NovelToon NovelToon
Supir Ketos Nona Manja

Supir Ketos Nona Manja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.

Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.

Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.

Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Janji Bodoh di Hari Minggu

Keesokan harinya, Clara Adelin kembali terlambat.

"Yang terlambat hari ini, hukuman kalian bukan lagi membersihkan WC, melainkan membersihkan lingkungan sekolah!" seruku di depan gerbang.

Pandanganku kembali tertuju pada orang yang sama. Clara, nona cantik nan manja itu, hari ini terlambat lagi. Tapi kali ini dia tidak sendiri; dia datang bersama seorang sahabatnya.

Aku tahu gadis itu sahabatnya karena kemarin, saat Clara menyelesaikan hukuman, dia setia menunggu sampai mereka pulang bersama menggunakan mobil pribadi.

"Kamu hebat ya, Anak Manja. Karena takut mengerjakan hukuman sendiri, kamu ajak sahabat kamu buat terlambat bareng?" kataku dengan nada sindiran yang sengaja ingin memancing kekesalan Clara.

"Enggak kok, Kak! Aku bukan diajak Clara buat terlambat," potong sahabat Clara dengan polos. "Aku emang terlambat bangun tadi. Soalnya semalam aku begadang diajak nonton drakor sama Clara."

Mendengar jawaban jujur dari sahabatnya, wajah Clara langsung memerah menahan malu.

"Iya, Kak... Kami janji deh besok enggak bakal terlambat lagi. Besok kami pasti datang lebih pagi! Iya kan, Diana?" seru Clara panik.

"Iya, Kak! Kami janji!" tambah Diana mantap.

Aku hanya tersenyum sinis. "Janji kalian itu palsu. Lagipula aku enggak peduli kalian mau datang cepat atau tidak. Tapi kalau besok kalian terlambat lagi, siap-siap saja lari keliling lapangan sepuluh kali. Nanti keringatan, terus bau... Hiiy."

"Tapi untuk hukuman membersihkan lingkungan sekolah hari ini tetap berlaku. Sini, kalian berdua ikut saya!"

Aku membawa mereka ke area yang penuh dengan sampah. Dari raut wajah keduanya, jelas terlihat rasa jijik saat harus memegang sampah-sampah itu. Tapi aku tidak peduli.

Hukuman tetaplah hukuman, harus dilaksanakan agar ada efek jera.

Baru lima menit mereka memegang alat kebersihan, bel tanda masuk kelas berbunyi nyaring.

"Yes! Hore!"

Dua gadis itu berteriak kegirangan. Tanpa pikir panjang, mereka langsung melempar plastik sampah yang dipegang begitu saja, lalu melangkah pergi tanpa pamit padaku. Aku yang melihat kelakuan mereka hanya bisa mengelus dada. Ingin marah, tapi ya sudahlah.

Setelah membuang sisa sampah pada tempatnya, aku menuju area tempat cuci tangan. Saat tiba di sana, aku dibuat geleng-geleng kepala. Clara dan Diana ternyata masih berada di sana, asyik menghabiskan hampir satu botol sabun cuci tangan hanya untuk menghilangkan kuman di tangan mereka.

Aku berjalan santai ke sebelah mereka untuk mencuci tangan. Sembari mematikan kran air, aku bergumam pelan namun cukup keras untuk terdengar, "Dasar anak manja."

Tanpa memedulikan apakah Clara akan marah atau membanting barang lagi, aku langsung balik kanan dan masuk ke dalam kelas.

Sore harinya, bel pulang sekolah berbunyi. Di area parkir depan, aku kembali bertemu dengan Clara dan Diana yang sedang menunggu jemputan supir pribadi mereka masing-masing.

"Kak Arkan! Besok aku janji enggak bakal terlambat lagi! Aku janji jam enam pagi aku sudah ada di sekolah!" seru Clara penuh percaya diri.

Diana tak mau kalah mengangguk cepat. "Iya, Kak! Kami berdua janji besok datang lebih pagi. Bahkan sebelum Kakak datang, kami pasti sudah ada di sini!"

Mendengar janji yang diucapkan dengan sangat yakin oleh dua gadis itu, aku berusaha menahan tawa yang hampir meledak.

"Oke, aku pegang janji kalian," jawabku singkat sambil mengangguk formal.

Satu per satu mobil mewah mereka melaju pergi meninggalkan area sekolah. Begitu kedua mobil itu menghilang di belokan jalan, tawa yang sejak tadi kutahan akhirnya pecah juga.

Sepanjang perjalanan pulang, aku terus-menerus tertawa sendiri di atas sepeda motor.

"Kenapa ya kebanyakan orang kaya itu polos atau agak bodoh?" gumamku sambil tertawa. "Apa mereka benar-benar lupa kalau besok itu hari Minggu dan sekolah libur?"

Aku menepuk jidatku sendiri, membayangkan apa yang akan terjadi besok.

Namun, tawa pelanku perlahan meredup saat mataku menatap deru angin yang menerpa setang motor tua ini. Motor butut peninggalan almarhum bapakku. Bapak sudah lama meninggal, sementara ibuku... aku bahkan tidak tahu dia ada di mana sekarang. Memori tentang ibu sangat kabur di benakku, hanya tersisa sebuah foto kusam dengan gambar yang sudah tidak terlalu jelas. Kenyataan itu selalu berhasil menarikku kembali dari tawa gembira menjadi anak laki-laki yang harus bertahan hidup sendirian.

Keesokan harinya, Minggu pagi pukul 08.00 WITA.

Clara dan Diana benar-benar menepati janji mereka. Keduanya sudah berdiri rapi di depan gerbang sekolah dengan seragam lengkap. Namun, suasana di sekitar sekolah terasa sangat sepi dan hening. Pintu gerbang besi yang megah itu masih terkunci rapat dengan gembok besar.

"Di mana sih semua orang? Kok enggak ada yang datang ke sekolah?" tanya Clara sambil mengipas-ngipaskan tangannya ke wajah, merasa heran.

"Iya, Ra... Kenapa orang-orang pada belum muncul ya?

Padahal kan sudah jam dela..."

Kalimat Diana terhenti seketika. Matanya menyipit menatap layar ponsel di genggamannya, membaca nama hari yang tertera di sana.

"Clara..." panggil Diana dengan suara bergetar. "Pantas saja tidak ada orang yang datang."

"Kenapa, Di?"

"Coba kamu lihat hari ini... hari apa?"

Clara merebut ponsel Diana dan melihat deretan angka serta nama hari di layar. Seketika, raut wajah cantiknya berubah merah padam. Matanya melotot tajam penuh kekesalan.

"KETUA OSIS BANGSAT!" umpat Clara histeris, suaranya menggema di depan gerbang sekolah yang sepi.

"Pantas saja kemarin dia santai banget dengar janji kita! Dia sengaja mau ngerjain kita, Di!"

Napas Clara naik turun menahan emosi. Di pagi hari Minggu yang cerah itu, dendam dan rasa benci Clara Adelin terhadap sosok Ketua OSIS bernama Arkan Jaya meroket naik mencapai puncaknya.

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭🤭
Markario Putra: malas nih,kok cerita aku nggak ada yang mau baca sih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!