Kisah cinta yang terhalang dengan keegoisan orang tua. Namun kembali dipertemukan oleh takdir setelah semuanya berubah.
Cerita hanya fiktif belaka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
03.12 WIB Dini hari.
Terlihat Emma masih mengoceh-ngoceh sendiri.
"Emma tidur yuk!" ajakan Mila dalam suara parau. Ia sudah sangat mengantuk dengan mata panda nya.
Bukannya tidur. Emma justru menjerit kegirangan sambil menghentak-hentakkan kakinya. Bayi comel itu seolah-olah sedang bermain asyik dengan para malaikat.
"Emmmm!" Mila mencolek gemes pipi Emma.
Tidak terasa sudah dua Minggu Mila menjadi ibu pengasuh Emma. Ia mengikuti semua petunjuk Dokter spesialis Emma dengan benar. Mulai dari memberikan takaran susu yang sesuai dengan pencernaan sang bayi, berjemur dan bermain hingga tata cara menjaga kesehatan lainnya, semua harus diperhatikan dengan sangat detail.
Mila sadar betul untuk menjadi ibu pengasuh Emma, Ia harus berjuang keras menguras pikiran dan tenaga. Selain melihat panduan Dokter, Mila tetap banyak meminta petunjuk dari Bidan Murni serta informasi dari media-media sosial. Semua ia kombinasikan menjadi satu terpadu.
Kendala terberat Mila dalam mengasuh Emma adalah ia harus sanggup bergadang sepanjang malam sampai proses pola tidur bayi itu berganti.
Perkembangan Emma mulai terlihat sehat. Bayi itu tidak pernah lagi mengalami diare yang membahayakan nyawanya. Berat badannya pun sudah berisi. Emma mulai mahir tengkurap sambil mengangkat kepalanya.
"Ayo!"
"Ayo!"
"Bisa-bisa!" ucapan teriakan Mila memberi semangat kepada Emma.
Di celah pintu kamar terlihat Bibi sari sedang mengintai kinerja Mila. Sari merupakan pelayan terpercaya Tyas dan Bagas.
"Sepertinya kali ini pengasuh Emma cukup terampil. Apa dia dari desa si Bos yah?" batin kepo Sari, hatinya merasa ikut senang dengan pengasuh yang baru.
Di Kalimantan. Bagas masih sibuk dengan pekerjaannya. Ia berencana beberapa hari lagi akan kembali ke Jakarta.
"Huh" pungkas Bagas menjatuhkan diri di atas sofa yang empuk. Sebuah Apartemen yang baru-baru ini dibeli olehnya.
"Benar-benar hari yang sangat melelahkan!" keluh Bagas sambil melihat jam dinding sudah berada diangka pukul 17.10 WITA.
"Tlilit!" Ponsel pria itu berdering.
Panggilan datang dari Yanti. Ia adalah polisi wanita bertubuh besar sebagai Bodyguard Emma.
Dua pengasuh lalu yang mengecewakan Bagas. Menuntut ia harus memberikan pengawalan super ketat kepada anak semata wayangnya.
"Maaf Pak! Saya hanya ingin melaporkan, jika semua kamera tersembunyi di kamar baby Emma sudah stand by dan bisa dipantau secara live streaming, baik dari laptop maupun dari ponsel pribadi Bapak.
"Apakah si pengasuh itu (Mila) mengetahui soal ini?" tanya Bagas.
"Tidak Pak!"
"Ok, kerja Bagus!" Puji Bagas sekaligus mengakhiri percakapan mereka.
"Aku curiga, Mila pasti memiliki niat jahat kepada Emma!" Bagas masih diselimuti prasangka buruk yang berlebihan kepada Mila.
Pria itu bangkit dengan cepat lalu membuka mini laptopnya.
"Aku tidak percaya dengan kinerja pengasuh-pengasuh zaman sekarang. Untuk Emma, aku tidak boleh lalai!" Bagas mulai menonton live suasana kamar putrinya.
Bagas terdiam fokus ketika melihat Mila menidurkan Emma dalam gendongan yang penuh kasih sayang layaknya dari seorang ibu kandung.
Ia terus menonton video live streaming itu secara fokus meskipun Mila telah berhasil menidurkan Emma dan meletakkannya dengan lembut di atas kasur.
Bagas terus mengikuti langkah Mila sampai wanita itu masuk ke dalam kamar mandi. Dahi Bagas mulai berkerut tajam dengan mata melotot tegang, jantung berdebar-debar, titik keringat dahi mulai bermunculan ketika Mila perlahan menanggalkan satu per satu pakaiannya di kamar mandi.
Bagas buru-buru menutup layar laptopnya. Jantungnya masih berdetak lebih cepat. Lalu buru-buru mengusap keringat di dahi.
Pria itu bergegas mengambil ponsel.
"Tlilit!"
"Halo Pak!" Sapa ramah Yanti sang bodyguard Emma.
"Kau meletakkan kamera di kamar mandi?" ucap marah Bagas.
"B-bener Pak!"
"Alasannya?"
"Karena di kamar mandi salah satu ruangan paling rawan untuk hal-hal yang membahayakan Pak!" Jawab tegas Yanti.
"Katakan pada si pengasuh itu jangan mandi di kamar mandi Emma. Apa kau sedang menyuruhku untuk melihat seluruh tubuhnya?"
"Oh! Maaf Pak. B-baik kalau begitu!" ucap gugup Yanti.
Tidak berapa lama. Rasa penasaran itu mulai menggerogoti kepala Bagas untuk kembali membuka laptopnya.
Ketika layar sudah terbuka. Bagas masih mendapati Emma tertidur pulas.
Duda muda itu justru lebih menyoroti Mila yang sedang berdandan tipis sedang mengobati mata panda nya. kemudian wanita itu menyisir rambut halusnya. Lanjut ia langsung merapikan kamar Emma yang sedikit berantakan.
Bukan Emma, namun justru Mila dalam pantauan serius dari seseorang mantan kekasih. Antara kepo dan khawatir. Tanpa ia sadari perasaan Nano-Nano itu mulai menyerang dirinya.
Hampir setiap hari dalam waktu senggang, Bagas selalu memantau kerja Mila. Ia mendapati Mila lebih mengutamakan Emma daripada ponselnya. Di kala Emma tertidur. Janda cantik itu juga ikut tertidur. Mila juga suka melamun dan merasa sangat kesepian.
Sesekali Mila terlihat menangis tersedu-sedu di atas sajadahnya. Perasaan yang hanya ingin dilampiaskan kepada Tuhannya saja, ia tidak ingin ada seorang pun yang tau seperti apa perasannya.
"Dia menangis?" batin Bagas dengan raut berpikir bersandar di kursi kerjanya sambil mengelus-elus jenggot tipisnya.
Terkadang pula Mila terlihat menelpon keluarganya di desa.
"Mbak, bagaimana kondisi Ibu?"
"Alhamdulillah, sudah banyak sekali perubahannya Mila, tapi obat tidak boleh putus!" ungkap Wita.
Mendengar hal itu rasa lelah dan pegal Mila kembali bugar karena tujuan utamanya bekerja adalah untuk membeli obat ibunya.
"Bagaimana putri Mas Bagas?" tanya balik Wita.
"Sudah jauh lebih baik Mba."
"Syukurlah kalau begitu!"
"Em. Mba, Mila mau bertanya...(terdiam sejenak) Seperti apa hubungan Mba dengan Mas Yoga?" tanya Mila.
"Hahahaha. Pertanyaan kamu itu lo Mil. Pertanyaan yang tidak masuk akal!" Tawa manis Wita berusaha menyembunyikannya.
"Katanya Alika banyak dibeliin mainan oleh Mas Yoga yah?"
"Kamu tau darimana!" Wita tampak mulai gugup.
"Jawab saja Mba?"
Wita terdiam.
"Mas Yoga yang tiba-tiba datang langsung memberikan banyak mainan kepada Alika. Mbak juga enggak tau?"
"Kalau nanti Mila sudah gajian. Mila akan langsung kirim uangnya. Belikan untuk obat ibu dan ganti mainan yang dibeli Mas Yoga dengan uang. Jangan terima barang apapun dari laki-laki yang bukan Ayah Alika!" Jawab tegas Mila.
"I-iyah!"
"Mila khawatir, Mbak lama-lama punya perasaan khusus kepada Mas Yoga. Capek Mbak- capek terus-terusan menjadi gunjingan orang desa. Kata Ibu Hartati, Mas Yoga sudah punya calon istri di desa. Mila enggak mau, Mbak itu kecewa. Kita ini sudah jadi janda Mbak! Harga diri kita juga dikenal buruk di desa. Untuk saat ini. Fokus lah kepada Ibu dan Alika saja!"
"Iya, kamu juga baik-baik disana!" Angguk sedih Wita mulai berprasangka bahwa selama ini Yoga hanya sedang bercanda kepada dirinya.
"Iyah!" ucap Mila.
"Mbak antar makan siang dulu buat Mas Yoga!" ucap Wita mengakhiri percakapan mereka.
trimakasih banyak kaaaaa🙏🙏🙏🙏 akhir'y pecah telor
bikin karya baru yoook
Doa Bu Wirda tembus ke langit sehingga anak² beliau bisa mendapatkan kebahagiaan,,,
Very cepat datang dong tolong bos Bagas jangan sampai terlambat,,,
Mila jangan keluar nurut apa kata Bagas tetap di dalam mobil saja
Emang paling susah ngurusin anak mertua di lawan takut dosa, sudah bawel ya apalagi monster biawak😂😂😂