NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:554
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.


ikuti untuk bab selanjutnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Syarat dari Mama

Pagi itu aku bangun lebih awal. Hari ini adalah hari wawancaraku. Aku mengenakan kemeja putih, blazer krem, celana bahan hitam, dan sepatu pantofel yang sudah lama tidak kupakai. Rambutku ku ikat rapi menjadi ekor kuda rendah. Setelah bercermin beberapa saat, aku mengulas sedikit lipstik agar wajahku tampak segar.

"Semoga lancar ya, Fitri." Gumamku pada bayanganku sendiri.

Aku keluar kamar sambil membawa map berisi dokumen.

Di meja makan, Mas Viyan sedang menikmati sarapan.

"Wah, istriku cantik sekali." ucapnya.

Aku tersenyum malu.

"Lebay, Mas."

"Enggak. Serius."

Mas Viyan berdiri lalu merapikan sedikit kerah bajuku.

"Semangat ya."

"Iya mas"

Belum sempat kami berbincang lebih lama, Bu Mirna datang menghampiri.

"Hmm... lumayan." ucapnya melihat bawah ke atas.

Aku menoleh.

"Mudah-mudahan diterima."

"Aamiin, Ma."

"Tapi ingat ya."

Aku mengangguk.

"Kalau sudah kerja nanti, jangan berubah."

"Maksud Mama?"

"Jangan mentang-mentang punya uang sendiri terus lupa sama keluarga."

Aku tersenyum tipis.

"Insyaallah enggak, Ma."

Bu Mirna tampak puas mendengar jawabanku.

 

Mas Viyan mengantarku sampai ke depan gedung perusahaan.

"Nervous?"

"Sedikit."

"Wajar itu."

Suamiku menggenggam tanganku sebentar.

"Kamu pasti bisa."

Aku mengangguk sambil tersenyum.

"Makasih ya, Mas."

"Mas jemput nanti siang."

"Iya."

Aku pun turun dari motor dan berjalan memasuki gedung perusahaan.

 

Proses wawancara berjalan hampir satu jam. Aku menjawab setiap pertanyaan dengan tenang berdasarkan pengalaman kerjaku sebelumnya. Setelah selesai, pihak HRD memintaku menunggu sebentar. Sekitar lima belas menit kemudian, seorang perempuan keluar sambil membawa selembar berkas.

"Bu Fitri."

"Iya?"

"Selamat."

Aku sedikit terkejut.

"Ibu lolos tahap wawancara."

"Alhamdulillah. terimakasih pak." ucapku.

"Kalau hasil medical check-up juga baik, minggu depan Ibu sudah bisa mulai bekerja."

Hatiku langsung dipenuhi rasa syukur.

"Terima kasih banyak."

Aku menundukkan kepala berkali-kali.

Sudah lama aku tidak merasakan kebahagiaan seperti ini.

 

Di luar gedung, Mas Viyan sudah menungguku.

"Gimana?"

Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku.

"Diterima mas.."

"Hah? Serius?"

"Iya."

Mas Viyan langsung tertawa bahagia.

"Alhamdulillah."

Tanpa peduli orang-orang di sekitar, ia memelukku singkat.

"Aku bangga sama kamu."

Aku ikut tersenyum.

"Mas juga harus bangga sama istrinya dong." ucapku terkekeh.

"Bangga banget."

Kami pun pulang dengan hati yang jauh lebih ringan.

 

Sesampainya di rumah, Bu Mirna langsung menyambut kami.

"Gimana?"

Aku tersenyum.

"Alhamdulillah diterima, Ma." Ucapku.

"Wah, syukurlah."

Beliau tampak begitu senang.

Bahkan Dinda yang baru keluar kamar ikut mendekat.

"Wih, selamat ya Mbak." ucap Dinda.

"Terima kasih." jawabku.

Aku pikir hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan. Namun ternyata... Itu hanya bertahan beberapa menit.

"Fitri." panggil mertuaku.

"Iya, Ma?"

"Sini duduk."

Aku duduk di hadapan Bu Mirna. Beliau berdehem pelan.

"Karena kamu sudah diterima kerja...Mama punya beberapa syarat." Ucap mertuaku.

Aku mengernyitkan dahi.

"Syarat?"

"Iya syarat." Jawab mertuaku serius.

Mas Viyan yang baru hendak masuk kamar pun berhenti melangkah.

"Apa syaratnya, Ma?" tanyaku serius.

Bu Mirna mengangkat satu jari.

"Pertama.. Nanti setiap pagi sebelum berangkat kerja kamu tetap harus masak."

Aku mengangguk pelan.

"Kalau memang sempat, iya." Ucapku.

Beliau mengangkat jari kedua.

"Kedua.. Pulang kerja kamu tetap harus cuci baju, bersih-bersih rumah, sama masak malam."

Aku mulai terdiam. Beliau melanjutkan lagi.

"Ketiga.. Setiap akhir pekan kamu enggak boleh istirahat. Rumah harus dibersihkan total."

Aku menelan ludah.

"Ma..."

Belum sempat aku berbicara, Bu Mirna kembali mengangkat jari keempat.

"Keempat.. Nanti gajian pertama langsung kasih ke Mama."

Suasana ruang tamu langsung hening.

Aku melirik ke arah Mas Viyan.

Suamiku tampak sama terkejutnya denganku.

"Ma." Mas Viyan akhirnya membuka suara.

"Iya apa yan? Jangan bantah sih sama mama ini loh" ucap mertuaku.

"Maa.. Kalau urusan gaji biar aku sama Fitri saja yang mengatur." Ucap suamiku..

Wajah Bu Mirna langsung berubah. "Kenapa?" ucapnya merengut.

"Karena itu hasil kerja Fitri." Jawab suamiku.

"Loh.. Mama juga enggak mau ambil kok." Ucap Bu Mirna tertawa kecil.

"Lalu?" tanya suamiku.

"Mama cuma mau pegang." Ucapnya.

Aku mulai memahami maksudnya. Pegang. Itu kata yang sederhana. Namun aku tahu... Kalau uang itu sudah berada di tangan Bu Mirna, belum tentu akan kembali utuh. Aku memberanikan diri berbicara.

"Ma, bagaimana kalau setiap bulan Fitri sama Mas yang memberi uang belanja saja?"

Senyum Bu Mirna perlahan menghilang. "Jadi...kamu enggak percaya sama Mama?" ucap mertuaku.

"Bukan begitu ma.." belaku.

"Lalu bagaimana?"

"Aku cuma ingin belajar mengatur keuangan rumah tanggaku sendiri ma.." jawabku.

Belum pernah sebelumnya aku membantah sehalus ini. Namun Bu Mirna langsung berdiri.

"Kalau begitu mulai sekarang urus rumah juga sendiri." Ucap mertuaku jengkel.

Aku mengerutkan dahi.

"Ma?"

"Mama enggak mau ikut campur lagi." Ucapnya lalu Beliau berjalan menuju kamarnya sambil berkata pelan, tetapi cukup jelas untuk kudengar.

"Baru juga mau punya gaji...udah berani sama mertua." lanjut mertuaku merajuk.

Pintu kamar mertuaku ditutupnya agak keras. Aku hanya terdiam. Mas Viyan mengusap pelan bahuku.

"Sudah, jangan dipikirkan." ucap suamiku.

Aku memaksakan sebuah senyum.

"Iya, Mas."

Namun dalam hati, aku mulai menyadari satu hal.

Ternyata...

Bagi Bu Mirna, aku boleh bekerja. Asalkan hasil kerjaku tetap berada di bawah kendalinya. Dan firasatku mengatakan... Penolakan ku hari ini hanyalah awal dari konflik yang jauh lebih besar.

Bersambung..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!