Mentari adalah CEO konglomerat besar yang menyamar menjadi karyawan biasa demi mencari cinta sejati. Ia bertemu dengan Bara seorang pekerja yang sangat ulet dan ambisius. Selama tiga tahun ia menjalin hubungan dan diam-diam membantu pria itu membangun perusahaan.
Bara pernah berjanji akan memberikan pernikahan yang megah setelah sukses, tetapi setelah berhasil meraih kejayaan sikap pria itu ternyata berubah.
Pada malam peresmian perusahaan, Vanya, sahabat sekaligus sekretaris Bara menghina dan mempermalukan Mentari. Namun, Bara hanya diam dan berpura-pura tidak melihat.
Kecewa dengan sikap pria itu, Mentari pun pergi dan menghentikan seluruh bantuan yang selama ini diberikannya.
Saat Bara menyesali perbuatannya dan berusaha mendapatkan Mentari kembali, wanita itu telah menemukan kebahagiaan bersama Titan, seorang miliarder yang mencintainya dengan tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 — Pintu yang Mulai Tertutup
Bara menghentikan langkahnya melihat wajah Vanya yang tegang, Ia akhirnya mengesampingkan persoalan pengunduran diri Mentari untuk sementara.
“Ada apa?” tanyanya sambil menatap Vanya.
“Masalah keuangan.” Dua kata yang meluncur dari mulut Vanya cukup membuat langkah Bara kembali cepat.
Begitu pintu ruang rapat terbuka, beberapa kepala langsung menoleh ke arahnya. Para kepala divisi yang sejak tadi menunggu tampak gelisah. Tidak ada satu pun yang berani memulai pembicaraan sampai Bara duduk di kursi utama.
“Apa yang terjadi?” tanyanya tegas.
Kepala keuangan membuka beberapa dokumen yang sejak tadi berada di hadapannya. “Pak Bara, kami sudah menghitung ulang arus kas perusahaan. Ada beberapa pembayaran besar yang jatuh tempo minggu ini, sementara dana yang tersedia tidak cukup untuk menutup semuanya.”
“Berapa kekurangannya?” tanya Bara dengan mata menyipit.
Pria itu menarik napas sebelum menjawab. “Sekitar dua puluh delapan miliar rupiah untuk menutup kewajiban paling mendesak.”
Bara menatapnya tajam. “Dua puluh delapan miliar? Bagaimana bisa sampai sebesar itu? Bukankah pembayaran dari proyek yang kemarin seharusnya sudah masuk?”
“Pembayarannya tertunda,” jawab kepala keuangan. “Pihak mereka sedang melakukan pemeriksaan ulang terhadap dokumen proyek. Mereka belum memberikan kepastian kapan dana bisa dicairkan.”
Bara menyandarkan tubuhnya ke kursi. Rahangnya mengeras. “Berapa lama?”
Kepala keuangan itu menggelengkan kepalanya lemah. “Kami belum tahu.”
Bara semakin kesal mendengar jawaban itu. Ia mengambil dokumen di atas meja dan membolak-balik beberapa halaman dengan cepat. Padahal beberapa proyek besar sedang berjalan, kontrak baru sedang disiapkan. Tapi sekarang semua rencana itu seperti berhenti pada waktu yang bersamaan.
“Bagaimana dengan fasilitas kredit yang selama ini kita gunakan?” tanya Bara.
“Sudah hampir mencapai batas maksimal. Kami sudah ajukan penambahan. Tapi belum disetujui.”
Bara mengetukkan jarinya ke meja. “Bank mana?”
“Kami sudah menghubungi dua bank yang selama ini bekerja sama dengan perusahaan. Keduanya meminta peninjauan ulang karena kondisi keuangan perusahaan.”
Vanya yang sejak tadi berdiri di samping Bara mulai gelisah.
“Kalau begitu cari bank lain,” katanya cepat. “Kita tidak punya waktu untuk menunggu.”
Bara mengangguk. “Aku akan urus sendiri.”
Bara berdiri dan mengambil jasnya. Dalam pikirannya, persoalan ini seharusnya bisa diselesaikan dengan mudah karena namanya masih dikenal. Selama ini ia tidak pernah mengalami kesulitan mendapatkan kepercayaan dari pihak perbankan.
Vanya segera mengikuti Bara keluar dari ruangan. “Aku akan menemani mu,” katanya.
*
*
*
Mobil yang membawa Bara dan Vanya melaju menuju salah satu bank swasta nasional yang sangat terkenal. Bara bahkan sudah mempersiapkan semua dokumen yang dibutuhkan sebelum berangkat.
Di dalam mobil, Vanya beberapa kali memeriksa ponselnya. Wajahnya terlihat semakin tegang.
“Kita pasti bisa mendapatkan pinjaman itu, kan?” tanyanya akhirnya.
Bara menatap lurus ke depan. “Aku yakin,” jawabnya terdengar mantap, tetapi sebenarnya ia sendiri mulai merasa tidak nyaman. Ada sesuatu yang terasa berbeda sejak beberapa hari terakhir. Entah kenapa dia kembali kepikiran Mentari yang tiba-tiba mengundurkan diri dari perusahaan.
Begitu tiba di bank, Bara langsung menemui petugas yang menangani pengajuan kredit perusahaan. Ia menjelaskan kebutuhan dana secara singkat dan menyerahkan dokumen yang sudah disiapkan.
Petugas tersebut menerima berkas itu dengan sopan dan berkata, “Baik, Pak Bara. Kami akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.”
“Saya membutuhkan pencairan secepat mungkin,” tegas Bara.
“Kami mengerti, Pak.” Petugas itu berdiri dari duduknya lalu pergi ke ruangan lain membawa berkas milik Bara.
Bara duduk sambil menunggu. Ia beberapa kali melihat jam tangannya, sementara Vanya duduk di sebelahnya dengan gelisah.
Tidak sampai satu jam, petugas tersebut kembali. Namun ekspresinya tampak berbeda.
“Mohon maaf, Pak Bara,” ucapnya dengan wajah tak seramah sebelumnya.
Bara menatap petugas itu dengan wajah antusias. “Pengajuan kami disetujui, kan?”
Petugas itu terlihat berhati-hati memilih kata-kata. “Pengajuan kredit perusahaan Bapak tidak dapat kami proses lebih lanjut.”
“Kenapa?” tanya Bara seraya mengerutkan keningnya.
“Ini adalah kebijakan dari bagian manajemen risiko, Pak.”
“Saya bertanya kenapa.” Wajah Bara berubah mengeras. Bahkan nada suaranya sedikit meninggi.
Petugas itu membalas tatapan Bara tanpa ragu. “Perusahaan Bapak saat ini masuk dalam daftar pemantauan khusus.”
Bara menatapnya tidak percaya. “Pemantauan khusus? Berdasarkan apa? Bukankah catatan kami baik sebelumnya?”
“Kami tidak memiliki kewenangan untuk menjelaskan secara detail.”
Bara mulai kehilangan kesabarannya. “Saya pemilik perusahaan ini. Saya berhak tahu alasan pengajuan saya ditolak.”
“Saya memahami, Pak. Namun keputusan tersebut berasal dari manajemen risiko dan bukan keputusan dari saya pribadi.”
“Kalau begitu panggil orang yang mengambil keputusan itu.”
Petugas tersebut tampak semakin canggung. “Mohon maaf, Pak. Keputusan ini sudah final untuk pengajuan yang sekarang.”
Bara mengepalkan tangan di atas meja. “Jadi kalian menolak pinjaman perusahaan saya tanpa memberi alasan jelas?”
Petugas itu hanya bisa mengangguk. “Untuk saat ini, iya, Pak.”
Vanya yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara. “Apa ada dokumen yang kurang, atau masalah laporan keuangan, Pak?”
“Tidak.” petugas untuk menggelengkan kepalanya.
“Lalu kenapa?” kejar Vanya.
Petugas tersebut menarik napas pelan sebelum menjawab, “Nama perusahaan Bapak sudah masuk dalam daftar risiko yang diperhatikan oleh beberapa pihak besar di pasar. Kami hanya mengikuti kebijakan internal.”
Kalimat itu membuat Bara terdiam. “Pihak besar?”
“Maaf, saya tidak bisa memberikan informasi lebih jauh.”
Bara berdiri dengan wajah mengeras. Ia tidak lagi bertanya karena tahu petugas tersebut memang tidak akan memberikan jawaban.
Begitu keluar dari bank, Vanya langsung mengeluarkan ponselnya. “Aku akan menghubungi bagian administrasi,” ucapnya tegas. “Mungkin saja ada kesalahan dalam pengajuan dokumen.”
Beberapa menit kemudian, Vanya sudah terhubung dengan salah satu staf bawahannya.
“Kenapa pengajuan kredit bisa gagal seperti ini?” tanyanya dengan suara tinggi. “Kalian sudah memeriksa semua dokumen atau belum?”
Suara dari seberang telepon terdengar mencoba menjelaskan sesuatu.
“Aku tidak mau dengar alasan. Perusahaan sedang membutuhkan dana sekarang, bukan minggu depan,” bentaknya sambil berjalan mondar-mandir di halaman parkir. “Kalian seharusnya tahu sebelum berkas dikirim ke bank!”
Bara berdiri tidak jauh darinya, masih memikirkan kalimat petugas bank tadi. Daftar risiko, pihak besar, pemantauan khusus. Semua itu bukan sesuatu yang terjadi begitu saja.
Vanya akhirnya memutus sambungan telepon dan menghampiri Bara dengan wajah panik. “Mereka bilang tidak ada kesalahan dalam dokumen. Mereka sudah memeriksa semuanya sebelum pengajuan dikirim.”
Tetapi Bara sama sekali tidak menjawab. Pria itu hanya diam dengan pikiran yang harus dicampur di kepalanya.
“Bara?” panggil Vania kali ini dengan mengguncang lengannya.
Pria itu akhirnya menoleh. “Aku rasa ini bukan masalah administrasi,” katanya pelan sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana, kemudian menatap gedung bank di hadapannya dengan rahang mengeras.
Jika hanya satu bank yang menolak, ia masih bisa menganggapnya sebagai keputusan biasa. Tetapi jika beberapa lembaga keuangan mulai mengambil sikap yang sama, berarti ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi. Seseorang sedang memengaruhi persepsi pasar terhadap perusahaannya. Dan orang itu jelas bukan orang sembarangan.
Bara teringat pada beberapa kejadian dalam beberapa hari terakhir. Investor yang tiba-tiba menarik diri. Pembayaran proyek yang tertunda. Fasilitas kredit yang mendadak sulit diperpanjang. Bahkan sekarang, bank yang sebelumnya tidak pernah mempersulitnya ikut menutup pintu. Rasa percaya dirinya yang tadinya begitu besar gini mulai terguncang.
“Aku mau daftar semua pihak yang sudah menarik diri dari perusahaan dalam dua minggu terakhir. Cari tahu siapa yang pertama kali memulai semua ini.”
“Bara, apa kamu merasa ada sesuatu yang tidak beres?” tanya Vania sambil menatap lokasi pria itu.
“Aku merasa ada yang berani bermain di belakangku.” Nada suara Bara terdengar rendah, tetapi jauh lebih serius daripada kemarahan sebelumnya.
Mak boleh yx getok dikit anak ny ,, 🤭
SIM ny blum ad Bu ,, 🤭🤭🤣🤣