NovelToon NovelToon
Cinta Dibalik Perceraian

Cinta Dibalik Perceraian

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: fania Mikaila AzZahrah

Menjadi istri pengganti tidaklah mudah, apalagi ketika kamu hanyalah wanita yang menggantikan posisi kakakmu sendiri.

Alih-alih mendapatkan kasih sayang dan cinta dari suaminya, Kinanti justru harus menerima perlakuan kasar yang terus-menerus menyakitinya.

Kinanti tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menggantikan posisi sang kakak yang kabur bersama kekasihnya sehari sebelum akad nikah dengan pria bernama Yudha.

Demi keselamatan ayahnya dan masa depan kedua adik kembarnya, Kinanti terpaksa mengikhlaskan dan merelakan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Pernikahan yang telah berlangsung selama delapan tahun tidak pernah memberinya kebahagiaan. Namun, Kinanti memilih untuk tetap bertahan, bersabar, dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangganya.

Hingga sebuah kecelakaan tak terduga menimpa suaminya, Yudha Manggala.

Sejak saat itu, kehidupan pernikahan mereka berubah seratus delapan puluh derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 16. Keputusan Final

Kanaya yang berdiri di luar kamar menutup mulutnya dengan tangan.

Dadanya terasa sesak melihat kakaknya dan kakak iparnya berada dalam keadaan seperti itu.

Namun, dia tahu tidak seharusnya dirinya mendengarkan percakapan tersebut.

Kinanti menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menjalani pernikahan yang penuh luka, dia tidak menangis ketika harus berpisah.

Bukan karena dia tidak sedih. Justru karena terlalu lama menangis, sampai akhirnya air matanya seolah sudah habis.

“Maaf, Mas,” ucap Kinanti lembut.

“Andaikan Mas melakukan semua ini sebelum Mas kehilangan ingatan, mungkin aku masih akan mempertimbangkannya.”

Yudha mendongak dan berharap Kinanti masih memberikan kesempatan kedua untuknya.

“Tapi sekarang... hatiku sudah menyerah. Aku sudah terlalu lelah. Aku nggak sanggup lagi kembali ke kehidupan yang sama.”

Yudha menatap wajah istrinya dengan mata yang memerah. Dia baru menyadari bahwa Kinanti benar-benar sudah berubah.

Perempuan yang selama sembilan tahun selalu menangis ketika mereka bertengkar, selalu meminta maaf lebih dulu, dan selalu berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, kini justru berdiri di hadapannya dengan ketenangan yang membuatnya semakin takut kehilangan.

“Kinan...” suara Yudha kembali bergetar.

“Mas mohon. Demi anak-anak dan demi pernikahan kita, tolong jangan cerai. Aku nggak bisa. Aku nggak sanggup hidup tanpa kamu.”

Kinanti menatapnya cukup lama, “Alhamdulillah, anak-anak nggak akan kecewa, Mas.”

Yudha terdiam karena ucapannya kembali dibalas oleh Kinanti dengan penolakan.

“Aku sudah berbicara dengan mereka. Aku menjelaskan semuanya dengan cara yang bisa mereka pahami. Mereka menyerahkan keputusan ini kepadaku.”

Kinanti mengusap gagang koper yang dipegangnya.

“Dan aku nggak akan memisahkan mereka dari papanya.”

Yudha semakin menunduk, air matanya akhirnya jatuh juga dan ini pertama kalinya dia menangis. Hal itu membuat Kinanti semakin tak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya.

“Kinanti, aku sangat mencintaimu.”

Dia bangkit perlahan, lalu mendekati istrinya.

“Tolong jangan tinggalkan aku. Aku akan berubah seperti yang kamu inginkan. Aku akan melakukan apapun agar kamu nggak membenciku. Tolong... tetaplah jadi istriku.”

Kinanti menggeleng perlahan.

“Sudah terlambat, Mas.”

“Aku nggak akan bisa menjalani hidupku tanpa kamu.”

Kinanti tersenyum getir. “Bukannya sebelum kita menikah, Mas sudah terbiasa hidup sendiri?”

Yudha kembali terdiam mematung mendengar dengan seksama ucapan istrinya.

“Kita baru hidup bersama selama sembilan tahun. Jadi, mana mungkin Mas benar-benar nggak bisa menjalani hidup tanpa aku?”

Kalimat itu membuat Yudha kehilangan kata-kata. Selama ini dia selalu mengira Kinanti akan selalu berada disisinya.

Dia mengira perempuan itu akan terus memaafkannya dan selama Kinanti masih mencintainya, dia masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki semuanya kapan saja.

Ternyata dia salah besar dan kesabaran Kinanti ternyata juga memiliki batas.

Yudha mengusap wajahnya yang basah.

“Aku setuju kita bercerai,” katanya akhirnya dengan suara berat. “Tapi untuk sementara, kamu tinggal di rumah ini sampai aku sembuh. Setelah itu... kalau kamu masih ingin pergi, aku nggak akan menahanmu.”

Tangan Kinanti yang hendak memutar knop pintu seketika berhenti. Tangannya menggantung di udara.

Dia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menoleh. “Maaf, Mas. Aku nggak bisa memenuhi permintaan itu.”

“Kenapa?” tanyanya Yudha lemah.

“Aku rasa keputusan ini sudah cukup terlambat untuk terus ditunda.”

Yudha kembali mencari alasan agar Kinanti tidak pergi.

“Apa karena mobil yang aku belikan terlambat? Apa karena kalungnya nggak sesuai dengan keinginan kamu?”

Kinanti kembali terdiam dan membiarkan Yudha berbicara.

“Kalau gara-gara itu, aku akan menggantinya sekarang juga. Apa pun yang kamu mau, aku akan kasih.”

Kinanti menatap suaminya dengan tatapan iba. Bukan karena dia kembali luluh.

Melainkan karena untuk pertama kalinya dia benar-benar melihat seorang Yudha yang ketakutan kehilangan dirinya.

“Mas... bukan soal mobil, bukan soal kalung, bukan juga soal hadiah.”

Kinanti menggeleng. “Aku hanya sudah tidak ingin menjadi istri Mas lagi.”

Yudha menahan isakannya.

Kinanti kemudian melanjutkan dengan suara yang lebih lembut.

“Maaf kalau selama ini aku juga banyak salah dan banyak kurangnya sebagai istri Mas.”

Yudha memejamkan matanya agar dadanya tidak semakin sesak.

“Maaf juga karena kali ini aku benar-benar memilih diriku sendiri.”

Kalimat itu membuat Yudha terdiam cukup lama.

Kinanti mengusap gagang koper, kemudian berkata, “Aku akan membawa anak-anak bersamaku. Kalau Mas kangen dengan mereka, Mas boleh menjemput dan menemui mereka kapan pun Mas mau.”

Yudha menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Kinan...”

Namun Kinanti tidak menjawab lagi.

Dia membuka pintu kamar dan melangkah keluar.

Di balik pintu, Kanaya yang sejak tadi berdiri terpaku langsung terkejut.

Tatapan mereka bertemu. Kanaya terlihat salah tingkah.

Kinanti menyadari adiknya telah mendengar sebagian percakapan mereka. Namun, bukannya marah, Kinanti justru tersenyum tipis.

Kanaya menundukkan kepalanya.

“Maaf, Mbak. Aku sebenarnya nggak bermaksud menguping.”

Kinanti menggeleng. “Nggak apa-apa kok.”

Dia kemudian mengusap lembut lengan adiknya. Kanaya menatap wajah kakaknya dengan mata berkaca-kaca.

Dia sebenarnya ingin memeluk Kinanti dan mengatakan agar kakaknya jangan pergi.

Akan tetapi, dia tahu keputusan Kinanti bukanlah sesuatu yang dibuat dalam semalam.

Kanaya tahu kakaknya sudah terlalu lama bertahan. Dan kini, mungkin sudah waktunya Kinanti memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri.

“Dek,” panggil Kinanti.

“Iya, Mbak?”

“Kamu ke kamar si kembar, ya. Jemput Naufal sama Naura. Mbak tunggu kamu di mobil.”

Kanaya mengangguk. “Iya.”

Kanaya kemudian melangkah pergi.

Namun, sebelum benar-benar menjauh, dia sempat menoleh ke arah kamar.

Dari tempatnya berdiri, Kanaya masih bisa melihat Yudha yang membeku di ambang pintu.

Wajah pria itu terlihat hancur. Untuk sesaat, Kanaya merasa iba. Namun, dia tidak berhak mencampuri keputusan kakaknya.

Dia pun segera berbalik dan menuju kamar kedua keponakannya.

Sementara itu, Kinanti menarik koper keluar dari kamar. Setiap langkah terasa berat. Bukan karena dia ragu. Melainkan karena kamar itu telah menjadi saksi bisu perjalanan rumah tangganya selama sembilan tahun.

Di tempat itulah dia pernah tertawa, menangis dan memohon dan berharap dan mencintai pria yang kini harus dia tinggalkan.

Namun, ketika pandangannya kembali menyapu seluruh ruangan, kenangan-kenangan lama seolah berputar kembali di dalam kepalanya.

Kinanti kembali teringat pada hari ketika pertama kali menjadi istri Yudha.

Saat itu, tidak ada kebahagiaan di mata pria tersebut.

Pernikahan mereka bukanlah sesuatu yang diinginkan Yudha. Kinanti masih mengingat dengan jelas bagaimana dirinya berdiri di samping Yudha dengan hati yang penuh harapan, sementara pria itu justru menunjukkan sikap dingin seolah keberadaannya di dalam hidup Yudha hanyalah sebuah kewajiban yang harus dijalani.

Kinanti yang saat itu masih begitu polos terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa suatu hari nanti Yudha akan menerimanya.

Dia berpikir, mungkin cinta tidak harus datang pada hari pertama.

Mungkin cinta bisa tumbuh setelah mereka menjalani kehidupan bersama.

Mungkin kesabaran dan ketulusannya sebagai seorang istri pada akhirnya mampu membuat Yudha melihat dirinya sebagai perempuan yang benar-benar layak dicintai.

Namun, waktu berlalu dan harapan itu justru berkali-kali berubah menjadi luka.

Kinanti teringat bagaimana dia sering menangis sendirian di kamar yang sama.

Menunggu Yudha pulang.

Menunggu pria itu menyadari keberadaannya.

Menunggu satu kalimat sederhana yang selama bertahun-tahun begitu dia inginkan.

Sebuah kalimat yang mengatakan bahwa Yudha bahagia memiliki dirinya sebagai seorang istri.

Namun, kalimat itu tidak pernah benar-benar datang.

Kilas balik itu kemudian membawa Kinanti pada masa ketika dirinya mengandung Naufal dan Naura.

Perutnya yang semakin besar tidak membuat Yudha berubah seperti yang selama ini dia harapkan.

Ada hari-hari ketika Kinanti duduk sendirian sambil mengusap perutnya, berbicara kepada kedua bayi yang belum lahir, dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa suatu hari nanti mereka akan menjadi alasan Yudha membuka hatinya.

Dia pernah membayangkan Yudha meletakkan tangannya di atas perutnya.

Dia pernah membayangkan suaminya tersenyum ketika merasakan gerakan kedua anak mereka.

Dia pernah membayangkan mereka menunggu kelahiran anak-anak itu bersama-sama.

Namun, kenyataan tidak selalu seindah bayangan.

Kenangan lain kembali muncul.

Saat dirinya mengandung dan akhirnya melahirkan anak-anak mereka.

Hari yang seharusnya menjadi salah satu momen paling membahagiakan dalam hidup seorang ibu justru menjadi hari yang membuat hati Kinanti terasa begitu kosong.

Kinanti masih mengingat bagaimana dirinya berbaring dengan tubuh yang lemah setelah melahirkan.

Tubuhnya terasa begitu lelah, tetapi matanya terus mencari seseorang.

Dia menatap pintu ruangan berkali-kali.

Berharap Yudha datang.

Berharap suaminya berada di sisinya.

Berharap ketika dirinya membuka mata, pria yang selama ini dia cintai akan menjadi orang pertama yang dilihatnya.

Namun, Yudha tidak ada di sana.

Tidak ada tangan Yudha yang menggenggam tangannya.

Tidak ada suara Yudha yang menenangkannya.

Tidak ada sosok suaminya yang menyaksikan perjuangannya ketika membawa anak-anak mereka ke dunia.

Kinanti masih mengingat perasaan itu.

Di tengah kebahagiaannya karena telah menjadi seorang ibu, ada bagian kecil dalam hatinya yang terasa hancur karena orang yang paling ingin dia lihat justru tidak berada di sana.

Dia menatap Naufal dan Naura yang masih begitu kecil.

Air matanya jatuh ketika untuk pertama kalinya dia memeluk kedua anaknya.

“Papanya belum datang,” bisiknya lirih pada kedua bayinya.

Saat itu Kinanti tersenyum sambil menangis.

Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak apa-apa.

Dia mencoba mengatakan kepada hatinya bahwa setidaknya dia memiliki kedua anaknya.

Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, dia tetap berharap Yudha akan datang.

Dia tetap menunggu.

Bahkan setelah hari berganti, dia masih berusaha mempertahankan keyakinan bahwa suatu hari nanti suaminya akan menyadari betapa besar cintanya.

Kini, setelah sembilan tahun berlalu, semua kenangan itu kembali terasa begitu nyata.

Kinanti memejamkan mata.

Tanpa disadarinya, air mata kembali jatuh membasahi pipinya.

Ternyata, luka yang selama ini dia pikir sudah mampu dia tinggalkan masih tersimpan begitu dalam.

Dia bukan menangis karena ingin kembali.

Bukan pula karena menyesali keputusannya.

Dia menangis karena akhirnya menyadari betapa lama dirinya telah berusaha mempertahankan sesuatu yang sejak awal tidak pernah benar-benar diperjuangkan oleh orang yang sama.

Kinanti mengusap air matanya dengan punggung tangan.

Dia kemudian menatap kamar tersebut untuk terakhir kalinya.

Di tempat inilah dia pernah menjadi seorang perempuan yang terus berharap dicintai oleh suaminya.

Di tempat ini pula dia pernah menangis sendirian, memeluk dirinya sendiri, dan meyakinkan hatinya bahwa semuanya akan menjadi lebih baik.

Kini, semua yang tersisa hanyalah kenangan.

Kenangan tentang seorang Kinanti yang pernah begitu sabar.

Seorang Kinanti yang pernah rela mengesampingkan perasaannya sendiri demi mempertahankan rumah tangga.

Seorang Kinanti yang selama bertahun-tahun terus menunggu Yudha berubah.

Dan hari ini, perempuan itu akhirnya memilih untuk berhenti menunggu.

Kinanti berhenti sejenak, menatap kamar tersebut untuk terakhir kalinya.

Kemudian dia menghela napas panjang. “Bismillah...”

Dengan hati yang masih terluka, Kinanti akhirnya melangkah pergi.

Di belakangnya, Yudha hanya bisa berdiri terpaku. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia benar-benar menyadari bahwa seseorang yang selama ini dia anggap akan selalu menunggunya ternyata telah memilih untuk pergi.

Dan kali ini, tidak ada tangisan, bujukan, hadiah, ataupun janji yang mampu membuat Kinanti kembali.

1
Eva Karmita
Kinanti aku tau sakitmu sudah terlalu dalam ..tapi tidak seperti itu juga Kinanti lihatlah kedua anakmu yg begitu ingin melihat kedua orang tua nya bersatu kembali.... teruntuk Yudha tetap semangat benar kata anakmu jgn mudah menyerah tunjukkan bahwa kamu bisa berubah jgn buat anak"mu kecewa , perlahan namun pasti rebut kembali hari Kinanti selalu berusaha dan tidak lupa dengan doa" di sepertiga malam mu rayulah tuhanmu untuk membuka kan pintu hati Kinanti
Eva Karmita: betul sih pemikiran orang beda beda ..ada yg ingin bertahan karena anak"nya dan ada juga yg memilih pergi demi ketenangan dan mencari kebahagiaan ...
total 2 replies
araaself
lanjutt kakk
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: insha Allah besok lagi kak
total 1 replies
Eva Karmita
semoga masih bisa rujuk lagi ...
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: kayaknya hehehe
total 1 replies
Eva Karmita
semangat Yudha semoga Mak otor merestuimu
Eva Karmita
Kinan kasih kesempatan untuk Yudha untuk membuktikan Yudha sudah berubah dan ingin memulai dgn lembaran baru
Eva Karmita
ayo jujur Yudha katakan kalau kamu sudah ingat semuanya dan kamu ingin berubah
Eva Karmita
si pelakor sudah datang....
Eva Karmita
semoga masih bisa di perbaiki.... semangat Yudha perjuangkan rumah tangga mu
Eva Karmita
membaca kisah mereka membuat perasaan mengharu biru sedih dan bahagia nano" 🔥😭💔❤️
Eva Karmita
semoga saja Kinan masih bisa mempercayai mu
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: semoga yah karena kayaknya....😄🤭
total 1 replies
Eva Karmita
❤️❤️❤️
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: Alhamdulillah makasih banyak 😍
total 1 replies
Eva Karmita
peluk Kinan 🤗😭
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: Alhamdulillah makasih banyak sudah mampir kakak 😍🙏
total 1 replies
Inha Khaerunnisa
wajarlah
Inha Khaerunnisa
terlambat pak wkwk
Inha Khaerunnisa
apa Yudha hilang ingatan??
Inha Khaerunnisa
knp anaknya jadi ditukar dengan hutang??
Inha Khaerunnisa
tega mulutnya ember
Naila
knp harus minta cerai klo masih cinta
Naila
kayaknya
F3 Tehnik
apa yang terjadi???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!