Di siang hari, Arkana Baswara adalah pengusaha paling terhormat di kota, sosok tampan berkuasa yang diperebutkan setiap wanita. Namun ketika malam turun, ia berubah menjadi Sang Iblis: penguasa dunia hitam yang paling ditakuti, seorang pria yang tak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh hatinya.
Salsabila hanyalah gadis penjual bunga miskin dengan satu mimpi sederhana: menjadi dokter dan mengangkat keluarganya dari kesulitan. Sampai satu malam kelam mengubah seluruh hidupnya, dan meninggalkan sebuah rahasia yang harus ia jaga dengan nyawanya.
Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini sang mafia menemukan apa yang selama ini disembunyikan darinya, dan ia tak akan melepaskannya begitu saja. "Kau dan dia adalah milikku," katanya. Tapi Salsabila punya satu tekad: melarikan diri, sejauh apa pun, berapa kali pun.
Namun bagaimana caranya kabur dari seorang pria yang menguasai seluruh kota? Bagaimana caranya membenci pria yang perlahan meruntuhkan setiap tembok di hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 — Papa Kandungku?
"Alika, pertanyaan macam apa itu? Tentu saja tidak, aku ini wanita dewasa," ujar Salsabila.
Wajah Salsabila merah menahan malu. Melihatnya, Arkana geli sekali. Wanita itu tersipu, ia menganggap serius komentar si bocah.
"Alika, kalau orang dewasa sudah cukup umur, mereka semua sudah dewasa. Artinya, mamamu dan Om ini seangkatan. Ia bisa saja menikah dengan pria seumuran Om. Seorang pria mewakili wanitanya, dan tak ada yang lebih baik daripada pria yang sudah mapan dalam hidupnya," ucap Arkana.
"Om, menurut Om mamaku cantik?" tanya Alika.
"Sejujurnya iya. Ia punya percikan kecantikan," jawab Arkana.
Mata Salsabila beradu dengan mata Arkana. Ada apa dengan pria ini? Kenapa ia harus meladeni permainan si bocah?
"Tak usah khawatir, percikanmu bahkan lebih sedikit daripada aku. Aku mau keluar sebentar, sudah mulai gerah juga," balas Salsabila.
Salsabila keluar dari air dan membungkus dirinya dengan jubah mandi, sementara Arkana melanjutkan bermain dengan putrinya beberapa saat lagi.
Ia memakai pistol air untuk menyiram putrinya. Mereka bermain saling menyiram, berenang, menyelam bersama, dan tak jarang Arkana menggendong Alika untuk membawanya ke bagian kolam yang lebih dalam.
Dari kursinya Salsabila terkesan oleh ikatan di antara keduanya dan betapa pria itu ayah yang baik. Ia begitu perhatian pada si bocah, dan seluruh waktunya ia curahkan untuknya.
Di tengah lamunannya, Salsabila tertidur di bawah terik matahari. Arkana membawa Alika masuk ke dalam rumah untuk tidur siang, lalu kembali ke kolam untuk melakukan hal yang sama pada Salsabila.
"Bila, kamu bangun?" tanya Arkana.
Arkana berjongkok untuk menyentuh dan membangunkannya, tapi wanita itu masih tidur lelap. Arkana mengangkat dan menggendongnya ke kamarnya, menyusuri koridor-koridor panjang dengan wanita itu dalam dekapan. Ia mengamati wajah kecilnya yang masih lebam; warna memar masih tampak di sekitar tulang pipinya.
Ia masuk ke kamar Salsabila dan hendak membaringkan wanita itu di ranjang, tapi ia mencengkeram jubah mandi Arkana begitu erat hingga tak mau melepasnya. Arkana membungkuk dan membaringkannya, lalu ikut berbaring di sisi ranjang, tepat di hadapan wanita itu.
Ia bisa merasakan napas hangat Salsabila di dadanya, dan kulitnya meremang tiap kali wanita itu menarik napas.
Semakin wanita itu bernapas, semakin cepat pula "si adik kecil" terbangun. Ia perlu mengendalikan diri agar wanita itu tak berpikir buruk tentangnya. Ia memejamkan mata untuk mengendalikan pikirannya. Namun kemudian wanita itu berbalik memunggunginya, membuat bokongnya menempel tepat pada si adik kecil. Arkana berdoa memohon kekuatan agar tertolong; pikirannya harus dialihkan ke tempat lain. Meski susah payah, akhirnya ia berhasil tertidur.
Setelah seharian di kolam dan bermain dengan putri kecilnya, ia justru lebih lelah daripada mereka berdua.
Salsabila bermimpi tentang sesuatu yang mengerikan. Di dalamnya hanya ada kegelapan dan seorang pria besar yang menyakitinya begitu rupa. Dalam mimpi itu ia menangis dan menjerit. Alam bawah sadarnya berkhianat, dan ia pun menyusup ke sisi rusuk Arkana, memeluknya erat-erat.
"Aku takut, peluk aku," ucap Salsabila.
Arkana terbangun mendadak saat merasakan pelukan erat wanita itu, lalu mendengar Salsabila memohon didekap.
"Jangan takut, aku di sini," bisik Arkana.
Mendengar suara Arkana yang makin serak karena baru bangun tidur, dan menyadari betapa erat ia mendekap pria itu, Salsabila serasa mati oleh malu.
"Apa yang kaulakukan di sini?" tanya Salsabila.
Ia melepaskan diri dari Arkana dengan kasar dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Tapi karena menariknya sekaligus, ia justru menyingkap tubuh Arkana yang bak monumen. Ia bisa melihat tiap otot yang terbentuk sempurna, dan bagi Salsabila itu indah sekaligus membuatnya sangat malu. Ia tak pernah melihat pria berpakaian sedikit begitu.
Sementara itu Arkana tetap berbaring di sisi lain ranjang, telentang dengan kedua tangan di belakang kepala. Posisi itu membuatnya tampak lebih seksi dan memikat. Ia hanya mengenakan celana boxer mungil yang mencetak jelas bentuk kejantanannya.
"Kau tertidur di kursi kolam. Saat kubawa kau tak mau melepasku, jadi tak ada pilihan lain selain tinggal di sini menemanimu. Kenapa kau memandangiku begitu?" ujar Arkana.
Salsabila hampir tak bisa menahan pandangannya dari tubuh ajaib pria yang telah menghipnotisnya itu.
"Apa? Tidak ada! Aku tidak memandang apa pun," sahut Salsabila.
Ia malu sekali melihat pria itu dalam keadaan begitu, apalagi ketika pria itu memergokinya. Ia menutup matanya karena teramat malu dan merona.
Arkana terpesona oleh kepolosan yang masih dimiliki wanita itu. Mungkinkah ia satu-satunya pria dalam hidupnya? Sebegitu traumatiskah malam itu hingga meninggalkan bekas mendalam padanya?
"Kemari, jangan malu," ujar Arkana.
Arkana menarik wanita itu dan memeluknya erat-erat, lalu mendaratkan ciuman kuat di keningnya.
"Lepaskan, kurang ajar," ucap Salsabila.
Salsabila memejamkan matanya, tak sanggup menatap mata Arkana. Selagi mereka dalam posisi memalukan itu, Alika berlari masuk ke kamar mamanya dan menyaksikan pemandangan ajaib tersebut.
"Ooohh, Mama, kamu pacar omku?" tanya Alika.
"Iya, sayang, mamamu dan Om ini pasangan suami istri," jawab Arkana.
"Apaaa? Om, Om ini papaku?" tanya Alika.
Salsabila mencubit pria itu keras-keras atas apa yang ia ucapkan. Arkana mengangkat selimut untuk membisik di telinga wanita itu.
"Yang setimpal bukanlah kecurangan. Sekarang bersikaplah dewasa dan beresi semua ini, atau kau tak akan lepas dari pelukanku," bisik Arkana.
Alika tak sabar menanti jawaban kedua orang dewasa itu.
Salsabila ingin membunuh Arkana. Ia tak ingat apa alasannya dulu melarang hubungan darah itu diungkap, tapi pria itu telah menjebaknya dalam kekusutan ini dengan cepat.
"Mama, jawab, kumohon. Omku ini papaku?" tanya Alika.
Alika berdiri di tepi ranjang menanti jawaban. Salsabila mengeluarkan kepalanya dari dekapan Arkana untuk menjawab putrinya.
"Iya, Nak, dia papamu," ucap Salsabila.
"Tapi papa kandungku?" tanya Alika.
"Iya, papa kandungmu," jawab Salsabila.
Alika melompat ke antara mereka berdua untuk memeluk keduanya. Arkana begitu besar hingga bisa merengkuh kedua wanita itu sekaligus dalam pelukannya. Kebahagiaan Sang Iblis pun lengkap sudah.