"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17: Viral
Farrel mengira ia masih bisa mengendalikan cerita.
Ia salah.
Video di koridor RSUD Harapan Bangsa muncul di internet kurang dari satu jam setelah ia pergi. Tidak ada musik dramatis. Tidak ada edit berlebihan. Hanya rekaman ponsel yang goyang: Bu Rohana membawa kantong makanan, Farrel menyuruhnya pulang, tarikan kasar, tubuh perempuan tua itu jatuh, lalu Rangga mendorong Farrel ke dinding.
Kalimat Rangga dipotong menjadi bagian paling tajam.
Kamu bisa jadi dokter hebat di Amerika, tapi kamu tidak bisa jadi anak yang baik untuk orang tuamu?
Dalam tiga jam, video itu melewati puluhan juta tayangan.
Komentar meledak.
"Ibunya masih bela dia setelah didorong. Sakit banget lihatnya."
"Dokter Rangga benar. Pintar tidak ada gunanya kalau durhaka."
"Farrel ini siapa? Kok sombong sekali?"
"Perisai Terakhir bukan cuma melindungi pasien. Dia juga melindungi ibu orang."
Di ruang dokter, Dedi menaruh ponsel di depan Rangga seperti membawa barang bukti.
"Bro, lo viral lagi."
Rangga menutup mata.
"Kalimat itu sudah mulai terdengar seperti diagnosis."
"Diagnosisnya: kronis. Stadium empat. Tidak bisa disembuhkan dengan mematikan notifikasi."
Rangga menggeser ponsel itu menjauh.
"Bu Rohana bagaimana?"
"dr. Alya bilang memar ringan. Tidak ada retak. Tapi hatinya? Nah, itu yang parah."
Dedi duduk di kursi sebelah, wajahnya kali ini tidak sepenuhnya bercanda.
"Pihak kepolisian sudah minta keterangan. Video terlalu jelas. Mau Bu Rohana lapor atau tidak, setidaknya pemeriksaan awal jalan."
"Farrel?"
"Katanya masih di hotel. Tapi akun-akun medis sudah ramai. Ada yang mulai tag Universitas Camden dan Prof. Bennett."
Nama itu membuat Rangga menatap layar sebentar.
Ia tidak merasa puas.
Farrel memang salah. Melihat seorang ibu dipermalukan anaknya sendiri membuat orang-orang di koridor kehilangan keinginan untuk bersorak.
Menjelang siang, kabar berikutnya datang.
Program Prof. Howard Bennett mengirim pernyataan singkat kepada rumah sakit: mereka menyesalkan perilaku dr. Farrel Wicaksono, akan meninjau ulang hubungan kerja, dan menegaskan bahwa undangan kepada Rangga tidak boleh digunakan untuk menekan pihak mana pun.
Pak Bambang membaca pernyataan itu dengan suara datar.
"Bahasa halus untuk: anak itu dibuang dulu sampai skandal reda."
Pak Hendra meletakkan kertas di meja.
"Yang penting rumah sakit tidak dianggap menolak kerja sama ilmiah karena emosi."
"Kita memang tidak menolak ilmu," jawab Rangga. "Kita menolak cara orangnya."
Pak Hendra menatapnya lama, lalu tersenyum kecil.
"Kamu tahu, setiap kali kamu bicara begitu, saya makin takut rumah sakit lain benar-benar akan mencurimu."
"Saya masih dokter muda, Pak Direktur."
"Dokter muda yang membuat direktur rumah sakit nasional menelepon saya dua kali pagi ini."
Sebelum Rangga sempat bertanya, pintu diketuk.
Sekretaris masuk dengan wajah serius.
"Pak Direktur, Pak Syaiful sudah tiba."
Ruang rapat kecil yang kemarin dipenuhi aura tajam Farrel kini berubah menjadi lebih resmi. Pak Syaiful datang tanpa rombongan besar, hanya dua staf dan map tebal. Usianya matang dan wajahnya tenang. Cara ia menatap Rangga menunjukkan tujuan yang serius.
"Dokter Rangga," katanya sambil menjabat tangan, "saya sudah melihat data Trombosin Plus, laporan BPOM, kasus Pak Karto, uji pada Dokter Bambang, dan kejadian Nenek Warsih. Saya juga melihat apa yang Anda lakukan di Jalan Cahaya Bangsa."
"Terima kasih, Pak."
"Terima kasih itu seharusnya dari kami." Pak Syaiful duduk. "Provinsi ini punya terlalu banyak pasien jantung yang terlambat tertolong. Kalau Trombosin Plus hanya berada di RSUD Harapan Bangsa, kita sedang membiarkan jarak menjadi hukuman mati."
Kevin ikut hadir melalui panggilan video dari ruang produksi sementara. Wajahnya langsung tegang begitu mendengar kata provinsi.
"Pak, produksi kami masih terbatas."
"Saya tahu," kata Pak Syaiful. "Karena itu saya tidak datang meminta distribusi liar. Saya datang meminta rencana."
Pak Hendra melirik Rangga.
Rangga membuka map berisi skema pasokan awal.
"Tahap pertama, rumah sakit rujukan yang punya fasilitas penyimpanan dingin dan tim monitoring. Tahap kedua, pelatihan dokter penanggung jawab. Tahap ketiga, sistem pencatatan setiap dosis. Tidak boleh ada penjualan bebas."
Pak Syaiful mengangguk.
"Untuk seluruh provinsi?"
"Untuk seluruh Indonesia, Pak."
Ruangan hening.
Kevin di layar menutup wajah.
"Rangga, lo kalau bicara tolong kasih rem."
Pak Syaiful menatap Rangga dengan mata yang benar-benar berubah.
"Anda sadar yang Anda katakan? Distribusi nasional butuh koordinasi besar."
"Kalau obat ini bisa menyelamatkan pasien di Kota Cakrawala, pasien di kota lain juga berhak mendapat peluang yang sama. Selama rumah sakit memenuhi syarat, kami terbuka."
"Anda bisa menahan ini dan menjadi jauh lebih kaya."
"Saya sudah menolak monopoli, Pak. Menahan obat demi harga bukan alasan saya membuatnya."
Pak Bambang menunduk, tetapi semua orang bisa melihat sudut bibirnya naik sedikit.
Pak Hendra tidak tersenyum.
Ia terlihat seperti orang yang bangga dan takut pada saat yang sama.
Pak Syaiful perlahan menutup mapnya.
"Dokter Rangga, nama Anda akan ditulis di buku teks kedokteran Indonesia kalau jalan ini berhasil."
Rangga menjawab pelan, "Saya lebih ingin nama pasien tetap ada di kartu keluarga mereka, Pak."
Kalimat itu membuat staf Pak Syaiful berhenti menulis.
Sore harinya, media nasional mulai menurunkan laporan panjang. Bukan hanya tentang Farrel. Mereka menghubungkan semuanya: dokter muda yang dulu diremehkan, Trombosin Plus, ledakan Jalan Cahaya Bangsa, operasi otak, dan keputusan membuka distribusi obat tanpa monopoli.
Judul-judul baru muncul.
Dokter muda dari RSUD Harapan Bangsa menolak monopoli obat penyelamat nyawa.
Perisai Terakhir membuka jalan distribusi Trombosin Plus.
Etika, ilmu, dan keberanian di satu nama: Rangga Aditya Wijaya.
Di kantor Pak Hendra, telepon tidak berhenti.
Salah satunya datang dari Pak Prasetyo, direktur RS Persatuan Nusantara.
Pak Hendra mendengar beberapa menit, lalu wajahnya berubah aneh.
Ketika telepon ditutup, ia menatap Rangga.
"Pak Prasetyo ingin mengundang kamu menjadi dokter tamu."
Pak Bambang langsung tertawa tanpa suara.
"Nah. Satu lagi yang mau mencuri."
Pak Hendra menunjuknya. "Jangan memanas-manasi."
"Saya cuma menyebut fakta."
Rangga mengusap pelipis.
"Pak Direktur, saya belum dokter tetap."
"Saya tahu. Itu sebabnya saya belum menjawab iya. Tapi saya juga tidak bisa menjawab tidak begitu saja. RS Persatuan Nusantara bukan rumah sakit biasa."
"Kalau nanti kerja sama itu membantu pasien, kita bicarakan," kata Rangga. "Tapi basis saya tetap di sini."
Pak Hendra tampak ingin menyimpan kalimat itu dalam brankas.
"Saya pegang ucapanmu."
Malamnya, ketika rumah sakit sedikit lebih tenang, Rangga duduk di ruang kerja kecil dan membuka pesan yang belum terbaca.
Ada pesan dari Pak Syaiful:
Nama Anda akan ditulis di buku teks kedokteran Indonesia kalau Anda terus menjaga arah ini.
Ada pesan dari Kevin:
Produksi nasional? Serius? Gue butuh tiga kepala tambahan.
Ada pesan dari Dedi:
Bro, kalau nanti dapat penghargaan pemuda kota, jangan lupa traktir.
Rangga hampir tersenyum.
Lalu satu pesan lama yang tenggelam di antara ribuan notifikasi muncul dari nama yang ia kenal sejak kuliah.
Rina.
Rangga, maaf tiba-tiba menghubungi. Aku tidak tahu harus minta tolong ke siapa lagi.
Pesan kedua masuk beberapa detik setelah ia membukanya.
Anakku, Amelia... dia leukemia.
Jari Rangga berhenti di atas layar.
Semua suara rumah sakit seolah menjauh.