Pernikahan yang berawal dari perjodohan juga tanpa diiringi cinta.
"Bukankah kamu pernah bertanya, hal apa yang bisa membuatku bahagia. Jika sekarang aku menjawab apa kamu akan mengabulkannya?" kata Febriana Citrani, yang kerap dipanggil Anna.
Prasetyo mengangguk, "Jika aku bisa, aku akan melakukannya untukmu."
"Aku sangat yakin kamu pasti bisa," ujar Anna sejenak menatap suaminya. "Ceraikan aku, itu kebahagiaanku!"
Tatapan mata Prasetyo menajam.
"Selama ini aku tersiksa," ucapnya dengan nada rendah tapi terdengar menekan tiap kata yang diucapkannya, seraya tangannya menunjuk tepat di dada.
Sudut bibir Anna tertarik menciptakan senyum masam, tak mendapat respon ia pun bangkit memunguti pakaiannya hendak berlalu pergi.
"Baiklah tapi dengan satu syarat, aku ingin kamu memberiku anak lagi, laki-laki. Setelah syarat itu terpenuhi kamu bisa pergi."
Prasetyo pun bangkit berjalan melewati tubuh Anna yang mematung seakan tak mempercayai ucapan suaminya, Prasetyo pun berlalu masuk ke kamar mandi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARyanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Saat ini aku masih berada di area kampus, sempat aku tadi menenangkan diri disebuah lab kosong yang jarang sekali disinggahi oleh mahasiswa. Aku berulangkali mengamati tempat ini, sebentar lagi aku akan memasuki semester lima, tapi bertambahnya waktu perutku akan semakin membesar.
Rasanya, kenapa Tuhan gak adil dengan memberiku nasib seperti ini. Aku juga ingin seperti orang lain, merasakan cinta dan hidup bahagia dengan orang yang dicintai.
"Huuuuuffft.." Aku mendesah dengan nafas berat, ku cukupkan waktuku. Kemudian aku beranjak dari dudukku pada anakan tangga. Hari sudah siang, jam kuliah yang tak ku ikuti juga pasti sudah usai.
Ponsel yang dari tadi tak ku aktifkan kini mulai kunyalakan. Rentetan pesan mulai membanjiri mengisi kontak chatku. Ada satu nama yang menarik minatku, dan akupun segera membukanya, ingin mengetahui isi pesan yang dikirimkan.
From : Kak Adrian
Anna, kamu sakit apa?
Hari ini kamu tidak mengikuti kelas, ada teman yang memberitahukan bahwa kamu sedang tidak enak badan.
Aku sedikit khawatir, apa boleh aku menjengukmu?
Usai membaca pesan itu, raut wajahku kembali lesu. Harapan yang aku bangun seakan musnah seketika dengan kehadiran janin yang ada dalam perutku.
"Tuhan... Rasanya aku tak sanggup," ucapku menengadahkan kepala menatap langit mendung. Lamat, rintik hujan mulai turun menyamarkan air mataku. Seakan langit juga sedang menertawai nasibku. Samar, pandangan mataku mulai mengabur. Tubuhku ambruk dan setelahnya kesadaranku mulai menghilang.
***
Saat terbangun, aku mendapati diri tidur disebuah ranjang yang asing. Aku berusaha menegakkan tubuhku, dan tiba-tiba rasa pusing itu mendera kepalaku. Mataku kini mengedar mencari sesuatu dan saat aku melirik ke arah pakaianku, sudah berganti.
Ketakutan mulai menyusup pada diriku ditambah pintu kamar kini mulai berderit dan perlahan terbuka memunculkan sosok lelaki yang sangat aku kenal.
"Kamu sudah sadar?" tanyanya yang kini mendekat ke arahku.
"Pakaianku?" tanyaku yang meremas kuat ujung pakaian yang kukenakan.
Dia tersenyum kemudian duduk di pinggiran ranjang, membuatku menggeser tubuhku mundur menghindar.
"Tak perlu khawatir, tadi asisten rumah tangga yang bekerja dirumahku yang menggantikan pakaian. Aku hanya khawatir, jika membiarkan kamu memakai pakaian basah, kamu akan bertambah sakit."
Aku menggangguk, kelegaan kini merasuk di hatiku. "Kenapa aku bisa berada disini?"
"Tadi kamu pingsan di dekat bangunan lab kimia yang sudah tidak aktif dipakai, untung saja tadi aku menelponmu dan ada yang memberi tahu kalau kamu berada disana dalam kondisi tak sadarkan diri," jelas Kak Adrian padaku. "Tadi sepupuku sudah memeriksa keadaanmu," lanjutannya dan seketika aku menoleh ke arahnya, tegang kurasai tubuhku. Apa dia tahu sekarang dengan kondisiku.
"Dia mengatakan kamu kecapekan dan perlu istirahat. Sepupuku mengatakan kamu kurang asupan gizi. Kamu belum makan kan, sekarang akan aku ambilkan," ucap dari Kak Adrian yang bangkit dan berjalan ke arah pintu.
"Kak—," panggilku membuatnya kini berbalik menoleh ke arahku.
"Kenapa?" tanyanya dengan menaikkan alis sebelah. Karena aku tak menjawab dia kini berujar, "Aku hanya sebentar mengambil makanan, secepatnya aku akan kembali," ucapnya tersenyum, kemudian dia melanjutkan langkahnya keluar dari kamar.
Aku berulangkali menelan salivaku, tenggorokanku rasanya sudah mengering. Aku berasumsi, bahwa Kak Adrian belum tahu keadaanku. Apalagi sikapnya, dan mana mungkin jika dia sudah tahu, dia pasti tak akan bersikap baik padaku.
Kini pintu terbuka, Kak Adrian muncul membawa sebuah nampan yang berisi makanan. Dia mulai menyodorkan sesuap bubur padaku, namun karena canggung aku menolaknya.
"Biar aku saja Kak," ucapku sambil meraih sendok yang tengah dia bawa.
"Kamu yakin bisa makan sendiri?"
Bibirku setengah tersenyum, "Aku masih dan dalam keadaan sehat Kak," ucapku sedikit menekankan kalimat.
Kak Adrian tersenyum simpul, diapun menuruti ucapanku. Akupun mulai menyuap, suap demi suap bubur masuk ke dalam mulutku.
"Bagaimana kalau kamu menginap disini?" kata Kak Adrian sontak saja membuatku tersedak.
Aku tebantuk-batuk, Kak Adrian mengambil alih mangkuk bubur yang aku bawa dan menyodorkan segelas air hangat. Dan aku serta merta menggeleng kepadanya.
"Tidak, aku mau pulang," ucapku setelahnya.
Kak Adrian terlihat menggaruk tengkuknya. "Tapi ini sudah cukup larut ucapnya."
Aku menjatuhkan rahangku. "Memangnya ini sudah jam berapa?"
"Sudah hampir pukul setengah sepuluh," ucap Kak Adrian.
Mataku terbelalak sontak aku langsung bangkit dari ranjang, "Selama itukah aku tertidur," ucapku frustasi.
"An, kamu tenang. Kalau kamu tak ingin menginap, aku akan mengantarmu pulang. Dan menjelaskan kepada orang tuamu tentang keadaan kamu," ucapnya mencoba menenangkanku.
Bagaimana aku bisa tenang, Mas Pras bisa-bisa memarahiku bila alasan pulangku tak jelas.
"Tadi Kakakmu menelponmu, tapi karena aku ragu, aku tak mengangkat telponnya. Dan tadi ada pesan masuk, memberitahukan bahwa sore sampai malam dia ada lembur," kata Kak Adrian seraya mengulurkan ponselku.
"Siapa?" tanyaku yang nyaris dengan suara tercekat.
"Di layar tertulis Mas Pras."
Sejenak aku terdiam, namun tak lama aku meraih ponselku serta mengambil tasku, aku pun melangkah dan berkata, "aku mau pulang."
Di perjalanan ke rumah Mas Pras, hatiku sudah begitu was-was sebab saat ini jarum jam hampir mendekati angka sepuluh tiga puluh. Rasanya begitu lama aku berada di dalam mobil.
Saat mobil sampai didepan rumah, aku begitu terkejut sebab kulihat Mas Pras turun dari mobil dan kini tengah berjalan ke arah pagar besi, kemudian membukanya.
"Kamu tak perlu khawatir, aku yang akan membantu menjelaskan kepada Kakakmu tentang keadaanmu," kata Kak Adrian yang meraih tanganku kemudian menggenggamnya menyalurkan kepercayaan agar aku tenang menghadapi situasi ini.
Dan bukan itu yang aku maksud, yang kamu hadapi bukan Kakakku, melainkan suamiku, batinku.
"Sekarang kita turun," perintah Kak Adrian yang mulai membuka pintu mobil.
Sepertinya Mas Pras menyadari keberadaanku yang berdiri tak jauh darinya. Sorot matanya kini memandang ke arahku tajam sebab Kak Adrian tengah berdiri disampingku.
"Maaf, sebelumnya perkenalkan nama saya Adrian. Saya selaku teman juga dosen pembimbing dari Anna, kesini tujuan saya mengantarkan Anna sebab tadi dikampus dia pinsang dan sekarang kondisinya sudah membaik," jelas Kak Adrian seraya mengenalkan diri.
"Terimakasih sudah mengantarkan Anna sampai ke rumah dengan selamat," ucap Mas Pras dan kini memandang ke arahku. "Dan sekarang kamu masuk," ucapnya padaku terdengar dingin.
Kulihat sorot matanya memandang ke arahku, memperhatikanku dan aku baru sadar dengan baju yang tengah kukenakan, milik Kak Adrian. "Masuk Anna," ucapnya tegas.
Perlahan aku mulai mengikuti perintahnya, sebab Kak Adrian berkata agar aku menuruti ucapan Mas Pras, akupun mulai berjalan menjauh dari mereka berdua. Namun sekilas aku melihat rahang Mas Pras yang mengeras disertai kepalan tangannya.
Sesampainya di pintu gerbang aku menoleh sebab kini terdengar pintu mobil milik Mas Pras terbanting cukup keras, setelahnya mesin mobil mulai dinyalakan. Akupun mengambil langkah cepat untuk masuk kerumah bersiap menerima amarahnya yang mungkin sebentar lagi akan meledak.
To be Continue