Sepuluh tahun Erlyn membangun kehidupan sempurna bersama suami dan anaknya, menyembunyikan masa lalu kelam yang sudah ia kunci rapat-rapat.
Dulu, saat usia 19 tahun, ia terjebak pada Om Hendi — pria kaya yang mengurungnya, menyiksanya, dan menyimpan ratusan foto memalukan yang dipaksa diambil. Erlyn berhasil kabur, berpikir ia sudah aman.
Hingga suatu hari, pesan dan foto lama masuk ke ponselnya. Hendi kembali.
"Datang padaku, atau semua foto dikirim ke suamimu."
Sekarang Erlyn harus memilih:
kembali ke neraka yang dulu ia tinggalkan, atau membiarkan keluarganya hancur oleh kebenaran yang menyakitkan.
Satu rahasia. Dua pilihan. Tak ada yang tidak terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Pintu rumah kecil itu tertutup rapat di belakang Erlyn, mengunci segala kengerian dan udara dingin apartemen mewah tadi di luar sana.
Namun, ketakutan itu tidak serta-merta tertinggal di balik daun pintu. Ketakutan itu justru mengikuti setiap langkah kakinya, merayap di bawah kulit, dan mencengkeram dadanya seolah menolak untuk longgar.
Erlyn berdiri mematung di dekat pintu masuk lorong rumah. Kakinya terasa begitu ringan namun gemetar hebat, bagaikan berdiri di atas tumpukan jerami yang sewaktu-waktu bisa ambruk.
Napasnya masih memburu, memendam sisa-sisa isak tangis yang mati-matian ia redam sepanjang perjalanan pulang tadi. Ia meraba bibirnya sendiri, merasakan sisa sentuhan menjijikkan yang tadi nyaris merenggut harga dirinya. Rasa mual mendadak menghantam ulu hatinya dengan telak. Asam lambung naik membakar tenggorokan, membuatnya hampir terpekik.
Dengan gerakan panik, Erlyn membekap mulutnya menggunakan telapak tangan, lalu berlari tergesa-gesa menuju kamar mandi.
Begitu sampai, ia langsung mencengkeram tepi washtafel dan memuntahkan cairan bening berasa pahit. Tubuhnya bergetar hebat. Air matanya kembali tumpah, menetes membasahi keramik putih di bawah kakinya.
Ia mencuci wajahnya berulang kali dengan air dingin, menggosok kulit pipinya sekuat tenaga seolah ingin melunturkan jejak-jejak kekejian yang sempat menempel di sana. Tangannya masih gemetar hebat.
Tenang, Erlyn. Tenang. Kamu harus kuat, bisiknya pada pantulan dirinya sendiri di cermin yang terlihat begitu pucat dan berantakan.
Ia merapikan helai rambutnya yang basah oleh keringat dan air mata, menarik napas dalam-dalam berulang kali sampai dadanya tidak terlalu sesak, lalu memaksakan seulas senyum kaku di bibirnya sebelum melangkah keluar kamar mandi.
Suara televisi dari ruang tengah menyambut indra pendengarannya. Rara sedang tertawa renyah, menikmati kartun kesayangannya di layar datar.
Suara tawa polos itu ibarat tetesan embun penyejuk di tengah gurun pasir yang membakar. Seketika itu juga, tekad Erlyn kembali terkumpul. Apapun yang terjadi, ia tidak boleh membiarkan anak itu melihat kehancuran ibunya.
"Ibu...!" sapa Rara begitu melihat bayangan ibunya melintas di dekat ruang keluarga. Anak itu menoleh sejenak, lalu kembali fokus ke layar televisi. "Ayah sebentar lagi pulang, Bu. Tadi Ayah bilang mau belikan martabak kesukaan kita."
"Ah, iya... sayang," jawab Erlyn, berusaha mengatur nada suaranya agar terdengar senormal mungkin. Ia melambaikan tangan kecil pada putrinya. "Ibu mau ke dapur dulu ya, mau siapin makan malam."
Langkahnya beralih menuju dapur. Ruangan bernuansa putih bersih itu tampak tenang. Di atas meja, bahan-bahan makanan yang tadi pagi ia siapkan masih tertata rapi.
Erlyn mengenakan celemek kain berwarna pastel, mengikatnya di pinggang dengan jemari yang masih sedikit gemetar.
Ia mulai menyalakan kompor, menyiapkan panci untuk merebus sup sayur hangat. Namun, baru beberapa menit ia berdiri di depan kompor, gelombang pusing yang luar biasa mendadak menyerang kepalanya.
Ruangan dapur seolah berputar 180 derajat. Pandangannya menggelap dalam hitungan detik. Keringat dingin kembali bercucuran di pelipisnya, jauh lebih deras dari sebelumnya.
Beban psikologis yang terakumulasi seharian ini, rasa takut, teror, rasa jijik, dan kebohongan yang ia simpan rapat-rapat, akhirnya menghancurkan pertahanan fisiknya.
Erlyn mencengkeram tepi meja dapur dengan sangat erat untuk mempertahankan keseimbangannya. Pisau sayur di dekatnya nyaris tersenggol jatuh. Napasnya pendek-pendek dan tersengal.
Aku tidak boleh pingsan di sini... kalau aku pingsan, Rara dan Iqbal akan melihatnya... batinnya menjerit putus asa.
Ia mencoba melangkah maju untuk mengambil segelas air, namun kakinya terasa teramat lemas. Penglihatannya semakin buram, berubah menjadi titik-titik hitam yang menutupi pandangannya.
Tepat saat ia kehilangan kesadaran penuh dan tubuhnya melorot ke lantai, suara pintu depan terbuka disertai derap langkah kaki yang familier.
"Erlyn? Aku pulang..." suara Iqbal terdengar lembut dari arah ruang depan, membawa bungkusan martabak di tangan kanannya.
Pria itu melangkah masuk ke dalam rumah, langsung mencium aroma harum masakan bercampur kepulan uap dari dapur. Namun, langkah Iqbal mendadak terhenti saat ia tidak mendapati istrinya menyambut di depan seperti biasa. Ada keheningan yang janggal.
"Ibu di dapur, Ayah!" teriak Rara dari ruang tamu tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.
Iqbal mengernyitkan dahi. Ia meletakkan kunci mobil dan bungkusan martabak di atas meja bufet, lalu melangkah cepat menuju area dapur. Begitu ia melewati ambang pintu dapur, jantung Iqbal seakan berhenti berdetak.
"Erlyn...!" teriak Iqbal panik.
Ia melihat istrinya sudah terduduk lemas bersandar pada kabinet bawah dapur dengan wajah sepucat kertas dan mata yang tertutup rapat.
Tanpa membuang waktu, Iqbal berlari menghampiri, menjatuhkan tubuhnya berlutut di samping Erlyn, lalu merengkuh pundak wanita itu ke dalam dekapannya.
"Erlyn, hei... bangun, Sayang. Kamu kenapa?" suara Iqbal bergetar hebat, dipenuhi kecemasan yang teramat sangat. Ia menepuk-nepuk pipi istrinya pelan.
Perlahan-lahan, kelopak mata Erlyn terbuka. Pandangannya masih berkunang-kunang, namun ia bisa mengenali wajah panik suaminya di hadapannya.
Ia melihat sorot mata penuh cinta, kekhawatiran, dan ketulusan yang luar biasa dari pria itu. Rasa bersalah yang teramat dalam langsung mencengkeram ulu hati Erlyn.
"Mas..." bisik Erlyn sangat lemah, nyaris tak terdengar. Air matanya kembali meleleh di sudut mata, mengalir membasahi pipinya yang dingin.
"Iya, aku di sini. Aku di sini," Iqbal mendekap tubuh istrinya semakin erat, menyalurkan kehangatan. Ia mengangkat tubuh ringan Erlyn dengan hati-hati, lalu membimbingnya berjalan perlahan keluar dari dapur menuju sofa di ruang keluarga, menjauh dari pandangan Rara yang masih asyik menonton televisi di sudut lain ruangan.
Iqbal mendudukkan Erlyn dengan sangat lembut di atas sofa, lalu bergegas mengambilkan segelas air hangat dari meja makan. Setelah Erlyn meminumnya beberapa teguk, warna di wajahnya perlahan-lahan mulai kembali, meski tubuhnya masih lemas tak bertenaga.
Iqbal berlutut kembali di hadapan istrinya, menggenggam kedua tangan Erlyn yang terasa sangat dingin di dalam genggamannya. Tatapan mata pria itu menembus lurus ke dalam mata Erlyn, penuh dengan selidik yang sarat akan kekhawatiran mendalam.
"Lyn..." suara Iqbal terdengar begitu berat, hampir seperti sebuah bisikan yang sarat beban. "Ini sudah kesekian kalinya dalam minggu ini kamu jatuh sakit, lemas, dan terlihat ketakutan seperti orang yang menanggung beban. Katakan padaku... apa sebenarnya yang sedang terjadi?"
Pertanyaan itu meluncur begitu telak, menghantam pertahanan terakhir Erlyn. Jantungnya berdegup liar. Ia menatap wajah Iqbal yang tulus, sementara di kepalanya terbayang ancaman foto-foto Hendi yang siap menghancurkan keluarga ini dalam sekejap.
Ia ingin bicara. Ia ingin menceritakan semuanya malam ini juga agar ia tidak perlu lagi menanggung beban ini sendirian. Namun, bayangan senyum Rara di ruangan sebelah dan ancaman dingin Hendi kembali menahan lidahnya. Tenggorokannya terasa tersumbat oleh batu yang tak kasat mata.
Dengan sisa tenaganya, Erlyn menggelengkan kepala perlahan, berusaha menarik senyum paling meyakinkan yang bisa ia berikan di tengah hancurnya pertahanan mentalnya.
"Nggak apa-apa, Mas..." bisik Erlyn lirih, suaranya bergetar parah. "Aku... aku cuma kelelahan karena urusan rumah tangga akhir-akhir ini. Sungguh, nggak ada apa-apa."
Iqbal terdiam lama sekali. Ia menatap lekat-lekat wajah istrinya, melihat butiran air mata yang masih menyisa di bulu mata Erlyn.
Ada rasa tidak percaya yang terpancar jelas di mata Iqbal, namun Iqbal memilih untuk mengalah malam ini, meski ia tahu persis bahwa topeng yang dikenakan istrinya kini sudah retak parah dan hampir pecah berkeping-keping.
kalau bener, emang bener² sakit sih hendi
tapi semoga gak berlarut larut. rara masih butuh kamu.
paling dia gugat kamu lyn 🫠