Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.
Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.
Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Baru
“Akhirnya pasangan pengantin baru kita datang berkunjung. Mari, silakan masuk Tuan dan Nyonya Panjalu,” goda Bu Inggit.
Begitu dibukakan pintu, Dharma langsung masuk begitu saja, lalu menghilang entah ke mana. Maklum, dulu sebelum menikah ia tinggal di sini juga, pasti kamar lamanya masih dirawat dengan baik.
Melisa mencium tangan Bu Inggit lalu menyerahkan bingkisan kue yang tadi sempat dibeli sebelum sampai ke sini. Melihat ekspresi wajah Bu Inggit yang tidak semenyeramkan pertemuan mereka sebelumnya, hati Melisa jadi sedikit lebih tenang.
“Bu, mumpung Pak Dharma tidak di sini, sebenarnya ada yang perlu saya tanyakan.” Melisa mengatakannya sambil tersenyum canggung.
Bu Inggit mengembuskan napas sebelum membalas kalimat Melisa. “Saya sudah maafin kamu, karena ini semua sudah terjadi. Saya harap kamu tidak menodai nama baik keluarga yang kami jaga bertahun-tahun.”
Wah, itu pesan yang sangat berat bagi Melisa.
“Saya akan berusaha, Bu,” jawab Melisa mantap.
Bahunya ditepuk pelan oleh Bu Inggit. “Saya percaya sama kamu dan saya pegang janji itu.”
“Jadi, apa yang mau kamu tanyakan tadi, Mel?”
“Ma, kemeja lamaku kenapa tidak ada semua?” Tiba-tiba Dharma muncul.
“Ada di dekat kolam belakang, mau mama sotir untuk disumbangkan. Coba kamu pilah-pilah dulu mana yang masih kamu pakai dan tidak.”
Sukurlah pria itu pergi lagi.
Bu Inggit mengajak Melisa duduk untuk melanjutkan pembicaraan mereka yang sempat terpotong tadi.
“Soal gaji, Bu. Lima belas juta sebulan itu dari Ibu atau pak Dharma ya? Saya perlu beberapa untuk kebutuhan.” Melisa malu-malu menanyakan itu. Masalahnya status dan posisinya di rumah itu tidak terlalu jelas. Sebagai istri ia belum terlalu dianggap, sebagai asisten Bu Inggit juga tidak pernah ada instruksi tugas yang diberikan padahal semua pekerjaan rumah yang disebutkan dalam kontrak kemarin dikerjakan oleh tiga pembantu di rumah.
“O ya, saya lupa jelasin itu ke kalian. Lima belas juta dari ibu itu khusus untuk keperluan pribadi kamu, bisa ditabung, didonasikan, atau digimanain lah terserah kamu. Nah, dari Dharma itu nafkah, itu kewajiban dia karena kamu sudah sah jadi istrinya. Memangnya dia belum kasih kamu apa-apa?”
Kasih apa-apa bagaimana, lalu lalangnya di sekitar Dharma dalam rumah itu saja seperti tidak terlihat. Apalagi mereka baru sah sebagai pasangan dalam beberapa jam yang lalu.
Melisa tidak menjawab apa-apa, tapi Bu Inggit sudah paham harus melakukan apa. “Nanti biar ibu yang bicara pada Dharma.”
Yaiy, Melisa senang sekali. Sebentar lagi ia akan menjadi Nyonya sungguhan di rumah itu. Ia tidak sabar melihat nominal saldo di rekeningnya yang semakin lama akan jadi semakin panjang.
“Satu lagi, Mel. Mulai biasakan panggil saya mama, kayak Dharma. Sekarang kamu anak saya juga, kan?”
Melisa pikir semua menantu menyeramkan seperti dalam serial-serial drama yang ia tonton biasanya. Ternyata ia bertemu mertua yang spek malaikat begini, rejeki anak sholihah.
Bu Inggit menyiapkan meja untuk mereka makan Bersama, tetapi Dharma menolak dengan alasan sebentar lagi jam pulang sekolah Dayu. Ia mengusahakan untuk selalu sudah berada di rumah sebelum Dayu pulang, agar anak itu tidak kesepian.
…
“Nanti jam tujuh malam ada beberapa tim yang ke sini untuk membahas pekerjaan. Kamu sapa mereka sebentar saja. Tidak perlu terlalu lama.” Setelah mengatakan info penting itu, Dharma memperhatikan penampilan Melisa.
“Tolong pakai baju yang agak cerah sedikit.”
Instruksi yang ini membuat Melisa mencebik. Sejak awal kedatangannya di sini hampir semua orang menghina pakaian yang ia kenakan. Apa memang seburuk itu ya?
Melisa mengekor di belakang Dharma.
“Ngapain kamu ngikutin saya terus?”
“Mau ke kamar jugalah. Kan kamarnya sama.” Melisa melewati Dharma. Ia masuk duluan dengan langkah jengkel yang tidak bisa disembunyikan.
Dharma lupa mereka sudah dalam satu kamar yang sama.
“Nanti kirim nomor rekening kamu.” Tadi Bu Inggit sudah mengingatkan Dharma tentang tanggung jawabnya perihal kewajiban nafkah untuk Melisa.
“Kirim ke mana? Kan saya ga punya nomor bapak,” ucap Melisa sambil duduk di lantai membuka kopernya. Ia mencari-cari pakaian agak cerah yang dibilang Dharma tadi.
Dharma melihat ponsel Melisa yang digeletakkan begitu saja di lantai dekat kakinya. Layarnya sudah retak Sebagian. Ujung ponselnya juga sedikit hancur seperti berkali-kali dibenturkan sesuatu. Ia urung mengambil ponsel itu untuk menyimpan nomornya sendiri.
“Besok pagi ikut saya belanja perlengkapan.” Lalu Dharma berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Mau ngapain ikut saya? Pakai baju yang agak cerah! Kirim nomor rekening kamu! Besok pagi ikut saya belanja! Mentang-mentang bos jadi seenaknya nyuruh-nyuruh mulu, ini istri loh padahal. Ngomong yang sopan dikit kek, ga beradab banget.” Melisa menirukan suara Dharma sambil mengoceh panjang lebar. Ia pikir di dalam kamar mandi Dharma sudah tidak mendengar suaranya lagi.
Ternyata pria itu masih berdiri di pintu menyimak oceha Melisa. “Ngomong apa kamu?”
Melisa kaget, tapi ia reflek menjawab dengan cuek. “Perasaan ga ada yang ngomong deh dari tadi.”
Pintu kamar mandi akhirnya ditutup.
“Ngomong apa kamu? Heleh, ngagetin aja kayak hantu.”
“Kurang keras, saya masih denger.”
Jahil juga rupanya si Pak Dharma itu, ia malah terus menimpali ocehan perempuan yang sedang jengkel. Kalau saja mereka sudah akrab sebagai pasangan, urusan omel mengomel begini bisa jadi makin panjang kalau diterus-teruskan seperti tadi.
…
Tidak lama setelah perdebatan kecil Dharma dan Melisa tadi, Dayu akhirnya pulang. Melisa berinisiatif untuk menyapa duluan.
“Sudah pulang, Dayu?” Ia memasang senyum paling ramahnya.
“Nanti dulu sok kenalnya ya, lagi capek banget nih abis ekskul.”
Wah, ini sih sungguhan darah daging Pak Dharma. Sebelas dua belas sopan santunnya.
Anak baru masuk SMP gini biasanya suka apa ya? Melisa berpikir sebentar.
Ah, tidak ada ide. Nanti ia coba meminta bocoran informasi pada Bu Inggit saja. Apa yang disukai Dayu dan apapun yang sedang anak itu lakukan di usia ini.
Misi meluluhkan hati Pak Dharma sepertinya masih belum menampakkan hilal sama sekali. Kabutnya tebal.
Kali ini Melisa akan coba misi baru, berteman dengan Dayu. Setidaknya kalau Dayu sudah ada di pihaknya, ia tidak terlalu merasa sendirian di rumah sebesar ini.
“Target baru sudah terkunci. Saatnya menyusun misi. Dayu Putri Panjalu, Mama Melisa coming.”