DENDAM BERSELIMUT TAWA
Bagaimana jika pemuda paling santai di desa ternyata adalah pewaris takhta yang seharusnya sudah mati?
Namanya Raka. Hidupnya sederhana, hobinya bercanda, dan ia paling tidak suka berurusan dengan masalah orang lain. Baginya, hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan memikirkan hal-hal yang merepotkan.
Namun, kematian seseorang yang telah membesarkannya mengubah segalanya.
Perjalanan untuk mengungkap kebenaran justru menyeret Raka ke dalam rahasia kelam kerajaan Sangkara—sebuah kerajaan yang kini dipimpin oleh raja yang dicintai rakyatnya, tetapi menyimpan dosa berdarah di balik mahkotanya.
Raka tidak tahu bahwa masa lalu yang selama ini tersembunyi perlahan sedang mengejarnya.
Terlebih lagi, di balik senyumnya yang jahil, tersimpan kekuatan misterius dalam kedua matanya: merah seperti kegelapan yang menuntut balas, dan biru seperti cahaya yang melindungi.
Bersama Kirana, sahabat masa kecilnya yang memiliki sihir bayangan langka, Raka harus menghadapi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10- MIMPI
"gimana, apa Raka udah lebih baik" tanya tito.
"ya gitu lah bang, mungkin beberapa hari ini dia gak bisa gerak dulu"
Kirana duduk di bangku yang sudah di siapkan di luar tenda.
"emangnya ada apa, kok bisa dia Sampek kayak gitu"
"eee..." ragu Kirana.
"ada apa..?"
"enggak bang, aku cuma bingung mau jelasinnya. Abang tau sendiri kan gimana cara Raka bertarung, jadi mau jelasinnya susah"alasan Kirana.
tito mengangguk....
"ia si. mau gimana lagi, Raka memang suka maju tanpa mikir."
Kirana tersenyum.
"hehe ia bang"
"oh ia bang, untuk makanan gimana..? Apa aku perlu nyari buruan dulu. gimanapun persediaan kita udah mulai menipis kan."
"untuk itu, kamu gak usah mikirin. Tadi anak anak beberapa udah pergi berburu, katenya ada yang ngeliat rusa di pinggir bukit"
"rusa...?"
"bukannya hutan ini kosong bang, kami tadi juga udah ke sana tapi gak ada hewan satupun. Apa yakin itu binatang biasa.? Bukan binatang iblis."
tito menggeleng...
"tadi sudah ku pastikan kalau itu binatang biasa, bukan binatang iblis. Lebih baik sekarang kamu istirahat, kondisimu juga gak terlalu baik kan.?"
Kirana mengangguk.
"ya udah bang, aku pergi ke tendaku dulu. Badanku juga lagi sakit semua"
tito mengangguk.
Setelah kepergian Kirana, salah satu pengawal menghampiri Tito.
"bang, apa gak sebaiknya kita kasih tau yang sebenernya ke nona Kirana dan tuan Raka"
kini Tito menatap ke tenda Kirana dan Raka yang bersebelahan.
"enggak bisa, Mbah udah mewanti-wanti hal ini gak boleh sampai ketahuan"
"tapi kan bang, bukannya akan lebih nyakitin kalau mereka tau hal ini setelah semuanya benar benar terjadi."
Tito menghela napas beratnya.
"itu lebih baik, dari pada membuat mereka panik dan memaksa pergi. Sekarang keselamatan mereka berdua adalah prioritas kita."
di tempat lain, tepatnya di sebuah hutan pinus dekat dengan kerajaan.
Raka tiba tiba tersadar, di depannya kini banyak sosok mengenakan jubah hitam yang tengah mengejar.
kini tubuhnya terombang ambing dalam dekapan seseorang, Raka mendongak.
Melihat rahang tegas pria dewasa dengan darah membasahi hampir seluruh wajah.
Bahkan darah itu sesekali menetes ke wajahnya.
Di sebelah pria itu, ada juga wanita dengan baju biru bercampur merah karena darah yang ikut berlari.
Keduanya terus berlari, Tak peduli luka sudah ada di mana mana, mereka berdua tetap terus melangkah.
Raka berusaha memanggil, namun tenggorokannya tak bisa di gerakkan.
Hanya tangisan takut yang keluar.
saat itu, sepasang kekasih itu berhasil mengelabuhi langkah para sosok yang mengejar.
Mereka bersembunyi di luar hutan pinus.
Mereka kini benar benar berada di hutan rimbun, namun walau telah bersembunyi.
Jejak mereka tetap terlihat, karena darah mengikuti langkah mereka.
"nak, bawa surat ini. Di sini ada petunjuk langkahmu" ungkap seorang wanita cantik sambil memberikan 2 surat sekaligus.
wanita itu tetap tersenyum. Senyum yang telah lama ia rindukan.
senyum yang mampu menenangkan dan menguatkan hati Raka di kondisi apapun.
"Arya, cepatlah lari. Berusahalah tetap hidup, tenang aja ayah dan ibu akan menyusul tapi kami punya sedikit kendala tapi tenang aja, kami pasti akan menyusul"
Raka ingin menggeleng, ia tau itu adalah kebohongan terbesar dari sang ibu.
Namun saat ini dia tak mampu melakukan apapun.
Bahkan saat sang ibu dan ayah menghadang para sosok berjubah hitam itu, Raka hanya diam.
Di depan matanya pertarungan terjadi, namun karena ada sesuatu yang pernah di makan oleh kedua orang tuanya.
mereka sama sekali tak mampu mengeluarkan kekuatan sejatinya.
Alhasil mereka terkena serangan beberapa kali, sampai beberapa bagian tubuh terpotong.
Tubuh kedua orang tuanya di seret bagai sampah, namun saat itu sang ibu tersenyum ke arahnya.
"anak ibu jangan nangis, kamu tetaplah di sana. Ibu dan ayah tak apa, nanti kamu menyusul."
mendengar transmisi suara rada ibunya ini, Raka benar benar tak bisa hanya menonton lagi.
Ia bersikeras berteriak.
"ayah ibu...." teriaknya.
Namun saat tau situasi, Raka menatap ke sekitar.
Bukan di pinggir perbatasan hutan pinus dan hutan rimba.
Tapi sepanjang mata memandang hanya terlihat tenda.
Tirai yang menjadi penutup tenda tak lama terbuka, menampilkan Kirana yang sedikit berlari mendekat.
"ada apa.." tanyanya panik.
"tidak, aku tak apa." jawab Raka.
"tak apa bagaimana, jelas jelas kamu teriak. Apa lagi ini"
Kirana mengambil saputangan dan mengelap ke wajah Raka yang penuh keringat.
Lalu ia mengambilkan air.
"apa bermimpi buruk...?"
Raka mengambil cangkir yang di berikan Kirana.
"ya, sedikit bermimpi tentang masa lalu"
Kirana mengelus pundak Raka.
"tenanglah, semuanya sudah terjadi. kamu masih ada aku, Mbah dan para warga desa lainnya. Walau kami tak bisa merubah kejadian masa lalu, atau membuatmu melupakan kenangan buruk, tapi kamu perlu ingat kami adalah keluargamu. Kamu bisa bersandar untuk sedikit meredakan semuanya"
"aku tau itu, sebelumnya terima kasih telah mau menjadi saudaraku."
Beberapa minggu berlalu, kini Raka sudah pulih sepenuhnya.
Raka terbangun di pagi hari karena suara suara berisik.
"ada apa ini, kenapa berisik sekali." ucapnya.
Namun saat ia bangun, tak ada suara apapun di sekitarnya.
"pangeran... Pangeran.. Apa anda bisa mendengar suaraku"
"kamu..." Raka akhirnya sadar kalau suara mengganggu itu bukan dari sekitar.
"ada apa membangunkanku sepagi ini"
"maaf pangeran, hamba tak bermaksud. Tapi saya ingin memberi tahu hal penting."
"hal penting...? Apa itu".
"apa tuan ingat tentang orang orang kerajaan di hutan dekat desa...?"
"ada apa dengan mereka...? Apa kamu sudah tau tujuan mereka"
sosok itu mengangguk walau Raka tak dapat melihatnya.
"tadi tak sengaja aku mendengar siang ini mereka akan menyerang desa, ingin membunuh orang yang bernama Sarwo"
mendengar ini Raka langsung meremas tempat tidurnya.
"maaf pangeran, aku tau mereka penting bagimu. Tapi aku mungkin tak bisa banyak membantu, jika aku maju maka peperangan antar dua kerajaan bisa terpicu."
Raka mencoba menyetabilkan napasnya.
"baiklah, kau terus Awasi. Aku akan menyusul ke sana"
"tapi pangeran, keselamatan anda yang utama. Lagi pula kekuatan mereka tak selemah itu"
namun Raka tak mendengarkan hal itu, ia memilih memutuskan komunikasi itu.
Lalu ia bersiap dengan perlengkapan penuh.
"tuan Raka, ada apa anda buru buru" tanya penjaga.
"di mana bang Tito" tanya Raka.
"bang Tito, ada di meja makan bersama yang lain. Aku ke sini mau membangunkan tuan muda Raka untuk sarapan"
Raka melambaikan tangannya, ia menghampiri meja makan.
"kita pulang sekarang" ucap Raka.
Sepontan hal ini membuat semua yang ada di meja makan langsung menatap ke arahnya dengan bertanya tanya.