NovelToon NovelToon
Saga Delapan Kristal

Saga Delapan Kristal

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Action / Anime / Tamat
Popularitas:124
Nilai: 5
Nama Author: AryaAulani

Seorang pengembara, lulusan pelatihan bela diri di distrik paling selatan, diutus gurunya berkelana untuk mencari tahu identitas sebuah ancaman misterius. Ia bukan pahlawan terpilih, hanya seorang petarung tangguh yang percaya diri pada kemampuannya. namun Keyakinan itu hancur, pada suatu hari, ketika sebuah entitas yang membenci manusia muncul dan menyerangnya. Ia melawan sekuat tenaga, namun kalah telak. Entitas itu lalu menyerap kedelapan kristal dan membawanya kabur ke langit, untuk dipersembahkan kepada tuannya, sang boss entitas, sementara si pengembara tergeletak pingsan.
Ketika ia sadar, dunia sudah berubah. Tanpa kristal penyeimbang, kawanan makhluk kroco keluar dari persembunyian, mendirikan kemah di mana-mana, dan menjarah harta serta persediaan makanan manusia. Mampukah seorang pengembara mengembalikan kedelapan kristal tersebut ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AryaAulani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 PULANG

Dua hari di jinfa berlalu seperti mimpi yang terlalu tenang.

Aku lebih banyak terbaring di kasur tipis dengan perban melilit dada dan bahu, sementara tabib jinfa mengganti ramuan tiap pagi dan sore. Iyan memasak bubur yang gosong, lalu bubur yang terlalu asin, dan akhirnya bubur yang cukup layak setelah Ara turun tangan dan mengusirnya dari dapur. Vivi tidur di bantalku kecuali saat makan, dan Haris, dengan lengan kiri terbalut kain dan separuh wajahnya pucat, sesekali menengok dari ambang pintu hanya untuk berkata,

"Masih hidup?" lalu pergi lagi tanpa menunggu jawaban.

Pagi hari ketiga, aku sudah bisa berdiri tanpa bertumpu pada dinding.

"Haris san, sepertinya Kami harus pulang," kataku pada Haris di teras, tempat kami pertama kali minum teh bersama. "Kak Cecilia harus tahu soal batu-batunya."

Ia menyesap tehnya perlahan. "Oh yasudah, pergilah. Jalan kaki lima hari terlalu lama untuk tubuh remuk."

"Kalo guru sendiri?"

"Aku akan tinggal beberapa waktu sampai lenganku bisa memegang belati lagi." Ia melirik tangannya yang berbalut dan tersenyum tipis. "Lagipula, latoona butuh seseorang yang membantu membangun ulang kanal-kanalnya."

Aku membungkuk dalam-dalam. Tak ada kata yang cukup, jadi aku diam. Haris menepuk kepalaku dengan tangannya yang sehat, kasar dan hangat, lalu masuk ke aula tanpa menoleh. Aku tahu itu caranya menyembunyikan sesuatu.

Di halaman depan, Ara sudah menunggu dengan tiga buntalan besar.

"Eh Ara, bukannya ini terlalu banyak?" kata Iyan, menimang satu yang beratnya membuat bahunya turun. "Kami hanya pulang aja kok, Tidak mendaki gunung."

"Ini untuk jaga-jaga." Ara menyodorkan buntalan kedua padaku. "Di dalamnya ada Roti, daging asap, buah kering, ramuan penyembuh dari tabib kami, perban, dan teh melati. Ada kue beras juga, tapi itu untuk Vivi, jangan sampai Iyan yang makan."

"Woi, Aku tersinggung nih," gumam Iyan.

"Lalu ini juga. .."

Ia mengeluarkan selembar kain terlipat rapi dari buntalan terakhir dan membukanya. Jubah pengembara, warna biru, dengan jahitan halus di tepinya dan satu simpul sederhana di bahu.

"Karena jubahmu hancur kena racun Anchor," katanya sedikit kikuk, tak menatapku langsung. "Ini tadi aku menjahit sampai dua malam. Jadi... jangan sampai rusak lagi ya..."

Aku menerimanya dengan kedua tangan. Kainnya hangat dan wangi bunga. Aku nyaris tak bisa bicara.

"Terima kasih, Ara."

"Sama sama. Silahkan di pakai saja." Ia menyilangkan tangan, pipinya merah. "Oh iya satu lagi."

Ia melangkah ke tengah halaman berpasir, membuka telapak tangan kanannya, dan cahaya keperakan berkumpul di sana. Aku mengenalnya. Teknik gerbang milik Anna.

"Kamu juga bisa membuka portal teleportasi?" tanya Iyan.

"Bisa dong" jawab Ara tenang. "aku pernah melapor ke Sendira, jadi aku tahu jalannya."

Ia menghentakkan telapak tangannya ke tanah. Cahaya itu meledak tanpa suara, melebar menjadi lingkaran putih, lalu tanah di tengahnya ambles menjadi pusaran berputar yang berdengung rendah.

Aku dan Iyan saling pandang.

"Ah rasanya aku tidak mau didorong lagi," bisik Iyan.

"Aku juga."

"Kalian melompat sendiri aja," kata Ara, dan senyum jahilnya muncul, "atau mau kudorong."

Kami melompat.

Sebelum cahaya menelanku, aku sempat menoleh. Ara berdiri di tepi lingkaran dengan rambut hitam tertiup angin, dan ia mengucapkan sesuatu tanpa suara, tapi aku membaca bibirnya.

Kita belum selesai latihan.

Aku tersenyum, dan dunia berputar.

Kali ini tak ada jeritan.

Kami mendarat di atas paving batu yang kukenal, tepat di depan gerbang Sendira. Dinding logam kelabu menjulang di hadapan kami, lampu-lampu biru di menara berkedip tenang, dan udara sore membawa aroma besi dan sungai.

"Tidak ada yang muntah kan?," kata Vivi, bangga.

Iyan memegangi perutnya. "Aku..hampir."

Gerbang besar itu terbuka sebelum kami mengetuk.

Empat sosok berdiri di baliknya. Cecilia di tengah, rambut peraknya terurai dan busur bercahayanya tersampir di bahu. Di kirinya, Robert dengan perisai hitam raksasa di punggung dan senyum lebar. Di kanannya, Hana dengan jubah birunya, bola cahaya kecil melayang di telapak tangannya. Dan sedikit di belakang, bersandar santai pada tiang gerbang, Dax dengan senyum miringnya.

"Wah, pulang juga kalian," kata Dax. "Aku kira kalian sudah buka kedai di Lembah Embun."

"Hei, Dax," tegur Hana.

"Hahahahah....Aku hanya bercanda kok."

Cecilia tak ikut tertawa. Ia menatapku dari ujung kepala sampai kaki, lalu pada perban yang mengintip dari kerah bajuku, lalu pada Iyan yang masih pucat, dan sorot matanya melembut.

"Arka," panggilnya. "Bisa kemari sebentar?."

Aku melangkah maju. Jantungku berdebar tanpa alasan jelas. Aku mengira akan ditegur karena membawa luka sebanyak ini, atau ditanya di mana batu-batunya.

Cecilia mengangkat tangannya dan menyentuh lencana kelabu bersudut delapan di dada kiriku. Dengan satu gerakan halus, ia melepaskan peniti dan mencopotnya.

"Kak, Cecilia?"

"Diam dulu sebentar."

Dari saku jubahnya, ia mengeluarkan lencana lain. Bentuknya sama, delapan sudut, tapi logamnya perak mengilap dan di tengahnya terukir satu garis tipis berwarna emas. Ia menyematkannya di dada kiriku dengan hati-hati, menepuknya sekali, lalu mundur.

"Iyan, kamu bisa kemari sebentar?"

Iyan terlonjak. "Aku?"

Prosesnya sama. Lencana kelabu dicopot, lencana perak bergaris emas disematkan. Iyan menunduk menatapnya seperti melihat sesuatu yang mustahil.

"Selamat," kata Cecilia, dan senyumnya terbit, hangat dan bangga. "Mulai hari ini, pangkat kalian berdua adalah ranger tingkat master."

Hening sesaat.

"Master?" Iyan hampir berteriak. "Aku? Aku yang gadanya patah tiga?"

"Itu gada, Robert yang mematahkannya kan?," sahut Robert datar.

Tapi aku tak ikut tertawa. Aku menatap lencana di dadaku, lalu menatap Cecilia dengan dahi berkerut.

"Kak, aku bingung. Kata Guru Haris, syarat naik pangkat adalah bertarung sambil disaksikan seorang pilar. Kami belum melakukan apa pun di depan Kakak."

"Kata siapa, tentu saja sudah."

"Maksudnya?"

Cecilia menoleh pada Hana. Hana mengangkat bola cahaya di telapak tangannya. Permukaannya beriak, dan di dalamnya muncul bayangan samar: jalan yang hancur, puing yang terbakar, malam yang penuh api. Aku melihat diriku sendiri, berlutut dengan pedang di tanah, dan Haris menahan tubuhku.

Napasku tertahan.

"Bola ini memantau perjalanan kalian sejak berangkat dari Sendira," jelas Hana lembut. "Bukan untuk memata-matai, tapi untuk memastikan kalian bisa ditolong kalau terjadi sesuatu. Kami tak bisa melihat semuanya, hanya potongan-potongan penting."

"Kami melihatmu di Artheria," kata Cecilia, "dan di kemah-kemah kroco di sepanjang jalan. Tapi yang paling jelas adalah malam di Latoona." Suaranya merendah. "Aku melihat kalian berdua, bersama Haris, Si Pilar Insting, menghadapi Anchor dan Hanzo."

"Dan itu juga pasti bukan kemenangan yang mudah kan?," lanjut Cecilia. "Aku melihat bagaimana kamu hampir mati di rantai Hanzo. Aku melihat Iyan menahan serangan terakhirnya demi memberimu waktu. Aku melihat kalian berdiri lagi setelah semua yang membuat orang biasa menyerah." Ia menatap

kami bergantian. "Itu bukan setara pemula lagi."

"Syaratnya kan memang disaksikan seorang pilar," kata Hana sambil tersenyum tipis. "Tapi Haris ada di sana, bertarung di samping kalian, dan menjadi saksi yang paling sah. Aku dan Cecilia hanya menambahkan mata kami."

Aku terdiam. Dadaku terasa sesak dengan cara yang menyenangkan.

"Jadi ini nyata," bisik Iyan. "Kita master."

"Iya, kalian master," Cecilia mengangguk. "Dan sekarang..."

Ia menepukkan tangannya sekali.

"...SAATNYA MAKAN BESAR....!!!!!!."

Aula utama istana Sendira tak pernah semeriah ini.

Meja panjang membentang di tengah ruangan, penuh hidangan yang membuat Iyan menjerit pelan: ayam panggang berlapis madu, sup krim jamur, roti hangat yang masih mengepul, ikan sungai bakar dengan rempah, buah-buahan segar, dan puding dengan lapisan karamel berkilau. Lampu-lampu biru di langit-langit diredupkan menjadi cahaya keemasan, dan beberapa ranger lain berdiri di sudut ruangan, bertepuk tangan setiap kali kami lewat.

"Wah, Ini terlalu banyak," gumamku.

"Tidak kok, Tidak ada yang terlalu banyak untuk dua master baru kita," kata Cecilia, duduk di ujung meja dengan secangkir teh. "Makanlah. Ini perintah."

Iyan tak butuh dua kali diperintah. Dalam lima menit, piringnya sudah bertumpuk setinggi gunung kecil. Robert menatapnya dengan salut yang aneh, lalu menambahkan sepotong ayam ke piringnya. Dax menggoda Vivi dengan sepotong buah yang sengaja digantung terlalu tinggi, dan Vivi mengejarnya sambil menjerit marah. Hana duduk di sampingku dan diam-diam menggerakkan tangannya di atas rusukku. Hangat menjalar, dan nyeri yang selama dua hari kutahan akhirnya mereda.

Di sela makan, Cecilia membuka peta batu akik dan memintaku meletakkan tiga batuku di atasnya. Merah, biru, ungu, berdenyut hangat di antara piring dan gelas.

"Karena sekarang batunya sudah terkumpul tiga dari lima," katanya pelan. "Besok kita susun langkah berikutnya. Malam ini, tidak ada yang bicara soal Zaranos."

"Setuju," kata Robert, mulutnya penuh.

"Setuju," Iyan menyahut, dengan mulut yang lebih penuh lagi.

Aku menatap meja panjang itu, wajah-wajah yang kini kukenal, dan lencana perak di dadaku. Beberapa minggu lalu aku seorang pengembara sombong yang pingsan di lembah batu hitam. Sekarang aku duduk di antara orang-orang yang kupercaya.

Terima kasih, Guru, batinku. Terima kasih, Ara.

Di luar jendela kaca, langit Sendira gelap, dan retakan di cakrawala masih berpendar samar. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, ia tak terasa mengancam. Ia hanya terasa seperti sesuatu yang harus kami tutup, bersama-sama.

Di balik retakan itu, tak ada yang tertawa.

Istana tulang berderit oleh langkah kaki yang berat. Zaranos berjalan di lorong tanpa cahaya, kemejanya masih bernoda darah kering, rambutnya acak, dan setiap langkahnya meninggalkan retakan di lantai obsidian. Para kroco yang berpapasan dengannya menunduk sampai dahi mereka menyentuh tanah. Tak seorang pun berani bernapas.

Ia masuk ke laboratorium yang sudah ia porak-porandakan beberapa hari lalu. Pecahan tabung masih berserakan, cairan merah mengering di dinding. Di sudut ruangan, cawan kristal besar berdiri di atas dudukan batu hitam, dan di dalamnya, tujuh kristal berputar pelan. Satu ruang kosong masih menganga di antara mereka.

Zaranos berhenti di depannya.

"Anchor," bisiknya. "Hanzo."

Dua nama itu keluar seperti racun.

Tadi pagi ia merasakannya. Dua denyut yang selama ini terhubung dengan dirinya, dua helai benang kecil yang ia ikat pada setiap bawahannya, tiba-tiba putus. Dan bersamaan dengan itu, ia merasakan dua batu akik lagi berpindah tangan, ditarik kembali oleh sesuatu di dunia manusia, diambil dari mayat-mayat pasukannya sendiri.

Cakarnya menancap di dudukan batu. Retakan menjalar dari titik itu.

"Tingkat bawah satu. Dua. Tiga. Empat." Suaranya rendah, bergetar. "Aku sudah memberi mereka darahku. Aku memberi mereka tugas yang sederhana. Dan mereka mati satu per satu di tangan anak-anak ingusan."

Ia mengangkat tangannya dan menghantam cawan itu.

Tidak pecah. Kristal-kristal di dalamnya hanya berdenting, seolah mengejeknya. Zaranos menggeram, berbalik, dan menghancurkan sebuah meja marmer dengan satu tendangan. Serpihan batu beterbangan.

"DASAR SAMPAH..!!!!" raungnya, dan suaranya mengguncang seluruh istana. "Semua tingkat bawah hanyalah sampah! Mereka lahir dari darahku, tapi tak sebanding dengan kuku siapa pun yang berdiri di hadapanku!"

Pintu laboratorium terbuka tanpa suara. Galvanax melangkah masuk, zirah merahnya berkilat suram, helm tanpa wajahnya menunduk.

"Galvanax, tolong kumpulkan semuanya!"

"Siapa, Tuan?"

Zaranos menoleh perlahan. Mata kucingnya menyempit menjadi garis setipis jarum, dan di dalamnya tak ada lagi kemarahan liar. Hanya dingin, seperti air yang membeku pelan.

"Para tingkat atas." Ia merapikan kemejanya yang kusut dengan gerakan tenang yang justru lebih menakutkan dari amukannya tadi. "Aku sudah cukup bermain dengan boneka. Kali ini, aku kirim orang-orang yang pantas."

"Baik tuan, perintah diterima."

Galvanax mengangkat tangan besinya, dan cahaya merah menyebar ke seluruh istana seperti denyut jantung raksasa.

Satu per satu, bayangan muncul di aula utama. Sawyer, kurus dan bertopeng kulit. Hanz dan Hinz, kembar yang menyeringai serempak. Gangler dengan lengan lebih panjang dari tubuhnya. Endro yang matanya menghitung langkah semua orang. Xor, dengan kain hitam menutup mata namun selalu menatap lurus. Dan Marco, yang tersenyum ramah, senyum paling berbahaya di seluruh aula.

Mereka berbaris di depan takhta tengkorak, dan Zaranos duduk di atasnya dengan punggung tegak dan kedua tangan di sandaran. Jemari bersarung hitamnya mengetuk pelan.

"Semuanya, dengarkan aku," katanya, dan seluruh ruangan terdiam. "Para ranger telah membunuh empat dari kita. Empat. Mereka mengambil satu kristalku, dan kini mereka menggenggam tiga batu yang seharusnya mengikat leherku."

Tak seorang pun bergerak.

"Aku sudah sering mengirim para tingkat bawah. Ia menatap mereka satu per satu, dan tatapannya menembus topeng, kain, dan senyum. "Sekarang, giliran kalian, para tingkat atas."

Marco menunduk dengan senyum yang tak berubah.

"Siapa yang harus kubunuh dulu, Tuan?"

"Kalo bisa semuanya." Zaranos tersenyum tipis. "Tapi mulailah dari yang membawa batu."

Di ujung aula, di antara tiang-tiang obsidian, Galvanax menunduk dalam-dalam.

Di balik retakan langit yang menganga, kabut merah bergolak, dan sepasang mata kucing yang kejam menatap dunia manusia dengan lapar yang tak lagi sabar.

Di bawahnya, jauh dan hangat, sebuah kota logam sedang tertawa.

**TAMAT**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!