"Huaaaaaa kenapa kepala suami ku hilang? "
Jeritan melengking di sebuah rumah karena ia telah kehilangan sosok suami tercinta, kapan itu terjadi diri nya sama sekali tidak tau
Kampung menjadi heboh karena mereka sama sekali tidak menyangka bahwa kepala manusia bisa hilang dari tubuh nya dan tidak tau kemana.
Siapa pelaku itu?
kenapa ia mencuri kepala di setiap malam bulan purnama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Terbangun
Ulya membuka mata di pagi hari dan dia menatap sekitar dengan seksama untuk melihat dirinya ada di bagian mana, wanita ini tersentak kaget karena tadi malam dia masih ingat sekali bahwa pingsan karena telah melihat keberadaan kuntilanak yang begitu menyeramkan dan kuntilanak itu tertawa di depan mata sehingga dirinya sampai pingsan.
Untung nya lagi dia sadar ketika sudah pagi seperti ini sehingga tidak ada takut yang bersemayam di dalam hati wanita itu, sudah banyak orang yang berkeliaran ke sana kemari dan mereka ada yang berangkat kerja ada juga yang ingin berangkat ke sawah namun tidak ada seorangpun yang peduli kepada Ulya di bawah pohon itu.
Sebab mereka mengira bahwa Ulya adalah kemungkinan besar orang gila yang sedang istirahat di bawah pohon tersebut, karena penampilan dia juga yang sangat berantakan dan belum lagi sangat kotor karena terkena lumpur bercampur dengan kotoran kerbau sehingga pantas saja bila warga menganggap bahwa dirinya adalah orang gila.
Tadi dia sudah berusaha untuk tetap tenang dan berusaha bersikap normal namun ketika melihat dirinya di depan spion itu maka Ulya menjadi histeris juga, sungguh sial sekali nasib dia karena mengalami hal buruk ketika akan mencari rumah Purnama karena dia telah bertemu dengan rombongan kuntilanak yang sedang party itu.
''Ina?'' Ulya menatap ponsel dia yang sudah berdering sejak tadi.
''Kak, kau pergi ke mana saja dan ini Ibu sibuk mencari?!'' Ina kesal sekali karena sudah sejak tadi malam dia menghubungi namun tak diangkat.
''Katakan saja pada ibu kalau aku menginap di rumah teman tadi malam dan tidak sempat menghubungi.'' Ulya memilih untuk berbohong.
''Loh kau punya teman Memangnya di desa itu?'' Ina merasa aneh karena dia memang tidak tahu.
''Ada, itu Bintari kan teman aku juga jadi aku menginap di rumah dia tadi malam.'' dusta Ulya semakin menjadi karena dia memang tidak ingin bercerita bagaimana nasib nya setelah bertemu kuntilanak.
Ina menarik nafas panjang dan kemudian dia menutup telepon itu karena mengetahui bahwa saat ini Ulya sudah di tempat yang aman, sejak tadi malam Bu Endang memang merasa sangat cemas karena Ulya sama sekali tidak bisa dihubungi dan dia keluar dari rumah dalam keadaan hari yang sudah sangat malam sekali.
''Sudah ada di mana dia saat ini?'' Bu Endang menatap Ina yang baru saja menutup telepon.
''Dia menginap di rumah Bintari, mungkin tadi malam mau pulang tapi sudah terlalu malam sehingga memutuskan untuk menginap saja.'' ucap Ina.
''Gitu tidak ada kabar sama sekali sehingga membuat orang cemas saja.'' keluh Bu Endang.
''Ibu terlalu cemas karena kepikiran dengan setan saja.'' Ina Berkata sambil bersiap-siap karena dia juga harus pergi kerja.
''Apa yang Ibu lihat tadi malam itu memang nyata karena memang ada setan gentayangan tidak memiliki kepala.'' Bu Endang berusaha menjelaskan kepada sang anak.
Gadis ini sama sekali tidak menanggapi lagi karena menurut dia itu hanya cerita konyol yang tidak perlu dibesar-besarkan, malah yang ada sekarang dia merasa kesal karena semua orang mulai percaya bahwa itu adalah ulah setan tanpa kepala yang sedang mencari mangsa dan membunuh beberapa warga di desa ini, semua bermula dari Pak Muh yang pertama kali melihat.
''Aku pergi kerja dulu kalau begitu, Bu.'' Ina berpamitan dan mencium tangan Bu Endang.
''Hati hati di jalan dan jangan terlalu mengebut.'' pesan Bu Endang.
''Ya, sekalian aku minta tolong agar jangan menyebar berita seperti itu terus-menerus karena nanti hanya akan menambah suram masalah.'' Ina berkata ketika di atas motor.
Bu Endang hanya menatap sang putri dan dia tidak menjawab karena menurutnya bercerita kepada Ina sama sekali tidak ada guna, sebab wanita itu tidak peduli dengan cerita orang lain dan tetap pendirian dia sendiri bahwa tidak ada yang namanya setan di dunia ini hidup bersama dengan mereka.
''Kenapa kok Kelihatan sekali bahwa dia sedang emosi seperti itu?'' Bu Warti datang mendekat untuk bertanya.
''Biasa lah, kadang dia begitu keras kepala sehingga sulit sekali untuk berbicara dengan Ina ini.'' keluh Bu Endang.
''Betul, sama seperti Revan yang juga keras kepala dan Kadang sulit sekali untuk berbicara dengan dia itu.'' Bu Warti juga mengeluh tentang sang anak.
Kadang sebagai orang tua tentu saja merasa bingung sekali dan mereka kebingungan harus mengambil langkah apa agar bisa berbicara dengan baik, si bungsu yang dulu menjadi gadis pendiam namun sekarang bisa berubah menjadi sangat keras kepala karena beranggapan Ini semua hanya halusinasi yang tak bertepi.
''Saya mau tanya tentang pendapat sampeyan tentang penglihatan Pak Muh itu.'' Bu Warti membuka suara duluan karena dia memang ingin bertanya.
''Soal itu maka saya percaya bahwa apa yang telah dia lihat sangat asli.'' Bu Endang langsung mendekat karena dia memang membutuhkan teman.
''Revan tetap saja ngeyel kalau itu semua hanya halusinasi saja.'' keluh Bu Warti.
Rasanya Bu Endang ingin menceritakan semua apa yang telah dialami ketika sedang berdua dengan Ulya tadi malam, karena masalah itu juga hubungan dia dan Ina sedikit bentrok sehingga sampai sekarang sulit untuk berbicara dengan baik, bahkan Ulya yang katanya mendatangi Purnama saja sampai sekarang tak kunjung pulang dan malah baru saling mengatakan bahwa dia menginap di rumah Bintari.
Selamat siang, jangan lupa like dan komentar nya ya.