NovelToon NovelToon
Dari Misi Turun Ke Hati

Dari Misi Turun Ke Hati

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Tamat
Popularitas:879.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Mak Nyak

Dor!

Dor!

Dor!

Para kawanan intel mulai bergerak menuju tempat persembunyian mereka. Siap menerkam mangsa yang menjadi incaran mereka. Mereka memang agen tanpa identitas. Datang saat dipanggil. Dan lenyap bagai asap saat usai.

Kematian salah satu pacar dari agen tersebut membawa mereka pada misi yang panjang. Ericko Juanda beserta kawanannya diberikan misi untuk mengungkap kasus penjualan organ dan menjadi titik terang bagi kematian pacarnya. Membuatnya bertemu dengan Fennita Malik yang masih memiliki hubungan darah dengan pembunuh Kalena, pacar Ericko.

Kata orang, obat untuk hati adalah hati. Cinta datang tanpa dipaksa. Cinta datang pada pemilik hatinya. Sanggupkah mereka menolaknya jika sudah takdirnya?

Apakah Ericko sengaja mendekati gadis itu untuk mengungkapkan kasus kematian mantan pacarnya? Atau memang tulus cinta tumbuh di hatinya?

Mari kita simak kisahnya!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Nyak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Kenyataan

...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...

Ericko POV

Fennita menangis sesenggukan dalam pelukanku. Entah apa yang terjadi pada diriku. Aku juga tidak tahu pasti. Rasa iba itu muncul ketika melihat sosok periang itu tiba-tiba menangis.

"Are you, okay?" tanyaku lembut.

Dia tetap diam dalam pelukanku. Ku biarkan dirinya meluapkan emosinya. Tak berselang lama, isakan pun tak terdengar lagi.

"Maaf," ujarnya.

Aku melepaskan pelukan itu. Sama-sama diam tak tahu harus berbuat apa. Entahlah, otak ku sedang mampet untuk berpikir.

"Ayo jalan, Mas?" pintanya.

"Ha?" respon bodohku menjawab pertanyaannya.

"Ayo jalankan lagi mobilnya, mau nganter aku pulang kan?"

"Oh, iya." Lagi-lagi ku terbodoh menjawabnya.

Aku mulai melajukan mobil kembali. Menuju alamat rumah yang disebutkannya. Sunyi bagai di kuburan mencekam dalam mobil. Jujur, aku lebih suka dia yang berisik dan ceriwis ketimbang dengan dia yang sekarang berada di samping ku.

"Nggak usah sedih," kata ku tak tahan lagi dengan kecanggungan ini.

"Kenapa gak boleh sedih?"

"Ya ... ya karena membuatmu menjadi jelek!" Aku memukuli mulutku sendiri. Aku ingin bilang, pasti ada jalan keluarnya. Tapi kenapa melenceng jauh? Otak ku, kamu kenapa?

Meskipun mataku melihat ke depan, tapi aku bisa melihat dia seperti mengulas senyum.

"Maksud aku ..."

"Jangan diteruskan, Mas! Biarkan kata-katamu tadi menghiburku barang sejenak. Aku tahu, bukan itu yang ingin kamu ucapkan. Tapi, biarkan. Mungkin ini kenangan paling indah yang aku miliki denganmu." Fennita menghela nafasnya berat. Seperti sedang tertimpa barang berat.

"Harapan terakhir ku adalah Bibi Mar, kalau Bibi Mar gagal, aku bisa apa?"

"Berdo'a sama Allah, Dia lah Maha pemilik hati sesungguhnya. Jodoh, umur, rezeki, dan juga maut adalah ketetapan-Nya. Tak ada seorang pun manusia bisa mengubahnya. Langitkan dengan kencang do'a mu. Insyaallah, ada jalan keluar nantinya."

"Beruntungnya aku bisa kenal sama kamu, Mas! Meskipun dingin, tapi hati kamu benar-benar tulus. Makasih nasihatnya. Makasih juga telah menghiburku," ucapnya dengan senyum mengembang.

Mobil telah memasuki kawasan rumahnya. Aku menunggu instruksi selanjutnya dari Fennita dimana harus berhenti.

Dia menyuruhku berhenti di depan rumah elit. "Disini saja, Mas."

"Saya antar sampai depan pintu rumah, nggak baik menurunkan perempuan di depan gerbang. Setidaknya saya mengantarkanmu hingga bertemu orang tua mu," ucapku penuh penekanan.

"Kamu mau ngelamar aku, ya?"

"Ha? Ngaco! Saya hanya ..."

Aku tak melanjutkan kata-kataku. Sedangkan Fennita menunggu kata selanjutnya dari ku.

"Apa?" tanyanya. Tapi aku memilih diam dan bungkam.

Akhirnya gerbang rumah itu membuka dengan sendirinya. Dari sini aku tahu jika gerbang ini dilengkapi dengan sensor canggih. Kuperhatikan area sekitar halaman dan rumah itu.

"Sisi kanan dan kiri jarak setengah meter dan di dua meter terdapat cctv. Dua lantai dengan ruangan atas bisa ku pastikan ada lima ruangan. Garasi yang luas dengan cctv di pojok kiri sebelah luar." batinku

Kini aku telah sampai di depan pintu rumah Fennita. Kami turun dari mobil. Belum sempat kami memencet bel rumah, kami sudah disambut seorang wanita paruh baya. Mungkin usianya sama dengan usia ibuku. Aku menyalaminya sebagai penghormatan terhadap orang yang lebih tua.

Dia memeluk Fennita dengan erat. Dan saat itu ada seorang lelaki yang membuat hatiku menjadi mendidih.

"Masuk!" teriaknya pada Fennita. Peringai yang buruk sebagai seorang ayah nampak jelas tergambar di wajahnya.

Fennita langsung melepaskan pelukan ibunya dan berlari masuk. Pria itu menatapku. Aku merasa jengah dengan tatapan itu. Ku coba untuk menyalaminya, tapi dengan cepat tanganku ditepisnya. Dia langsung masuk ke dalam rumah.

"Maafkan suami saya, Nak," ucap wanita itu.

Aku mencoba tersenyum, "Nggak papa, Tan. Kalau begitu, saya permisi dulu."

"Terima kasih sudah mengantarkan Fennita. Kalau boleh tahu nama kamu siapa, Nak?" tuturnya masih lembut kepadaku. Berbeda dengan pria tadi.

"Sama-sama, Tan. Ericko, Tan. Biasa dipanggil Erick, kalau begitu saya pamit dulu, Assalamu'alaikum," jawabku.

"Wa'alaikum salam hati-hati, Rick." Aku mengangguk ke arah Mamah Fennita lalu bergegas pergi dari rumah itu.

Di jalan aku lebih banyak berpikir. Pikiranku tak bisa berfokus. Melayang-layang entah kemana. Aku mencoba menepi dan berhenti sekejap. Mencoba menghubungi Rio untuk menenangkan hatiku.

"Halo, Assalamu'alaikum?" ucapku.

"Wa'alaikum salam, Rick. Whats'up bro?"

"Besok pagi bisa kita bicara?"

Sesaat tak ada sahutan di ujung sana, aku menunggu jawabannya, "Sure! Tentang sebuah kenyataan, kan?" tanyanya seolah tahu isi pikiranku.

"Yup! Ini sungguh mengganggu ku. Aku butuh kejelasan tentang sebuah kenyataan yang baru saja ku ketahui. Dan alasan mengapa lo ngumpetin hal ini dari, gue."

"Oke! Besok akan aku jelaskan."

"Oke, terima kasih. Assalamu'alaikum?" kataku mengakhiri sambungan telepon itu.

"Wa'alaikum salam warahmatullah" jawab Rio.

Aku menghela nafas, lalu kembali mengemudikan mobil melintasi jalanan untuk kembali ke basecamp. Tak lama setelah sampai, aku langsung merebahkan diri ke sofa. Mencoba memejamkan mata agar sedikit membuat hatiku tenang, tapi jelas saja itu sia-sia belaka.

Ku putuskan untuk mengambil wudhu dan menunaikan sholat malam. Ku panjatkan do'a untuknya yang telah lebih dulu berada di surga.

Sebenarnya, apa yang membuatku benar-benar gundah seperti ini? Apakah karena Rio yang menyembunyikan sebuah kenyataan? Atau kejadian yang dialami Kalena yang masih abu-abu ini? Atau kenyataan yang baru ku ketahui tentang Fennita?

Stop! Sejak kapan aku mulai memikirkan gafis itu? Oh, ayolah Rick! Sadar!

Selesai sholat aku langsung memejamkan mata di atas sajadah. Berharap pagi segera menjelang.

*****

Author POV

"As shalatu wassalamu 'alaik ...."

Qiro'ah Subuh membangunkan Ericko dari tidurnya. Seperti rutinitasnya sehari-hari, dia akan langsung mandi dan menunaikan sholat Subuh. Ternyata Rio sudah berada di basecamp saat dia selesai bermuroja'ah.

"Kopi, Rick?" tawarnya pada Ericko.

"Boleh!" jawab Ericko cepat.

Rio dengan cepat menyeduh kopi instan berlogo luwak itu. Mereka duduk berdua berdampingan menyesap kopi dengan aroma khas itu. Harum menyeruak memenuhi segala penjuru ruang.

Rio dengan cepat menyeduh kopi instan berlogo luwak itu. Mereka duduk berdua berdampingan menyesap kopi dengan aroma khas itu. Harum menyeruak memenuhi segala penjuru ruang.

"Jadi lo sengaja nyembunyiin itu, Yo?"

Rio malah mengulum senyum mendengar hal itu. Lalu kembali menyesap kopinya.

"Bukan nyembunyiin, Rick. Gue sama Bang Jon kemarin ketemuan di dekat rumah Fennita. Komandan nyuruh gue ngikutin Alex. Teori Bang Jon tuh kuat lho, Rick. Menurut gue sih ... cuma belum ada bukti aja. Dan satu yang gue yakini, bukan om gue yang membunuh. Pasti suruhannya!" terang Rio menyuarakan argumennya.

.

.

**Like

Vote

Komen

Tip**

1
raya
Luar biasa
Rahmaniar
suka banget ceritanya
Bahari Sandra Puspita
yeayyy, finally happy ending..
tengkyu mak nyak, hebat banget sih bikin ceritanya..
suami Abdi negara kah???
kok sepertinya tokoh utama mesti berprofesi nakes dan abdi negara..
top banget dah pokoknya ceritanya..
tegang banget pas adegan misi..
dilengkapi dg persahabatannya dan kekeluargaan yg sangat kental..
pokoknya seneng bacanya, nano-nano rasanya..
tegang, sedih, senang, konyol, romantis, semuanya ada..

sehat2 terus ya Mak..
tetap semangat berkarya.. 😘🥰😍🤩
cuss lanjut novel berikutnya..
Rama's mom
ceritanya bagus ga bertele-tele dpanjang-panjangin kyk sinetron
Siti Mutmainnah
mantap thor 👍👍👍👍
Lina Herlina Hardjati
baguuss 👍🏻🤩
Nana na
Jepara ra katut ngabsen tp aq nyumbang vote maaaak
Nana na
Kecewa
gati pramukasari
❤❤
Murti Puji Lestari
bagus 👍
Bunda Fizi
cerita nya bagus....
Triple R
etdah kemarin gak mau sama fenita giliran sekarang ngejar ngejar
Triple R
kalo aku jadi fenita juga pasti marah lah. perasaan pasti sakit banget secara tidak langsung di tolak mentah mentah.
Triple R
love love sama tante zumarnis keren lah pokoknya
Triple R
cerita nya bagus aku suka.
Triple R
kalen di bunuh
Earlyn
👍
Buny Bears
cerita yg unik dan menarik 🤩
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Nick_Hen
eric dan feni junior bersanding dgn zio mas si 🤭
Narsi Laras
ketahuan kan yg teriak 2 siapa nah lo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!