NovelToon NovelToon
Pedang Penjaga Langit

Pedang Penjaga Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Dua hari berlalu dengan cepat. Berkat ramuan herbal buatan Nara dan kehangatan energi dari Pedang Penjaga Langit, luka-luka di tubuh Arga berangsur-angsur pulih. Meskipun setiap kali ia mencoba mengedarkan Qi masih menyisakan rasa nyeri yang menusuk di dada, setidaknya kini ia sudah bisa berjalan dan bergerak dengan normal.

Pagi itu, langit tampak cerah tanpa awan ketika seluruh penduduk desa berkumpul di gerbang luar untuk mengantar kepergian dua penyelamat mereka.

Sang tetua desa melangkah maju, lalu mengulurkan sebuah kantong kain yang tampak cukup padat. "Ini adalah sedikit bekal makanan dan obat-obatan untuk perjalanan kalian, Tuan Muda."

Arga refleks mengangkat kedua tangannya, berniat menolak secara halus. "Tetua, ini terlalu berlebihan. Kami tidak bisa—"

"Terimalah," potong sang tetua desa sembari tersenyum tulus. "Jika kau menolaknya, kami semua justru akan merasa terbebani dan berutang budi seumur hidup."

Mendengar ketegasan yang dibalut rasa tulus tersebut, Arga akhirnya luluh. Ia menerima kantong itu dengan seulas senyuman. "Kalau begitu, terima kasih banyak, Tetua."

Anak-anak desa yang sejak tadi mengintip dari balik punggung orang tua mereka tiba-tiba berlarian menghampiri. Dengan riang, mereka menyelipkan buah-buahan kering dan beberapa potong roti gandum segar ke dalam tas perjalanan milik Arga dan Nara.

"Kak Arga!"

"Kak Nara!"

"Nanti kalau urusan kalian sudah selesai, wajib datang ke sini lagi, ya!"

Nara tertawa renyah, membungkuk sedikit untuk mengacak rambut salah satu anak kecil dengan gemas. "Boleh saja. Tapi ada syaratnya; kalau kalian nanti sudah tumbuh besar dan kuat, kalian yang harus datang keluar hutan untuk menemui kami!"

Gelak tawa kecil seketika pecah, mencairkan suasana perpisahan yang semula diselimuti rasa haru.

Setelah benar-benar meninggalkan kawasan desa, bentang alam yang mereka lalui perlahan-lahan mulai berubah. Kerapatan pohon di Hutan Kabut Hitam yang lebat kini berganti menjadi hamparan perbukitan hijau dan padang rumput yang luas. Di kejauhan, mulai terlihat jalur jalan berbatu yang menghubungkan berbagai kota besar di Benua Timur.

Arga berjalan sambil membuka gulungan peta wilayah yang sebelumnya diberikan oleh Ren, sang utusan misterius. "Jika melihat jalur ini, kita harus melewati Kota Sungai Giok terlebih dahulu sebelum bisa memotong jalan menuju perbatasan Pegunungan Naga Hitam."

Guru Tian mengangguk setuju dari dalam liontin kesadaran. "Benar. Kota Sungai Giok merupakan salah satu kota transit terbesar di wilayah ini. Tempat itu menjadi titik berkumpulnya banyak kultivator pengembara dan pemburu bayaran."

Nara yang berjalan di sebelah Arga langsung tersenyum lebar, matanya berbinar-binar. "Berarti, malam ini kita akhirnya bisa mencicipi makanan kedai kota yang lezat!"

Arga tidak bisa menahan tawa melihat tingkah gadis itu. "Pikiranmu sejak tadi sepertinya hanya dipenuhi oleh urusan makanan saja, Nara."

"Tentu saja!" sahut Nara membela diri sembari menepuk busur panah di punggungnya. "Seorang pemanah yang kelaparan tidak akan pernah bisa membidik sasarannya dengan akurat."

Guru Tian hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya menyaksikan perdebatan kecil itu. Sebuah perjalanan panjang yang melelahkan memang tidak selalu harus diisi oleh pertumpahan darah dan ketegangan; adakalanya tawa sederhana seperti inilah yang menjadi obat paling mujarab untuk menguatkan langkah kaki mereka.

Menjelang sore hari, langkah kaki mereka membawa mereka tiba di puncak sebuah bukit berbatu. Dari titik ketinggian tersebut, pandangan mereka langsung disuguhi oleh kemegahan sebuah kota besar yang dikelilingi oleh tembok benteng pertahanan setinggi puluhan meter. Di atas gerbang utamanya, berkibar dengan gagah sebuah bendera besar bergambar lekukan sungai berwarna hijau pekat.

"Itu adalah Kota Sungai Giok," ujar Guru Tian memberitahu.

Arga menghentikan langkahnya, mengamati dari kejauhan betapa ramainya lalu lintas yang mengalir masuk dan keluar dari gerbang kota tersebut. Ada rombongan pedagang dengan kereta-kereta barang mereka, para pemburu binatang buas yang membawa hasil tangkapan, hingga beberapa rombongan kultivator yang mengenakan seragam khas dari berbagai sekte berbeda.

"Ramai sekali tempat itu," gumam Arga, sedikit takjub.

Nara tampak sangat bersemangat. "Tunggu apa lagi? Ayo kita cepat turun ke sana!"

Namun, tepat ketika kaki mereka baru saja hendak melangkah menuruni bukit, suara Guru Tian mendadak mengalun dengan nada yang sangat serius.

"Jangan bergerak. Tetap tinggal di posisi kalian."

Arga seketika menarik kembali kakinya, tubuhnya menegang. "Ada apa, Senior?"

"Perhatikan area pos pemeriksaan di gerbang utama bawah... Ada sekelompok orang yang gerak-geriknya mencurigakan. Mereka tampaknya sedang mencari seseorang."

Arga langsung menajamkan pandangannya, memusatkan fokus ke arah gerbang kota. Benar saja, ada beberapa pria berwajah sangar dengan senjata lengkap berdiri di dekat barisan penjaga. Mereka memegang beberapa gulungan perkamen dan mencocokkan wajah setiap orang yang hendak melintas masuk.

Tepat saat itu, embusan angin malam bertiup cukup kencang, membuat salah satu gulungan perkamen yang dipegang pria tersebut terbuka lebar ke arah bukit.

Mata Arga seketika menyipit. Di atas permukaan perkamen itu, tergambar dengan sangat jelas sketsa wajah dirinya sendiri. Di bagian bawah gambar, terukir sebaris kalimat pendek berhuruf tebal:

“Dicari: Hidup atau Mati. Hadiah: Seratus Batu Roh Tingkat Menengah.”

Nara yang ikut melihat arah pandangan Arga langsung membelalakkan matanya dengan tidak percaya. "Seratus batu roh tingkat menengah? Harus kuakui, harga untuk kepalamu ternyata lumayan mahal juga."

Arga hanya bisa mengulas tawa pahit, mengusap tengkuknya yang mendadak terasa dingin. "Entah kenapa, aku sama sekali tidak merasa bangga mendengarnya."

Guru Tian mengamati lencana yang dikenakan oleh orang-orang bersenjata itu dengan saksama. "Mereka bukan berasal dari Sekte Bayangan Darah, melainkan kelompok pemburu bayaran lepas. Ini berarti, berita tentang keberadaanmu dan Pedang Penjaga Langit sudah mulai bocor dan menyebar luas di kalangan dunia luar."

Arga mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Baru beberapa minggu lamanya ia melangkah meninggalkan puing-puing kehancuran Kota Awan Biru, namun kini namanya sudah menjelma menjadi buruan yang paling dicari.

Tantangan dan rintangan yang membentang di sepanjang jalur perjalanan menuju Kota Bintang dipastikan akan jauh lebih terjal dan berdarah daripada apa yang pernah ia bayangkan sebelumnya.

1
Was pray
lemah
Was pray
MC nya berhati baik dan punya empati tapi sayang blo'on
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!