NovelToon NovelToon
Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.

Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 Safe House, Tiga Pria, dan Harga yang Tidak Bisa Ditawar

Aira terdiam. “Sama.”

Raka menoleh, sendok masih di tangan. “Akhirnya ada yang sama.”

“Jangan terlalu senang. Kesamaan itu tidak berharga.”

“Buat saya berharga.” Dia menyajikan mi dan telur di depan Aira. “Makan. Setelah itu minum obat.”

Aira makan dalam diam. Raka duduk di seberang, hanya mengamati. Reza sesekali keluar memeriksa perimeter lewat jendela.

Tiga puluh menit kemudian pintu depan diketuk tiga kali dengan pola tertentu. Reza membuka. Keenan masuk dengan tas medis dan wajah yang jelas kurang tidur. Matanya langsung mencari Aira.

“Kamu pucat,” katanya sambil berjalan mendekat. “Buka perban. Saya cek.”

Aira menelan suapan terakhir. “Baru diganti.”

“Saya dokter. Saya yang tentukan.”

Raka menyilangkan tangan. “Pelan-pelan. Dia baru saja lari dan lompat dari mobil.”

Keenan tidak menjawab. Dia berlutut di depan Aira, membuka perban dengan gerakan profesional. Saat kulit memar terlihat, rahangnya mengeras. “Kamu memaksakan diri.”

“Lebih baik memaksakan diri daripada diculik.” Jawab Aira sesuai fakta yang terjadi.

Keenan menekan pelan di sekitar luka. Aira menahan napas. Jari-jari dokter itu hangat dan tepat, tapi terlalu lama di satu titik.

“Sakit di sini?”

“Iya.”

“Dalam?”

“Sedikit.”

Keenan mengangkat wajah. Jarak mereka dekat. “Kamu harus istirahat total minimal seminggu. Tidak boleh berlari. Tidak boleh bertarung. Tidak boleh lompat dari mobil lagi.”

“Kalau mereka datang lagi?”

“Biarkan kami yang urus.”

Aira menatap ketiga pria itu bergantian. Raka di sisi kiri, Reza di dekat jendela, Keenan masih berlutut di depannya. “Kalian bertiga… terlalu merepotkan.”

Raka tersenyum kecil. “Terima saja.”

“Saya tidak biasa menerima.”

Keenan menutup kembali perban. “Mulai biasakan. Karena malam ini kamu tidak punya pilihan.”

Reza berbicara dari dekat jendela. “Saya pasang dua orang di luar. Satu di atap. Shift berganti setiap empat jam. Kamu tidur. Kami jaga.”

Aira berdiri. “Saya tidur. Tapi pintu kamar jangan dikunci dari luar.”

“Tidak akan,” jawab Reza.

Dia berjalan menuju kamar. Raka menyusul sampai depan pintu.

“Aira.”

“Ya?”

“Kalau sakit di tengah malam, panggil saya. Bukan Keenan. Bukan Reza.”

Aira menatapnya. “Kenapa harus kamu?”

“Karena saya yang paling dekat dengan pintu.”

“Alasan jelek.”

Raka menunduk sedikit. Suaranya turun. “Karena saya tidak tahan membayangkan kamu kesakitan sendirian lagi.”

Aira terdiam. Lalu mengangguk pelan. “Baik. Tapi jangan masuk tanpa mengetuk pintu.”

“Deal.”

Pintu ditutup. Aira bersandar di kayu, menatap langit-langit kamar yang polos. Dia bisa mendengar suara ketiga pria di luar—rendah, sesekali tegang, sesekali saling sindir. Dia duduk di tepi tempat tidur, membuka saku, dan mengeluarkan sisa uang yang masih ada. "Masih cukup untuk dua minggu kalau hemat. Tapi kalau terus begini… uang tidak akan cukup."

Di ruang tamu, Keenan menutup tas medis. “Dia lebih kuat dari yang kelihatan. Tapi tubuhnya sudah di batas.”

Raka menatap pintu kamar. “Saya tahu.”

Reza memeriksa ponsel. “Laporan terakhir... sisa tim mereka mundur ke arah utara. Tapi tidak bubar. Mereka menunggu.”

Keenan menghela napas. “Berapa lama sampai kalian temukan bos mereka?”

“Tidak tahu,” jawab Reza. “Tapi malam ini, minimal dia aman.”

Raka duduk di sofa, menatap pintu yang tertutup. “Dia bilang kita merepotkan.”

Keenan tersenyum tipis. “Karena kita memang merepotkan. Masing-masing dengan caranya sendiri.”

Di luar rumah, jauh di balik tembok perumahan, sebuah mobil gelap parkir di bawah pohon. Pria bertato leher menatap layar tablet yang menampilkan denah lokasi.

“Safe house biasa. Tidak berbenteng,” gumamnya. “Bos bilang tunggu sampai mereka lengah. Kali ini bawa semua.”

Dia mematikan layar. “Besok malam. Atau lusa. Target tidak akan lari lagi.”

Aira tidak langsung tidur. Dia berbaring di kasur keras dengan mata terbuka, menghitung napas supaya nyeri di rusuk tidak terlalu terasa. Dari balik pintu, suara ketiga pria masih terdengar samar—Reza memberi instruksi lewat radio, Raka sesekali menjawab singkat, Keenan mengatur obat di meja.

Satu jam berlalu. Suara itu akhirnya reda. Aira bangkit pelan. Kaki telanjang menyentuh lantai kayu yang dingin. Dia membuka pintu hanya selebar telapak tangan dan mengintip. Ruang tamu redup. Hanya satu lampu meja menyala. Reza duduk di kursi dekat jendela dengan senjata di pangkuan. Raka bersandar di sofa, mata tertutup tapi tubuh belum rileks. Keenan tidak kelihatan—mungkin di kamar sebelah atau sedang merokok di belakang.

Aira keluar. Lantai berderit pelan. Reza langsung menoleh. “Tidak bisa tidur?”

“Sulit. Terlalu sepi.” Aira berjalan ke dapur, mengambil gelas, mengisi air dari galon. “Di kost minimal ada suara tetangga ribut. Di sini cuma detak jam.”

Reza mengamatinya. “Minum obat dulu. Keenan bilang setiap enam jam.”

“Nanti. Saya tidak suka kepala berat.”

Raka membuka mata. “Aira. Kembali ke kamar.”

“Saya hanya ambil air.”

“Sekarang.”

Aira menatapnya. “Kamu tidak punya hak memerintah.”

“Saya punya hak khawatir.” Raka berdiri, mendekat. “Kamu baru saja hampir diculik dua kali dalam dua hari. Tubuhmu belum pulih. Tidur.”

Aira meneguk air, lalu meletakkan gelas. “Kalau saya tidur, siapa yang jaga kalian? Kalian bertiga kelihatan lebih lelah dari saya.”

Reza hampir tersenyum. “Kami terlatih.”

“Terlatih juga bisa mati.”

Raka berdiri tepat di depannya sekarang. Jarak hanya satu langkah. Bau sabun dan sedikit keringat masih menempel di kaosnya. “Aira... Tolong.”

Kata tolong itu membuat Aira terdiam. Dia jarang mendengarnya dari Raka.

“…Baik. Tapi pintu tetap terbuka.”

“Iya... iya.”

Aira berbalik. Raka mengikutinya sampai depan kamar. Ketika Aira masuk, dia tidak langsung menutup pintu. Raka bersandar di ambang.

“Saya duduk di sini,” katanya pelan. “Kalau kamu butuh apa-apa, panggil.”

“Tidak perlu.”

“Saya tetap duduk.”

Aira menghela napas, lalu duduk di tepi kasur. “Raka.”

“Ya.”

“Kenapa kamu terus-terusan mengeluarkan uang dan tenaga untuk saya? Saya bahkan tidak bisa tersenyum manis. Saya tidak bisa bilang terima kasih dengan cara yang biasa orang bilang.”

Raka terdiam lama. Lalu menjawab dengan suara rendah. “Karena pertama kali saya melihat kamu di arena, kamu tidak melihat saya sebagai pembalap. Kamu melihat saya sebagai orang yang bisa bayar. Jujur. Langsung. Tanpa basa-basi.”

“Itu alasan jelek.”

“Itu alasan jujur.” Dia masuk ke dalam kamar satu langkah, masih di ambang. “Dan karena setiap kali kamu hampir mati, saya merasa seperti ada yang dicabut dari dada saya.”

Aira menatap lantai. “Perasaan itu berbahaya. Bisa bikin orang rugi banyak.”

“Saya sudah rugi. Saya tidak keberatan rugi lebih banyak.”

Keenan muncul di koridor, masih membawa tablet. Dia berhenti saat melihat posisi mereka. “Saya ganggu?”

Raka tidak menoleh. “Sedikit.”

Keenan masuk saja. “Saya perlu cek suhu dan tekanan darah sebelum tidur. Protokol.”

Aira mengulurkan lengan tanpa protes. Keenan memasang manset, fokus pada angka, tapi jari-jarinya tetap lebih lama di kulit Aira dari yang diperlukan. “Sedikit tinggi. Wajar setelah adrenalin.”

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
🤣🤣🤣🤣 raka cemburu
falea sezi
suka cwek Badas gini 🤣🤣 sat sett gk menye 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!