NovelToon NovelToon
Hujan di Ranting

Hujan di Ranting

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.

Kesimpulan Yu: dia pasti model.

Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.

Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.

"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33: Hampir

"Yu," katanya pelan. "Kamu suka dia, kan?"

Yu merasa seluruh apartemen ikut menahan napas.

Dari dapur terdengar suara mangkuk diletakkan. Tidak keras. Tidak sengaja dibuat keras. Tetap saja cukup untuk membuat Yu ingin menghilang ke dalam bantal sofa.

"Lil," bisiknya.

"Jawab."

"Di sini?"

Lily melirik ke arah dapur, lalu ke ruang kerja tempat Yan tadi menghilang membawa charger. Ia langsung berdiri, menarik pergelangan tangan Yu, dan menyeretnya ke balkon kecil dekat ruang tamu.

Pintu kaca ditutup setengah. Suara apartemen menjadi lebih redup, hanya tersisa dengung AC dari dalam dan suara kendaraan jauh di bawah.

Lily menyilangkan tangan. "Sekarang jawab."

Yu memegang pagar balkon. "Aku tidak tahu."

"Tidak tahu itu jawaban orang yang sudah tahu tapi takut."

"Aku benar-benar tidak tahu." Yu menunduk, melihat kukunya yang sudah bersih dari red wine. "Aku punya haus sentuhan. Zhen satu-satunya orang di luar keluarga yang bisa membuat tubuhku tenang. Bagaimana kalau semua ini cuma karena aku butuh dia?"

Lily tidak langsung membalas.

Itu membuat Yu lebih takut, karena Lily biasanya selalu punya komentar.

"Kalau cuma butuh sentuhan," kata Lily akhirnya, "lo nggak akan panik karena rambut dia masih basah."

Yu mengangkat kepala cepat. "Kamu lihat?"

"Aku punya mata."

"Itu bukan bukti."

"Lo juga nggak akan ingat cara dia meletakkan air di dekat tangan lo."

"Itu karena dia perhatian."

"Nah."

Yu membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Lily mendekat, suaranya lebih lembut. "Yu, gue nggak bilang lo harus nembak dia sekarang. Gue cuma bilang, jangan bohong ke diri sendiri sampai lo menyakiti diri sendiri dulu baru jujur."

"Aku takut."

"Takut dia nggak suka balik?"

Yu diam.

Takut itu memang ada.

Tetapi ada takut lain yang lebih sulit diucapkan. Takut bahwa Zhen menyukainya karena kasihan. Takut bahwa rasa aman membuatnya salah membaca kebaikan. Takut kalau ia mengulurkan hati, yang diterima Zhen hanya tangannya saat ia butuh ditenangkan.

Lily menyentuh bahunya sebentar, ringan. "Kalau belum yakin, pelan-pelan. Tapi jangan panggil semua yang hangat sebagai gejala."

Kalimat itu mengikuti Yu bahkan setelah Lily pamit satu jam kemudian.

Lily pergi karena ada makan malam keluarga. Sebelum masuk lift, ia masih sempat menatap Yan yang berdiri di dekat pintu dengan charger di tangan.

"Ko Yan, jangan ganggu Yu."

Yan mengangkat charger. "Aku korban listrik, bukan gangguan."

"Aku serius."

Senyum Yan mengecil. "Iya. Aku tahu."

Lily masuk lift. Pintu tertutup.

Yan berdiri beberapa detik lebih lama dari yang perlu.

Yu melihatnya dari ruang tamu, tetapi tidak berkomentar. Ada hal-hal yang belum menjadi haknya untuk ditanya.

Sore turun pelan. Yan kembali masuk ruang kerja Zhen karena katanya file lama di laptopnya butuh dicopy. Zhen membiarkannya dengan ekspresi orang yang sudah menyesal punya teman sejak lama.

Yu membantu membereskan mangkuk sarapan yang tertunda. Dapur menjadi terlalu sunyi setelah Lily pergi. Ia mencuci sendok, Zhen mengeringkan mangkuk di sebelahnya. Bahu mereka tidak bersentuhan, tetapi jaraknya cukup dekat untuk membuat Yu sadar pada setiap gerak kecil pria itu.

"Lily sudah pulang?" tanya Zhen.

"Sudah."

"Dia membawa separuh apotek."

"Paket darurat sahabat."

"Efektif?"

Yu menatap busa sabun di telapak tangannya. "Terlalu efektif."

Zhen meliriknya. "Dia menginterogasi?"

"Sedikit."

"Tentang Meilin?"

"Awalnya."

"Lalu?"

Yu mematikan keran.

Air berhenti mengalir, tetapi detak jantungnya justru makin jelas.

"Lalu hal lain."

Zhen mengambil lap dari gantungan. "Hal lain apa?"

"Kamu."

Tangan Zhen berhenti di atas mangkuk.

Yu ingin menggigit lidah sendiri.

Namun kata itu sudah keluar. Tidak ada cara memasukkannya kembali ke mulut.

Zhen menaruh mangkuk pelan-pelan. "Aku?"

"Dia merasa aku aneh kalau dekat kamu."

"Kamu memang aneh."

Yu menatapnya tajam.

"Tapi bukan itu maksudku," tambah Zhen.

Kalimat itu seharusnya menyelamatkan suasana. Gagal. Justru karena ia mencoba tidak menyakiti, Yu makin sadar betapa hati-hatinya ia terhadap Yu.

Ia mengambil tisu untuk mengeringkan tangan, tetapi tisu itu terselip di bawah gelas. Zhen bergerak di saat yang sama untuk mengambil gelas tersebut.

Jari mereka bersentuhan.

Ringan.

Tidak disengaja.

Yu menarik napas pendek.

Zhen langsung berhenti. "Butuh?"

Pertanyaan itu sudah menjadi jembatan aman mereka.

Biasanya Yu bisa menjawab.

Sekarang ia tidak bisa.

Karena kulitnya memang tenang saat menyentuh Zhen. Tetapi debar di dadanya tidak tenang sama sekali.

"Tidak," katanya.

Zhen melihat tangan mereka yang masih bersentuhan di tepi meja. "Kalau tidak, kenapa belum lepas?"

Yu baru sadar ia belum menarik tangan.

Wajahnya panas.

"Aku..."

Zhen tidak bergerak. Ia tidak mengambil kesempatan dari kebingungan Yu. Ia hanya menunggu, seperti di Dufan, seperti di koridor restoran, seperti semua kali ketika ia membiarkan Yu memilih sendiri.

Pilihan itu justru membuat Yu makin sulit bernapas.

Pelan-pelan, ia menarik tangannya.

Lalu berhenti sebelum benar-benar lepas.

Jari telunjuknya masih menyentuh punggung tangan Zhen.

"Ini bukan haus sentuhan," bisiknya.

Mata Zhen berubah.

Tidak banyak. Hanya cukup untuk membuat udara di antara mereka terasa lebih dekat.

"Yu."

Namanya terdengar seperti peringatan.

Atau permintaan.

Yu mendongak.

Zhen berdiri sangat dekat. Aroma sabun cuci piring, kopi susu yang dibawa Yan, dan sedikit wangi bersih dari kemeja Zhen bercampur di udara. Yu melihat garis tipis di bibirnya. Melihat matanya turun sebentar ke mulut Yu, lalu naik lagi seolah ia menahan diri dengan susah payah.

"Kalau aku salah baca," kata Zhen rendah, "bilang sekarang."

Yu seharusnya berkata sesuatu.

Aku tidak siap.

Aku takut.

Jangan.

Tetapi semua kalimat itu tidak keluar.

Yang keluar hanya napas kecil ketika Zhen menunduk sedikit.

Jarak mereka mengecil.

Tidak ada yang menyentuh duluan. Tidak ada yang menarik paksa. Hanya dua orang yang sama-sama berhenti di batas tipis, cukup dekat untuk merasakan hangat napas masing-masing.

Yu memejamkan mata.

Pintu ruang kerja terbuka keras.

"Zhen, password Wi-Fi yang buat laptop tua lu apa sih, yang ada angka delapan atau enam, gue lupa..."

Yan berhenti.

Sunyi jatuh.

Yu membuka mata.

Zhen tidak bergerak dari jaraknya. Hanya matanya yang bergeser perlahan ke arah Yan.

Yan memegang charger di satu tangan dan martabak sisa di tangan lain. Wajahnya berubah dari bingung, sadar, panik, lalu sok tenang dalam waktu tiga detik.

"Gue," katanya pelan, "tidak melihat apa-apa."

Zhen berkata, "Keluar."

Yan mundur satu langkah. "Tapi ini rumah lu."

"Dari hidupku."

"Oke. Gue keluar dari radius dulu."

Pintu ruang kerja menutup lagi, kali ini sangat pelan.

Terlalu pelan.

Yu menutup wajah dengan dua tangan.

Dari balik pintu, suara Yan terdengar lirih tetapi jelas.

"Lanjutkan saja. Anggap gue furnitur mahal."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!