."
"Dasar otak mesum."
"Jangan salah paham, tadi itu----"
"Mantan Mas, kan?"
"Kok tahu?"
"Tahulah, Darra menemukan amplop terselip di tumpukan buku Mas dan disana ada foto Mas sama wanita itu, Mas juga menulis sesuatu yang manis di balik foto itu."
Darra bangkit dari tubuh Rizar dan berjalan menuju balkon kamarnya. Rizar pun mengikuti Darra dan memeluknya dari belakang.
"Mas sama dia sudah lama tidak berhubungan, Mas juga sudah melupakannya."
"Terus kenapa tadi Mas diam saja di peluk sama dia?"
"Mas hanya terkejut saja tidak ada maksud apa-apa."
Darra melepaskan tangan Rizar dan berhadapan dengan Rizar.
"Mas, melarang Darra untuk memakai pakaian s*** tapi mantan Mas tadi terlihat s*** banget itu tandanya berarti dulu Mas tidak melarang dia dong."
"Hai, kamu dan dia itu beda. Kamu itu istri Mas sedangkan dia wanita masalalu Mas yang ingin Mas lupakan. Mas melarang kamu memakai pakaian s*** ya jelaslah, karena Mas tidak mau tubuh istri Mas menjadi tontonan para pria di luar sana. Sedangkan dia, mau pakai pakaian s*** atau tidak itu bukan urusan Mas karena dia bukan milik Mas."
"Apa Mas masih punya rasa kepadanya?"
"Tidak."
"Serius?"
"Iyalah, karena sekarang rasa cinta dan sayang Mas semuanya hanya untuk istri Mas seorang," seru Rizar dengan mencolek hidung Darra.
"Awas saja kalau dia berani menggoda Mas, aku bakalan bejek-bejek tuh orang."
"Lah, kok tadi ga di bejek-bejek? malah langsung pergi meninggalkan Mas."
"Karena tadi banyak orang, takutnya ada wartawan di sana."
"Alasan."
Rizar menarik tubuh Darra ke dalam pelukkannya, Darra pun membalas pelukkan Rizar dengan erat.
"Kamu harus percaya sama Mas, Mas tidak akan meninggalkanmu sampai kapan pun."
"Iya Mas, Darra percaya."
✈️
✈️
✈️
✈️
✈️
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU