Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.
Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."
Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.
Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.
Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?
Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.
Tapi sudah terlambat.
Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.
Dan dia tidak akan melepaskannya.
🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 012
Buku Sketsa di Balik Rak
Stella benar-benar datang lagi keesokan paginya.
Kali ini ia tidak membawa bubur ayam, melainkan satu kotak roti srikaya, kopi susu, dan kantong kecil berisi jeruk mandarin.
"Simbolis," katanya begitu masuk. "Ci Lou kan jeruk manis. Jadi aku bawa jeruk. Jangan bilang aku tidak menghormati konsep branding."
Nathanael yang sedang menuang air putih berhenti. "Stel, ini pukul tujuh pagi."
"Inspirasi tidak mengenal jam kantor."
"Tetangga mengenal."
"Tower ini kedap suara, Ko."
Louisa berdiri di dekat meja makan, menahan tawa. Entah bagaimana, kehadiran Stella membuat apartemen hitam putih Nathanael seperti diberi satu garis warna yang bergerak cepat ke sana kemari.
"Selamat pagi, Stella."
"Pagi, Ci Lou!" Stella langsung menaruh semua bawaan di meja. "Wajah Ci Lou hari ini lebih segar. Berarti Ko Nath tidak terlalu menakutkan sebagai teman serumah."
Louisa tersedak udara.
Nathanael menatap adiknya. "Kamu bisa sarapan tanpa komentar?"
"Tidak. Itu melanggar hak dasar aku."
Mereka makan dengan ritme yang mulai terasa anehnya alami. Stella mengupas jeruk, menaruh dua bagian di piring Louisa, lalu bertanya apakah ia suka bekerja di studio yang terang atau remang. Pertanyaan itu mengalir ke topik cat air, lalu ke Bintang Media, lalu ke rencana Stella membuat konten pendek tentang seniman muda Jakarta.
"Aku tidak sedang merekrut, ya," Stella berkata cepat saat Nathanael menatapnya. "Aku hanya mengobrol produktif."
"Kalau kamu mulai kalimat dengan itu, biasanya kamu sedang merekrut."
"Ko Nath, kamu ini merusak peluang bisnis keluarga."
"Bintang Media bukan bisnis keluarga yang perlu kamu promosikan di meja sarapan."
"Semua meja adalah peluang."
Louisa tertawa. "Kalian selalu begini?"
"Tidak," jawab Nathanael.
"Iya," jawab Stella bersamaan.
Mereka saling menatap.
"Oke, sering," kata Nathanael akhirnya.
Stella tampak puas seperti baru memenangkan perkara.
Ponsel Nathanael berdering sebelum sarapan selesai. Nama Tiffany muncul di layar. Nathanael melihat Louisa sebentar.
"Aku harus angkat."
"Silakan."
Ia berjalan ke ruang kerja yang pintunya setengah terbuka. Suaranya berubah begitu bicara, lebih datar, lebih tajam, membahas jadwal meeting, revisi materi investor, dan sesuatu tentang Equity Tower.
Stella menunggu sampai suara Nathanael menjauh, lalu langsung mencondongkan tubuh ke arah Louisa.
"Ci Lou."
"Iya?"
"Pertanyaan penting."
Louisa sudah belajar bahwa pertanyaan penting dari Stella bisa berarti apa saja. "Apa?"
"Ko Nath kalau di rumah kaku banget atau cuma karena aku ada?"
Louisa memegang cangkirnya dengan dua tangan. "Dia... sopan."
"Aduh." Stella menepuk dahi sendiri. "Sopan itu bukan jawaban yang bikin tenang."
"Kenapa?"
"Karena Ko Nath kalau terlalu sopan, artinya dia gugup."
Louisa terdiam.
Stella mengamati wajahnya, lalu suaranya melembut. "Ci Lou nggak perlu jawab. Aku cuma... dari dulu jarang lihat Ko Nath bawa orang masuk rumah. Bahkan teman dekatnya pun biasanya ketemu di luar. Jadi kalau Ci Lou ada di sini, itu besar."
Kata besar membuat Louisa menatap pintu ruang kerja.
Nathanael sedang berdiri di dekat meja, punggungnya menghadap mereka. Cahaya pagi jatuh di bahunya. Ia tampak seperti orang yang sangat jauh, sekaligus terlalu dekat karena semalam gambar rahasianya masih belum keluar dari kepala Louisa.
"Dia bilang suatu hari akan menjelaskan sesuatu," ucap Louisa pelan, hampir tanpa sadar.
Stella langsung menyipit. "Menjelaskan apa?"
Louisa menyesal dalam satu detik. "Tidak apa-apa."
"Ci Lou, aku anak media. Kalimat tidak apa-apa itu justru terdengar seperti judul investigasi."
"Stella."
"Oke, oke. Aku mundur." Stella mengangkat kedua tangan. Namun matanya tetap bergerak, memindai ruang tamu seperti radar yang menemukan sinyal.
Louisa mengikuti arah tatapannya.
Di sisi ruang tamu, ada rak buku tinggi yang kemarin tidak terlalu ia perhatikan. Sebagian besar isinya buku bisnis, arsitektur, teknologi, beberapa katalog seni, dan kotak penyimpanan hitam tanpa label. Semua tertata rapi.
Terlalu rapi.
Stella berdiri.
"Aku cari charger dulu. Kemarin aku pernah tinggalin di sini."
"Di rak buku?"
"Mungkin. Aku orang kreatif. Barangku berpindah sesuai energi ruangan."
Louisa tidak sempat menahan karena Stella sudah berjalan ke rak.
"Stel, jangan..."
"Tenang, aku tidak buka laci pribadi." Stella menarik satu kotak kecil di bagian tengah, lalu mengembalikannya. "Ini cuma katalog. Ini kontrak lama. Ini buku yang pasti dibeli Ko Nath untuk terlihat semakin tidak bisa diajak ngobrol."
Louisa berdiri, setengah cemas setengah tidak percaya.
Di ruang kerja, Nathanael masih bicara dengan Tiffany.
"Stella, mungkin sebaiknya tunggu Nathanael."
"Sebentar lagi."
Stella berjinjit mengambil sesuatu di belakang deretan katalog seni. Jari-jarinya menyentuh celah sempit, lalu berhenti.
"Eh?"
"Apa?"
"Ada buku nyempil."
Ia menarik sebuah buku sketsa bersampul hitam dari balik rak.
Debu tipis menempel di tepinya, seolah benda itu sengaja disembunyikan lama. Tidak ada judul di sampul. Hanya karet penahan yang sudah sedikit longgar.
Louisa merasakan sesuatu di dadanya turun pelan.
"Jangan dibuka," katanya.
Stella membeku.
Untuk pertama kalinya sejak masuk apartemen, wajah cerianya meredup. "Maaf. Aku kira ini buku biasa."
Ia hendak menutup kembali buku itu, tetapi karet penahannya tersangkut di sudut katalog. Halaman pertama terbuka sedikit.
Cukup sedikit.
Namun cukup untuk memperlihatkan sketsa pensil di dalamnya.
Louisa melihat garis punggung seorang gadis.
Stella juga melihatnya.
Keduanya diam.
Dari ruang kerja, suara Nathanael masih terdengar rendah, membahas angka dan jadwal, tidak tahu bahwa rahasia lain di ruang tamunya sudah setengah terbuka.
Stella menelan ludah. "Ci Lou..."
"Tutup, Stel."
"Aku tahu. Aku tutup." Stella bergerak hati-hati, tetapi sebelum sampul benar-benar kembali, satu halaman lepas kecil jatuh ke lantai.
Kertas itu mendarat menghadap atas.
Di sana tidak ada gambar wajah. Hanya tulisan tangan yang rapi, miring sedikit, dengan tinta hitam yang tampak sudah lama mengering.
Musim semi tidak datang, bulbul tidak bernyanyi.
Louisa menatap kalimat itu.
Entah kenapa, dadanya terasa seperti mendengar suara hujan dari masa yang belum ia ingat.