Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.
Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu Pertama Dafa? 16.
Sampai saat ini, Azril tahu segalanya. Mulai dari skenario salah tembak Dafa yang malang, sampai pengakuan rahasia Dafa yang sebenarnya menyasar Kinar. Sebagai kapten futsal sekaligus sahabat yang protektif, Azril merasa punya kewajiban moral untuk memastikan Lilis tidak berakhir menjadi badut di drama buatan Dafa.
Gerimis tipis mulai turun membasahi halaman sekolah sore itu.
Di lobi utama, Lilis berdiri gelisah sambil memeluk tas ranselnya. Latihan cheerleader baru saja selesai, dan tubuhnya sudah lelah setengah mati.
"Belum pulang, Lis?" sebuah suara familier memecah lamunan Lilis.
Azril berjalan mendekat sambil menyampirkan jaket varsity futsalnya di bahu. Matanya yang tajam langsung membaca situasi.
"Belum, Zril. Masih nunggu ojek online, tapi dari tadi sibuk terus karena gerimis," jawab Lilis sambil mengembuskan napas panjang.
Azril diam sejenak. Dia merapikan letak tasnya, lalu menatap Lilis lurus-lurus. "Dafa mana? Bukannya status kalian sekarang... pacaran?" Ada penekanan sarkas pada kata terakhir.
Lilis agak tersentak. Dia tahu Azril tidak bisa dibohongi.
"Dafa mungkin masih ada urusan tim basket," kilat Lilis, mencoba defensif meskipun suaranya terdengar ragu.
Azril mendengus pelan, senyum sinis terukir di sudut bibirnya. "Urusan basket atau urusan Kinar Lis?, gua tahu orang itu dari dulu gimana kalau ketemu kinar. Gua tahu dia salah sasaran, dan gua tahu Dafa akan manfaatin situasi ini biar kelihatan move on di depan Kinar. Lu nggak capek jadi tameng?"
Kata-kata Azril menghantam tepat di ulu hati. Lilis menunduk, memainkan ujung sepatunya. "Gua cuma... nggak tahu cara lepasnya, Zril. Semua orang udah terlanjur tahu."
"Makanya, dengerin gua." Azril melangkah satu baris lebih dekat, menghalangi embusan angin malam yang mulai dingin. "Gua nggak suka lihat lu diginiin. Sekarang, ayo pulang bareng gua. Gua bawa helm dua. Nggak usah nungguin cowok yang kepalanya cuma isi cewek lain."
Azril mengulurkan sebuah helm cadangan berwarna hitam ke depan dada Lilis. Gerakannya tegas, penuh proteksi yang tidak bisa dibantah. Lilis menatap helm itu, lalu menatap wajah Azril yang tampak sangat serius.
Rasa lelah akhirnya membuat Lilis mengangguk. Dia meraih helm tersebut.
Namun, baru saja kaki mereka melangkah keluar dari lobi menuju area parkir motor, suara raungan mesin motor sport dua tak memecah keheningan sore.
Brummm! Ckiiiittt!
Sebuah motor sport hitam pekat memotong jalur jalan mereka dengan sangat agresif. Ban motornya berdecit keras, berhenti tepat satu jengkel di depan ujung sepatu Azril. Sang pengendara membuka kaca helm full-face-nya.
Dafa. Napas cowok itu agak memburu, dan jaket basketnya tampak sedikit basah terkena gerimis.
"Mau dibawa ke mana cewek gua?" tanya Dafa, suaranya berat dan matanya langsung mengunci pandangan Azril.
Azril tidak mundur setapak pun. Dia justru menggeser tubuhnya, melindungi Lilis di belakang punggungnya. "Cewek lu? Lu yakin dia cewek lu, Daf? Atau cuma sekadar properti?"
Atmosfer di antara kedua kapten itu mendadak menjadi sangat panas, berbanding terbalik dengan suhu udara yang kian mendingin. Dafa menatap Azril dengan kilat kemarahan yang tertahan, lalu pandangannya beralih pada Lilis yang mengintip dari balik bahu Azril.
"Lis, turunin helm itu. Pulang bareng gua," perintah Dafa tanpa bantahan.
"Dia pulang bareng gua, Daf. Lu telat," balas Azril dingin.
Dafa berdecit, lalu turun dari motornya tanpa mematikan mesin. Dia melangkah maju, langsung meraih pergelangan tangan Lilis dengan lembut tapi tidak bisa dilepas. "Kita butuh kelihatan bareng sore ini. Anak-anak mading lagi nyari bahan. Ini demi konten pacaran publik kita, Lis. Lu lupa kesepakatan?"
Lilis memandang Dafa, lalu memandang Azril yang rahangnya sudah mengeras. Lilis tahu jika dia membiarkan Azril bertengkar, urusannya akan panjang. Lagi pula, status "pacaran" sialan ini memang memiliki konsekuensi yang sudah terlanjur dia setujui.
"Zril... nggak apa-apa. Gua balik sama Dafa aja. Makasih ya," ucap Lilis lirih, mencoba mencairkan ketegangan.
Azril menatap Lilis dengan tatapan kecewa sekaligus khawatir, namun akhirnya dia mengendurkan kepalan tangannya. "Kalau dia macem-macem, telepon gua."
Dafa tidak membuang waktu. Dia langsung menarik Lilis mendekat ke motornya, memberikan helm miliknya sendiri kepada Lilis, sementara dia menggunakan tudung jaketnya. Setelah Lilis naik ke jok belakang, Dafa langsung menarik gas dalam-dalam, meninggalkan area sekolah dan Azril yang menatap mereka dengan tatapan tajam.
Jalanan kota mulai temaram di bawah lampu-lampu jalan yang baru menyala. Angin dingin berhembus kencang seiring motor Dafa yang membelah jalanan dengan kecepatan sedang.
Di kursi belakang, Lilis memeluk tasnya yang ditaruh di tengah, memberi jarak tipis di antara punggung Dafa dan dirinya.
Namun, dari kaca spion, Lilis bisa melihat dengan jelas bagaimana rahang Dafa masih mengatup rapat.
Gurat wajah cowok itu tampak sangat kaku dan tidak santai sejak mereka meninggalkan gerbang sekolah.
Lilis tersenyum tipis. Keheningan ini terasa sangat tidak biasa untuk seorang Dafa yang biasanya hobi tebar pesona dan banyak bicara.
Lilis sedikit memajukan kepalanya, mendekat ke arah telinga Dafa agar suaranya tidak tenggelam oleh deru angin.
"Lu cemburu ya?" tanya Lilis setengah berbisik namun penuh nada menggoda.
Dafa tersentak kecil di atas joknya. Motornya sempat oleng beberapa senti sebelum akhirnya dia berhasil menguasai keadaan kembali.
Dari spion, Lilis bisa melihat mata Dafa melebar kaget.
"Hah?! Apa lu bilang? Cemburu?" Dafa membalas dengan suara sengaja dikeras-keraskan, mencoba menutupi kepanikan. "Gila lu ya! Mana ada sejarahnya Dafa Alfarezel cemburu sama kapten futsal bentukan baphomet begitu!"
"Halah, bohong. Terus ngapain tadi potong jalur pakai acara ngerem mendadak segala? Kalau jatuh gimana? Lu kayak kesetanan tahu nggak," cecar Lilis lagi.
"Itu... itu namanya totalitas aksi! Gua kan udah bilang, itu demi konten pacaran publik! Kalau lu pulang sama Azril, reputasi gua sebagai pacar yang siaga bisa runtuh di depan netizen SMA Wahidin!" bantah Dafa berapi-api, masih berusaha keras mencari alasan yang masuk akal.
"Oh, demi konten ya? Tapi kok sekarang muka lu ditekuk terus kayak cucian belum kering?" goda Lilis lagi, sengaja mencolek pinggang Dafa.
"Lis, diem ya, atau lu gua turunin di lampu merah depan!" ancam Dafa, meski kini sudut bibirnya ikut berkedut menahan senyum kegelian.
Gerimis semakin deras, namun kehangatan aneh perlahan mulai merayap di antara mereka berdua di atas motor yang terus melaju membelah kota.
......................
...****************...
Tbc,