"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.
Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.
Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6: Menyelamatkan Nona Wibowo
Intan menoleh ke arah teriakan Bayu.
"Mas Bayu?"
"Mobil jemputan menunggu di depan minimarket. Cepat."
Bayu tidak memberi kesempatan untuk bertanya. Ia menunjuk pintu minimarket yang terang, tempat tiga pelanggan sedang berdiri dekat kasir. Intan menangkap keseriusan di wajahnya dan langsung berjalan ke arahnya.
Raungan mesin meledak dari seberang jalan.
Dua motor bergerak bersamaan.
Satu mengarah lurus ke trotoar. Motor kedua memotong jalan menuju area parkir, persis seperti jalur yang tadi dibaca Bayu dari posisi mereka.
"Masuk ke toko!" serunya.
Intan berlari. Pengendara terdepan mengulurkan tangan ke arah pergelangan yang memakai gelang giok.
Hendra memutar gas dari sisi jalan.
Ia tidak menabrak siapa pun. Ia hanya menyelipkan motornya melintang di mulut jalur, lalu menekan klakson panjang. Pengendara begal terpaksa membanting setang dan naik ke tepi aspal.
Motor Hendra sendiri hampir rebah. Ia menahan dengan kaki kiri, mematikan mesin, lalu mendorong kendaraan itu setengah meter sampai tepat menutup celah antara tiang parkir dan mobil yang sedang berhenti. Kini begal tidak bisa masuk tanpa menabrak motor di depan banyak saksi.
"Mas Ojol, rekam! Pak Satpam, tutup akses keluar sebelah sana!" teriaknya.
Ia tidak mengejar. Ia justru mengubah trotoar sepi menjadi panggung dengan sepuluh pasang mata dan tiga kamera ponsel. Seorang penjaga menurunkan palang parkir. Kasir minimarket menekan alarm, membuat bunyinya meraung ke jalan.
"Maling! Begal!" teriak Hendra. "Lihat pelatnya, Rek!"
Orang-orang di minimarket menoleh. Seorang penjaga keluar membawa peluit. Dua pengemudi ojol mengangkat ponsel dan mulai merekam.
Kesempatan sunyi yang dibutuhkan para begal lenyap dalam satu detik.
Motor pertama masih mencoba mendekati Intan, tetapi Bayu sudah berdiri di antara pintu toko dan trotoar. Ia tidak mengangkat tangan untuk berkelahi. Ia hanya menarik pintu kaca lebar-lebar dan berkata, "Masuk, Mbak Intan. Tetap di dekat kasir."
Sirene terdengar dari ujung jalan.
Para pengendara itu saling memberi isyarat. Motor kedua berputar lebih dahulu. Motor pertama menyusul, melesat ke arah utara dan menerobos lampu kuning.
Bayu melihat kedua pelat hanya sesaat.
L 4837 QN.
L 6192 XK.
Jenis motor, warna jaket, goresan pada spakbor kiri, stiker putih di helm belakang—semuanya tertanam utuh di kepalanya.
Ia tidak tahu bagaimana, tetapi ia tidak mungkin melupakannya.
Memori Sempurna.
Salah satu pengemudi ojol hendak mengejar, tetapi Bayu menahannya. "Jangan, Mas. Wajah mereka tertutup dan kita tidak tahu mereka membawa apa. Simpan rekaman aslinya. Jangan diedit dan jangan unggah dulu. Polisi membutuhkannya."
Pria itu menurunkan kunci motornya dan mengangguk. Bayu meminta penjaga mencatat waktu di rekaman CCTV sebelum sistem menimpa file lama. Tidak ada yang heroik dalam langkah-langkah itu. Justru karena sederhana, bukti tidak ikut kabur bersama pelaku.
Sebuah mobil patroli berhenti di depan minimarket. Dua petugas turun. Yang lebih senior memperkenalkan diri sebagai Aipda Joko.
"Siapa yang menelepon 110?"
Bayu mengangkat tangan. "Saya, Pak."
Ia memberikan arah pelarian, pelat, jenis kendaraan, dan ciri empat pelaku tanpa berhenti untuk mengingat. Aipda Joko menatapnya tajam.
"Anda sempat memotret?"
"Tidak. Saya melihat langsung. Kamera minimarket dan rekaman dua pengemudi ojol bisa menguatkan."
"Pelatnya lengkap?"
Bayu mengulang keduanya dengan urutan yang sama.
Aipda Joko segera meneruskan informasi lewat radio. Petugas lain mengamankan rekaman dan meminta identitas saksi.
Intan berdiri di dekat kasir, pucat tetapi tegak. Ia melepas gelang giok dari pergelangan dan memasukkannya ke tas.
"Mereka mengincar ini," katanya. "Saya baru mengambilnya dari ruang penyimpanan gerai. Jadwal pengambilan hanya diketahui beberapa orang."
"Jangan simpulkan dulu," kata Aipda Joko. "Tapi simpan daftar orang yang tahu. Itu bisa menjadi bahan penyelidikan."
Di kantor polisi sektor terdekat, Intan membuat laporan polisi. Bayu, Hendra, penjaga minimarket, dan dua pengemudi ojol dimintai keterangan awal. Waktu panggilan 110 dicocokkan dengan CCTV. Aipda Joko menyusun berita acara pemeriksaan saksi dan memastikan salinan tanda laporan diberikan kepada Intan.
Rekaman dari tiga sudut disalin ke media penyimpanan petugas dan diberi tanda penerimaan. Foto gelang, kuitansi pengambilan dari gerai, serta daftar pegawai yang mengetahui jadwal keluar barang ikut dilampirkan. Intan menelepon manajer gerai di depan Aipda Joko, memerintahkan agar log akses ruang penyimpanan dibekukan dan tidak seorang pun menghapus percakapan kerja.
"Saya kirim surat internal malam ini," katanya. "Besok pagi audit dimulai."
"Audit boleh," jawab Aipda Joko, "tetapi jangan menuduh nama tertentu sebelum kami periksa. Jaga log aslinya."
Intan menuliskan enam nama yang memiliki akses jadwal. Ia juga meminta bagian keamanan tidak memecat siapa pun secara mendadak agar orang yang terlibat tidak merasa diperingatkan.
"Nomor pelat bisa saja palsu," katanya, "tetapi rekaman dan ciri kendaraan memberi kami titik awal. Jangan hubungi orang yang Anda curigai sendiri."
Intan mengangguk. "Saya mengerti, Pak."
Hampir dua jam kemudian mereka keluar. Kelelahan Bayu belum hilang, tetapi bahaya dingin di tengkuknya telah mereda.
"Aku bilang tadi, kan," ujar Hendra, "kalau koen pingsan, ambulansnya pakai uangmu. Ternyata sekarang kita malah masuk kantor polisi. Gratis, sih."
Intan menatapnya. "Mas Hendra selalu bercanda setelah hampir ditabrak?"
"Kalau sebelum ditabrak, saya belum tahu lucunya di mana, Mbak."
Untuk pertama kali sejak kejadian, Intan tersenyum kecil.
Ia bersikeras mengantar Bayu dan Hendra. Mobil keluarga Wibowo membawa mereka ke gerbang rumah Intan di Citraland lebih dulu untuk mengambil dokumen kendaraan, lalu melanjutkan ke arah kos Bayu.
Di dalam mobil, Intan mengeluarkan sebuah cek dari map tipis. Ia menulis angka, menandatangani, lalu menyodorkannya.
Rp1.000.000.000.
"Anggap ini ucapan terima kasih," katanya sebelum Bayu bicara. "Nyawa tidak bisa diberi harga. Mas Bayu dan Mas Hendra mencegah kerugian yang jauh lebih besar."
Bayu tidak mengambil cek itu.
"Mbak Intan sudah memberi saya kesempatan kemarin. Hari ini saya melihat bahaya, jadi saya membantu tanpa menunggu bayaran."
"Satu miliar tidak mengubah niat itu."
"Tapi bisa mengubah cara saya memandang diri sendiri." Bayu mendorong cek itu kembali. "Harga diri saya tidak bisa dibeli, Mbak. Kalau ingin berterima kasih, bantu polisi membuka akses rekaman gerai dan audit siapa yang mengetahui jadwal pengambilan gelang."
Intan menatapnya cukup lama.
Pria di depannya memakai kaus pudar dan sandal murah. Saldo rekeningnya baru kemarin hampir kosong. Namun ia menolak satu miliar tanpa menyentuh kertasnya.
Hendra berdeham. "Kalau bagian saya—"
Bayu menoleh.
"—juga menolak," sambung Hendra cepat. "Aku cuma mau bilang begitu. Cie, kompak."
Intan melipat cek itu sekali, tetapi tidak langsung menyimpannya. "Baik. Saya tidak akan memaksa. Sebagai gantinya, saya akan mengirim perkembangan laporan kepada kalian. Kalau ada orang dalam, bukti harus menunjukkan namanya. Gosip tidak cukup."
"Itu lebih berguna daripada cek," kata Bayu.
Mobil berhenti di depan gang kos Bayu. Ia turun bersama Hendra dan mengucapkan selamat malam.
Intan masih memegang cek ketika pintu tertutup. Ia baru menyadari bahwa ia tidak pernah menanyakan alamat Bayu sebelumnya, pekerjaan barunya, atau alasan seorang pemuda yang baru dikenalnya mampu mengingat dua pelat dalam sekali lihat.
Bayu berjalan beberapa langkah, lalu menoleh pada gelang yang kini tersimpan di tas Intan.
Dua begal mungkin hanya tangan.
Orang yang memberi tahu mereka kapan gelang itu keluar dari ruang penyimpanan adalah kepalanya.