[Proses Revisi]
On IG: @ry_riuu
Ini kisah tentang seorang gadis yang mengorbankan perasaan demi sahabatnya, tanpa memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri.
Karena pengorbanan yang dilakukannya, dia dipertemukan dengan seorang pria tampan yang selalu mengisi hari-harinya.
Hingga pada akhirnya dia pun harus mengorbankan lagi perasaannya, mengikhlaskan pria yang selalu mengisi hari-harinya itu untuk sahabatnya lagi,
Akankah pria tersebut bisa menerima sahabatnya itu? atau malah sebaliknya? atau bahkan tetap menetap pada gadis yang terus saja mengorbankan perasaannya?
-Lakukan selama itu membuatmu bahagia, tanpa pernah bertanya tentang hatiku kenapa, pertanyaan itu malah membuat hatiku semakin sesak.- Iris Anastashia.
-Jangan pernah hidup dalam kepura-puraan, jika dia menghilang kau jangan menyesali kepergiannya.- Zhein Anggara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAK [16]
Happy Reading🥀
Rate
Like
Comment
Vote
...Bukan hanya senja saja yang datang lalu pergi di waktu yang singkat, terbitnya matahari menjadi peringatan bahwa suatu saat akan tenggelam di gantikan dengan cahaya bulan yang indah atau langit malam tanpa cahaya. ...
...-Iris Anastashia-...
Hari ini adalah awal dari para murid malas untuk bangun dari tidurnya, hari paling horor, hari paling menakutkan untuk datang terlambat, hari apalagi kalau bukan Senin?
Dan hari ini Iris sedang ingin berangkat pagi dari biasanya, hingga Nila dan Harendra merasa heran dengan sikap anaknya yang secara tiba-tiba ingin pergi sekolah pagi buta seperti ini.
"Kamu yakin mau berangkat sekarang?" tanya Nila, mamanya Iris sambil memberikan Iris sepiring nasi goreng buatannya.
"Iya Ma." jawab Iris.
"Semalem kamu mimpi apa?" tanya Harendra, papanya Iris yang heran akan perubahan sikap anaknya itu.
"Gak tau." jawab Iris sambil tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian dirinya semalam bersama dengan Zhein.
Gue bakalan pulang ke rumah ternyaman. ucap Iris dalam hati sambil menyuapkan nasinya.
"Iris. Sehat kan nak?" tanya Nila sambil memaegang kening anaknya itu.
"Iris sehat kok Ma, bahkan lebih sehat dari hari-hari sebelumnya." jawab Iris sambil meminum air putih nya dengan cepat. Dan berlalu pergi setelah mencium tangan kedua orang tuanya ya g bengong melihat tingkah anaknya itu tidak seperti biasanya.
"Iris mau kemana?" tanya Nila yang menyadari bahwa Iris sudah memakai sepatunya.
"Mau ke sekolah Ma." jawab Iris yang masih menguyah nasi goreng di mulutnya.
"Yakin mau berangkat jam segini?" tanya Nila sambil melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 06.30 padahal jarak dari rumah ke sekolahnya hanya 5 menit saja jika memakai kendaraan.
"Iya Ma. Iris sehat, Ira gak kenapa-kenapa, Iris emang lagi mau berangkat pagi dan Iris juga lagi bahagia Ma." jawab Iris sambil tersenyum bahagia.
"Udah biarin aja, Mungkin ini pengaruh Zhein di kehidupan Iris." ucap Harendra dengan nada berbisik. Sedangkan Nila hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan membereskan piring kotor yang ada di atas meja makan.
"Iris, tunggu Papa bentar." ucap Harendra yang sedang memakai jas kantornya.
"Gak usah Pa, Iris jalan aja. Lagian deket tinggal jalan dikit nyampe." ujar Iris yang sudah selesai memakai sepatunya.
"Kamu yakin?" tanya Harendra.
"Yakin, se yakin hati Iris sama dia." jawab Iris sambil berlalu pergi, dia tidak ingin mendengar lagi segala pertanyaan dari orang tuanya yang kebingungan dengan sikap dirinya hari ini.
Tujuan Iris untuk pergi sepagi ini adalah melihat matahari terbit, cahayanya yang mampu menyilaukan mata siapapun di kala sedang asik berada di alam mimpinya. Dia juga ingin melihat, apakah cahaya itu mampu menyilaukan mata seseorang yang sudah terbangun dari mimpinya?
Silau cahaya mu bagaikan peringatan untuk ku agar lebih berhati-hati dalam menaruh hati, siapapun bisa patah hati di hari yang tak pasti. ucap Iris sambil melihat ke sekeliling jalanan yang masih terlihat sepi dengan cahaya matahari pagi yang menerobos masuk lewat celah pepohonan rindang.
Iris menghirup udara pagi sedalam-dalamnya, dia tidak pernah menghirup udara pagi sebahagia dan se segar hari ini yang mampu membangkitkan semangatnya, mengulas senyuman manis, bukan senyuman palsu karena kepalsuannya sudah di renggut oleh sang memilik nama Zhein.
"Gue bakalan jadi sebaik-baiknya rumah dan senyaman-nyamannya rumah buat lo pulang." ucap Iris dengan seulas senyuman manisnya yang tak pernah pudar.
Iris masih terus menyusuri jalanan yang sepi, sejuk, tentram tanpa kebisingan dari suara klakson motor atau mobil, pagi ini sangat pas dengan suasana hatinya yang menginginkan dunia hari ini hanya miliknya. Dia memberhentikan langkahnya di sebuah jembatan yang air sungainya sudah mengering, menatap cahaya matahari pagi yang dulu pernah menjadi saksi bisu air matanya jatuh tanpa henti, langkah yang seolah berat untuk melepaskan dan mengikhlaskan.
"Terkadang kita harus belajar dulu dari ujian yang tuhan berikan, saat kita telah mampu melewati ujian itu dengan lapang dada dari situlah kita akan belajar bahwa hidup bukan selalu tentang bahagia saja, adakalanya kita berada di titik terbawah." ucap Iris yang masih menatap cahaya matahari pagi, menyinari wajahnya yang cantik dan senyumannya yang memikat.
Kejadian tentang dirinya bersama Haiden seolah kembali membawa Iris mengingat masa lalunya. Masa putih birunya yang jika di pikir-pikir lagi membuat dirinya merasa menjadi orang terbodoh di dunia.
"Cukup Haiden sama dia yang Iris ikhlasin, selebihnya Iris harus lebih kuat menggenggam erat tangan seseorang yang sudah di takdir kan menjadi tuan rumah." ucap Iris sambil menatap kosong ke arah sungai kering.
"Iris juga harus bisa sekuat rumah dan sekokoh rumah, yang bisa membuat tuan rumah menjadi nyaman." sambung Iris sambil tersenyum.
Zhein. ucap Iris dalam hati sambil menghirup segarnya udara pagi hari, dia sudah meyakinkan hatinya untuk kembali membuka pintu rumahnya yang sudah 1 tahun tak pernah dirinya buka untuk siapapun.
Gue tau harapan gue terasa semu tapi setidaknya gue udah meyakinkan hati gue bahwa Zhein adalah pilihan yang tak pernah melenceng. sambung Iris dalam hati dengan senyuman manisnya dan cahaya matahari pagi yang menyinari wajah putihnya.
semangat terus bikin karya2 nya kak💪🏻🤗