Sejak lahir, Emira Prawira hanyalah boneka hidup—dirancang untuk patuh, dibentuk untuk menyenangkan pria yang telah dijodohkan dengannya. Ia menelan setiap penghinaan, tersenyum di depan kamera, dan berpura-pura bahagia sebagai tunangan Marko Gunawan, sang pewaris dingin yang tak pernah sedetik pun memandangnya dengan lembut.
Tapi semua berubah saat seorang pria kembali ke dalam hidupnya.
Daniel Mahendra—konglomerat muda yang dijuluki "sang kaisar", pria paling berkuasa sekaligus paling diidamkan di negeri ini. Di mata dunia ia dingin dan tak tersentuh. Namun di hadapan Emira, ia rela menurunkan seluruh takhtanya. Posesif, memuja, dan tak kenal batas: "Cukup minta, dan akan kuberikan segalanya."
Ketika keluarga yang seharusnya melindunginya justru mengkhianatinya, Emira harus memilih—terus menjadi korban, atau bangkit menjadi wanita yang ditakuti dan dicintai. Di balik senyum lembutnya tersimpan dendam yang membara, rahasia keluarga yang berdarah, dan sebuah dunia kekuasaan yang jauh lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naysol C., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
— Marko Gunawan —
Ketika sedang menyetir, kulihat seorang wanita dikejar-kejar beberapa pria. Awalnya aku tak menaruh perhatian, tapi begitu kukenali wajahnya, ternyata itu Selena, cinta pertamaku. Tanpa ragu aku turun dari mobil dan menghajar para bedebah yang mengejarnya. Selena gemetar ketakutan, bahkan kakinya sampai kehilangan keseimbangan. Kupapah ia ke dalam mobil, tapi ia tak mau melepaskanku.
Beberapa menit kemudian ia mulai tenang, meski suasana jadi agak canggung. Ini pertama kalinya kami bertemu lagi dalam delapan tahun sejak perpisahan kami.
"Terima kasih sudah menolongku," ucap Selena dengan tenang.
Aku berpura-pura acuh. "Aku cuma melakukan apa yang akan dilakukan orang lewat mana pun."
Ia tampak kikuk. "Yah, kalau begitu... selamat tinggal."
Saat menurunkan kakinya dari mobil, Selena meringis kesakitan. Kakinya melepuh karena terlalu banyak berlari. Kuraih lengannya untuk menahannya. "Tunggu, kakimu terluka, jangan bergerak dulu."
Aku turun dari mobil dan membuka bagasi untuk mengambil kotak P3K. Aku berjongkok, mengangkat kaki Selena ke atas pahaku, lalu merawat lukanya dengan hati-hati, seakan menangani sesuatu yang rapuh.
Setelah selesai membalut lukanya, ia kembali mengucapkan terima kasih. Namun kali ini ia menciumku di bibir. Aku tak menolak, tak pula merasa terganggu. Sebaliknya, aku membalas ciuman itu dan memperdalamnya, hingga akhirnya kami bercinta di dalam mobil.
Setengah jam kemudian, kami berpakaian kembali. Sambil merapikan rambutnya, Selena berkata dengan serius, "Marko, mari lupakan yang baru saja terjadi. Ini kesalahan... kamu punya tunangan, dan—"
"Aku tidak mencintainya... dia cuma tunanganku di atas nama saja." Kutangkup wajahnya dan kupalingkan ke arahku. "Aku hanya mencintaimu. Kamu satu-satunya di hatiku."
Selena menepis tanganku, lalu menegakkan tubuh di kursinya. "Meski begitu, kalian resmi bertunangan. Kalau kita bersama lagi, aku akan dipandang sebagai orang yang menghancurkan hubungan kalian. Lagi pula, kamu bisa menyakiti perempuan itu."
Aku bicara dengan nada sinis dan meremehkan. "Menyakiti? Kurasa tidak. Dia bersamaku hanya untuk memanfaatkanku. Dia bahkan melakukan segala hal yang kusukai, sampai-sampai aktingnya demi merebut hatiku itu menjijikkan."
"Aku tak menyangka dia sanggup memanfaatkanmu."
"Itu sebabnya kamu satu-satunya perempuan yang memahamiku dan memperlakukanku dengan tulus... Selena, hanya kamu yang bisa menempati posisi Nyonya Gunawan. Aku bahkan sanggup memutuskan pertunangan ini. Cuma sekali ini aku akan bertanya untuk terakhir kalinya, kamulah yang akan menentukan hubungan kita." Kudekatkan wajahku hingga dahiku menempel ke dahinya, dan sambil menatap matanya aku berkata, "Maukah kamu jadi kekasihku? Dan memulai hubungan kita dari awal?"
Selena mulai meneteskan air mata bahagia. "Mmm... aku mau jadi kekasihmu."
Kami pun berciuman dengan penuh gairah. Kami berdua meneteskan air mata bahagia atas pertemuan ini dan awal baru dalam hubungan kami.
Kami berdua menuju kantor, sebab kami sepakat bahwa setelah rapat dengan CEO Mahendra, kami akan bicara dengan Emira untuk mengabarkan bahwa kami sedang menjalin hubungan dan bahwa ia harus meninggalkan perusahaan. Sejak masuk ke kantor, aku sudah mulai memutus segala hubungan dan koneksi bisnis dengan keluarga Prawira.
Setelah beberapa saat bermesraan dan bercanda dengan kekasih baruku, aku tersadar sudah waktunya rapat. Aku keluar kantor untuk mencari Emira, yang bertugas mengatur segala persiapan pertemuan yang akan berlangsung beberapa menit lagi. Tapi aku dikejutkan kabar bahwa ia sudah keluar kantor sejak setengah jam lalu dan belum kembali.
Kutelepon ponselnya berkali-kali, tapi tak diangkat. Aku pun bergegas dengan geram menemui sahabat Emira agar menghubunginya lewat ponselnya sendiri. Regina hendak menjelaskan ke mana Emira pergi, tapi aku tak sudi mendengar dan memaksanya untuk segera menghubunginya.
* * *
"Emira, CEO Marko menanyakanmu dan—" ucap Regina.
Aku merampas ponsel dari tangan Regina dan berkata dengan geram, "Di mana kamu? Kenapa panggilanku tidak kamu angkat? Kembali ke kantor sekarang juga. Kamu tahu betul CEO Prawira sebentar lagi tiba, para pendampingnya sudah ada di sini."
"Maaf, maaf. Aku cuma keluar sebentar membeli beberapa hal di apo—" jawab Emira.
"AKU TIDAK PEDULI SEDIKIT PUN ALASANMU KELUAR, POKOKNYA—" bentakku. Saat itu Selena memotong, memintaku agar tak terpancing emosi. Sedikit lebih tenang, meski masih marah, aku berkata, "Hei, Emira, kembali sekarang jug—"
Lalu terdengar suara Daniel. "Selamat pagi, Pak Marko. Saya CEO Daniel. Maaf telah membuat Anda menunggu, tapi sekretaris Anda sedang mengantar saya ke ruangan Anda. Jangan lampiaskan kemarahan Anda kepadanya hanya karena saya kurang mengenal arah."
Suaraku langsung gugup. "T-tidak, maafkan saya. S-saya tidak tahu, ini salah paham. Dia tidak memberitahu bahwa sedang mengantar Anda. Saya kira dia membolos dari jam kerjanya."
"Baiklah, supaya tidak menunda-nunda lagi, saya harap segalanya sudah disiapkan untuk memulai rapat. Begitu saya tiba, saya akan langsung menuju ruang pertemuan," ujar Daniel.
Nadaku berubah riang. "Tentu, CEO Daniel, jangan khawatir soal ketepatan waktu, silakan santai saja."
"Terima kasih. Kalau begitu, sampai nanti."
Begitu panggilan berakhir, kuperintahkan agar ruang rapat disiapkan secepat mungkin. Selena bahkan menawarkan diri membantuku menghubungi tim perencanaan agar semuanya siap. Sementara itu aku berada di kantor, bergegas mempersiapkan diri untuk tampil rapi. Aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatan menarik perhatian Daniel agar ia mau berinvestasi di perusahaan dan bersama-sama menciptakan proyek baru yang akan mengantarku ke puncak dunia bisnis. Begitu kontrak ditutup, aku bisa memutus hubungan dengan Emira.
Sebelum berangkat ke kantor, aku sudah membicarakan soal pemutusan hubunganku dengannya kepada orang tuaku. Kupikir mereka takkan setuju. Tapi begitu kusebutkan bahwa kami akan berbisnis dengan keluarga Mahendra, mereka langsung setuju dengan senang hati tanpa keberatan sedikit pun. Mereka bilang merekalah yang akan mengurus pemberitahuan kepada orang tua Emira soal pembatalan pertunangan.