Felicia Winarko bukan gadis biasa.
Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.
Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.
Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.
Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.
Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.
"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."
Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7 - Kecepatan Mematikan
"Ikut balapan, nggak?"
Jayden Hartono mengucapkan kalimat itu seolah sedang menawari es kopi, bukan kegiatan yang bisa membuat tulang patah kalau tangan pengemudinya bodoh.
Felicia menatap mobil sport merahnya, lalu menatap wajah Jayden.
"Sekarang?"
"Takut?"
Sis langsung menjerit di kepala Felicia. "Tuan Rumah, jangan terpancing! Tubuh ini baru selesai turnamen, tangan kanan memar, lutut kiri tertarik, dan kita belum tahu aturan lalu lintas dunia ini!"
"Aturan lalu lintas?"
"Itu penting!"
Jayden mengetuk setir dengan jari. "Gue punya tempat. Bukan jalan umum. Kawasan gudang lama keluarga temen gue, aksesnya ditutup. Aman selama lo nggak nyetir kayak orang baru belajar."
Felicia membuka pintu penumpang dan duduk.
Jayden berkedip, lalu senyumnya melebar. "Serius ikut?"
"Kamu yang mengajak."
"Gila." Jayden tertawa, suara rendah dan puas. "Gue suka nyali lo."
Mobil melesat keluar dari parkiran belakang. Sopir-sopir yang menunggu anak majikan mereka langsung menoleh. Beberapa siswa di dekat gerbang mengangkat ponsel, tetapi mobil Jayden sudah terlalu cepat melewati pos keamanan.
Angin sore masuk dari celah jendela. Bau aspal panas dan parfum mobil mahal bercampur dengan sisa keringat gedung olahraga. Felicia menyandarkan punggung, memperhatikan tangan Jayden di setir.
Gerakannya agresif, tetapi tidak ceroboh.
Ia memotong tikungan pendek, menjaga jarak dari mobil lain, dan menambah kecepatan hanya saat jalan kosong. Anak ini liar, bukan bodoh.
"Pernah balapan?" tanya Jayden.
"Pernah mengemudi."
"Itu beda."
"Tergantung siapa yang mengejar."
Jayden menoleh sepersekian detik. "Lo ngomong kayak pernah dikejar polisi."
Felicia melihat jalan di depan. "Lebih buruk."
Sis merintih. "Tuan Rumah, tolong jangan membocorkan latar dunia apokalips ke target."
"Aku tidak bilang apa-apa."
"Justru itu yang mencurigakan!"
Kawasan gudang lama itu berada di pinggir kota, melewati deretan ruko sepi dan jalan servis yang jarang dipakai. Gerbang besi terbuka setelah Jayden menekan klakson dua kali. Di dalam, beberapa mobil sudah berjajar di bawah lampu sorot portabel. Ada musik dari speaker besar, tawa anak muda kaya, dan bau ban yang pernah mencium aspal terlalu panas.
"Jay!" Seorang cowok berkaus hitam melambai dari kap mobil. "Lo bawa siapa?"
"Lawan," jawab Jayden.
Cowok itu, Yoga, menatap Felicia dari atas sampai bawah. "Yang ini? Serius? Baru selesai turnamen, kan?"
Felicia keluar dari mobil.
Beberapa orang tertawa. Tidak sejahat anak Kelas F, lebih seperti kerumunan yang mengira mereka baru mendapat hiburan gratis.
"Dia bisa nyetir?"
"Jangan-jangan Jay cuma mau pamer pacar baru."
Jayden mendecih. "Bawel. Siapin mobil."
Yoga menunjuk tiga mobil di sisi kiri. "Pilih. Yang biru responsnya ringan, yang hitam tenaganya paling besar, yang abu-abu transmisinya manual dan agak rewel."
Felicia berjalan ke mobil abu-abu.
Yoga mengangkat alis. "Serius? Itu paling susah."
"Yang paling jujur."
Jayden tertawa lagi. "Lo dengar, Yog? Mobil rewel dibilang jujur."
Felicia membuka pintu, duduk di kursi pengemudi, lalu mengatur posisi. Kaki tubuh ini lebih pendek dari tubuh lamanya. Ia memajukan kursi, menguji kopling, rem, gas, lalu memegang setir.
Memori lama datang bukan sebagai kesedihan, melainkan sebagai peta.
Jalan retak di luar pangkalan. Truk lapis baja dengan satu ban bocor. Makhluk mutasi mengejar dari belakang. Bawahan berteriak koordinat. Ia mengemudi dengan satu tangan sementara tangan lain menahan luka di perut.
Dibanding itu, lintasan gudang dengan lampu sorot terasa seperti mainan mahal.
Sis membaca kondisi kendaraan. "Mesin tua tapi stabil. Rem agak telat. Ban belakang kanan aus. Tuan Rumah, ini bukan pilihan aman."
"Aku tahu."
"Kenapa dipilih?"
"Karena mereka juga tahu."
Di luar, Jayden sudah masuk mobil merahnya. Mesin meraung seperti hewan yang marah. Ia menurunkan kaca dan berteriak, "Satu putaran pemanasan, dua putaran hitung skor. Yang duluan lewat garis menang."
Felicia menyalakan mesin.
Getarannya kasar, tetapi ritmenya jelas.
Yoga berdiri di garis start dengan tangan terangkat. "Tiga!"
Sis mulai menghitung ulang risiko.
"Dua!"
Jayden menatap lurus ke depan, senyumnya hilang. Akhirnya, wajahnya terlihat seperti orang yang sedang melakukan sesuatu yang ia cintai.
"Satu!"
Tangan Yoga turun.
Dua mobil melesat.
Jayden unggul di tarikan awal. Mobil merahnya punya tenaga lebih besar, ban lebih baru, dan pengemudi yang hafal lintasan. Felicia tidak mengejar. Ia membiarkan jarak terbuka tiga badan mobil, mendengar suara mesin, merasakan getaran setir, menghitung keterlambatan rem.
Putaran pemanasan selesai.
Putaran pertama dimulai.
Tikungan pertama, Jayden mengambil garis luar dengan indah. Felicia memotong lebih dalam, bukan untuk menyalip, hanya untuk menguji batas ban belakang. Mobil abu-abu sedikit membuang ekor. Penonton bersorak karena mengira ia hampir kehilangan kendali.
Felicia tersenyum tipis.
Bagus. Masih bisa lebih liar.
Di tikungan ketiga, Jayden memperlebar jalur untuk menutup celah. Ia jelas tahu Felicia mulai membaca lintasan. Felicia menurunkan gigi, membiarkan mesin meraung, lalu menahan sedikit rem sebelum mobil masuk sudut. Bagian belakang bergeser, hidung mobil mengarah ke celah sempit di sisi dalam.
Yoga berteriak dari tepi lintasan, "Gila, dia mau nyelip dari situ?"
Mobil abu-abu masuk.
Jaraknya hanya selebar napas.
Jayden menoleh, mata hitamnya menyala.
Felicia melewatinya di sisi dalam.
Putaran terakhir berubah menjadi perburuan.
Jayden tidak marah. Ia justru tertawa keras, menempel ketat di belakang Felicia, memaksa tekanan lewat suara mesin dan lampu depan. Anak itu menyukai lawan yang bisa menggigit balik.
Felicia menjaga ritme. Tidak terlalu cepat di garis lurus karena mobilnya kalah tenaga. Tidak terlalu lambat di tikungan karena di sanalah ia bisa membunuh jarak. Pada tikungan terakhir, Jayden mencoba mengambil sisi luar untuk menyalip dengan tenaga penuh.
Felicia menunggu setengah detik.
Lalu ia menutup jalur.
Mobil merah tertahan.
Mobil abu-abu melewati garis finis lebih dulu.
Suara di kawasan gudang pecah.
Yoga memegang kepala. "Jay kalah? Jay beneran kalah?"
Kerumunan yang tadi tertawa kini sibuk memeriksa rekaman. Beberapa wajah berubah pucat karena menyadari apa yang baru saja terjadi. Jayden bukan sekadar anak kaya yang suka ngebut. Di lingkaran kecil ini, ia pemilik rekor lintasan sejak kelas sepuluh, orang yang biasanya memberi handicap pada lawan hanya supaya pertandingan terlihat menarik.
Malam ini, ia tidak memberi handicap.
Tetap kalah.
Felicia mematikan mesin. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena tubuh ini kebanjiran adrenalin yang belum terbiasa ia jinakkan.
Saat ia keluar, Jayden sudah ada di depannya.
Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan sedikit pun. Napasnya cepat, matanya terang, dan senyumnya begitu lebar sampai tindik di bibirnya bergerak.
"Lo gila," katanya.
"Aku menang."
"Itu yang bikin gila."
Jayden menangkap pergelangan tangan Felicia.
Genggamannya panas. Tidak kasar, tetapi terlalu penuh energi untuk disebut lembut. Ia menatapnya dari jarak dekat, untuk pertama kalinya tanpa ejekan.
"Siapa kamu sebenarnya?"