NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cinta

Dua Wajah Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Keesokan paginya, saat jarum jam baru menunjukkan pukul empat pagi, udara dingin dan kabut tipis masih menyelimuti jalanan kota kecil itu.

Gladys sudah selesai mandi dan bersiap-siap. Dengan balutan pakaian yang rapi namun sederhana, ia melangkah turun ke lantai bawah dan membuka pintu depan kafe.

Tepat di saat yang sama, Bima dan Elsa baru saja tiba.

Elsa tampak tersenyum hangat sambil menyodorkan sebuah tumbler yang dibawanya.

"Ini Bu Gladys, saya bawakan susu kedelai hangat. Minum dulu supaya badannya segar," tutur Elsa memperhatikan kesehatan Gladys.

"Terima kasih banyak ya, Elsa," balas Gladys tulus seraya menerima tumbler tersebut dan menyesapnya pelan.

Kehangatan susu kedelai itu langsung mengalir manis meredakan dinginnya udara subuh.

Sementara itu, Bima langsung sigap bergerak menuju dapur lantai atas.

Bersama Elsa yang membantunya mengangkat dus-dus kemasan dari dalam, Bima mulai menata dan memasukkan ratusan donat gula serta kantung-kantung kopi ke dalam bagasi mobil pengantar.

Setengah jam kemudian, seluruh pesanan berhasil tertata rapi di dalam mobil tanpa ada yang terlewat.

Bima menyapu peluh tipis di dahinya lalu mengunci bagasi belakang.

"Ayo, sekarang kita berangkat!" seru Bima bersemangat.

Sebelum melangkah menuju pintu kemudi, Bima menghampiri calon istrinya.

"Sa, aku berangkat dulu ya," ucap Bima lembut sambil mendaratkan kecupan hangat di kening Elsa.

Elsa menganggukkan kepalanya dengan senyuman manis yang mengembang di bibirnya.

"Iya, Mas Bima. Hati-hati ya Bu Gladys, Bima. Semoga pengirimannya lancar!"

Bima segera melompat ke dalam mobil dan melajukannya membelah keheningan pagi menuju hotel bintang lima di Jawa Tengah.

Di sepanjang perjalanan, Gladys duduk di samping kemudi, menikmati susu kedelai hangatnya sambil menatap keluar jendela.

Jalanan masih terlihat sangat sepi, diapit bayang-bayang pepohonan dan lampu jalan yang menyala redup.

Gladys menghela napas panjang, merasai ketenangan pagi itu, tanpa menyadari bahwa di hotel tujuan mereka, dua pria dari masa lalunya sedang berada di bawah satu atap yang sama.

Setelah setengah jam perjalanan membelah jalanan pagi yang lengang, mobil pengantar yang dikendarai Bima akhirnya tiba di pelataran hotel bintang lima yang megah itu.

Bima memutar setir perlahan, mengarahkan mobil masuk ke area parkir khusus pengiriman.

Dugh!

Benturan pelan namun cukup keras mengejutkan mereka berdua.

Mobil mendadak bergetar saat bagian depan kendaraan mereka menyundul bagian belakang sebuah mobil sedan mewah yang sedang terparkir rapi.

"Bim," panggil Gladys panik, memegangi pegangan di atas pintu.

"Aduh Bu! Bagaimana ini?" seru Bima dengan wajah pucat pasi.

Ia menyapu keringat dingin di dahinya, tidak menyangka akan menyenggol mobil mewah yang jelas-jelas bernilai fantastis itu.

"Sudah Bim, tenang dulu," potong Gladys berusaha tetap tenang meski dadanya berdebar keras.

"Sekarang kamu panggil pegawai hotel dulu untuk membantu membawa kotak-kotak donat dan kopi ke dalam."

Gladys segera turun dari mobil untuk memeriksa kerusakan.

Ketika ia mendekat ke bagian belakang sedan mewah tersebut, ia mendesah pelan.

Bumper belakang mobil itu terlihat sedikit penyok dan tergores.

Karena tidak ingin lepas tanggung jawab meski sedang diburu waktu, Gladys mengambil buku harian usang dari dalam tasnya.

Ia merobek secarik kertas kosong di lembar belakang, lalu menuliskan sebuah pesan singkat tanpa mencantumkan namanya:

Maaf, saya tidak sengaja menyenggol bumper belakang mobil Anda saat parkir. Tolong hubungi saya di nomor ini untuk ganti rugi: 0811XXXXXXX.

Gladys menyelipkan selembar kertas tersebut di bawah wiper kaca depan mobil mewah itu.

Setelah memastikan pesan itu terpasang erat, Gladys bergegas melangkah masuk ke area loading dock dan menuju ruang panitia untuk menemui Pak Faris, pihak penyelenggara acara yang memesan donat dan kopi mereka.

Sementara Gladys berada di dalam ruangan bersama Pak Faris, Bima dibantu beberapa staf hotel dengan sigap menata dan menurunkan seluruh kotak donat serta termos kopi ke atas troli khusus.

Di dalam ruangan rapat, Pak Faris menyambut Gladys dengan senyuman puas setelah melihat kualitas pesanan yang datang tepat waktu.

Pria itu merogoh dompetnya dan mengeluarkan sejumlah uang tunai.

"Bu Gladys, ini sisa pembayaran kemarin sebesar lima juta rupiah. Terima kasih banyak ya Bu, pesanan dan pelayanannya sangat memuaskan," ucap Pak Faris ramah sambil menyerahkan uang tersebut.

Gladys menerima lembaran uang itu dengan senyum lega.

"Iya, Pak Faris. Sama-sama, senang bisa membantu acara Bapak."

Setelah berpamitan, Gladys melangkah keluar menuju pelataran parkir.

Di sana, ia melihat Bima sudah berdiri menunggunya dengan troli yang sudah kosong bersih.

"Ayo Bim, kita cari nasi pecel sekarang," ajak Gladys mencoba mencairkan suasana gelisah karyawannya.

Bima menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menatap ragu ke arah mobil di depan mereka.

"Tapi Bu, bagaimana dengan mobil mewah di depan kita ini?"

Gladys tersenyum tipis sambil memegang bahu Bima untuk menenangkannya.

"Tenang saja. Aku sudah menyelipkan nomor teleponku di wiper mobilnya. Nanti kalau pemiliknya menghubungi, kita akan bayar biaya ganti ruginya."

Suasana pagi di area parkir VVIP hotel bintang lima itu perlahan kembali tenang.

Setelah urusan pecel dan sarapan pagi, Gladys dan Bima telah meninggalkan pelataran parkir untuk kembali ke kota kecil mereka.

Beberapa menit kemudian, Raka melangkah keluar dari lobi menuju area parkir pribadinya.

Pagi itu, ia baru saja selesai berenang untuk menjernihkan pikiran dan meredakan ketegangan setelah insiden adu jotos dengan Praduta di tempat yang sama beberapa jam sebelumnya.

Rambut hitamnya yang basah dibiarkan tersisir acak ke belakang, dan handuk kecil melingkar pas di lehernya.

Saat ia mendekati mobil sedan hitam miliknya, langkah Raka seketika melambat.

Manik matanya menangkap sesuatu yang ganjil pada bagian bumper belakang mobilnya—sebuah goresan dan sedikit lekukan penyok akibat benturan.

Kening Raka berkerut tajam. Namun, sebelum ia sempat memanggil petugas keamanan hotel untuk meminta rekaman CCTV, pandangannya beralih ke bilah kaca depan.

Ada selembar kertas putih kecil yang diselipkan rapi di balik wiper.

Raka mendekat, lalu mencabut kertas tersebut dengan gerakan lambat.

Ia membuka lipatannya dan membaca tulisan tangan yang tertera di sana:

Maaf, saya tidak sengaja menyenggol bumper belakang mobil Anda saat parkir. Tolong hubungi saya di nomor ini untuk ganti rugi: 0811XXXXXXX.

Baru saja mata Raka menyapu barisan kata-kata tersebut, napasnya mendadak tercekat.

Jantungnya berdegup kencang secara tidak normal.

Jemarinya yang memegang secarik kertas itu bergetar hebat.

Bentuk hurufnya, tarikan garisnya, lengkungan pada huruf 'g' dan 'y'—semuanya sangat ia hafal di luar kepala.

Itu adalah tulisan tangan yang setiap malam ia bayangkan, tulisan dari buku harian wanita yang selama setahun ini dicarinya mati-matian.

"Tidak mungkin," gumam Raka pelan, suaranya nyaris berbisik kalah oleh angin pagi.

Ia menggelengkan kepalanya keras-keras, mencoba menepis akal sehatnya yang menolak percaya.

Bagaimana mungkin pemilik mobil yang tidak sengaja menabrak mobilnya di hotel terpencil di Jawa Tengah ini adalah, Gladys? Atau apakah ini hanya sekadar kemiripan yang kejam untuk mempermainkan perasaannya?

Raka menatap nomor telepon di bawah kertas itu berulang-ulang, seolah ingin memastikan ia tidak sedang berhalusinasi akibat terlalu lelah merindukan istrinya.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Raka melipat kertas itu kembali, lalu memasukkannya dengan sangat hati-hati ke dalam kantong celananya, seolah benda itu adalah harta paling berharga di dunia.

Ia berbalik, melangkah masuk kembali ke dalam hotel dengan langkah cepat menuju kamarnya.

Pikirannya kini benar-benar kacau, terbelah antara harapan besar dan rasa takut akan kekecewaan.

Ia harus segera mandi dan bersiap, karena sebentar lagi rapat penting para kolega bisnis akan dimulai—rapat yang kini baginya mendadak terasa sekadar formalitas di antara detak jantungnya yang menderu memikirkan secarik kertas di saku jasnya.

1
nining cahyaningrum
akur jelas cerita bagud
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!