NovelToon NovelToon
Dukun Gadungan

Dukun Gadungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:536
Nilai: 5
Nama Author: Al-Ashar

Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pensiunan Tentara dan Penggerebekan Kamar Ritual

Keringat dingin membasahi pelipis Darto. Pensil di jemarinya gemetar hebat saat menatap Pak Bintoro yang berdiri tegap di hadapannya. Dada pensiunan polisi militer itu tampak meluas di balik kemeja jalurnya, sementara matanya menatap Darto dan Bowo bagaikan elang menatap dua ekor anak ayam yang menyembunyikan bangkai.

"P-Pak Bintoro... Nyuwun sewu," gagap Darto, mencoba tersenyum seolah-olah semuanya baik-baik saja. "Ki Mamat lagi... lagi khusyuk menyucikan jiwa pasien. Ndak bisa diganggu sembarangan, Pak. Nanti auranya pudar..."

"Oalah, aura pudar atau racun nyamuknya habis?" potong Pak Bintoro dengan nada tajam tanpa kompromi.

Pria berbadan tegap itu tidak mau buang-buang waktu. Ia mendorong pelan meja pendaftaran hingga kotak kardus mi instan tempat uang pendaftaran bergeser. Dengan langkah tegap yang mantap, Pak Bintoro menembus barisan pasien yang sedang berbisik-bisik ketakutan dan menerobos masuk ke dalam lorong rumah Mamat.

"Pak Bintoro! Jangan, Pak! Nanti kena santet Brajamukti!" teriak Pak RT Sugino panik sambil mencoba menahan armadanya dari belakang. Namun, ketegasan mantan tentara itu mengintimidasi semua orang.

Di dalam kamar belakang, Mamat sedang duduk santai sambil menghitung kembali lima juta rupiah dari Pak Hidayat. Ia baru saja mau menyulut batang rokok kretek ketiganya ketika tiba-tiba—

BRAAAKKK!

Pintu kamar belakang yang dilapisi kain hitam kusam itu ditendang dari luar! Pintu kayu lapuk itu terhempas menghantam dinding papan, menciptakan dentuman keras yang membuat Mamat melompat dari kursi kayu ukirnya hingga lembaran uang lima juta rupiah berhamburan ke udara bak hujan duit!

"Astagfirullah hal adzim! Sapa itu?!" jerit Mamat histeris. Keris bengkoknya yang terselip di pinggang hampir saja merosot jatuh lewat celah sarung hitamnya.

Pak Bintoro melangkah masuk ke dalam kamar. Matanya yang tajam langsung menyapu sekeliling ruangan yang dipenuhi asap tebal. Bau menyengat racun serangga rasa jeruk, uap kapur barus, dan bekas mesiu langsung menyengat hidung pensiunan tentara itu.

Di belakang Pak Bintoro, puluhan warga—termasuk Pak RT Sugino, Bu Siami, Mbak Wiwin, dan Mbak Rini—berdesakan di lorong pintu sambil mengintip penuh rasa ingin tahu dan cemas.

"Mamat!" bentak Pak Bintoro dengan suara bass yang menggelegar, memicu kepanikan kecil di antara emak-emak Kalisari. "Apa-apaan asap beracun ini?! Kamu mau mengobati orang atau mau membasmi kecoak sekampung?!"

Mamat dengan cepat mengontrol kepanikannya. Ia memasang raut wajah angkuh khas Ki Mamat Sastrogati, membusungkan dada kerempengnya, dan menunjuk Pak Bintoro dengan gaya ala wali gaib.

"Langkahmu sungguh lancang, Bintoro!" gertak Mamat dengan suara diperberat. "Kamu telah merusak batas ghaib tempat penyucian ini! Keris Brajamukti bisa murka dan memancarkan radiasi panas ke tubuhmu!"

Pak Bintoro bukannya takut, ia justru tersenyum sinis. Langkah kakinya makin mantap mendekati meja sajen Mamat. Tanpa ragu sedikit pun, tangan tegap Pak Bintoro menyambar kain hitam yang menutupi bagian bawah meja sajen Mamat dan menariknya dengan satu sentakan kencang!

SRAAAT!

Kain hitam terlepas. Dan di sana, tergelar dengan sangat jelas rahasia "dapur ghaib" milik Mamat:

Dua botol obat nyamuk semprot aerosol rasa jeruk yang sudah penyok.

Tiga bungkus kapur barus tumpuk yang sebagian sudah dihancurkan.

Senter LED kepala warna merah yang masih menyala.

Botol minyak kayu putih ukuran besar yang tinggal separuh.

Dan dua kantong plastik bekas petasan banting yang terbuang di dekat kaki meja!

Warga yang mengintip dari lorong pintu mendadak terhenyak diam. Suasana menjadi hening seketika.

"Gusti Allah..." bisik Bu Siami dengan mata membelalak lebar. "I-Iku kan obat nyamuk rasa jeruk yang dibeli dari toko saya kemarin!"

Pak Bintoro memungut botol obat nyamuk semprot itu, lalu mengacungkannya tinggi-tinggi di hadapan Pak RT Sugino dan seluruh warga Kalisari.

"Lihat ini, warga sekalian!" seru Pak Bintoro dengan nada penuh wibawa pembongkar kejahatan. "Ini dia ilmu 'kesaktian' Ki Mamat kalian! Semburan api ghaib itu cuma racun mesiu petasan banting! Asal-usul kabur mistis ini cuma kapur barus sama obat nyamuk semprot murah! Dan aura merah yang kalian kagumi itu cuma pendaran senter LED lima belas ribuan!"

Pak RT Sugino melongo, sepedanya di luar hampir roboh. "B-Beneran obat nyamuk semprot, Pak Bintoro?"

Mbak Wiwin yang berdiri di barisan depan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Wajah cantiknya seketika pucat pasi. Ia mengingat kembali momen saat Mamat menepuk punggungnya di bawah pendaran cahaya merah yang ternyata berasal dari senter LED konyol tersebut!

"Ki Mamat..." suara Mbak Wiwin terdengar gemetar, bercampur antara malu, marah, dan kecewa yang amat sangat. "Jadi... jadi selama ini sampeyan cuma bohongi saya? Pakaian dalam hijau saya di lemari itu..."

Seluruh pandangan mata warga kini tertuju tepat ke arah Mamat. Tatapan kekaguman dan rasa takut yang tadi pagi membumbung tinggi, kini berubah menjadi gelombang kemarahan massal yang sangat mematikan!

Darto dan Bowo yang berdiri di belakang Pak Bintoro perlahan-lahan menggeser kaki mereka, bersiap untuk kabur membelakangi pekarangan.

Mamat berdiri kaku di tengah kamar. Keringat bercucuran deras melintasi dahi hingga menetes ke ujung dagunya. Panggung kemewahan, uang jutaan rupiah, serta julukan "Ki Sastrogati" hancur berkeping-keping hanya dalam hitungan detik.

"Mat... Mamat!" bentak Pak RT Sugino dengan wajah memerah karena merasa dipermalukan setengah mati. "Kamu... kamu beneran nipu saya soal Si Jalak?! Ayam saya beneran kamu yang sembunyikan di bawah pohon jambu?!"

"Mamat penipu!" teriak Bu Tejo dari balik kerumunan. "Dahi saya panas kemarin ternyata cuma diusap minyak kayu putih! Kembalikan uang sajen saya, Mamat!"

"ARAK MAMAT KELILING KAMPUNG! GEBUG DUKUN GADUNGAN!" teriak seorang pemuda kampung dari pekarangan depan.

Suasana seketika menjadi chaos! Puluhan warga mulai mendorong pintu dan mencoba menerobos masuk ke dalam kamar belakang untuk menghakimi Mamat!

Mamat yang sadar nyawanya sedang di ujung tanduk, tidak lagi memikirkan wibawa atau gelar dukunnya. Naluri bertahan hidup seorang pengangguran sejati langsung mengambil alih seluruh sarafnya.

"DARTO! BOWO! KABURRRR!" jerit Mamat histeris.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Mamat menyambar lima juta rupiah yang berhamburan di atas tikar, memasukkannya secara serakah ke dalam lipatan sarung hitamnya, lalu melompati meja sajen hingga tempat pembakaran kuningan terguling!

PRANGGG!

Mamat menerjang jendela kamar belakang yang terbuat dari papan kayu kusam. Dengan gerakan nekat penuh adrenalina, Mamat menendang papan jendela hingga jebol dan melompat keluar menuju pekarangan belakang rumahnya!

BRUK!

Mamat mendarat kaku di antara semak belukar dan rumput liar di bawah pohon jambu air. Sarung hitamnya sempat tersangkut ranting hingga robek di bagian paha, tetapi Mamat tidak peduli. Ia bangkit berdiri dan berlari sekencang-kencangnya menuju kebun pisang Kali Garang!

"JANGAN BIARKAN DIA KABUR! KEJAR MAMAT!" teriak Pak Bintoro sambil memimpin rombongan pemuda kampung menerobos keluar lewat lorong samping rumah.

Malam yang baru saja merayap di Kampung Kalisari mendadak riuh oleh suara bentakan, teriakan, dan ketukan kentongan pos ronda yang dipukul beruntun.

TOKEK-TOKEK-TOKEK-TOKEK!

"DUKUN PENIPU KABUR! KEJAR MAMAT!"

Mamat berlari bagaikan kesetanan di tengah rimbunnya kebun pisang di tepi Kali Garang. Napasnya memburu kencang, dadanya serasa mau meledak, dan kedua kakinya yang tanpa alas kaki berkali-kali tertusuk duri dan ranting kering. Sarung hitamnya yang robek kini diikatkan kencang di pinggangnya agar tidak melorot, sementara tangan kanannya menggenggam erat tumpukan uang lima juta rupiah di dalam saku celana pendeknya.

Keris Bengkok Brajamukti yang tadi dibanggakkannya kini berguncang-guncang konyol di pinggang Mamat, sesekali memukul paha kirinya hingga memar.

Dari kejauhan di belakangnya, Mamat bisa melihat kilatan cahaya senter warga dan dengupan langkah puluhan orang yang sedang memburunya.

"Jancuk! Jancuk! Kenapa jadi begini?!" maki Mamat sambil terengah-engah, terus menerobos semak belukar tanpa arah.

Di dekat belokan rumpun bambu tua, dua sosok tubuh tiba-tiba melompat keluar dari balik semak-semak dan menubruk Mamat dari samping!

"AGHHH! AMPUN PAK BINTORO!" jerit Mamat sambil mengangkat kedua tangannya menutup kepala.

"Mat! Ini aku, Darto sama Bowo!" bisik Darto cepat sambil membungkam mulut Mamat dengan telapak tangannya yang bau terasi.

Mamat membuka matanya. Di hadapannya, Darto dan Bowo berdiri dengan wajah penuh jelaga, napas tersengal-sengal, dan baju yang robek-robek akibat menerobos pagar bambu belakang.

"To! Wo! Gimana ini?!" bisik Mamat panik setengah mati. "Warga Kalisari mengamuk semua! Rumahku gimana?!"

"Rumahmu sudah dikepung warga, Mat!" sahut Bowo dengan mata melotot. "Pak RT sama Pak Bintoro lagi menyisir kebun pisang ini! Kalau kita ketangkap, kita bertiga bisa dijadikan adonan krupuk sama warga!"

"Terus kita harus kabur ke mana?!" tanya Mamat panik.

Darto merogoh sakunya dan mengeluarkan uang komisi seratus ribuan yang tadi diberikan Mamat. "Uang pendaftaran di depan tadi sempat tak amankan dua juta rupiah! Kita harus kabur dari Kampung Kalisari malam ini juga, Mat! Kita sembunyi di kota sampai suasana dingin!"

Mamat menelan ludahnya, menatap dua sahabat karibnya yang kini senasib sepanggungan dengannya. Kerajaan dukun gadungan "Ki Mamat Sastrogati" yang dibangun di atas kepulan asap kapur barus dan obat nyamuk semprot resmi runtuh total dalam kurun waktu tidak sampai empat puluh delapan jam.

Namun, di dalam saku celana pendek Mamat, tersimpan lima juta rupiah tunai—ditambah dua juta rupiah yang diamankan Darto. Total tujuh juta rupiah! Sebuah modal yang sangat cukup untuk memulai petualangan baru di luar Kampung Kalisari.

Suara langkah warga dan kilatan cahaya senter makin mendekat ke rumpun bambu tempat mereka bersembunyi.

"Tuh arah sana! Tadi ada suara gesekan daun pisang!" teriak suara pemuda kampung dari jarak lima puluh meter.

Mamat membetulkan letak ikatan sarung robeknya, meremas gagang Keris Bengkok Brajamukti untuk terakhir kalinya, lalu menatap Darto dan Bowo dengan senyum nekatnya yang tak pernah padam.

"Darto, Bowo..." kata Mamat lirih tapi penuh ketegasan. "Malam ini, Ki Mamat Sastrogati resmi pensiun! Saatnya kita hijrah ke kota!"

"SIAP, BOS!" bisik Darto dan Bowo kompak.

Dengan gerakan mengendap-endap yang lincah, ketiga pemuda penipu itu merayap turun ke dasar Kali Garang, menyeberangi air sungai yang dingin di bawah kegelapan malam, dan menghilang menembus batas Kampung Kalisari.

Di belakang mereka, Kampung Kalisari masih riuh oleh suara kentongan dan teriakan warga yang tertipu. Sementara di depan mereka, jalanan kota Semarang yang luas menanti aksi-aksi konyol dan penipuan-penipuan baru dari Mamat dan kawan-kawannya—sebuah akhir dari babak dukun gadungan Kalisari, sekaligus awal dari petualangan komedi gila yang jauh lebih besar di masa depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!