Hidup tidak pernah mudah bagi Alya, dan menjadi jauh lebih berat sejak *ibunya meninggal saat Alya baru berumur 12 tahun.*
Sejak hari itu, Alya yang masih kelas 6 SD harus langsung menjadi ibu untuk adik-adiknya. Ia yang menyuapi Dinda yang masih balita, ia yang menemani Bima yang masih di dalam kandungan saat ibunya meninggal.
Karena itulah, ia tidak pernah merasakan masa remaja. Tidak ada waktu untuk manja.
Tinggal di rumah sederhana bersama ayah dan kedua adiknya, Alya adalah anak pertama yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sejak ditinggal istrinya semakin sering sakit-sakitan membuat keadaan ekonomi mereka semakin sulit.
Jadi pernikahan kontrak itu bukan hanya untuk pengobatan ayahnya, tapi juga rasa bersalahnya karena merasa gagal menggantikan posisi ibunya untuk Dinda dan Bima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngambek dan Mie Tengah Malam
Hari ke-20. Penthouse Virel.
Seharian ini Alya aneh. Diam. Tidak banyak bicara. Dari pagi setelah sarapan, ia cuma duduk di balkon dengan laptop skripsinya, tapi tidak diketik sama sekali. Matanya melamun ke arah Sudirman yang macet.
Rafael yang WFH di ruang kerjanya menyadari itu. Jam 10 pagi, Alya tidak nganter kopi seperti biasanya. Jam 12 siang, Alya tidak manggil "Rafael, makan siang yuk". Jam 3 sore, Alya masih di balkon.
Rafael keluar dari ruang kerja, membawa dua gelas susu coklat.
"Sayang, ngapain di sini terus? Masuk angin nanti," katanya sambil menyelimuti bahu Alya dengan selimut.
Alya hanya menjawab pendek. "Gapapa."
Rafael duduk di sebelahnya. "Marah sama saya?"
"Enggak."
"Ngambek?"
"Enggak."
Jawaban paling bahaya dari seorang istri adalah "Enggak" dengan nada ketus.
Rafael bingung. Ia memutar otak. Semalam kan habis belain Alya di depan Clarissa. Pagi tadi juga sudah cium kening. Apa yang salah?
"Skripsi pusing?" tebaknya.
Alya menggeleng.
"Clarissa lagi?"
Alya menggeleng lagi, tapi kali ini matanya berkaca-kaca.
Rafael panik. Ia langsung jongkok di depan Alya, menyamakan tinggi matanya.
"Alya, saya salah apa? Bilang. Jangan diem gini, saya pusing."
Alya akhirnya menatap Rafael dengan mata berkaca-kaca. "Kamu lupa ya?"
"Lupa apa?"
Alya semakin sedih. "Hari ini hari apa?"
Rafael terdiam. Ia langsung cek HP. Tanggal 20. Hari Senin. Tidak ada meeting penting. Tidak ada deadline.
"Hari Senin?" jawabnya polos.
Alya langsung berdiri, masuk ke kamar, dan mengunci pintu kamar. Brak.
Rafael terdiam di balkon. Hari Senin salah ya?
Ia langsung telepon orang yang paling paham wanita di dunia: Mama Olivia.
"Ma, Alya ngambek. Dia tanya hari ini hari apa. Saya jawab hari Senin, dia ngunci pintu."
Di seberang telepon, Mama Olivia tertawa ngakak. "Rafael! Rafael! Ya ampun anak Mama!"
"Kenapa Ma?"
"Hari ini hari ke-20 pernikahan kalian, Rafael! 20 hari! Kalian nikah tanggal 1, sekarang tanggal 20! Alya itu anaknya perasa, dia pasti inget!"
Rafael membeku. Ya Tuhan. Ia lupa. Ia yang biasanya ingat tanggal merger perusahaan sampai detik, lupa anniversary 20 hari pernikahannya sendiri.
Ia langsung menutup telepon dan lari ke pintu kamar.
"Alya! Sayang! Buka pintunya!" ketuknya pelan.
Tidak ada jawaban.
"Alya, saya inget kok sekarang. Hari ini hari ke-20 kita nikah!"
Dari dalam terdengar suara isakan kecil. "Bohong! Kamu tadi jawab hari Senin!"
"Saya grogi! Maaf! Buka dulu!"
Tetap tidak dibuka.
Rafael mencoba cara lain. Ia duduk di depan pintu kamar, bersandar.
"Oke, kamu ngambek gapapa. Saya tungguin di sini sampai kamu buka. Saya tidak akan kemana-mana."
30 menit berlalu. Alya di dalam masih diam. Rafael di luar masih duduk.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Penthouse sepi.
Tiba-tiba dari dalam kamar terdengar suara perut keroncongan. Krucuk. Keras. Alya belum makan malam karena ngambek.
Rafael tersenyum. Ia punya ide.
Ia berdiri dan jalan ke dapur.
10 menit kemudian, aroma mie goreng dan telur menyebar ke seluruh penthouse. Aroma yang sangat rumahan, tidak seperti makanan chef bintang 5 yang biasa mereka makan.
Rafael mengetuk pintu kamar lagi, kali ini dengan nampan di tangannya.
"Alya, saya masak mie. Mie goreng kesukaan kamu, pakai telur mata sapi, pakai saos banyak, pakai kerupuk."
Tidak ada jawaban, tapi Rafael mendengar langkah kaki mendekat ke pintu.
"Kalau kamu tidak buka, saya makan mie-nya di depan pintu kamu sambil nangis. Nanti tetangga sebelah dengar CEO Virel nangis gara-gara ditinggal istri tidak mau makan mie buatannya."
Pintu akhirnya terbuka sedikit. 10 cm.
Terlihat Alya dengan mata bengkak, rambut berantakan, pakai piyama.
Rafael langsung menyodorkan nampan mie yang masih mengepul itu.
Alya menatap mie itu, lalu menatap Rafael yang berkeringat, celemeknya miring, wajahnya penuh harap.
"Masak sendiri?" tanya Alya dengan suara serak.
"Iya. Belajar dari YouTube. Gosong dikit bawahnya, tapi atasnya enak kok," jawab Rafael jujur.
Alya akhirnya membuka pintu lebih lebar dan mengambil nampan itu. Ia duduk di tepi ranjang dan mulai makan pelan-pelan.
Rafael duduk di lantai, di bawah kakinya, menatapnya makan.
"Enak?" tanya Rafael seperti anak kecil menunggu nilai ujian.
Alya mengangguk pelan sambil masih ngambek, tapi makannya lahap. "Enak..."
"Maaf ya saya lupa hari ke-20. Saya janji, mulai sekarang saya catat di kalender, di HP, di laptop, di kening saya kalau perlu. Setiap tanggal 1, setiap tanggal 20, semua saya ingat," kata Rafael sambil memegang kaki Alya yang tidak pakai kaos kaki.
Alya akhirnya tidak tahan. Ia menaruh piring mie di nakas dan jongkok di depan Rafael.
"Kamu tau gak, aku tungguin dari pagi. Aku kira kamu bakal kasih kejutan. Aku sudah pakai baju bagus dari pagi," kata Alya dengan bibir manyun.
Rafael baru sadar, Alya memang pakai dress cantik sejak pagi, bukan piyama.
"Maaf, sayang. Saya bodoh," Rafael memeluk Alya. "Tapi sekarang saya inget, kita rayakan sekarang ya? Jam 11.30 malam, dengan mie goreng gosong."
Alya tertawa di dalam pelukan Rafael.
"Maaf juga aku ngambeknya berlebihan," bisiknya.
"Enggak berlebihan. Kamu berhak ngambek. Saya suami yang lupa," jawab Rafael tulus.
Mereka akhirnya makan mie itu berdua di atas ranjang, satu piring berdua, suap-suapan.
Setelah mie habis, Rafael tiba-tiba mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya.
"Ini," katanya.
Alya membukanya. Di dalamnya ada gelang kecil emas putih dengan liontin angka 20.
"20 hari kita nikah. 20 hari terbaik dalam hidup saya. Maaf telat 12 jam," kata Rafael.
Alya langsung memeluk Rafael dengan erat, gelang itu langsung dipakai.
"Makasih..." bisiknya.
Rafael membalas pelukannya lebih erat.
"Masih ngambek?" tanya Rafael.
"Enggak. Sudah kenyang. Mie kamu enak," jawab Alya manja, bersandar di dada Rafael.
Jam 12 malam, hari ke-20 resmi berganti hari ke-21, dengan mereka berdua yang tertidur di atas ranjang dengan piring mie kosong di nakas, dengan gelang angka 20 yang berkilau di tangan Alya.
Ngambeknya selesai dengan mie.
Bersambung...