“Laki-laki kok nganggur di rumah! Makan di belakang saja. Jangan duduk semeja sama tamu.” Selama tiga tahun, Arkana Pramudya—Arkan—dianggap pengangguran dan beban oleh keluarga istrinya, Laras Wijaya. Pada hari jadi pernikahan mereka, Laras menjatuhkan talak karena malu memiliki suami yang dianggap miskin. Ia tak tahu Arkan adalah pewaris tunggal Grup Pramudya sekaligus pemegang saham pengendali PT Nusa Karya, tempatnya bekerja. Setelah perceraian resmi, Arkan mengambil tanggung jawab sebagai CEO. Namun, kebangkitan Arkan bukan sekadar pamer kekayaan: pelanggaran anggaran harus dibuktikan, konflik warisan mengancam perusahaan, dan Reno—orang yang memanfaatkan ambisi Laras—kembali membawa fitnah. Saat penyesalan datang terlambat dan Laras meminta kesempatan kedua, Arkan harus memilih hidup yang dibangun atas rasa hormat, bukan rasa bersalah. Bersama Nadine Prasetya, teman lama sekaligus CEO yang setara dengannya, Arkan belajar bahwa memaafkan tak berarti harus kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BayouDarda Novelis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Kos Nomor 12
Kunci kamar itu macet saat kucoba putar untuk ketiga kalinya.
Aku menurunkan tas dari bahu, mencari posisi yang pas, lalu mendorong pintu dengan telapak tangan. Engselnya mengeluarkan bunyi panjang. Cat putih di dekat gagang sudah mengelupas, memperlihatkan lapisan kayu kecokelatan di bawahnya.
Kamar nomor dua belas.
Satu ranjang besi, lemari plastik dua pintu, meja kecil, dan jendela yang menghadap tembok bangunan sebelah. Di sudut ruangan ada kipas angin berdiri dengan salah satu baling-balingnya retak. Kalau dinyalakan, suaranya mungkin lebih berisik daripada anginnya.
Aku meletakkan tas di atas ranjang.
Tidak ada yang istimewa di sini. Bahkan ruang cuci di rumah Laras terasa lebih luas daripada kamar ini. Namun, setidaknya sekarang aku bisa menutup pintu tanpa menunggu seseorang selesai menghinaku.
Aku membuka jendela. Udara panas dan bau masakan dari lantai bawah masuk, sementara suara televisi terdengar dari lorong.
Aku menggantung beberapa potong pakaian di sisi lemari dan menaruh perlengkapan mandi di atas meja. Sisanya masih berada dalam kardus sejak malam sebelum penandatanganan dokumen perceraian.
Ponselku bergetar. Pesan dari Pak Surya muncul di layar.
“Bagaimana tempat barunya, Pak?”
Aku membaca pesan itu sambil duduk di tepi ranjang.
“Layak ditempati.”
Balasanku membuatnya menelepon kurang dari satu menit kemudian.
“Pak, saya rasa Bapak tidak perlu sampai tinggal di sana.”
“Kenapa?”
“Bapak bisa menggunakan apartemen yang sudah disiapkan perusahaan. Atau saya atur tempat lain yang lebih nyaman.”
“Kalau semua masalah selesai dengan pindah ke tempat nyaman, mungkin dari dulu aku nggak perlu belajar menghadapi masalah.”
Pak Surya diam sejenak, menimbang jawabannya.
“Bapak sudah menyelesaikan proses tanda tangan?” tanyanya akhirnya.
“Dokumen yang perlu kutandatangani sudah selesai. Urusan administrasi berikutnya tetap harus berjalan sesuai ketentuan.”
“Baik. Tim hukum akan memastikan semuanya tercatat dengan benar.”
“Jangan ada yang dipercepat hanya karena namaku.”
“Siap, Pak.”
Aku mengusap permukaan meja yang berdebu dengan tisu.
“Untuk sementara, jangan kirim siapa pun ke sini. Aku mau mengurus tempat ini sendiri.”
“Termasuk petugas pengelola?”
“Terutama petugas pengelola.”
Ia menghela napas pendek. “Bapak selalu memilih cara yang paling merepotkan.”
“Bukan berarti cara itu salah.”
“Bukan, Pak. Saya hanya khawatir Bapak menanggung semuanya sendirian.”
Aku memandang pintu kamar yang catnya terkelupas.
“Sudah cukup lama aku membiarkan orang lain menentukan apa yang pantas kuterima. Sekarang aku mau melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi.”
Pak Surya akhirnya mengalah. Kami membahas urusan perusahaan, termasuk dokumen yang diminta Hendra. Belum ada keputusan sebelum pemeriksaan selesai. Aku memintanya memastikan setiap berkas diperiksa oleh orang yang berwenang.
Setelah panggilan berakhir, aku menyimpan ponsel.
Di atas meja, sebuah amplop cokelat berisi salinan dokumen kepemilikan kos masih tergeletak. Aku membukanya sebentar, memastikan nama perusahaan pengelola dan catatan asetnya sesuai. Properti ini dibeli melalui badan usaha yang sah beberapa tahun lalu. Pengelolaan hariannya diserahkan kepada orang lain, sementara namaku tidak pernah muncul di papan depan.
Bagi penghuni, aku hanya orang yang menyewa kamar kecil dan membayar uang sewanya seperti orang lain.
Aku sengaja mempertahankan keadaan itu.
Aku bukan berpura-pura miskin. Aku ingin tahu apakah tempat yang kubiayai benar-benar dikelola dengan baik. Laporan bisa tampak rapi, tetapi tak selalu mencatat keran bocor, keluhan yang diabaikan, atau uang tambahan tanpa alasan jelas.
Aku memasukkan kembali dokumen itu ke amplop, kemudian keluar untuk mencari makan.
Di ujung lorong, seorang perempuan berseragam biru tua memperkenalkan diri sebagai Mira, penghuni kamar nomor sembilan. Ia sedang bersiap berangkat kerja dan menyapaku singkat sebelum kembali mengurus barang-barangnya.
Di lantai dasar, warung kecil milik Bu Yuni menyediakan nasi, telur balado, dan sayur bening. Aku memesan satu porsi, lalu duduk di bangku dekat etalase.
Baru beberapa suap, seorang pria bertubuh kurus datang sambil membawa dua kantong belanja. Kemejanya kusut, dan wajahnya terlihat kesal.
“Bu, uang kebersihan bulan ini naik lagi?” tanyanya kepada Bu Yuni.
Bu Yuni menggeleng. “Saya juga baru dengar dari penghuni lain. Katanya ada biaya tambahan.”
“Biaya apa? Bulan lalu sudah naik. Sekarang naik lagi tanpa pemberitahuan.”
Pria itu bernama Dimas, teknisi bengkel yang tinggal di kamar nomor lima. Penghasilannya berubah-ubah, sehingga kenaikan biaya kecil pun memaksanya menghitung ulang pengeluaran.
Pak Darto, pengelola kos, masuk ke warung membawa map plastik. Saat Dimas meminta rincian, ia hanya menjawab bahwa biaya itu untuk operasional.
“Kalau memang ada biaya tambahan, seharusnya ada dasar dan catatannya,” kataku.
Pak Darto merapatkan kedua tangannya. “Kami juga punya tanggung jawab. Kalau semua penghuni banyak bertanya, pekerjaan pengelola jadi susah.”
“Justru karena ada tanggung jawab, mestinya ada laporan,” jawab Dimas.
Pak Darto mengambil mapnya dan pergi tanpa menjelaskan penggunaan uang tersebut.
Dimas mengusap wajahnya.
“Begitu terus.”
“Sudah pernah membuat pengaduan tertulis?” tanyaku.
“Pernah. Katanya akan ditindaklanjuti. Sampai sekarang nggak ada kabar.”
“Masih punya salinannya?”
“Ada. Kenapa?”
“Kalau memang ada masalah, simpan semua bukti pembayaran dan pengaduan. Jangan cuma mengandalkan percakapan.”
Dimas mengangguk. Ia tampak ingin bertanya lebih jauh, tetapi memilih menghabiskan minumannya.
Aku membayar makanan, lalu kembali ke kamar.
Ada perbedaan antara pengelola yang tidak becus dan yang sengaja menyalahgunakan kedudukan. Keduanya harus diperiksa, tetapi aku tidak akan menjatuhkan keputusan hanya berdasarkan satu keluhan atau membiarkan laporan berulang diabaikan.
Di kamar, aku membuka laptop dan masuk ke sistem administrasi properti melalui akun yang memang memiliki kewenangan untuk mengaksesnya. Aku memeriksa ringkasan pemasukan, pengeluaran rutin, serta catatan perbaikan selama enam bulan terakhir.
Sekilas, angkanya wajar. Uang sewa masuk sesuai kamar terisi, biaya listrik tercatat, dan pembayaran petugas kebersihan rutin.
Tetapi ada beberapa pengeluaran yang diberi keterangan terlalu umum. Biaya operasional tambahan muncul dalam jumlah berbeda setiap bulan. Tidak ada lampiran yang cukup untuk menjelaskan penggunaannya.
Aku mencatat tanggal dan nomor transaksi. Belum ada dasar untuk menyebutnya penyimpangan. Dokumen pendukungnya harus diminta lebih dahulu.
Ponselku kembali bergetar. Kali ini pesan dari nomor yang tidak kusimpan.
“Pak, besok ada rapat penghuni. Mohon hadir karena ada perubahan kebijakan kos.”
Pesan berikutnya masuk sebelum aku sempat membalas.
“Biaya tambahan akan diberlakukan mulai bulan depan. Penghuni yang keberatan dipersilakan mempertimbangkan tempat tinggal lain.”
Aku membaca kalimat terakhir dua kali. Pemberitahuan itu tidak menjawab keberatan penghuni; mereka seolah harus memilih antara diam atau pergi.
Aku meneruskan tangkapan layar pesan tersebut ke alamat pengaduan resmi pengelola pusat, disertai permintaan agar kebijakan itu tidak diberlakukan sebelum dasar perhitungan dan kewenangannya diperiksa. Aku tidak menyertakan penilaian pribadi. Cukup fakta yang bisa diverifikasi.
Setelah itu, aku menutup laptop.
Malam semakin larut. Suara televisi mengecil, langkah kaki menjauh, dan kipas anginku berdecit. Aku berbaring. Penghuni kos bukan angka dalam laporan; mereka membayar untuk tempat tinggal yang layak, bukan keputusan sepihak pengelola.
Pagi berikutnya, aku bangun sebelum alarm berbunyi. Setelah mandi dan berganti pakaian, aku turun membawa cangkir kopi instan. Di halaman depan, beberapa penghuni sudah bersiap berangkat kerja. Dimas berdiri dekat pagar sambil membaca selembar kertas yang baru ditempel pada papan pengumuman.
“Ada apa?” tanyaku.
Ia menoleh, lalu menunjuk kertas itu.
Pemberitahuan rapat penghuni tercetak dengan huruf tebal. Di bagian bawah tercantum rencana penyesuaian biaya operasional, tanpa rincian penggunaan dana atau dasar perhitungannya.
“Katanya hari ini rapatnya dimajukan,” ujar Dimas. “Semalam dibilang besok.”
“Siapa yang mengubah jadwal?”
“Pak Darto. Katanya ada tamu penting yang mau datang.”
Pemberitahuan itu tak mencantumkan nama tamu, hanya agenda perubahan biaya dan penertiban pembayaran.
Dari arah gerbang, sebuah mobil hitam berhenti. Seorang pria turun membawa tas kerja dan map tebal. Ia tidak menuju kantor pengelola seperti yang kuduga, melainkan langsung menghampiri papan pengumuman.
“Ini tempat kos Nomor Dua Belas?” tanyanya kepada Dimas.
“Iya, Pak. Ada perlu apa?”
Pria itu mengeluarkan kartu identitas perusahaan, lalu menunjukkan surat yang terlipat rapi.
“Saya dari tim calon investor. Kami dijadwalkan melakukan pemeriksaan awal atas aset dan pengelolaannya.”
Dimas mengerutkan dahi.
“Investor? Maksudnya kos ini mau dijual?”
“Belum ada keputusan transaksi. Kami hanya melakukan penilaian dan pemeriksaan dokumen sebelum menentukan langkah berikutnya.”
Aku berdiri beberapa langkah dari mereka, memperhatikan nama perusahaan pada kartu itu. Aku mengenal nama tersebut dari korespondensi bisnis yang pernah masuk melalui kantor pusat. Mereka bukan pihak yang seharusnya memperoleh akses ke data penghuni tanpa prosedur dan persetujuan yang sesuai.
Pria itu membuka mapnya, mencari lembar pemberitahuan, lalu menyerahkannya kepada Dimas.
“Mohon disampaikan kepada penghuni lain. Pemeriksaan akan mencakup dokumen kepemilikan, laporan keuangan, kondisi bangunan, dan kewajiban pengelola. Semua pihak diminta menyiapkan catatan pembayaran masing-masing.”
Dimas menerima surat tersebut dengan wajah bingung.
“Kalau begitu, masalah biaya tambahan yang kami keluhkan juga akan diperiksa?”
“Jika berkaitan dengan pengelolaan aset, silakan masukkan dalam daftar pertanyaan resmi.”
Pria itu kemudian meminta petunjuk menuju kantor pengelola.
Aku memandang surat di tangan Dimas. Di bagian atasnya tercantum tanggal pemeriksaan dan daftar dokumen yang harus disediakan. Tidak ada nama pribadi yang menjadi penanggung jawab, hanya nama perusahaan pengelola dan calon investor.
Pemeriksaan tak bisa kuhentikan hanya karena aku pemilik aset. Semuanya harus melalui jalur yang benar.
Dimas membaca halaman terakhir, lalu berhenti pada satu kalimat yang dicetak tebal.
“Pak,” katanya kepadaku, “kalau hasil pemeriksaan menemukan masalah, penghuni bisa kehilangan tempat tinggal?”
Aku memandang deretan kamar di lantai atas. Bagi penghuninya, tempat ini bukan sekadar alamat sementara.
“Pemeriksaan bukan keputusan pengusiran,” jawabku. “Tunggu hasilnya dulu. Simpan bukti yang kalian punya dan jangan menandatangani sesuatu yang belum dipahami.”
Dimas mengangguk, meski kecemasan di wajahnya belum hilang.
Aku kembali ke kamar nomor dua belas dan mengambil laptop. Kali ini, aku tidak membuka laporan pemasukan terlebih dahulu. Aku membuka surat pemeriksaan, mencocokkan nama calon investor dengan korespondensi yang tersimpan, lalu membaca daftar permintaan dokumennya sampai tuntas.
Di sana, ada satu hal yang membuatku berhenti.
Tim investor meminta akses ke seluruh catatan pembayaran penghuni, termasuk data pribadi yang tidak berkaitan langsung dengan penilaian aset. Permintaan itu belum tentu melanggar aturan, tetapi tidak boleh dipenuhi begitu saja. Ruang lingkup pemeriksaan dan dasar aksesnya harus jelas. Aku juga mencatat nomor surat, nama petugas, dan waktu kedatangannya agar setiap langkah bisa ditelusuri secara resmi dan lengkap. Jika ada permintaan di luar kewenangan, aku ingin keberatannya tercatat sebelum dokumen apa pun diserahkan kepada pihak luar.
Aku mulai menyusun daftar dokumen yang boleh diperiksa, dokumen yang perlu disamarkan, serta pertanyaan yang harus dijawab sebelum akses diberikan.
Ponselku berbunyi. Pesan dari Pak Surya masuk.
“Pak, ada permintaan audit dari calon investor untuk salah satu aset properti. Tim mereka menghubungi kantor pusat pagi ini.”
Aku langsung mengetik balasan.
“Jangan berikan persetujuan sebelum ruang lingkup, kewenangan, dan dasar hukumnya diverifikasi.”
Aku belum menyebutkan bahwa aset itu adalah tempat tinggalku sekarang.
Di luar, langkah kaki bergegas melewati lorong. Seseorang mengetuk pintu kamar Dimas, lalu suara percakapan terdengar semakin ramai. Aku menutup laptop, berdiri, dan membuka pintu.
Dimas sudah berada di depan papan pengumuman bersama beberapa penghuni lain. Di tangannya, surat pemeriksaan itu terlipat pada bagian yang memuat jadwal audit.
“Pak,” panggilnya saat melihatku. “Ada pemberitahuan baru.”
Ia mengulurkan selembar kertas tambahan. Isinya singkat: audit resmi akan dimulai, dan seluruh dokumen pengelolaan wajib tersedia untuk diperiksa sesuai ketentuan.
Di bagian bawah terdapat tanda tangan pihak yang bertanggung jawab atas permintaan audit.
Aku membaca nama itu, lalu menahan tanganku agar tidak meremas kertas tersebut.
Pemeriksaan ini bukan lagi sekadar persoalan biaya tambahan. Seseorang sedang berusaha membuka seluruh catatan kos, dan aku belum tahu apa yang sebenarnya mereka cari.
Dimas menunggu jawabanku. Aku mengembalikan kertas itu kepadanya.
“Simpan salinannya,” kataku. “Jangan sampai ada dokumen yang hilang.”
Aku menutup pintu kamar, mengambil ponsel, dan menghubungi Pak Surya.
Kali ini, ada satu hal yang harus kupastikan sebelum audit dimulai: siapa yang mengajukan pemeriksaan atas aset milikku, dan atas dasar kewenangan apa mereka meminta seluruh data penghuni?
Di layar laptop, jadwal audit sudah terbuka. Besok pagi, mereka akan datang.
Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengubah tempat tinggal orang-orang ini menjadi alat untuk menutupi sesuatu yang belum terbukti.
Namun, sebelum aku sempat menyelesaikan panggilan, sebuah pesan baru masuk dari nomor yang sama sekali tidak kukenal.
“Pak Arkana Pramudya, kami perlu berbicara sebelum tim audit tiba.”