Aurora—seorang montir bar-bar dan hacker genius dunia bawah—tewas mengenaskan lalu bertransmigrasi ke raga Aletheia Elixir. Aletheia adalah istri figuran yang diabaikan dan ditakdirkan mati di tangan suaminya sendiri, Kaelen Azrael—Raja Mafia bermata merah, penguasa dunia, sekaligus pria tertampan yang dirumorkan impoten.
Enggan mati konyol, Aurora langsung menghapus riasan menor buruk rupanya, mengungkap kecantikan aslinya yang secantik Dewita malam, lalu menyodorkan surat gugatan cerai tepat di depan wajah sang tiran!
Namun, Aurora salah perhitungan. Sifat bar-barnya yang menolak tunduk justru menyulut ego sang tiran. Dan yang paling mengerikan... tepat saat mata merah Kaelen menatap pesona Aurora yang mencoba menolaknya, penyakit impoten sang tiran sembuh.
Gairah Kaelen yang telah mati bertahun-tahun meledak dengan begitu liar dan haus darah.
Bukannya bebas, Aurora justru ditarik paksa ke atas sofa. Surat cerai terhempas berantakan, digantikan kukungan penuh kuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AURORA MENCOBA MERUBAH ALUR DRAMA
Begitu melihat wajah di dalam cermin, Rae hampir saja berteriak histeris jika dia tidak memiliki kontrol emosi yang kuat.
Wajah di cermin itu mengerikan, tapi bukan karena cacat. Wanita di dalam cermin mengenakan riasan wajah yang sangat tebal, bedak putih yang tidak rata hingga menyerupai topeng badut, pembayang mata berwarna biru gelap yang mencolok, dan lipstik merah tua yang dipoles melebihi garis bibir alami. Gaya rambutnya disanggul tinggi dengan kaku, membuat penampilannya terlihat seperti wanita paruh baya yang aneh dan menor.
"Jadi ini alasan kenapa Kaelen merasa muak dan langsung pergi setelah malam pernikahan?" Rae menggelengkan kepalanya, merasa miris sekaligus kesal.
Melalui memori Lethe, Rae tahu alasan tragis di balik penampilan ini. Lethe yang asli adalah gadis pendiam, penurut, dan sangat trauma karena sering disiksa oleh kedua orang tua kandungnya. Keluarga Elixir adalah keluarga bangsawan jatuh miskin yang serakah. Mereka memaksa Lethe menikah dengan Kaelen Azrael—sang penguasa tiran dunia bawah—demi menguras hartanya.
Orang tua Lethe yang bodoh mengira bahwa Kaelen menyukai wanita dewasa yang berpenampilan mencolok, sehingga mereka memaksa Lethe berdandan menor seperti ini setiap hari. Jika Lethe menolak atau mencoba menghapus riasan ini, dia akan dihukum cambuk atau dikurung di kamar gelap tanpa makan dan minum.
Hingga akhirnya, pernikahan formalitas itu terjadi. Kaelen yang dingin dan perfeksionis merasa sangat jijik dengan penampilan serta perilaku Lethe yang tampak haus harta. Tepat di malam pertama mereka, Kaelen pergi meninggalkan kediaman mewah ini tanpa sepatah kata pun.
Dan sialnya, malam ini tepat enam bulan sejak kepergian Kaelen tanpa kabar sedikit pun.
Selama enam bulan Kaelen menghilang, keluarga Elixir frustrasi karena mereka tidak bisa mendapatkan sepeser pun uang atau keuntungan bisnis dari sang tiran. Dan tebak siapa yang dijadikan pelampiasan? Tentu saja Lethe yang malang. Tadi malam, ayah kandung Lethe menyelinap masuk ke mansion ini, memaki Lethe sebagai wanita tidak berguna yang gagal menggoda suaminya, lalu mencambuk punggung gadis itu tanpa ampun hingga Lethe yang asli tewas karena syok fisik dan mental.
"Benar-benar keluarga berdarah dingin," desis Rae. Matanya yang kini memancarkan kilat tajam—sangat berbeda dengan tatapan Lethe yang biasanya sayu dan ketakutan—menatap lurus ke arah cermin. "Mereka membunuh anak kandung mereka sendiri demi uang."
Rae menghela napas panjang, mencoba menstabilkan emosinya yang meluap-luap. Dia tahu betul plot asli dari drama ini. Jika dia tetap bersikap diam dan lemah seperti Lethe yang asli, maka dalam waktu enam bulan ke depan, dia akan tewas di tangan Kaelen sendiri.
Dalam plot drama, Lethe nantinya tidak sengaja membuat Evadne (adik angkat kesayangan Kaelen) terjatuh dari tangga. Kaelen yang memiliki obsesi gila dan cinta rahasia pada Evadne akan langsung murka. Tanpa mendengar penjelasan apa pun, Kaelen akan mencekik Lethe, menjebloskannya ke sel bawah tanah, dan memerintahkan pengawalnya untuk mencambuk Lethe setiap hari sampai wanita itu tewas mengenaskan tepat di usia pernikahan mereka yang pertama.
"Mati dicambuk lagi? Oh, tidak akan terjadi untuk kedua kalinya," Rae tersenyum dingin. "Kaelen Azrael... kau boleh saja menjadi raja tiran yang ditakuti dunia bawah dan penguasa dunia, tapi aku bukan Lethe yang lemah yang bisa kau injak-injak."
Dengan gerakan tegas, Rae mengambil botol cairan pembersih wajah (cleansing oil) yang ada di meja rias. Meskipun setiap gerakan tangannya memicu rasa perih yang luar biasa di punggungnya, Rae mengabaikan rasa sakit itu. Jiwa bar-barnya yang tangguh menguasai rasa sakit fisik tubuh ini.
Dia menuangkan cairan itu ke kapas, lalu mulai menggosok kasar lapisan bedak tebal, riasan mata yang berantakan, dan lipstik menor dari wajahnya. Dia membasuh wajahnya berulang kali dengan air dingin dari wastafel kamar mandi, merontokkan semua kepalsuan yang selama ini mengubur kecantikan asli tubuh ini.
Ketika Rae kembali berdiri di depan cermin dan menyeka wajahnya dengan handuk bersih, dia terpaku.
Riasan menor itu telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh mahakarya visual yang luar biasa indah. Kulit wajah Lethe ternyata seputih salju, halus tanpa cela. Sepasang matanya berbentuk seperti kelopak bunga mawar, jernih dengan bola mata berwarna cokelat madu yang memikat. Hidungnya kecil dan bangir, serta bibirnya tipis kemerahan alami tanpa perlu pulasan lipstik. Ditambah dengan rambut panjang bergelombang yang kini terurai bebas, wanita di dalam cermin itu tampak luar biasa memesona.
Wajah ini... adalah wajah asli Rae di dunia nyatanya dulu. Wajah yang bagaikan seorang Dewi.
"Jika Kaelen diumpamakan sebagai Dewa karena ketampanan dan kekuasaannya, maka wajah ini jelas adalah pasangannya—seorang Dewita," gumam Rae sambil menyentuh pipinya sendiri. Dia tersenyum miring, memancarkan aura kepercayaan diri yang tinggi dan berani.
Sekarang, rencana Rae sudah bulat. Dia tidak sudi menjadi figuran yang mati konyol demi plot romansa rumit antara Kaelen dan Evadne. Dia juga tahu rahasia besar dari drama yang tidak diketahui orang luar: Kaelen sebenarnya menderita penyakit impoten secara psikologis karena trauma masa lalu dan janji pada mendiang orang tuanya untuk tidak pernah menyentuh Evadne. Kaelen hanya bisa memberikan kenikmatan lewat sentuhan tangan, tetapi tidak bisa menggunakan miliknya sendiri.
"Pria impoten yang sok berkuasa," cibir Rae dengan tawa sinis. "Biarkan saja dia hidup bahagia bersama adik angkat kesayangannya itu. Yang harus kulakukan sekarang adalah menyembuhkan luka ini, mengumpulkan kekuatanku, dan meminta perceraian secepatnya begitu bajingan itu menginjakkan kakinya di mansion ini!"
Rae melangkah menuju lemari besar, mengambil gaun tidur sutra hitam yang longgar agar tidak menekan luka cambuk di punggungnya. Sambil menahan denyut perih, dia mengikat rambutnya dengan asal namun tetap terlihat seksi dan menawan.
Langkah pertamanya adalah menghubungi Cyra Vesper, asisten pribadi sekaligus satu-satunya sahabat Lethe yang mengetahui rahasia terbesar Lethe—tentang sebuah perusahaan besar yang diwariskan lewat surat wasiat misterius dari sepasang suami istri paruh baya saat Lethe berusia dua belas tahun. Dengan jiwa hacker dan kemampuan bisnis Rae yang genius, dia akan menggunakan perusahaan itu sebagai batu loncatan untuk menghancurkan keluarga Elixir dan melepaskan diri dari jerat sang tiran, Kaelen Azrael.
"Permainan baru saja dimulai, Kaelen," bisik Rae penuh antisipasi, matanya berkilat tajam di kegelapan kamar.
Rae duduk di tepi ranjang king-size setelah berhasil mengobati punggungnya seadanya dengan kotak P3K yang dia temukan. Napasnya masih agak memburu, bukan cuma karena rasa perih dari luka cambuk, tapi karena dadanya bergemuruh oleh rasa cemas yang hebat.
"Kaelen Azrael..." Rae menggumamkan nama itu dengan nada bergetar.
Sebagai mantan hacker dunia bawah di kehidupan aslinya, Rae tahu betul membaca skala kekuatan orang. Dan Kaelen? Pria itu berada di puncak piramida makanan. Dia adalah Raja Mafia tertinggi, penguasa tunggal dunia bawah yang mengendalikan hukumnya sendiri, sekaligus pria paling berkuasa di bumi ini. Tidak ada satu pun hukum negara yang bisa menyentuhnya. Ditambah lagi, dia dikaruniai paras yang luar biasa tampan bak dewa, namun ketampanan itu berbanding lurus dengan kekejaman tak bertepi dan sepasang mata merahnya yang mematikan.
Rae bergidik ngeri mengingat adegan dalam drama yang sempat dia tonton.
"Dia itu monster berwujud manusia. Di drama, dia bahkan tidak ragu mencekik Lethe yang asli dan menyiksanya di sel bawah tanah sampai mati hanya karena Evadne tidak sengaja jatuh dari tangga," batin Rae sambil memeluk dirinya sendiri.
Rae memang bar-bar dan jago bela diri, tapi dia realistis. Melawan Kaelen secara fisik dengan kondisinya yang sekarang sama saja dengan bunuh diri. Kaelen memiliki pasukan bersenjata, kekuasaan tanpa batas, dan sifat sadis yang tidak kenal ampun. Rae tidak mau berakhir tragis di usia pernikahan yang baru setahun. Dia tidak sudi menjadi budak cinta yang memuja-muja Kaelen seperti wanita lainnya di dunia ini.
"Aku harus pergi sebelum plot kematian itu dimulai. Aku harus mengajukan perceraian secepat mungkin, mengambil hakku, lalu menghilang dari radar pria iblis itu," tekad Rae bulat.