Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 010: Kamar Nadia untuk Tania
Tania masuk ke kamar Nadia sambil membawa boneka kelinci.
"Ini kamarku sekarang?" tanyanya.
Ratna berdiri di ambang pintu dengan senyum yang dipaksa lembut. "Iya, Sayang. Papa bilang kamu boleh tidur di sini."
Kamar itu masih menyimpan sisa kehidupan Nadia. Dindingnya berwarna biru muda, warna yang dipilih Sari saat Nadia masuk SMP. Di dekat jendela ada bekas tempelan poster anatomi tubuh manusia yang dulu Nadia gunakan untuk belajar. Rak buku sudah kosong, tapi di sudut lemari masih ada stiker kecil bertuliskan Nadia Wulandari, tulisan tangan Nadia waktu masih kelas enam.
Ratna melihat stiker itu, lalu mencabutnya.
Lemnya meninggalkan bekas kusam.
Tania naik ke kasur, memeluk boneka. "Kak Nadia marah?"
Ratna terdiam sejenak.
Anaknya terlalu kecil untuk memahami perang orang dewasa, tapi cukup peka untuk mencium udara tidak enak di rumah itu.
"Tidak," kata Ratna akhirnya. "Kak Nadia sudah besar. Dia punya rumah sendiri."
"Tante putih itu siapa?"
Ratna tahu yang dimaksud.
Sari dengan kain kafan.
Ia menahan rasa panas di dada. "Itu... mantan istri Papa."
"Kenapa dia marah?"
Ratna duduk di tepi kasur. "Karena orang dewasa kadang susah mengerti."
Tania mengerutkan hidung. "Papa bilang dia mamanya Kak Raka, Kak Bayu, Kak Nadia."
"Iya."
"Berarti Papa punya dua mama untuk anak-anak?"
Ratna memejamkan mata sebentar. "Tidur siang dulu, ya."
Tania menurut, tetapi matanya masih bingung.
Di lantai bawah, suara pintu depan terbuka. Hendra pulang dengan langkah berat. Ratna segera turun, meninggalkan Tania di kamar yang masih terasa seperti bukan milik mereka.
Hendra berdiri di ruang tamu, memandangi kekacauan yang belum sempat dibereskan. Paket belanja Ratna masih menumpuk. Piring bekas makan pagi ada di meja. Sepatu Tania berada di tengah jalan.
Ratna cepat mengambil sepatu itu. "Aku tadi sibuk beresin kamar Tania."
Hendra tidak menjawab.
Ia baru dari Pengadilan Agama. Mediasi membuat kepalanya panas. Sari duduk dengan wajah tenang, pengacara di sampingnya, Nadia di belakang. Perempuan itu terlihat seperti orang yang sudah menutup pintu rapat-rapat.
Yang paling membuatnya kesal, ia tidak terlihat hancur.
Seharusnya Sari menangis. Seharusnya ia memohon supaya Hendra tidak benar-benar meninggalkan. Seharusnya ia bingung memikirkan hidup sendiri.
Tapi Sari malah bicara pendek-pendek, seolah Hendra tidak lebih dari masalah administrasi.
"Mas?" Ratna menyentuh lengannya.
Hendra tersentak. "Apa?"
"Kamu belum makan. Aku pesan ayam geprek, ya?"
"Masak saja."
Ratna membeku. "Masak?"
Hendra menatapnya. "Kenapa? Di rumah ini tidak ada kompor?"
Ratna tertawa kecil, mencoba manja. "Aku kan belum biasa. Biasanya ada Mbak harian. Lagipula kemarin kamu bilang aku tidak usah capek-capek."
Hendra menarik napas panjang.
Dulu ia memang berkata begitu.
Pada Ratna, ia berkata tangannya halus, jangan dibuat kasar oleh sabun cuci. Pada Ratna, ia berkata perempuan secantik dia pantas dimanja. Pada Ratna, ia mengirim uang lebih saat perempuan itu mengeluh AC rusak atau anak butuh biaya sekolah.
Pada Sari, ia berkata rumah berantakan, makanan hambar, tubuhnya bau minyak goreng, wajahnya kusam.
Sekarang rumahnya berantakan, makanan tidak ada, dan perempuan cantik di depannya tidak tahu harus mulai dari mana.
"Pesan saja," katanya akhirnya.
Ratna lega. "Aku tahu kamu capek."
"Tapi jangan mahal."
Senyum Ratna kaku. "Iya."
Pintu depan kembali terbuka sebelum Ratna sempat memesan. Raka masuk dengan wajah gelap.
"Papa."
Hendra mengangkat kepala. "Kamu tidak kerja?"
"Aku mau bicara."
Ratna melihat suasana dan cepat mundur ke dapur, meski di sana ia hanya berdiri membuka aplikasi makanan.
Raka menatap ayahnya. "Tania tidur di kamar Nadia?"
Hendra langsung tahu arah pembicaraan. "Iya. Kamar kosong."
"Itu kamar adik saya."
"Nadia sudah menikah."
"Tapi barang-barangnya masih ada. Kenangannya masih ada."
Hendra menepuk meja. "Rumah ini rumah saya. Saya yang menentukan siapa tidur di mana."
Raka tertawa, tidak percaya. "Papa bahkan tidak datang waktu Mama dikafani. Sekarang Papa mau menghapus kamar Nadia juga?"
Wajah Hendra mengeras. "Jaga mulutmu."
"Aku sudah cukup menjaga mulut waktu resepsi. Dan lihat apa hasilnya. Sekarang semua orang menganggap kami anak durhaka."
"Itu karena ibumu membesar-besarkan masalah."
"Masalah?" Raka menatap ayahnya. "Papa menikah saat Mama hampir dimakamkan."
Hendra berdiri. "Dia belum dimakamkan karena ternyata masih hidup."
Raka terdiam, seolah baru mendengar sesuatu yang sangat busuk.
"Papa sadar itu bukan pembelaan, kan?"
Hendra tidak menjawab.
Ratna muncul dari dapur. "Raka, jangan bicara begitu pada papamu. Dia juga tertekan."
Raka menoleh tajam. "Tante jangan ikut."
Wajah Ratna memucat.
"Saya istri papamu sekarang."
"Belum ada akta cerai final. Belum ada pernikahan resmi yang bersih. Dan kalau pun ada, saya tetap tidak akan memanggil Tante sebagai apa pun."
Ratna menatap Hendra, menunggu dibela.
Hendra memijat kening. "Raka, kamu pulang saja kalau cuma mau ribut."
"Aku pulang setelah bilang satu hal. Jangan kasih kamar Nadia ke Tania. Anak itu tidak salah, tapi cara Papa memperlakukan kami semua salah."
"Saya tidak butuh diajari anak sendiri."
"Justru Papa butuh."
Hendra maju satu langkah. "Keluar."
Raka mengambil napas panjang, lalu mengangguk. "Baik."
Ia berjalan menuju pintu, tetapi sebelum keluar ia berhenti.
"Oh ya, Mama tidak mau bayar tagihanku penuh. Dia cuma kasih pinjaman sepertiga."
Hendra mendengus. "Lihat? Ibumu mulai pelit."
Raka menatapnya dengan mata dingin. "Anehnya, untuk pertama kali aku merasa dia benar."
Pintu tertutup.
Hendra berdiri kaku.
Ratna menyentuh pipinya sendiri, seolah tamparan di resepsi masih terasa. "Anakmu kasar sekali."
"Diam dulu."
"Mas..."
"Aku bilang diam!"
Ratna tersentak.
Di lantai atas, pintu kamar terbuka pelan. Tania mengintip dari sela tangga. Matanya basah, boneka kelinci dipeluk erat.
Hendra melihat anak kecil itu dan mencoba menahan marah.
"Tania, masuk kamar."
Tania tidak bergerak. "Papa marah?"
"Tidak."
"Papa bohong."
Kalimat polos itu membuat Ratna menegang.
Hendra menutup mata. "Masuk kamar, Nak."
Tania mundur, lalu pintu kamar tertutup pelan.
Rumah itu sunyi beberapa detik.
Ratna akhirnya berkata lirih, "Aku pesan makanan dulu."
Hendra duduk di sofa. Tangannya meremas rambut. Pikirannya penuh angka: gaji karyawan, cicilan bahan baku, biaya sekolah Tania, biaya rumah, pengacara, dan kini kemungkinan proses cerai yang meski terlihat menguntungkan tetap membuat hidupnya bocor dari banyak sisi.
Di meja, ada nota belanja Ratna dari kemarin. Angkanya membuat matanya sakit.
"Ratna."
"Iya?"
"Mulai besok, kurangi belanja online."
Ratna mematung.
"Mas, itu kebutuhan rumah."
"Kebutuhan rumah apa sampai tiga paket skincare?"
"Aku perlu merawat diri. Kamu dulu suka aku cantik."
Hendra menatapnya.
Dulu.
Kata itu menjengkelkan.
Dulu ia suka Ratna karena Ratna bukan Sari. Ratna wangi, ringan, tertawa manja, tidak bicara soal supplier, tagihan, anak sakit, beras, dan sekolah. Ratna adalah tempat ia kabur dari hidup.
Sekarang Ratna adalah hidup.
Dan hidup dengan Ratna ternyata mahal.
"Sekarang keadaan beda," kata Hendra.
Ratna tertawa hambar. "Beda karena kamu menyesal cerai dengan dia?"
"Jangan mulai."
"Aku lihat caramu menatap dia di pengadilan."
Hendra berdiri. "Aku capek."
"Aku juga capek, Mas. Sejak dia datang dengan kain kafan itu, semua orang melihat aku seperti pelakor. Padahal kamu yang datang padaku dulu."
"Aku bilang jangan mulai!"
Ratna terdiam. Matanya berkaca-kaca.
Biasanya air mata itu membuat Hendra luluh.
Malam ini hanya membuatnya makin pusing.
Ia mengambil kunci mobil. "Aku keluar sebentar."
"Makanannya?"
"Makan saja dengan Tania."
Hendra keluar.
Di mobil, ia duduk beberapa menit tanpa menyalakan mesin. Layar ponselnya menyala dengan pesan dari manajer pabrik.
Pak, supplier minta kepastian pembayaran besok. Kalau tidak, pengiriman bahan ditahan.
Pesan lain.
Karyawan shift produksi tanya gaji yang tertunda.
Hendra melempar ponsel ke kursi sebelah.
Kepalanya berdenyut.
Dulu, masalah seperti ini akan ia teruskan ke Sari. Ia akan pulang marah-marah, berkata bisnis sedang berat, lalu Sari diam-diam mencari cara. Entah menghubungi kenalan lama, menunda belanja rumah, memakai uang kios, atau menjual hasil kebun lebih cepat.
Ia tidak pernah bertanya bagaimana Sari melakukannya.
Ia hanya menerima rumah tetap berjalan.
Sekarang, rumah itu berjalan tanpa Sari.
Dan baru dua hari, lantainya sudah terasa miring.
Hendra menyalakan mesin.
Ia tidak tahu mau ke mana.
Di rumah kontrakan kecil, Sari sedang menutup buku stok. Nadia duduk di sampingnya, mengisi formulir lamaran RS Pejaten di laptop.
"Bu, bagian pengalaman kerja perlu ditulis semua?"
"Tulis yang membuat kamu terlihat kuat."
"Kalau jeda karena resign?"
"Tulis jujur. Personal reason. Jangan tulis karena suami dan mertua membuatmu bodoh sementara."
Nadia tertawa keras.
Sari ikut tersenyum.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Raka.
Ma, aku tidak setuju kamar Nadia dipakai Tania. Aku sudah bilang Papa.
Sari membaca pesan itu lama.
Nadia melihat wajah ibunya. "Mas Raka?"
Sari menyerahkan ponsel.
Nadia membaca. Matanya berubah.
"Dia masih ingat kamarku."
"Tentu."
"Aku kira dia benar-benar tidak peduli."
Sari mengambil ponselnya lagi.
Ia membalas singkat.
Terima kasih sudah bicara.
Tidak lebih.
Tidak memaafkan semua.
Tidak menghapus luka.
Tapi satu langkah kecil tetap satu langkah.
Sari meletakkan ponsel, lalu kembali menatap buku stok.
"Na."
"Iya?"
"Besok setelah kirim lamaran, kita ke kebun."
"Aku ikut?"
"Kalau tidak ada urusan."
"Ada apa di kebun?"
Sari menutup buku.
"Musim bunga. Kalau gagal urus dari sekarang, buahnya akan berkurang. Dan Ibu punya firasat, orang-orang yang kemarin menertawakan kita akan segera butuh buah itu."
Nadia menatap ibunya dengan mata berbinar kecil.
"Ibu mau perang lagi?"
"Tidak."
Sari mematikan lampu meja.
"Ibu mau panen."
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
kog bs beda2 yah ??