4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.
Dia hampir mati karenanya.
4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.
"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."
Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.
Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24
Penjaga Malam
Perang di Rumah Besar resmi dimulai, tetapi tubuh Naomi tidak sanggup ikut berdiri terlalu lama.
Setelah Engkong kembali ke kamarnya dan keluarga besar dibubarkan dengan wajah pucat, Darren membawa Naomi kembali ke kamar tamu sayap timur. Ia tidak membiarkan Naomi berjalan sendiri. Kali ini Naomi tidak protes. Setiap langkah membuat lututnya terasa berat, dan lehernya berdenyut setiap kali ia menelan.
"Aku bisa duduk sendiri," katanya ketika Darren menurunkannya ke ranjang.
"Aku tahu."
"Kamu menjawab begitu tapi tetap memegangku."
"Karena aku juga bisa keras kepala sendiri."
Naomi ingin tersenyum, tetapi tenggorokannya terlalu sakit.
Darren melihat itu. Dalam sekejap, wajahnya berubah lembut sekaligus bersalah. "Sakit?"
"Sedikit."
"Jangan bohong demi membuatku tenang."
"Lumayan."
"Itu lebih dekat."
Dokter datang lagi, memeriksa suhu tubuh Naomi, memberi obat anti radang, dan menyarankan makanan hangat yang mudah ditelan. Darren mendengar instruksi itu seperti mencatat strategi perang. Begitu dokter pergi, ia menyuruh Billy membawa bubur ayam polos dari dapur yang sudah diawasi orang mereka sendiri.
Naomi menatapnya. "Kamu tidak percaya dapur?"
"Aku percaya bubur. Aku tidak percaya orang."
"Itu bukan jawaban normal."
"Kita sudah melewati normal sejak lama, Sayang."
Panggilan itu biasanya membuat Naomi malu. Malam ini justru membuat dadanya hangat dan sakit bersamaan.
Di luar kamar, Darren menempatkan empat pengawal. Dua di koridor, satu di balkon luar, satu lagi di dekat pintu servis. Arman tetap memaksa berjaga meski kepalanya dibalut, tetapi Darren mengirimnya tidur dengan ancaman akan memotong gajinya kalau pingsan.
Pukul dua dini hari, ancaman baru datang.
Naomi baru saja memejamkan mata ketika suara logam sangat halus terdengar dari arah pintu penghubung kecil yang sebelumnya terkunci. Bukan ketukan. Bukan langkah. Lebih seperti ujung alat menyentuh lubang kunci.
Darren yang duduk di kursi samping ranjang langsung membuka mata.
Ia tidak bersuara. Hanya mengangkat satu tangan.
Dalam tiga detik, pengawal di koridor bergerak.
Suara pintu luar terbuka keras, disusul benturan tubuh menghantam dinding. Seseorang mengumpat tertahan. Naomi refleks duduk, tetapi Darren menekan bahunya pelan.
"Di sini," katanya. "Jangan bergerak."
"Siapa?"
"Orang yang terlalu bodoh untuk mencoba dua kali."
Billy masuk beberapa menit kemudian dengan wajah kusut karena baru bangun. "Bos, tertangkap satu orang. Teknisi estate. Bawa alat pembuka kunci dan kartu akses palsu. Dia bilang disuruh mengecek jalur AC."
Darren tersenyum tanpa hangat. "Pukul dua dini hari?"
"Katanya darurat."
"Bagus. Sekarang dia punya darurat sungguhan." Darren berdiri. "Bawa ke ruang keamanan. Pisahkan dari staf lain. Rekam semua pemeriksaan."
Naomi memegang ujung kemejanya. "Dar."
Darren berhenti.
"Jangan pergi lama."
Kemarahan di wajah Darren retak. Ia menunduk, mencium punggung tangan Naomi. "Lima menit. Aku hanya pastikan dia tidak menghilang."
"Lima."
"Lima."
Ia benar-benar kembali kurang dari lima menit. Mungkin karena ia tahu Naomi menghitung. Wajahnya masih dingin, tetapi ketika melihat Naomi duduk menunggunya, dingin itu mencair menjadi lelah yang dalam.
"Dia tidak mengaku siapa yang menyuruh," kata Darren.
"Tentu saja."
"Tapi alatnya baru. Kartu aksesnya dibuat dari sistem internal."
"Berarti orang dalam."
"Semua orang di rumah ini orang dalam."
Billy menambahkan dari pintu, "Dia menerima pesan lewat aplikasi sekali pakai. Instruksinya cuma buka pintu penghubung, foto kondisi kamar, lalu pergi. Tidak ada perintah menyerang."
Naomi merasakan kulit di tengkuknya meremang. "Foto kondisi kamar?"
Darren menoleh tajam. Billy langsung menunduk.
"Mereka mau tahu aku tidur di mana," kata Naomi pelan. "Atau apakah aku sendirian."
Ruangan menjadi hening.
Darren berjalan kembali ke ranjang dan berlutut di depannya. "Kamu tidak sendirian."
Naomi tahu itu. Namun suara logam di kunci tadi masih berputar di telinganya. Tangannya mulai dingin, napasnya memendek tanpa izin.
"Nao." Darren memegang kedua tangannya, tidak menekan. "Lihat aku."
Naomi memaksa matanya fokus pada wajahnya.
"Tarik napas pelan. Ikuti aku." Darren menarik napas, lalu membuangnya perlahan. "Satu lagi."
Naomi mengikuti. Pertama gagal. Kedua tersendat. Ketiga baru udara masuk lebih dalam.
"Bagus," bisik Darren. "Kamu di kamar. Pintunya dijaga. Aku di sini."
Naomi mengangguk kecil.
Naomi tidak tahu harus menertawakan atau menangis mendengar kalimat itu.
Bubur datang tidak lama kemudian. Darren memeriksa nampan, mangkuk, sendok, bahkan gelas air. Naomi membiarkannya. Setelah apa yang terjadi, kehati-hatian Darren tidak lagi terasa berlebihan. Ia hanya berharap Darren tidak tenggelam di dalamnya.
"Aku bisa makan sendiri," kata Naomi saat Darren mengaduk bubur.
"Aku tahu."
"Lagi-lagi."
"Mulutmu sakit. Aku suami. Ini tugas."
"Di daftar tugas suami ada menyuapi bubur?"
"Ada. Halaman pertama."
Naomi akhirnya tertawa pelan, lalu langsung meringis karena lehernya tertarik.
Darren panik. "Sakit?"
"Karena kamu membuatku tertawa."
"Aku akan berhenti lucu."
"Kamu tidak pernah mulai."
Darren menatapnya, lalu untuk pertama kalinya sejak danau, senyumnya muncul sedikit. Kecil, lelah, tetapi nyata.
Ia meniup bubur di sendok, memastikan tidak terlalu panas, lalu menyuapkannya pada Naomi. Gerakannya kikuk, terlalu hati-hati, seolah sendok itu bisa melukai. Naomi menelan perlahan. Bubur hangat turun melewati tenggorokan yang sakit, membuat matanya berair.
Darren langsung meletakkan mangkuk. "Terlalu sakit?"
"Tidak. Hangat."
"Jangan membuatku menebak."
"Aku sedang belajar."
Mereka makan dalam diam pelan. Di luar kamar, pengawal berjaga. Di dalam, lampu dibuat redup. Untuk sesaat, meski Rumah Besar penuh bahaya, Naomi merasa seperti berada di lingkaran kecil yang hanya berisi mereka berdua dan napas yang masih ada.
Setelah beberapa suap, Naomi menahan tangan Darren. "Kamu sudah makan?"
Darren berkedip. "Aku tidak lapar."
"Itu bukan jawaban."
"Nao."
Naomi mengambil sendok dari tangannya, menyendok sedikit bubur, lalu mengarahkannya ke mulut Darren. "Aturan rumah tangga. Orang yang panik tetap harus makan."
Darren menatap sendok itu seperti benda paling berbahaya malam ini, lalu akhirnya membuka mulut.
Naomi tersenyum sangat kecil. "Bagus."
"Aku merasa sedang dilatih."
"Memang."
Kali ini, Darren benar-benar tidak membantah lagi.
Setelah obat diminum, Darren membantu Naomi berbaring. Ia hendak kembali ke kursi, tetapi Naomi menahan tangannya.
"Tidur di sini."
Darren membeku.
"Aku tidak mau bangun dan melihat kursi kosong," bisik Naomi.
Darren naik ke ranjang dengan sangat hati-hati, menjaga jarak dari lehernya. Ia berbaring menyamping, satu tangan terbuka.
Naomi bergerak mendekat sampai dahinya menyentuh dada Darren.
Tubuh Darren tegang sesaat, lalu ia memeluknya pelan.
"Aku di sini," katanya.
"Aku tahu."
"Aku akan tetap di sini."
Naomi memejamkan mata. "Kamu boleh tidur, Dar."
Namun sebelum Darren sempat menjawab, pintu diketuk cepat.
Billy muncul dengan wajah pucat.
"Bos," katanya, napasnya tertahan. "Arthur Wijaya sadar."