Bima Arka Pradipta , anak dari keluarga sederhana di pinggiran Manado. Keras kepala, tidak banyak bicara di luar lapangan tapi meledak-ledak di dalam lapangan. Hamstring putus , pensiun umur 34 tahun. Dikenal karena tendangan bebas melengkungnya dan loyalitasnya sama tim. Dari anak kampung yang main bola pakai kaki ayam -> ditolak akademi karena dianggap terlalu emosional -> bangkit setelah cedera parah di musim hujan -> jadi kapten yang mengangkat tim degradasi jadi juara.
"Bukan tentang seberapa keras kau terjatuh, tapi seberapa lama kau tetap berdiri di tengah hujan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SelToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 Pertandingan Pertama Melawan SSB Papua dan Gol Yang Tidak Dirayakan
Dua minggu setelah Bima menangis di dalam kamar mandi , jadwal tanding pertama datang.
Bukan pertandingan resmi. Hanya uji coba. Manado United U-13 vs SSB Cenderawasih dari Papua yang sedang tour ke Manado.
Tim Papua itu semua anak-anaknya bertubuh tinggi , berkulit hitam , kaki mereka besar. Umur masih 12 tahun tapi badannya mereka seperti sudah umur 15 tahun. Mereka datang dengan memakai sepatu bola yang warnanya sama , sepatu bola dengan warna merah.
Di ruang ganti Stadion Klabat , Coach Bagus tulis starting eleven di papan tulis putih.
Bima mencari namanya. Tidak ada , dia berada di bangku cadangan.
Susunan pemain
MANADO UNITED U-13
Formasi : 4-3-3 | Pelatih : Coach Bagus Wijaya
Kiper
No 1 : Andi Saputra - Kiper - Tipe : Shot Stopper
Belakang ( 4 Bek )
No 2 : Rian Modeong - Bek Sayap Kanan - Tipe : Bertahan + Overlap ( Kombinasi p)
No 4 : Yosua Tendean - Bek Tengah Kanan - Tipe : Bertahan ( Stopper )
No 5 : Michael Lontoh - Bek Tengah Kiri - Tipe : Bertahan + Build up ( Kombinasi )
No 3 : Rizal Manopo - Bek Sayap Kiri - Tipe : Bertahan
Tengah ( 3 Gelandang )
No 19 : Yudi Karundeng - Gelandang Bertahan ( DMF ) - Tipe : Bertahan - Tukang sapu , tukang tekel , tembok.
No 6 : Joshua Pande - Gelandang Tengah Box to Box ( CMF ) - Tipe : Kombinasi - Bertahan bantu Yudi , menyerang bantu Kevin. Kuli lapangan.
No 8 : Kevin Sondakh ( C ) - Gelandang Serang ( AMF ) - Tipe : Menyerang - Playmaker , otak serangan , egois , dan skill tinggi.
Depan ( 3 Penyerang )
No 7 : Farrel Gosal - Sayap Kanan - Tipe : Menyerang - Speed , tusuk ke dalam.
No 9 : Reinhard Lasut - Striker Tengah - Tipe : Menyerang - Target Man , finishing.
No 11 : Benny Waworuntu - Sayap Kiri - Tipe : Menyerang
Bima menunduk. Tapi tidak kaget. Dua minggu dia latihan nyeker , dia memang lebih bagus , tapi Kevin masih kapten.
Coach Bagus lihat Bima. "Bima , ngana masuk babak kedua. Simpan tenaga."
Bima mengangguk. Dia ikat lagi tali sepatu pinjaman nomor 39 yang sekarang sudah dia buka ganjalannya , karena kakinya sudah kapalan lagi , sepatu itu jadi agak pas.
Babak pertama dimulai. Bima duduk di bangku cadangan , pakai rompi berwarna kuning yang cukup kebesaran di tubuhnya.
Manado United keteteran. Anak - anak dari Papua itu lari seperti kijang. Tendangan mereka keras. Menit ke 10 , gol. 0-1.
Menit ke 23 , gol lagi. 0-2.
Kevin marah - marah di lapangan. Dia teriak - teriak ke arah teman - temannya , tetapi tidak ada yang mendengarkannya.
Diatas tribun , hanya ada 20 orang tua. Termasuk Bapak dan Paman Stenly yang datang dengan naik bentor , bayar 20 ribu. Bapak pakai baju terbaiknya , kemeja kotak - kotak yang kancingnya tinggal 2.
Bima melihat Bapaknya dari jauh. Bapak tidak berteriak. Dia hanya duduk dengan tegak , dan tangan berada diatas lutut.
Saat istirahat babak pertama , Coach Bagus marah - marah kearah mereka semuanya. "Kita takut! Kita main seperti kulihat hantu! Mereka juga umur 12!"
Lalu dia melihat kearah Bima. "Bima , lepas rompi. Masuk."
Jantung Bima berdebar - debar. Dug-dug-dug sama seperti waktu melakukan tendangan ke got waktu umur 8 tahun.
"Ganti siapa , Coach ?"
"Ganti Kevin."
Seluruh ruang ganti diam. Kevin yang lagi minum , tersedak.
"Coach , saya kapten!" kata Kevin.
"Kapten yang bawa tim kalah 0-2 tidak perlu di lapangan. Duduk. Bima masuk sayap kiri."
Kevin membanting botol minumannya. Tapi dia akhirnya duduk.
Babak kedua mulai.
Bima masuk. Nomor punggung 17 kebesaran. Kaosnya masuk ke dalam celana.
Bola pertama datang. Bima terima. Nyeker ? Tidak , sekarang pakai sepatu. Tapi sentuhannya tetap sentuhan anak lumpur.
Dia lewati satu anak Papua. Anak itu kaget , karena Bima tidak berlari lurus , dia belok seperti perahu kena ombak.
Dia oper ke tengah. Gol ? Tidak. Temannya tidak bisa cetak.
Di menit ke 55 , Manado United dapat tendangan bebas. Jarak 20 meter. Agak ke kiri. Posisi favorit untuk tendangan pisang.
Semua anak mau ambil. Joshua mau ambil. Farrel mau ambil.
Bima diam. Dia tidak minta. Dia hanya taruh bola.
Coach Bagus dari pinggir berteriak "BIARKAN ANAK TUMINTING YANG TENDANG!"
Bima mundur 3 langkah. Seperti yang diajarkan Paman Stenly , bukan 5 langkah , 3 langkah saja , biar tidak tegang.
Dia tarik napas , dia lihat kearah gawang , dan dia lihat Bapaknya di atas tribun.
Dia tidak lihat kiper Papua yang tinggi.
Dia usap , bukan tendang.
Bola melayang. Pelan. Semua orang kira akan melenceng ke luar.
Lalu... Berbelok.
Melengkung tajam seperti pisang raja yang dilempar.
Kiper Papua loncat. Tangannya panjang. Tapi bola itu belok menjauhi tangannya.
GOL.
1-2.
Stadion Klabat yang sepi itu meledak. 20 orang tua berteriak. Paman Stenly yang pincang itu berdiri dan berteriak paling kencang "ITU ANAK KITA! ITU ANAK TUMINTING!"
Teman - teman Manado United lari ke Bima , mau peluk.
Tapi Bima tidak merayakan.
Dia tidak lari keliling lapangan, dia tidak membuka baju , dia tidak berteriak.
Dia hanya berjalan pelan ke tengah lapangan , lalu mengambil bola dari dalam gawang , dan peluk bola itu.
Lalu dia lihat ke atas tribun , ke arah Bapaknya.
Bapak Yosua , nelayan yang tidak pernah menangis , malam itu di tribun Stadion Klabat , air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Dia tutup mulut dengan kemeja kotak - kotak kancing 2 itu biar tidak kedengaran isakannya.
Bima tidak rayakan gol itu untuk tim.
Gol itu dia kirim untuk janji di atas perahu bocor Sinar Mira.
Pertandingan berakhir 1-2. Kalah. Tapi setelah pertandingan , semua pemain Papua bersalaman ke Bima duluan.
Salah satu dari mereka bilang dengan logat Papua yang kental "Sa pu kawan , ko punya kaki bagus. Pisang."
Malam itu , untuk pertama kalinya , di angkot pulang ke Tuminting , Bapak traktir Bima dan Paman Stenly untuk makan tinutuan di pinggir jalan pakai ikan asin.
Dan untuk pertama kalinya , Bapak bilang ke penjual tinutuan itu dengan suara keras
"Ini anak saya. Bima. Yang tadi melakukan gol pisang di Klabat."
#####################################
Sampai di sini dulu ya , besok lanjut lagi. Semoga suka , jangan lupa berikan saran , like , dan hadiahnya
Happy reading